NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pengumuman itu tertempel mentereng di papan mading utama, dicetak di atas kertas *glossy* berukuran A3 dengan desain warna-warni yang menyakitkan mata. Huruf-huruf tebal bertuliskan "FESTIVAL SENI TAHUNAN: MERAKI" seolah mengejek Keyra yang berdiri mematung di depannya.

Bagi siswa lain, poster itu berarti kebebasan dari jam pelajaran, ajang pamer bakat, atau kesempatan mendekati gebetan. Tapi bagi Keyra, poster itu adalah surat kematian.

Udara di sekitar mading mendadak terasa panas dan sesak, meski AC koridor menyala maksimal. Ingatan itu tidak datang sebagai visual yang jelas, melainkan sensasi fisik. Rasa perih di paru-paru akibat asap, panas yang melepuhkan kulit, dan suara sirine yang meraung di kejauhan. Keyra memegang lehernya sendiri, memastikan dia masih bernapas.

"Titik reset," bisiknya lirih.

Dalam setiap kepingan mimpi buruk yang mulai tersusun rapi di kepalanya sejak konfrontasi di kantin kemarin, festival ini selalu menjadi bab penutup. Entah itu ledakan di ruang genset, panggung yang rubuh, atau yang paling sering: kebakaran besar yang melahap aula utama.

Keyra tidak membuang waktu. Dia berbalik, tumit sepatunya berdecit di lantai keramik saat dia melangkah cepat membelah kerumunan siswa yang antusias. Tujuannya bukan kelas, bukan kantin, dan jelas bukan ruang guru.

Dia harus menemukan Raka.

***

Raka tidak ada di kelasnya. Tentu saja. Cowok itu punya kemampuan menghilang yang setara dengan ninja setiap kali jam pelajaran kosong atau istirahat panjang. Keyra mengecek perpustakaan, nihil. Kantin, nihil. Rooftop, terkunci.

Instingnya membawa Keyra menuju gudang peralatan olahraga di belakang gedung gimnasium—tempat yang cukup sepi dan memiliki ventilasi bagus, tempat favorit para siswa nakal untuk merokok diam-diam, atau dalam kasus Raka, mungkin untuk tidur siang.

Benar saja. Pintu gudang sedikit terbuka. Keyra mendorongnya tanpa mengetuk.

Di atas tumpukan matras lompat tinggi yang berdebu, Raka sedang berbaring santai dengan satu lengan menutupi mata. Dia tidak terlihat kaget saat pintu terbuka, seolah sudah menghitung langkah kaki Keyra yang mendekat.

"Gue nggak bawa rokok, Pak Satpam," gumam Raka malas tanpa membuka mata.

"Bangun," perintah Keyra dingin. Dia melempar gumpalan kertas brosur festival yang tadi diremasnya tepat ke dada Raka.

Raka menyingkirkan lengannya, melirik brosur kusut itu, lalu menatap Keyra dengan ekspresi datar yang menyebalkan. "Wow, agresif banget. Mau ngajak gue nge-date di festival? Sorry, antrean gue panjang."

"Kebakaran," kata Keyra. Satu kata itu meluncur tajam, memotong segala omong kosong Raka.

Senyum miring di wajah Raka lenyap seketika. Dia bangun, duduk bersila di atas matras, dan memungut brosur itu. Tatapannya pada kertas berwarna-warni itu berubah gelap, seolah dia sedang memegang bom waktu.

"Kapan?" tanya Raka. Suaranya rendah, serius, dan tanpa nada bercanda sedikitpun. Topeng badut kelasnya runtuh total.

"Jadi lo ngaku?" desak Keyra, melangkah maju hingga bayangannya menutupi Raka. "Lo tahu bakal ada kebakaran?"

Raka menghela napas panjang, mengacak rambutnya frustrasi. Dia tidak lagi berusaha menyangkal seperti di kantin. Situasinya sudah terlalu genting. "Biasanya hari kedua. Pas penutupan. Sekitar jam tujuh malam, waktu band utama main."

Jantung Keyra mencelos. Konfirmasi itu terasa melegakan sekaligus mengerikan. "Penyebabnya?"

"Korsleting di ruang audio belakang panggung. Kabel tua, beban listrik berlebih dari *lighting* tambahan, plus tumpukan kardus properti yang gampang kebakar," Raka menjelaskan dengan detail teknis yang mengerikan, seolah dia sudah membaca laporan forensik kejadian itu berkali-kali. "Di putaran... maksud gue, di skenario lain, kadang penyebabnya puntung rokok yang dibuang sembarangan di gudang kostum."

"Oke," Keyra menarik napas, mencoba menyeimbangkan adrenalin yang membanjiri darahnya. "Kita harus batalin festivalnya."

"Nggak bisa," potong Raka cepat. Dia melompat turun dari tumpukan matras, mulai mondar-mandir di ruang sempit itu. "Kalau festival batal, variabelnya berubah terlalu drastis. Efek kupu-kupu, Key. Lo mungkin selamat dari kebakaran, tapi bisa aja lo ketabrak truk pas pulang sekolah karena rute bus lo berubah, atau atap sekolah rubuh di hari biasa. Kita nggak bisa ngilangin *event*-nya. Kita harus ngilangin pemicunya."

