NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Bersemangat

Rabu adalah hari yang aneh dalam kalender korporat. Ia tidak memiliki semangat baru seperti Senin, tidak memiliki harapan kebebasan seperti Jumat, dan sering kali terasa berjalan dua kali lebih lambat dari hari-hari lainnya. Raka duduk di kubikelnya, menatap layar monitor yang memancarkan cahaya biru redup. Di sekelilingnya, suara *keyboard* yang diketik dengan ritme acak beradu dengan dengungan mesin pendingin ruangan yang terdengar seperti napas raksasa yang lelah.

Biasanya, di pertengahan minggu seperti ini, pikiran Raka akan mulai melayang. Ia akan menatap kosong ke arah jendela, membiarkan pikirannya ditarik mundur ke masa lalu—mengingat bagaimana Rabu sore dulu adalah waktu rutin mereka untuk mencari buku diskon atau sekadar duduk diam di kafe murah. Namun hari ini, Raka menyadari sesuatu yang berbeda: fokusnya ada di sini, pada baris-baris angka di *spreadsheet* Excel di hadapannya.

"Mas Raka?"

Suara itu pelan, ragu-ragu, memecah konsentrasi Raka. Ia menoleh. Rini, anak magang yang kemarin ia bantu, berdiri di samping mejanya sambil memeluk laptop dengan kedua tangan di dada, seolah laptop itu adalah tameng pelindung.

"Ya, Rin? Ada yang salah lagi?" tanya Raka. Nadanya datar, tapi tidak dingin. Ia menyadari dirinya tidak merasa terganggu.

"Enggak, Mas. Cuma... aku mau mastiin rumus yang di *sheet* tiga. Takutnya salah *link* lagi kayak kemarin. Mas Bayu lagi sibuk telepon, jadi..." Rini menggantung kalimatnya, matanya bergerak gelisah.

Raka menggeser kursinya sedikit, memberi isyarat agar Rini mendekat. Aroma vanilla yang manis dan *powdery* kembali tercium. Kemarin, aroma ini adalah kejutan yang asing. Hari ini, aroma itu hanyalah fakta: Rini memakai parfum vanilla. Itu saja. Tidak ada memori yang tumpah, tidak ada rasa sesak di dada karena aroma itu berbeda dari aroma jeruk nipis atau lavender yang biasa dipakai mantannya. Otak Raka mulai belajar untuk tidak membandingkan setiap input sensorik dengan *database* masa lalunya.

"Coba lihat," kata Raka sambil menunjuk layar laptop Rini yang kini diletakkan di meja.

Mereka menghabiskan sepuluh menit membahas pivot table. Raka menjelaskan dengan perlahan, menunjuk kolom-kolom yang perlu diperbaiki. Dulu, mantannya adalah tipe orang yang tidak sabaran dengan teknologi. Setiap kali Raka mencoba mengajarkan sesuatu yang teknis, wanita itu akan merajuk dan berkata, *"Kamu aja yang kerjain, aku pusing."* Itu dulu terdengar manja dan menggemaskan. Sekarang, melihat Rini yang mencatat setiap instruksinya dengan tekun di buku catatan kecil bermotif kucing, Raka menyadari bahwa ketidaktahuan yang disertai kemauan belajar jauh lebih menyegarkan daripada ketidaktahuan yang dipelihara.

"Oh, jadi kuncinya di *vlookup*-nya ya, Mas. Paham, paham. Makasih banget ya, Mas Raka," ujar Rini, wajahnya cerah karena masalahnya terpecahkan.

"Sama-sama. Kalau bingung tanya aja, daripada salah pas presentasi," jawab Raka.

Tepat saat Rini kembali ke mejanya, kepala Bayu muncul dari balik partisi kubikel Raka. Rambutnya agak berantakan, tanda ia baru saja melewati panggilan telepon yang alot dengan klien.

"Cie, mentor teladan," goda Bayu, suaranya dipelankan tapi cengirannya lebar. "Udah cocok lu jadi *team leader*."

Raka mendengus pelan, kembali menghadap monitornya. "Dia nanya kerjaan, Bay. Bukan nanya zodiak."

"Yaelah, kaku amat. Makan siang yuk? Gue lagi pengen bakso yang di belakang gedung. Katanya tetelannya lagi banyak hari ini."

Raka melirik jam tangan. Pukul 12:05. Perutnya memang sudah memberi sinyal lapar. Biasanya, ia akan menolak ajakan makan di tempat ramai seperti warung bakso di jam makan siang—terlalu berisik, terlalu banyak asap rokok, terlalu banyak orang yang mengingatkannya pada betapa sepinya ia. Tapi bayangan kuah bakso yang panas dan gurih terasa lebih menggoda daripada ketakutannya.

