NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika suara terompet perang bergema di mulut lembah. Kabut yang biasanya tenang kini terkoyak oleh ribuan anak panah api yang meluncur dari tebing atas.

"Mereka datang!" teriak Tabib Han sambil berlari keluar dengan tas obatnya.

Liang Shan berdiri di tengah halaman. Tenaga dalamnya memang masih tertekan, namun hawa membunuhnya telah mencapai puncaknya.

Ia menarik Golok Sunyi. Logam hitam itu seolah-olah bergetar, haus akan darah setelah berminggu-minggu terdiam.

Pasukan Gigi Naga mulai merangsek masuk, diikuti oleh pendekar-pendekar Klan Murong dan Klan Xu yang haus akan kemasyhuran. Lembah yang tadinya hijau kini mulai memerah oleh api dan darah.

"Liang Shan! Keluar dan hadapi takdirmu!" suara Long Zhanyuan menggelegar, meruntuhkan keheningan lembah.

Liang Shan menatap Han Xiang untuk terakhir kalinya. "Lari ke gua belakang bersama Ayahmu. Jangan pernah menoleh ke belakang lagi."

"Liang Shan!" jerit Han Xiang.

Namun pemuda itu sudah melesat maju. Gerakannya tidak lagi seperti pendekar yang terluka. Ia bergerak seperti bayangan maut.

Saat seorang pria tidak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan, maka dia menjadi orang yang paling berbahaya di bawah kolong langit!

Liang Shan menerjang barisan depan pasukan Gigi Naga. Meskipun tenaga dalamnya tidak sepenuhnya pulih, tapi teknik goloknya telah mencapai level yang lebih tinggi setelah ia melewati batas maut di kuil tua itu.

"Bayangan Sunyi di Balik Hujan!"

Tanpa basa-basi, Liang Shan langsung melancarkan jurus kedua!

Golok hitam itu menari di tengah hujan anak panah. Setiap tebasan tidak lagi menghasilkan suara ledakan, melainkan suara desisan halus yang berakhir dengan jatuhnya lawan.

Tiba-tiba, sebuah cambuk panjang berwarna perak melesat, melilit lengan Liang Shan.

Xu Ruomei muncul dari balik asap kebakaran.

"Tuan Muda Liang, kecantikan lembah ini tidak cukup untuk menyelamatkan lehermu!" serunya sambil menarik cambuknya.

Liang Shan menarik lengannya dengan paksa, membuat Xu Ruomei terseret ke depan. Tanpa ragu, Liang Shan melepaskan satu pukulan tenaga dalam sisa yang ia miliki.

BUKK!!!

Xu Ruomei terlempar menabrak pohon persik yang sedang mekar, membuat kelopak bunganya berguguran menutupi tubuhnya yang cantik namun licik.

Namun, di ujung jalan menuju gubuk, sosok emas Jenderal Long Zhanyuan telah berdiri. Ia tidak menyerang. Ia hanya menatap gubuk itu dengan pandangan sedih. Di tangannya, pria tua tersebut memegang sebuah obor.

"Hentikan, Liang Shan," ucap Long Zhanyuan. "Atau aku akan membakar seluruh kenangan yang tersisa di lembah ini."

Liang Shan berhenti. Napasnya memburu. Di belakangnya, ia mendengar suara langkah kaki Han Xiang yang tertahan.

Dunia persilatan sekali lagi menunjukkan wajahnya yang paling asli, keadilan hanyalah kata-kata yang ditulis oleh pemenang, sementara bagi mereka yang kalah, kebenaran hanyalah sebuah belati yang menancap di punggung.

Di tengah kobaran api yang mulai melahap Lembah Kedamaian, Liang Shan menyadari bahwa pelariannya telah berakhir.

Sekarang, hanya ada dua pilihan, menyerahkan permata itu dan melihat kebenaran yang dikubur selamanya, atau bertarung sampai tetes darah terakhir dan melihat cintanya ikut menjadi abu.

Liang Shan menoleh ke arah gubuk. Han Xiang berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang tidak meminta keselamatan, melainkan meminta keteguhan.

Di sisi lain, Tabib Han tampak memegang sebuah botol kecil, ramuan rahasia yang mungkin bisa menjadi penentu hidup dan mati.

"Jenderal Long," suara Liang Shan terdengar rendah namun tajam. "Kau bicara tentang kehormatan, tapi kau membawa api ke rumah seorang sahabat yang menyelamatkan nyawamu. Apakah ini yang kau sebut sebagai pengabdian?"

Long Zhanyuan terdiam sejenak. Setelah beberapa tarikan napas, dia menjawab, "Hati seorang jenderal harus sekeras besi, meski jiwanya serapuh kaca yang retak."

