Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Harga Sebuah Sekutu
Butik barang mewah bekas di kawasan Kemang itu beraroma lilin aromaterapi lavender dan kulit tua yang mahal. Alana berdiri di depan meja kasir, tangannya mencengkeram pegangan tas Lady Dior hitam berukuran medium. Tas itu adalah hadiah ulang tahun ketujuh belas dari ibunya, tiga tahun lalu, sebelum kanker merenggut wanita itu. Kulit dombanya masih mulus, jahitan cannage-nya masih tegas. Itu adalah satu-satunya barang berharga yang sertifikatnya dipegang Alana sendiri, bukan disimpan di brankas ayahnya.
"Dua puluh lima juta, Mbak Alana. Itu penawaran terakhir," ucap pemilik butik, seorang wanita paruh baya dengan kacamata berantai emas. Ia menatap tas itu dengan mata kalkulatif, bukan sentimental.
Alana menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. "Pasarannya masih di atas tiga puluh lima, Tante. Ini *limited edition* tahun 2018."
"Ekonomi lagi lesu. Lagipula, kamu butuh uang tunai *sekarang*, kan?" Wanita itu menunjuk amplop cokelat di samping mesin kasir.
Kata-kata itu menohok Alana. Ia tidak punya posisi tawar. Rekeningnya kosong, deposito ibunya dicairkan Hendra, dan ia butuh uang untuk membayar konsultasi hukum yang tidak bisa dilacak ayahnya. Alana mengangguk pelan, seolah lehernya kaku. Ia melepaskan pegangan tas itu. Rasanya seperti melepas tangan ibunya untuk kedua kali.
"Oke. Dua puluh lima," bisik Alana.
Lima menit kemudian, Alana keluar dari butik dengan amplop tebal di dalam tas selempang kanvasnya. Ia tidak menoleh lagi ke etalase di mana tas ibunya kini dipajang. Ia menghentikan taksi biru, bukan memesan taksi online, untuk menghindari jejak digital yang bisa dipantau Hendra.
***
Kantor Hukum Burhan & Rekan terletak di sebuah ruko tiga lantai di daerah Fatmawati, terjepit di antara toko keramik dan warung makan Padang. Jauh dari kemewahan firma hukum SCBD yang biasa menangani urusan Wardhana Group. Alana memilih tempat ini karena satu alasan: mereka tidak kenal Hendra Wardhana.
Ruangan itu sempit, penuh dengan tumpukan berkas yang menggunung di atas meja. Pendingin ruangan berbunyi *humming* yang mengganggu. Di balik meja, Burhan, pria berusia lima puluhan dengan kemeja batik yang sedikit pudar warnanya, membolak-balik fotokopi dokumen yang dibawa Alana.
"Jadi, Pak Hendra mencairkan deposito atas nama Ibu Anda?" tanya Burhan tanpa basa-basi.
"Benar. Itu warisan untuk saya. Seharusnya cair saat saya lulus kuliah," jawab Alana. Ia duduk tegak, berusaha terlihat dewasa meski tangannya gemetar di pangkuan.
"Rekeningnya jenis apa? *Joint account* atau *trust*?"
"Rekening bersama. Ayah dan Ibu. Tapi ada surat wasiat Ibu—tulisan tangan—yang bilang itu untuk pendidikan saya."
Burhan melepas kacamata bacanya dan menghela napas panjang. Bunyi napas itu terdengar berat di ruangan kecil itu. "Mbak Alana, surat wasiat tulisan tangan tanpa notaris itu lemah di mata hukum, apalagi jika ada akta otentik dari bank yang menyatakan rekening itu 'And/Or'. Artinya, salah satu pihak bisa menarik dana tanpa persetujuan pihak lain. Secara teknis perbankan, Ayah Anda tidak mencuri. Dia mengambil uang dari rekening di mana dia punya hak akses."
Alana terdiam. Harapannya retak. "Tapi dia menggunakannya untuk... untuk selingkuhannya. Saya punya buktinya. Transfer, foto, semuanya."
Burhan mencondongkan tubuh ke depan. "Perselingkuhan bukan tindak pidana korupsi, Mbak. Itu masalah moral. Kalau Anda mau menggugat secara perdata untuk pengembalian dana, Anda harus membuktikan bahwa uang itu digunakan untuk sesuatu yang melanggar hukum atau merugikan Anda secara materiil dengan niat jahat. Prosesnya panjang. Biayanya mahal. Dan lawan Anda adalah Hendra Wardhana."
"Saya punya uang," potong Alana cepat. Ia meletakkan amplop cokelat berisi dua puluh lima juta di atas meja. "Ini untuk *retainer* awal. Saya cuma butuh Bapak cari celah. Apa saja. Saya tidak mau dia menghabiskan uang Ibu saya untuk perempuan itu."
Burhan menatap amplop itu, lalu menatap mata Alana. Ada kilat keputusasaan di sana yang dikenali pengacara tua itu. Ia menarik amplop itu perlahan.
"Saya akan pelajari akta pendirian perusahaan dan aset-aset lain. Kita cari tahu apakah ada penggelapan pajak atau pencampuran aset perusahaan dengan pribadi. Itu celah yang lebih realistis daripada mempermasalahkan deposito," ujar Burhan. "Tapi ingat, Mbak. Begitu kita kirim somasi atau mulai penyelidikan terbuka, Ayah Anda akan tahu. Anda siap perang?"