"Ayo," jawab Raka singkat. Ia bangkit, mengambil dompet dan ponselnya. "Tapi gue nggak mau lama-lama. Masih ada laporan yang belum kelar."

"Siap, Bos!" Bayu menepuk bahu Raka.

Saat mereka berjalan menuju lift, Rini terlihat sedang berdiri bingung di depan lobi, memegang dompetnya. Bayu, dengan sifat ramahnya yang alamiah, langsung menyapa.

"Mau makan, Rin? Sendirian aja kayak pendekar."

Rini menoleh, tersenyum canggung. "Eh, Mas Bayu, Mas Raka. Iya nih, temen magang yang lain lagi pada bawa bekal. Aku lupa bawa."

"Gabung kita aja, yuk? Kita mau ngebakso. Lu doyan bakso kan? Apa alergi daging sapi?" cerocos Bayu.

Raka merasakan sedikit ketegangan. Makan berdua dengan Bayu adalah satu hal; itu adalah dinamika yang sudah ia mulai pahami. Menambahkan orang ketiga, seorang perempuan yang baru dikenalnya, adalah variabel baru. Insting pertamanya adalah mundur, mencari alasan untuk membatalkan. *Terlalu banyak interaksi sosial,* bisik bagian otaknya yang introvert dan terluka.

Namun, Raka melihat Rini yang tampak ragu, mungkin merasa tidak enak menolak atasan tapi juga canggung untuk bergabung. Situasi ini mengingatkan Raka pada dirinya sendiri saat pertama kali masuk kerja—bingung dan takut salah langkah.

"Ikut aja, Rin. Baksonya lumayan, kok," kata Raka. Suaranya keluar lebih tenang dari yang ia duga.

Mata Bayu membelalak sedikit, terkejut Raka yang berinisiatif, tapi ia segera menutupinya dengan tawa. "Tuh, Mas Raka aja ngajak. Udah, ayo."

Siang itu, Raka duduk di bangku plastik berwarna biru di sebuah warung bakso yang riuh. Uap kuah kaldu mengepul di udara, bercampur dengan aroma bawang goreng dan cuka. Di hadapannya, Bayu sedang sibuk meracik sambal dan kecap ke dalam mangkuknya hingga kuahnya berubah warna menjadi merah gelap. Di samping Bayu, Rini makan dengan lebih sopan, namun tetap terlihat menikmati.

"Jadi, Mas Raka udah berapa lama kerja di sini?" tanya Rini di sela suapan baksonya.

"Jalan empat tahun," jawab Raka singkat, menuangkan sedikit saus sambal ke mangkuknya. Ia melihat botol saus itu—botol kaca dengan tutup oranye yang sedikit lengket. Ingatan melintas: mantannya benci makan di tempat seperti ini karena ia jijik dengan botol saus yang dipegang banyak orang. Dulu, Raka akan selalu mengelap botol itu dengan tisu basah sebelum memberikannya pada mantannya.

Tangan Raka bergerak mengambil tisu. Tapi kemudian ia berhenti. Ia tidak sedang bersama mantannya. Ia sedang bersama Bayu yang cuek dan Rini yang santai saja memegang botol kecap. Raka menarik tangannya kembali, membiarkan tisu itu tetap di tempatnya, dan langsung menuang saus.

*Tidak perlu membersihkan jalan untuk orang yang sudah tidak berjalan di sampingmu,* batin Raka. Pemikiran itu terasa membebaskan.

"Lama juga ya," komentar Rini. "Betah ya, Mas?"

"Bukan betah, Rin," sela Bayu sambil mengunyah bakso urat. "Raka ini tipe setia. Kalau udah di satu tempat, susah pindah. Ya nggak, Ka?"

Raka tersedak sedikit kuah baksonya. Ia tahu Bayu bicara soal pekerjaan, tapi kata "setia" dan "susah pindah" memiliki resonansi ganda yang menyengat. Raka meminum es teh manisnya untuk meredakan batuk.

"Kerjaan, Bay. Kita ngomongin kerjaan," Raka meralat, matanya menatap tajam ke arah Bayu, memberi kode.

Bayu tertawa kecil, mengerti batasannya. "Iya, iya. Maksud gue, Raka ini loyal sama perusahaan."