"Aku melakukan ini untuk kekaisaran, bukan untuk diriku sendiri!" raung Long Zhanyuan. Ia membuang obornya ke tanah dan menghunus pedang raksasanya. "Jika kau tidak mau menyerahkan permata itu, maka biar aku cabut dari jantungmu!"

Benturan kedua antara naga emas dan golok hitam pun tak terelakkan lagi di tengah lembah yang kini menangis.

Lembah Kedamaian yang tadinya sunyi kini menjadi medan laga yang mengerikan. Cinta yang baru saja bersemi di antara Liang Shan dan Han Xiang kini diuji oleh api peperangan.

Api telah melahap pohon-pohon persik yang baru saja mulai bersemi. Kelopak bunga yang terbakar terbang tertiup angin, tampak seperti hujan darah yang menyala di kegelapan fajar.

Lembah Kedamaian, yang selama berminggu-minggu menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi jiwa Liang Shan yang lelah, kini berubah menjadi tungku raksasa.

Liang Shan berdiri di tengah halaman gubuk yang kini terkepung. Di depannya, barisan Pasukan Gigi Naga berdiri rapat dengan perisai baja mereka yang memantulkan cahaya api.

Di sisi lain, para ahli silat dari tiga klan besar—Klan Xu dengan cambuk-cambuk suteranya, Klan Murong dengan pedang-pedang tipis mereka, dan Klan Zhao dengan gada-gada beratnya—telah mengunci setiap jalan keluar.

"Serahkan Permata Tiga Hati itu, Liang Shan! Maka aku akan membiarkan Tabib Han dan putrinya tetap bernapas!" teriak Xu Ruomei dari atas kudanya.

Wajah cantiknya tampak mengerikan di bawah cahaya api, matanya berkilat penuh dendam karena luka yang diterimanya tempo hari.

Liang Shan tidak menjawab. Ia merasakan hawa dingin dari Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang mulai berontak di dalam nadinya karena pengaruh obat penekan dari Tabib Han.

Pemuda itu merasa seperti sebuah bendungan yang siap pecah.

Tiba-tiba, dari dalam gubuk, Tabib Han melangkah keluar. Ia tidak membawa pedang, melainkan sebuah gulungan kain panjang berisi ribuan jarum perak yang berkilauan.

Wajah pria tua itu tidak lagi menunjukkan ketegasan seorang ayah, melainkan wibawa seorang ahli yang pernah menguasai rahasia hidup dan mati di istana.

"Long Zhanyuan!" suara Tabib Han menggetarkan udara, meski tanpa teriakan. "Kau melanggar sumpahmu. Lembah ini adalah tempat suci bagi mereka yang ingin melupakan darah!"

Jenderal Long Zhanyuan maju satu langkah. Zirah emasnya tampak kusam oleh abu.

"Dunia ini tidak mengenal tempat suci, Han tua. Hanya ada ketaatan atau pengkhianatan. Berikan bocah itu padaku, atau aku akan meratakan tempat ini hingga menjadi debu!"

"Kalau begitu," Tabib Han menarik sepasang jarum panjang dari gulungannya, "jangan salahkan jarumku jika ia lupa caranya menyembuhkan."

"Serang!" teriak komandan Pasukan Gigi Naga.

Sekelompok prajurit dengan tombak panjang merangsek maju. Liang Shan melesat seperti bayangan hitam. Meski tenaga dalamnya masih tertekan, teknik goloknya telah menyatu dengan kemarahan yang dingin.

Golok hitam itu menebas udara secara horizontal. Suaranya tidak nyaring, melainkan desisan halus seperti angin yang membelah dahan.

Dalam satu putaran, ujung lima tombak patah seketika, dan pemiliknya terlempar dengan luka gores di dada.

Namun, musuh terlalu banyak. Dari sisi kiri, tiga pendekar Klan Murong menyerang serentak dengan pedang tipis yang bergetar cepat, menciptakan ratusan bayangan mata pedang.

Liang Shan terpojok. Saat itulah, Tabib Han bergerak.

Gerakan Tabib Han tidak seperti pendekar silat pada umumnya. Ia bergerak dengan langkah yang presisi, seperti sedang berjalan di antara pasien-pasiennya.

Tangannya bergerak secepat kilat sambil melepaskan jarum-jarum perak yang hampir tak terlihat oleh mata telanjang.

Tiga pendekar Murong itu mendadak berhenti di tengah udara. Tubuh mereka kaku seolah membeku. Mereka masih bernapas, matanya masih berputar penuh ketakutan, namun otot-otot mereka lumpuh total.

"Jurus Jarum Pengunci Nadi!" gumam salah satu tetua Klan Zhao dengan ngeri.

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!