Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gedung Herbal
Seolah menemukan jangkar di tengah badai, Nora menoleh padanya dengan sorot mata memohon pertolongan.
Fauzan mengangkat alisnya sedikit, lalu terkekeh ringan. Suaranya santai, nyaris seperti angin sore yang menyapu dedaunan.
“Aktingmu bagus sekali,” ujarnya sambil tersenyum tipis. “Sungguh disayangkan kalau kau tidak terjun ke dunia perfilman.”
Wajah Romy Tampubolon seketika berubah. Senyum penuh kasih itu runtuh, digantikan ekspresi marah yang tertahan.
“Apa maksudmu?” bentaknya. “Ketulusanku pada Nora bisa disaksikan langit dan bumi! Jika ada satu saja kebohongan, biarlah petir menyambarku saat ini juga!”
Di balik kata-kata itu, ada keyakinan palsu yang dibungkus keangkuhan. Namun Fauzan hanya tersenyum, senyum yang tenang, senyum seseorang yang telah melihat jauh ke dalam hati manusia.
“Benarkah?” katanya pelan. “Kalau begitu, mari kita biarkan semua orang menyaksikan seberapa tulus ketulusanmu.”
Tanpa memberi kesempatan, tangan Fauzan bergerak cepat—cepat bagaikan kilatan cahaya. Dalam sekejap, ia telah menyelipkan tangannya ke saku dalam jas Romy Tampubolon, lalu menarik keluar sebuah benda putih.
Benda itu kecil. Lembut. Dan jelas bukan milik seorang pria.
Itu adalah sepotong pakaian dalam wanita, tipis dan hampir tembus pandang, jenis yang bahkan membuat sebagian orang memalingkan wajah karena malu.
Kerumunan terdiam sesaat.
Fauzan mengangkat benda itu, memperlihatkannya dengan ekspresi santai namun tajam.
“Tuan Muda Romy,” katanya dengan nada bercanda namun menusuk, “tolong jelaskan ini. Apakah ini yang kau sebut ketulusan?”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih nyaring.
“Kau bersumpah tidak memandang perempuan lain selama setengah tahun, bukan? Kalau begitu, dari mana asal benda ini? Jangan bilang kau yang memakainya sendiri.”
“Ak—aku…”
Romy Tampubolon terdiam. Tenggorokannya terasa kering, bibirnya bergerak tanpa suara. Dalam kepalanya, pikiran berlarian tak tentu arah.
Ia bukan tidak pernah bersama perempuan selama enam bulan terakhir. Justru sebaliknya. Hidupnya dipenuhi pesta, gemerlap, dan kesenangan sesaat. Ia bahkan memiliki kebiasaan menyimpan “kenang-kenangan” setiap kali berganti pasangan—sebuah kebiasaan kotor yang tak pernah terungkap… hingga hari ini.
Pakaian dalam itu adalah sisa dari malam sebelumnya. Kecil, tipis, dan tersembunyi rapat di saku jas. Ia yakin tak seorang pun akan menemukannya.
Lalu bagaimana mungkin Fauzan Arfariza bisa menariknya keluar begitu saja?
Kerumunan yang semula bersorak kini meledak dalam kegaduhan lain—lebih liar, lebih tajam.
“Brengsek! Hampir saja aku tertipu!”
“Bawa barang perempuan lain di sakunya, tapi berani-beraninya melamar di depan umum!”
“Tak tahu malu! Mulutnya bicara suci, tapi tangannya kotor!”
“Bukankah dia bersumpah akan disambar petir? Kenapa langit belum menghukumnya?”
Setiap kata adalah cambuk. Setiap tatapan adalah pisau.
Romy menelan ludah, lalu dengan sisa kecerdasannya, ia memaksa sebuah senyum.
“Nora, jangan salah paham,” katanya tergesa. “Kemarin seorang temanku meminjam jas ini untuk kencan. Dia ingin pamer. Barang di dalamnya pasti miliknya. Tidak ada hubungannya denganku.”
Alasan itu terdengar rapuh, namun ia berharap ada yang mempercayainya.
Namun Fauzan Arfariza hanya menggeleng pelan.
Ia melemparkan pakaian dalam itu ke lantai dengan santai, seolah membuang debu tak berarti. Lalu, sekali lagi, tangannya bergerak.
Kali ini lebih cepat.
Dari saku celana Romy Tampubolon, ia menarik keluar sebuah benda berwarna merah muda.
Kerumunan kembali terdiam.
Benda itu kecil, berbentuk khas, dan siapa pun yang cukup dewasa pasti mengenalinya.
“Tuan Muda Romy,” ujar Fauzan dengan nada datar namun mematikan, “kalau yang ini, apa juga milik temanmu?”
Ia mengangkat benda itu sedikit lebih tinggi.
“Kalau aku tidak salah, ini disebut alat pengaman. Apakah kau juga meminjamkan celanamu pada teman yang sama?”
Wajah Romy memucat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dunia seakan runtuh di bawah kakinya.