Percakapan berlanjut mengalir. Rini bercerita tentang dosen pembimbing skripsinya yang *killer*, dan Bayu menimpali dengan kisah horor masa kuliahnya sendiri. Raka lebih banyak diam, mendengarkan. Tapi diamnya kali ini bukan diam yang kosong. Ia mengamati bagaimana Bayu tertawa lepas, bagaimana Rini antusias menceritakan hal remeh. Ia merasa menjadi bagian dari *scene* ini, bukan penonton yang terpisah kaca tebal.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Raka tidak merasa perlu mengecek ponselnya untuk menghindari percakapan. Ia hadir di sana, menikmati bakso yang panas, mendengarkan keluhan tentang skripsi, dan merasakan keringat yang menetes di pelipis karena udara Jakarta yang panas. Realitas ini—yang bising, panas, dan sederhana—terasa jauh lebih nyata daripada kenangan dingin yang biasanya menghantuinya.

Menjelang sore, sekitar pukul empat, suasana kantor mulai melambat. Energi makan siang sudah habis terbakar. Raka sedang merapikan berkas ketika sebuah kotak donat mendarat di meja partisi antara dia dan Bayu.

"Rezeki anak soleh," kata Bayu, membuka kotak itu. "Si Rini beli ginian sebagai tanda terima kasih katanya. Ambil, Ka."

Di dalam kotak itu ada setengah lusin donat dengan berbagai *topping*. Ada cokelat, keju, tiramisu, dan gula halus.

Mata Raka tertuju pada donat keju. Mantannya sangat menyukai keju. Dulu, jika ada kotak donat seperti ini, Raka akan otomatis menyisihkan yang keju untuk pasangannya dan memakan sisa rasa yang tidak disukai mantannya. Kebiasaan mendahulukan orang lain itu sudah tertanam begitu dalam.

"Gue ambil yang cokelat kacang ya," kata Bayu, langsung menyambar incarannya.

Raka menatap donat keju itu lagi. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke donat dengan *topping* cokelat leleh polos. Itu favoritnya. Favorit Raka yang asli, sebelum ia sibuk menyesuaikan lidahnya dengan selera orang lain.

Tangannya terulur melewati donat keju, dan mengambil donat cokelat.

Ia menggigitnya. Teksturnya empuk, rasa manis cokelatnya mendominasi lidah. Tidak ada rasa asin keju yang ia paksakan untuk suka. Ini rasa yang ia inginkan.

"Enak?" tanya Bayu dengan mulut penuh.

"Lumayan," jawab Raka. "Manisnya pas."

"Si Rini oke juga anaknya. Nggak baperan kalau dikasih tahu," komentar Bayu.

"Hmm," gumam Raka setuju.

Sambil mengunyah donat sore itu, Raka menyadari transisi kecil yang terjadi hari ini. Ia telah memperluas lingkarannya, meski hanya beberapa sentimeter. Ia membiarkan orang baru masuk ke dalam rutinitas makan siangnya. Ia mengajarkan ilmunya tanpa merasa terbebani memori masa lalu. Dan yang paling penting, ia memilih donat cokelatnya sendiri.

Pukul lima lewat lima belas, Raka mematikan komputernya. Ia tidak menunggu kantor sepi seperti biasanya. Ia berkemas bersamaan dengan karyawan lain yang bergegas pulang.

"Duluan ya, Bay," pamit Raka.

"Yo, hati-hati. Besok jangan lupa *meeting* pagi," sahut Bayu tanpa menoleh dari layar ponselnya.

Raka berjalan keluar gedung, menyatu dengan arus manusia yang memadati trotoar Sudirman. Langit sore berwarna jingga kemerahan, memantul di gedung-gedung kaca pencakar langit. Suara klakson, deru mesin bus TransJakarta, dan langkah kaki ribuan pekerja berbaur menjadi simfoni kota yang sibuk.

Di tengah keramaian itu, Raka merogoh saku celananya, mengambil *earphone*. Ia memasangnya di telinga, lalu membuka aplikasi musik. Jarinya sempat berhenti di atas *playlist* lama—kumpulan lagu-lagu melankolis yang biasa ia dengar saat hujan. Lagu-lagu "mereka".

Raka menarik napas panjang, lalu menggeser layar ke *playlist* "Top 50 Indonesia" yang sedang tren saat ini. Ia menekan tombol *shuffle*. Lagu yang tidak ia kenal mulai mengalun, *beat*-nya cukup cepat, liriknya tentang semangat mengejar mimpi, bukan tentang patah hati.

Aneh. Dan baru.

Raka melangkah menuju stasiun MRT dengan irama lagu asing di telinganya. Garis waktu memang tidak bisa menghapus masa lalu, Raka tahu itu. Kenangan itu akan tetap ada, seperti donat keju di dalam kotak tadi. Tapi hari ini, Raka belajar bahwa ia punya pilihan untuk tidak mengambilnya. Ia punya pilihan untuk mengambil cokelat, mendengarkan lagu baru, dan berjalan maju, satu langkah demi satu langkah, di tengah kota yang tidak pernah berhenti bergerak.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!