Keyra menatap Raka tak percaya. "Lo ngomongin nyawa gue kayak lagi ngomongin soal matematika."

"Karena ini emang matematika! Probabilitas!" Raka berhenti, menatap Keyra tajam. Ada kilatan putus asa di matanya yang jarang terlihat. "Gue udah nyoba nyegah festivalnya dua kali. Hasilnya... berantakan. Lo nggak mau tahu apa yang terjadi."

Keyra menelan ludah. Dia memutuskan untuk mempercayai Raka, setidaknya untuk saat ini. "Jadi, apa rencananya?"

Raka berjongkok, mengambil sebatang kapur tulis bekas yang tergeletak di lantai (sisa coretan anak basket), lalu mulai menggambar sketsa kasar denah aula di lantai semen gudang.

"Ini panggung utama," Raka membuat kotak besar. "Ini ruang kontrol audio. Ini pintu darurat. Masalah utamanya adalah, pintu darurat ini sering digembok sama Pak Asep biar siswa nggak kabur pas apel. Saat api mulai, orang-orang panik, numpuk di pintu utama, dan... *boom*."

Keyra bergidik. "Tugas gue?"

"Lo urus logistik dan perizinan. Lo kan anak emas guru-guru," Raka menunjuk posisi pintu darurat. "Pastikan kuncinya dibuka. Alasan aja buat jalur evakuasi standar atau apalah. Buat sirkulasi udara. Apapun yang masuk akal."

"Terus lo?"

"Gue bakal masuk ke tim teknis. Gue perlu akses ke kabel-kabel itu tanpa dicurigai. Gue bakal ganti sekringnya sama yang standar industri, rapihin kabel yang terkelupas, dan pastiin nggak ada bahan mudah terbakar di radius lima meter dari panel listrik."

"Lo ngerti kelistrikan?" Keyra mengangkat alis.

Raka tersenyum tipis, kali ini sedikit lebih tulus. "Ada banyak hal yang bisa lo pelajari kalau lo punya... banyak waktu. Listrik cuma salah satunya."

Keyra mengangguk, otaknya berputar cepat. Rencana ini masuk akal. Tapi ada satu variabel yang belum mereka bahas.

"Gimana kalau bukan kecelakaan?" tanya Keyra. "Gimana kalau ada yang sengaja?"

Raka terdiam sejenak. Matanya menyipit. "Maksud lo?"

"Julian," sebut Keyra. "Dia ketua panitia tahun ini, kan?"

Rahang Raka mengeras saat mendengar nama itu. Dia berdiri, membersihkan debu kapur dari tangannya. "Julian emang ambisius, tapi dia bukan pembunuh... setidaknya belum. Tapi lo bener. Kita nggak bisa ambil risiko."

Raka mendekat ke Keyra, wajahnya serius. "Selain ngurus kunci, gue butuh lo jadi mata-mata. Tempel Julian. Perhatiin siapa aja yang keluar masuk area belakang panggung. Kalau ada yang bawa cairan mencurigakan atau main api, lo langsung kasih kode ke gue."

"Kode apa?"

"Miscall gue tiga kali berturut-turut. Itu sinyal bahaya level merah."

Keyra mengangguk mantap. Kesepakatan terbentuk tanpa jabat tangan. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa sendirian menghadapi takdir mengerikan ini. Ada Raka—si jenius misterius yang terjebak dalam lingkaran waktu yang sama.

"Satu lagi, Key," panggil Raka saat Keyra hendak berbalik menuju pintu.

Keyra menoleh. "Apa?"

"Jangan mati," kata Raka pelan. Tatapannya intens, menembus pertahanan Keyra. "Gue capek nge-reset semuanya dari awal cuma buat nyelamatin lo lagi."

Kata-kata itu menghantam Keyra lebih keras dari tamparan. *Nge-reset semuanya*. Jadi selama ini, Raka yang memutar waktu? Atau Raka hanya penumpang yang sadar seperti dirinya?

Belum sempat Keyra bertanya, bel masuk berbunyi nyaring, memecahkan ketegangan di antara mereka.

"Sana balik kelas. Anak rajin nggak boleh telat," usir Raka, kembali memasang topeng santainya, meski bahunya masih terlihat tegang.

Keyra keluar dari gudang dengan jantung berpacu. Dia punya misi. Dia punya sekutu. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah perputaran waktu yang menyedihkan ini, Keyra merasa dia punya kesempatan untuk menang.

Namun, di kejauhan, dari balik pilar koridor yang mengarah ke gimnasium, sepasang mata mengawasi Keyra yang keluar dari gudang olahraga. Julian memutar ponsel mahal di tangannya, menatap punggung Keyra dengan senyum yang sulit diartikan.

"Menarik," gumam Julian pelan. "Sejak kapan Keyra main ke kandang Raka?"

Festival sekolah akan datang, dan api bukan satu-satunya hal yang perlu mereka khawatirkan.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!