NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua: Sang Putri

Kesempatan Kedua: Sang Putri

Status: tamat
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Yulianti Azis

Li Mei, putri sah dari Jenderal Besar, dijebak oleh saudara tirinya dan selir ayahnya atas tuduhan pengkhianatan.

Di tengah hujan deras, di hadapan rakyat yang mencemoohnya, Li Mei berlutut di atas panggung eksekusi, menunggu algojo mengayunkan pedangnya. Keluarganya hanya menatap dingin ke arahnya.

Namun, saat bilah tajam hampir menyentuh lehernya, suara dingin dan mekanis tiba-tiba menggema di kepalanya:

[“Sistem Reinkarnasi Aktif. Apakah Anda ingin hidup kembali dan membalas dendam?”]

Ya!

Saat Li Mei membuka mata, dirinya terbangun di saat usianya masih 17 tahun. Di mana ia belum bertunangan dengan putra mahkota. Li Mei bersumpah untuk tidak mengejar cinta keluarga dan putra mahkota.

INGAT! KALAU TIDAK SUKA SILAHKAN SKIP! TIDAK PERLU MEMBERIKAN RATING BURUK.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan Dari Kediaman Jenderal

Keesokan harinya, setelah selesai pembelajaran, Li Mei berjalan santai menuju asramanya. Angin sore berhembus lembut, namun hatinya tetap tenang tanpa banyak gelombang emosi.

Saat tiba di asramanya, Xiao Lan sudah menunggunya di depan pintu dengan ekspresi sedikit ragu.

"Nona, ada surat untuk Anda," katanya sambil menyerahkan gulungan kertas yang tersegel rapi.

Li Mei mengambilnya tanpa ekspresi.

Ketika membuka dan membaca isinya, matanya menyipit sedikit.

Jenderal Li Zhen meminta Li Mei untuk kembali ke kediaman utama.

Alasannya tidak tertulis jelas, namun Li Mei tidak perlu berpikir lama untuk mengetahui maksud di balik panggilan ini.

"Jadi mereka akhirnya bertindak juga," gumamnya pelan, sudut bibirnya sedikit melengkung dalam senyum dingin.

Jika di kehidupan pertamanya dulu, dia pasti akan bergegas pulang dengan penuh harapan—berharap mendapatkan sedikit kasih sayang dari keluarganya. Meski saat tiba di sana, tidak sesuai dengan harapannya.

Namun kali ini, Li Mei akan pulang bukan untuk kembali, tetapi untuk pergi selamanya.

Li Mei menatap Xiao Lan dan berkata dengan suara tegas, "Pergilah ke kediaman Guo. Beri tahu kakek untuk menyiapkan kereta. Aku akan pulang dan membereskan barang-barangku."

Xiao Lan membelalakkan mata, sedikit terkejut. "Nona … Anda yakin ingin pergi ke sana?"

Li Mei menatap gadis itu dengan tatapan tajam namun tenang. "Aku hanya akan mengambil apa yang menjadi milikku, lalu pergi. Mereka tidak berhak menahanku lagi."

Xiao Lan mengangguk cepat. "Baik, Nona. Saya akan segera pergi!"

Tanpa membuang waktu, Xiao Lan berlari menuju kediaman Guo, meninggalkan Li Mei yang masih berdiri di depan asrama.

Li Mei memejamkan matanya sejenak, lalu menarik napas panjang.

"Kali ini … aku yang akan mengendalikan permainan."

****

Setelah perjalanan selama dua batang dupa, kereta yang membawa Li Mei akhirnya berhenti di depan kediaman Jenderal Li.

Saat dia turun dari kereta, matanya segera menangkap beberapa kereta kuda mewah berlapis lambang keluarga bangsawan. Li Mei tidak terkejut—dia tahu siapa pemiliknya.

Tanpa terburu-buru, dia melangkah menuju aula utama, di mana seluruh keluarga Li dan tamu-tamu bangsawan telah berkumpul.

Jenderal Li Zhen duduk di kursinya dengan wajah merah padam menahan amarah. Ling Zhi, ibu tiri Li Mei, duduk di sampingnya dengan ekspresi prihatin palsu.

Di sekeliling mereka, terdapat beberapa keluarga bangsawan, termasuk keluarga Huo, orang tua Huo Ning, serta keluarga lain yang putri-putrinya sempat berseteru dengan Li Mei.

Di sisi lain ruangan, Li Yuan, Li Shimin, dan Li Zhu juga sudah berada di sana, mereka pulang lebih dulu sebelum Li Mei tiba.