"Saya sudah ada di medan perang, Pak. Saya cuma baru sadar sekarang," jawab Alana dingin.
***
Langit Jakarta sudah gelap ketika Alana tiba di *penthouse*. Lift berdenting, pintu terbuka langsung ke ruang tamu yang luas. Alana berharap rumah kosong, tapi ia disambut oleh suara tawa yang familiar. Tawa yang dulu ia anggap sebagai suara persahabatan, kini terdengar seperti gesekan pisau di piring keramik.
Di ruang makan, di bawah *chandelier* kristal, Hendra dan Siska sedang menikmati makan malam. Ada beberapa kotak makanan *take-away* dari restoran Jepang premium di atas meja. Siska duduk di kursi yang biasanya diduduki Alana—di sebelah kanan Hendra.
"Eh, Alana sudah pulang," sapa Siska dengan nada riang yang dibuat-buat. Ia bangkit, memamerkan gaun sutra selutut berwarna merah marun. "Ayo makan, Lan. Mas Hendra... eh, Om Hendra beli sushi favorit kamu."
Alana mematung di ambang pintu. Penggunaan kata 'Mas' yang dikoreksi dengan canggung itu bukan ketidaksengajaan. Itu provokasi. Siska sedang menguji batas.
"Aku sudah makan," bohong Alana. Matanya tertuju pada leher Siska. Sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian kecil melingkar di sana. Alana mengenali modelnya. Itu mirip dengan yang ada di katalog perhiasan yang pernah ditandai ibunya di majalah lama.
"Duduk dulu, Alana," perintah Hendra tanpa menoleh, sibuk menuangkan *shoyu* ke piring kecilnya. "Ada yang mau Papa bicarakan."
Alana berjalan mendekat, tapi tidak duduk. Ia berdiri di seberang meja, menatap ayahnya dan sahabatnya—dua orang yang paling ia percayai, kini menjadi dua orang asing yang paling berbahaya.
"Ada apa, Pa?"
"Mulai bulan depan, Papa akan kurangi *limit* kartu kredit kamu jadi lima juta saja," ucap Hendra datar, lalu memasukkan potongan salmon ke mulutnya.
Alana ternganga. Lima juta? Itu bahkan tidak cukup untuk biaya bensin dan operasional kuliah S2-nya, belum lagi kebutuhan sehari-hari. "Kenapa? Papa bilang bisnis sedang bagus kemarin."
"Siapa bilang bagus? Proyek di Cikarang macet. Kita harus berhemat," jawab Hendra. Ia kemudian menoleh ke Siska, tersenyum hangat—senyum yang tidak pernah ia berikan pada Alana sejak ibunya meninggal. "Untung ada Siska. Dia kasih ide brilian buat efisiensi biaya operasional kantor. Papa angkat dia jadi Asisten Manajer Personalia mulai besok. Gajinya naik, wajar kan? Dia kerja keras."
Alana merasa darahnya mendidih. Uang ibunya diambil, jatah bulanannya dipotong dengan alasan 'hemat', tapi di saat yang sama Hendra menaikkan gaji Siska dan membelikannya perhiasan. Ini bukan tentang ekonomi. Ini tentang transfer aset secara perlahan.
"Selamat ya, Sis," ucap Alana. Suaranya datar, tanpa emosi. Ia menatap Siska tajam. "Semoga gajinya cukup buat beli barang-barang sendiri, jadi nggak perlu... meminjam punya orang lain."
Senyum Siska menipis sesaat, matanya berkilat waspada. Tapi ia cepat menguasai diri. "Makasih, Lan. Aku belajar banyak dari Om Hendra. Oh ya, Lan, anting aku ketemu nggak ya? Sayang banget kalau hilang, itu... hadiah spesial."
Siska menekankan kata 'hadiah spesial' sambil melirik Hendra sekilas. Sebuah kode rahasia di depan mata Alana.
Alana meremas tali tasnya. Di dalamnya, kuitansi penjualan tas ibunya terasa panas. Ia ingin berteriak, melemparkan bukti foto di wajah mereka. Tapi kata-kata Burhan terngiang: *Anda harus membuktikan niat jahat. Anda butuh strategi, bukan emosi.*
"Nggak lihat," jawab Alana singkat. "Aku capek. Mau tidur."
Alana berbalik menuju kamarnya. Langkahnya diatur setenang mungkin.
"Jangan lupa matikan lampu ruang tengah kalau nanti keluar minum," seru Hendra, tidak peduli pada perasaan anaknya, lebih peduli pada tagihan listrik.
Sesampainya di kamar, Alana mengunci pintu. Ia menyalakan laptop, membuka *file* tersembunyi yang ia beri nama 'Skripsi Revisi'. Di dalamnya, ia membuat entri baru:
*Tanggal: 14 Mei. Kejadian: Limit kartu dipotong. Alasan: Efisiensi fiktif. Fakta: Siska naik jabatan dan gaji. Bukti visual: Kalung baru Siska (perlu dicek merek dan harganya). Aset terjual: Tas Lady Dior Ibu (25 Juta) untuk biaya lawyer. Status: Perang dingin dimulai.*
Alana menatap layar laptopnya. Cahaya biru memantul di wajahnya yang kini tidak lagi memancarkan kenaifan seorang putri tunggal yang manja. Ia baru saja menjual kenangan ibunya untuk membeli senjata melawan ayahnya. Tidak ada jalan kembali.