Nora Ananta menatapnya dengan mata berkaca-kaca—bukan karena sedih, melainkan karena jijik. Di dadanya, amarah bercampur kekecewaan berputar liar. Kata-kata manis yang tadi melayang bak puisi kini berubah menjadi dusta murahan.
Di tengah keheningan itu, Fauzan berdiri tegak. Posturnya tenang, namun auranya terasa menonjol, seperti Pedang yang terhunus tanpa perlu diayunkan. Di dalam tubuhnya, Energi Vital mengalir stabil, menjaga Keseimbangan dan Kestabilan batinnya tetap utuh.
Ia telah melihat terlalu banyak kepalsuan di dunia ini—di lorong rumah sakit, di balik jas Dokter palsu, di balik senyum orang-orang beruang Rupiah berlimpah. Hari ini, satu lagi topeng runtuh.
Dan Gedung Herbal , tempat pengobatan yang seharusnya suci, menjadi saksi.
Sementara itu, di kejauhan, aroma obat dari resep dan ramuan tua seolah berdesir, menyimpan bisikan tentang kebenaran yang selalu menemukan jalannya.
Bab ini belum berakhir.
Takdir masih berputar.
Dan di Kota Jakarta, badai baru saja dimulai.
----------
Bab Ini: Mawar yang Robek, Harga Diri yang Hancur
“Aku… aku…”
Romy Tampubolon terdiam. Kata-kata tercekat di tenggorokannya, seperti duri mawar yang tiba-tiba menusuk lidahnya sendiri. Wajahnya yang biasanya penuh kepercayaan diri kini berubah kaku, dipenuhi kegugupan yang tak mampu ia sembunyikan. Dalam hatinya, ia tahu—hari ini, seluruh topeng kemewahan dan pesona palsu yang selama ini ia kenakan sedang runtuh satu per satu.
Sebagai putra konglomerat ternama Jakarta, Romy Tampubolon terbiasa berganti pasangan wanita secepat ia mengganti jam tangan mahalnya. Bagi dirinya, Ferarri, jas eksklusif, dan perlengkapan pengaman pria adalah sesuatu yang selalu ia bawa—standar hidup, bukan lagi kebutuhan. Barang-barang itu seperti identitas kedua, melekat sepanjang tahun, ke mana pun ia melangkah.
Namun yang membuat hatinya benar-benar terguncang bukanlah tertangkap basah, melainkan ketidak masuk akalan situasi ini.
Jika dibandingkan dengan kain tipis yang tadi terjatuh dari sakunya—sesuatu yang seharusnya hanya ia dan langit malam yang tahu—benda kecil itu bahkan jauh lebih besar. Bagaimana mungkin seorang pemuda biasa seperti Fauzan Arfariza bisa mengetahuinya?
“Mustahil…” gumam Romy dalam hati.
“Apakah bocah ini… memiliki penglihatan tembus pandang?”
Keringat dingin mulai merembes di punggungnya.
“Nora… jangan salah paham,” katanya akhirnya, memaksakan senyum yang terdengar lebih seperti jeritan orang tenggelam. “Aku sendiri tidak tahu dari mana benda itu berasal. Mungkin salah satu temanku sengaja menjebakku. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa.”
Kini, satu-satunya jalan yang tersisa baginya hanyalah menyangkal sampai mati. Sebab jika kebenaran itu terungkap sepenuhnya, maka bukan hanya rencananya yang hancur—harga dirinya pun akan diinjak-injak di hadapan umum.
“Benarkah begitu?”
Suara Fauzan Arfariza terdengar tenang, namun mengandung tekanan yang tak kasatmata. Dengan gerakan santai, ia merogoh saku lainnya, lalu mengangkat tangannya perlahan.
Dua butir pil kecil berwarna putih terbaring di telapak tangannya.
“Kalau aku tidak keliru,” ujar Fauzan, suaranya datar namun tajam seperti mata pedang yang baru diasah, “ini adalah obat pencegah kehamilan darurat, bukan? Perlengkapanmu sungguh lengkap, Tuan Muda Romy. Ataukah ini juga bagian dari ‘lelucon’ temanmu?”
Setiap kata seperti palu godam yang menghantam dada Romy Tampubolon tanpa ampun.
Wajah Nora Ananta seketika memucat, lalu berubah menjadi merah padam—bukan karena malu, melainkan karena jijik yang meluap tanpa bisa dibendung.
“Romy Tampubolon,” katanya dengan suara dingin yang menusuk tulang, “pergi dari hadapanku. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Seumur hidupku.”
Kalimat itu adalah vonis.
Segala upaya yang telah Romy susun dengan penuh perhitungan—999 mawar merah, sorotan kamera, kerumunan saksi, dan sandiwara cinta palsu—semuanya runtuh seperti istana pasir diterjang gelombang.
Dalam sekejap, amarah menggantikan kepanikan.
“Bajingan!” teriaknya, kehilangan kendali. “Aku akan membunuhmu!”
Tak ada lagi kepura-puraan. Ia mengayunkan tinjunya ke arah wajah Fauzan Arfariza, digerakkan oleh amarah buta dan harga diri yang tercabik-cabik.
Namun Romy lupa satu hal penting.