Ketika Li Mei memasuki aula, suasana yang sudah tegang semakin memanas.

Tanpa menunggu lebih lama, Jenderal Li Zhen berdiri dan melangkah cepat mendekati Li Mei.

“Tidak tahu diri!” teriaknya penuh amarah. “Kau berani mempermalukan keluarga ini di hadapan banyak orang?!”

Wajahnya semakin merah saat ia mengangkat tangannya, berniat menampar Li Mei di depan semua orang.

Di kehidupan sebelumnya, Li Mei akan pasrah menerima tamparan itu.

Namun kali ini tidak!

Begitu tangan besar Jenderal Li hampir menyentuh wajahnya, Li Mei mengaktifkan perlindungan energi, menciptakan penghalang tak kasatmata yang langsung memantulkan serangan itu.

Bugh!

Tubuh Jenderal Li Zhen terpental ke belakang dan menghantam kursinya sendiri, membuat aula itu hening seketika.

Mata semua orang membesar karena terkejut.

Bahkan Ling Zhi yang selalu tenang pun tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

Li Zhu menatap Li Mei dengan mata membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Sementara itu, Li Mei hanya berdiri tegak, tanpa ekspresi takut atau bersalah.

Dengan tatapan dingin, Li Mei akhirnya membuka suara. "Jenderal Li, bukankah kau yang memanggilku kemari? Jika hanya untuk menerima tamparan, aku tidak punya waktu untuk itu."

Suara tenang namun tajam itu menusuk keheningan ruangan.

Tak ada lagi Li Mei yang pasrah dan tunduk seperti dulu.

Yang berdiri di sana adalah Li Mei yang baru—Li Mei yang tidak akan pernah ditindas atau menangis lagi.

Jenderal Li Zhen masih terduduk setelah terpental ke belakang, wajahnya memerah karena amarah dan rasa malu di hadapan para tamu bangsawan.

Sebelum dia sempat berbicara, Li Yuan dan Li Shimin sudah melangkah cepat ke arah Li Mei dengan ekspresi penuh kemarahan.

“Kurang ajar! Kau sudah melampaui batas, Li Mei!” seru Li Yuan, tangannya mengepal, bersiap untuk menyerang.

“Kau pikir kau siapa hingga berani melawan Ayah?” tambah Li Shimin dengan tatapan tajam.

Namun, sebelum keduanya bisa menyentuh Li Mei, tiba-tiba keduanya...

Bugh!

Bugh!

Li Yuan dan Li Shimin ikut terpental ke belakang!

Tubuh mereka menghantam lantai dengan keras, membuat beberapa tamu menahan napas karena keterkejutan.

Li Mei berdiri tegak, memandang dingin ke arah ayah dan kedua kakaknya yang kini tergeletak setelah terpental oleh kekuatannya.

Ling Zhi dengan sigap menghampiri Jenderal Li Zhen, ekspresi wajahnya terlihat penuh kepedulian, tetapi dalam hatinya, dia tersenyum licik.

Di sisi lain, Li Zhu berlutut di samping Li Yuan dan Li Shimin, seolah-olah gadis baik hati yang peduli pada saudara-saudaranya. Dengan suara lembut namun jelas, dia berkata,

"Kakak Mei … bagaimana kau bisa setega ini? Ayah dan kedua kakak kita hanya ingin menasihatimu, tapi kau malah menyerang mereka ... kau benar-benar sudah berubah ...."

Para tamu bangsawan mulai mengangguk, mereka terpikat oleh sikap lembut dan berbudi luhur Li Zhu.

Sementara itu, mereka semakin memandang rendah Li Mei.

Namun, Li Mei hanya tersenyum dingin.

"Nasihat?" suaranya terdengar tajam, "Sejak kapan pukulan dianggap sebagai nasihat?"

Matanya berkilat saat memandang semua orang di ruangan itu.

"Apa aku harus menerima pukulan begitu saja? Aku bertanya kepada kalian semua, jika kalian dipukul tanpa alasan, apakah kalian akan diam dan menerimanya?"

Ruangan seketika hening.

Tak ada seorang pun yang berani menjawab.

Bahkan para tamu yang awalnya berniat mendukung Jenderal Li Zhen dan Li Zhu mulai ragu.

Benar juga. Jika mereka sendiri yang dipukul tanpa alasan, apakah mereka akan diam saja?

Li Zhu mengepalkan tangannya, wajahnya masih berpura-pura lembut, tetapi hatinya dipenuhi rasa kesal karena Li Mei berhasil membalikkan keadaan.

Tiba-tiba, suara berat terdengar dari belakang.

"Jenderal Li Zhen marah karena kau telah melukai putriku, Huo Ning."

Semua orang menoleh ke arah suara itu.

Seorang pria paruh baya dengan jubah pejabat kekaisaran berdiri dengan ekspresi dingin. Dialah Huo Nan, Menteri Pajak Kekaisaran, ayah dari Huo Ning.

Di sampingnya, beberapa keluarga bangsawan lain ikut mengangguk setuju. Mereka menatap Li Mei dengan tajam, seolah-olah dia adalah seorang kriminal besar.

Li Mei menatap mereka tanpa gentar.

Jenderal Li Zhen akhirnya bangkit dengan bantuan Ling Zhi, sementara Li Yuan dan Li Shimin juga mulai berdiri dengan bantuan Li Zhu.

Wajah Jenderal Li Zhen dipenuhi amarah dan rasa malu.

Li Mei telah mempermalukannya di depan semua tamu bangsawan, dan sekarang mereka menuntut jawaban.

1
Eni Srirahayu
bagus ko Thor
semangat💪
Humairah
ceritanya bagus banyak hikmah yg bisa kita ambil darinya. semangat berkarya kak
Ruby Jane
sesuai expekstasi.. cantik bgt 😍😍
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
ceritanya jadi mirip cerita harry potter yg terakhir dengan voldermortnya qian feng
Memyr 67
𝗏𝗂𝗌𝗎𝖺𝗅 𝗄𝖺𝗂𝗌𝖺𝗋 𝗒𝗎 𝗃𝗂𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝗌𝗎 𝗀𝖺𝗇𝗍𝖾𝗇𝗀
Memyr 67
𝗍𝖾𝗍𝖺𝗉 𝖺𝖽𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝗁𝗎𝗄𝗎𝗆 𝗆𝖺𝗍𝗂, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖻𝖾𝖽𝖺
Memyr 67
𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗇𝖽𝗎𝗄𝗎𝗇𝗀 𝗁𝗎𝗈 𝗇𝖺𝗇 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗒𝖺? 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗋𝖺 𝗇𝗀𝗂𝗋𝖺, 𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝖺𝗄 𝗁𝗎𝗈 𝗇𝖺𝗇. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗄𝗎 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝖺𝗎, 𝗄𝖺𝗋𝖾𝗇𝖺 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝖻𝖺𝗂𝗄 𝗁𝖺𝗍𝗂 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗎. 𝗁𝖾𝗁𝖾 😄
Memyr 67
𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗇𝗀
Risna Udi
seruu Thor ceritanya. semangat terus Thor ditunggu karya othor selanjutnya
Bunda tambun
𝒎𝒂𝒂𝒇 𝑻𝒉𝒐𝒓 𝒃𝒂𝒓𝒖 𝒌𝒐𝒎𝒆𝒏, 𝒔𝒂𝒌𝒊𝒏𝒈 𝒃𝒈𝒔 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂, 𝒃𝒏𝒓 𝒃𝒈𝒕 𝒋𝒅 𝒑𝒆𝒏𝒖𝒍𝒊𝒔 𝒊𝒕𝒖 𝒈𝒂 𝒈𝒂𝒎𝒑𝒂𝒏𝒈, 𝒖𝒅𝒉 𝒂𝒃𝒂𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒋𝒂 𝒖𝒕𝒌 𝒌𝒐𝒎𝒆𝒏 𝒚𝒈 𝒃𝒖𝒓𝒖𝒌, 𝒕𝒕𝒑 𝒔𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒍𝒊𝒔 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒌𝒂𝒓𝒚𝒂 𝒚𝒈 𝒃𝒈𝒔 𝒕𝒉𝒐𝒓, 𝒔𝒆𝒎𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒕𝒆𝒓𝒖𝒔 𝒕𝒉𝒐𝒓 👍
Macarena Mantul
bagus kok cerita nx aq maraton baca semua karya mu thor👍
Ni Ks
lanjut tor👍
Diyah Agung
bagus
alya musik
ceritanya menarik
Pcy retno
mantap gak tu wanita hina🤣
Pcy retno
yang anak jalang siapa wahai nenek sihir😄
Pcy retno
Cuiiiiii anak hasil ngejalang to ini🤮🤮🤮🤮🤮
Pcy retno
dih mana mau Guo mei jadi selir kamu🤮🤮
Pcy retno
Cemburu buta🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!