Tubuhnya, yang selama bertahun-tahun dimanjakan oleh anggur mahal dan nafsu tanpa batas, telah lama kosong dari kekuatan sejati. Sebaliknya, Fauzan Arfariza berdiri tegak, napasnya stabil, Energi Vital mengalir tenang dalam tubuhnya—hasil dari keseimbangan dan kestabilan yang terjaga.
Sebuah tendangan singkat, cepat, dan akurat menghantam perut Romy.
Tubuh Tuan Muda itu terlempar mundur, menghantam tumpukan 999 mawar merah yang kini berubah menjadi alas kehancuran.
“Aaaaargh—!”
Jeritan menyayat udara.
Walau benturannya tidak terlalu keras, duri-duri mawar yang tajam menancap ke sekujur tubuhnya. Saat ia berusaha bangkit, jas mahalnya telah robek, kulitnya berdarah, dan duri mawar menempel seperti ejekan alam semesta.
“Kau berani merebut wanitaku,” geramnya sambil terhuyung. “Tunggu saja. Kau akan menyesal.”
Ia berbalik hendak kabur, namun nasib tampaknya belum selesai mempermainkannya.
Baru beberapa langkah, penutup selokan di bawah kakinya terjungkal.
Blup!
Tubuh Romy Tampubolon lenyap ke dalam selokan, disertai bau busuk yang langsung menyebar ke udara.
Tawa meledak dari kerumunan.
Ketika akhirnya ia memanjat keluar, tubuhnya dipenuhi lumpur, sampah, dan bau menyengat yang menusuk hidung. Para bawahannya yang menyamar di antara kerumunan segera bergegas menghampiri, membantu tuan mereka pergi dengan wajah tertunduk, penuh rasa malu yang tak terucapkan.
Sorak tawa dan ejekan mengiringi kepergian mereka.
Tuan muda yang tadi begitu angkuh kini pergi seperti badut panggung.
Orang-orang tak lagi menahan diri.
“Anak muda, hebat sekali!”
“Nona, matamu tajam. Pemuda yang kau pilih luar biasa!”
“Akhirnya ada yang berani memberi pelajaran pada kaum berduit itu!”
Pujian mengalir deras kepada Fauzan Arfariza. Selama ini, masyarakat hanya bisa memendam kejengkelan terhadap kesewenang-wenangan para anak orang kaya. Hari ini, kemarahan itu terlampiaskan.
Nora Ananta menarik Fauzan ke samping. Tatapannya menyala—campuran kagum, penasaran, dan rasa syukur yang sulit dijelaskan.
“Bagaimana kau melakukannya?” tanyanya lirih.
Apa yang baru saja ia saksikan terlalu sempurna untuk disebut kebetulan. Romy Tampubolon benar-benar dihancurkan tanpa sisa.
Fauzan tersenyum ringan. “Bukankah kau melihat semuanya?”
Nora tersipu. “Maksudku… bagaimana kau tahu dia menyimpan benda-benda itu di sakunya?”
Fauzan tentu tak akan menjelaskan tentang kemampuan pengamatannya yang menembus lapisan terdalam yang tersembunyi. Ia hanya berkata, “Aku seorang Dokter pengobatan tradisional. Dari kondisinya, aku tahu Energi Vital ginjalnya sangat lemah. Sisanya mudah ditebak.”
Nora tak bertanya lagi.
“Terima kasih,” katanya tulus. “Setelah jam kerja, aku akan mentraktirmu makan.”
Ia pun bergegas menuju gedung kantor Grup Ananta. Keributan barusan hampir membuatnya terlambat.
Fauzan Arfariza memandang kepergiannya sejenak, lalu melangkah pergi.
Tak lama kemudian, ia tiba di Balai Seribu Ramu, klinik pengobatan tradisional terbesar di Jakarta.
Bangunan itu bergaya kuno, penuh ukiran kayu dan aroma herbal yang menenangkan. Di gerbang tergantung sepasang kaligrafi:
Tak seorang pun melihat amal yang dilakukan,
namun langit mengetahui niat yang tulus.
Fauzan melangkah masuk. Di kiri, apotek ramuan; di kanan, ruang praktik Dokter tradisional.
Karena baru buka, belum banyak pelanggan. Seorang penjaga toko di balik meja obat sibuk menatap layar ponselnya, jarinya menari cepat di permainan daring.
Saat Fauzan mendekat, pria itu hanya melirik sekilas, lalu kembali menunduk tanpa sepatah kata.
“Aku ingin membeli obat,” ujar Fauzan.
“Sebentar,” jawab penjaga itu tanpa mengangkat kepala. “Tidak lihat aku sedang sibuk?”
Fauzan terdiam. Bermain gim disebut sibuk?
Ia hampir berbalik pergi, namun kebutuhan akan bahan ramuan untuk meracik Pil Pendirian Dasar membuatnya menahan langkah. Banyak bahan langka yang hanya tersedia di tempat sebesar ini.
Dengan napas ditahan, ia bersiap menghadapi rintangan berikutnya—karena jalan seorang Dokter sejati, seperti Pedang yang diasah oleh cobaan, tak pernah lurus dan mudah.
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT