Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Langit sore itu sedikit mendung, menciptakan suasana sejuk di lapangan utama SMA Nusantara. Hari ini adalah jadwal ekstrakurikuler Pramuka wajib bagi kelas 11. Suasana riuh dengan suara peluit dan teriakan para pemimpin regu yang merapikan barisan.
Ayrania Johan, yang hari ini tampak gagah dengan seragam Pramuka lengkap, lengkap dengan baret cokelat dan atribut Ambalan Paris (Pasukan Pengibar Bendera dan Aktivis Pramuka) yang tersemat di lengan kirinya, sedang menjalankan tugasnya. Sebagai anggota Ambalan, ia bertanggung jawab atas kedisiplinan atribut sebelum upacara pembukaan dimulai.
Ayra berjalan dengan langkah tegap, membawa buku catatan kecil dan pulpen. Matanya yang tajam menelisik satu per satu siswa di barisan kelas 11 IPS 2. Hingga akhirnya, langkahnya terhenti tepat di depan dua orang cowok yang sedang asyik bercanda tanpa menyadari kehadirannya.
Alano dan Bima.
Ayra melihat ke arah leher mereka. Kosong. Tidak ada hasduk merah putih yang seharusnya melingkar rapi di sana. Mereka hanya mengenakan kemeja Pramuka yang lengannya digulung asal-asalan.
Ayra berdehem, mencoba memasang wajah paling datar yang ia miliki. Ia tidak ingin terlihat pilih kasih di depan ratusan siswa lainnya.
"Maaf, Kak," ucap Ayra dengan suara yang cukup lantang namun tetap berusaha sopan. "Silakan keluar dari barisan dan berdiri di sebelah sana, di barisan khusus pelanggaran. Atribut Kakak berdua tidak lengkap."
Alano, yang tadinya sedang tertawa mendengarkan cerita Bima, langsung menoleh. Ia sedikit terkejut melihat Ayra berdiri di depannya dengan seragam Ambalan yang membuatnya tampak sangat berwibawa.
"Eh, Ay? Galak amat sore-sore," goda Alano sambil nyengir. "Hasduk gue ketinggalan di loker basket, Ay. Sumpah, lupa banget tadi habis ganti baju."
"Iya, Ay. Gue juga lupa, tadi buru-buru habis makan di kantin," tambah Bima dengan wajah memohon.
Ayra tetap bergeming. Ia tidak membalas tatapan jahil Alano. "Peraturannya sudah jelas, Kak. Tidak memakai hasduk berarti tidak lengkap. Silakan pindah ke barisan pelanggaran sekarang juga sebelum upacara dimulai."
Beberapa siswa di sekitar mereka mulai berbisik-bisik. Mereka tahu hubungan dekat antara Ayra dan Alano, dan mereka penasaran apakah sang Sekretaris OSIS sekaligus Ambalan ini akan memberikan pengecualian.
"Ay, masa lo tega sih sama gue? Nanti gue dijemur lho sama Pradana," bisik Alano lagi, kali ini ia melangkah maju sedikit, mencoba memperkecil jarak agar suaranya hanya terdengar oleh Ayra.
Ayra justru mundur satu langkah, menjaga profesionalismenya. "Di sini saya bertugas sebagai Ambalan Paris, Kak. Bukan sebagai adik kelas atau sepupu Kakak. Tolong kerja samanya, atau saya harus panggil koordinator keamanan?"
Alano menghela napas panjang. Ia melihat ketegasan di mata Ayra yang tidak bisa ditawar. Ada rasa bangga sekaligus kesal di hatinya. Bangga karena gadisnya benar-benar berintegritas, tapi kesal karena ia harus dihukum di depan umum.
"Oke, oke. Gue pindah. Puas lo?" gumam Alano. Ia dan Bima akhirnya berjalan lunglai menuju barisan pelanggar yang terletak di sisi paling panas lapangan.
Upacara dimulai. Ayra berdiri di barisan depan sebagai petugas yang mengawasi kedisiplinan. Dari posisinya, ia bisa melihat Alano yang sedang berdiri tegap di barisan pelanggaran. Karena mereka tidak memakai hasduk, sesuai aturan Ambalan, mereka harus melakukan push-up 20 kali dan setelah itu berdiri menghormat bendera selama upacara berlangsung tanpa boleh bergerak sedikit pun.
Gerimis tipis mulai turun, membasahi lapangan semen itu. Ayra melihat Alano yang mulai melakukan push-up. Kaus kemeja Pramukanya mulai basah menempel di punggungnya—punggung yang beberapa hari lalu masih ia obati karena memar.
Ada rasa tidak tega yang menyelinap di hati Ayra. Ia melihat Alano yang sesekali meringis kecil saat melakukan gerakan push-up. Punggungnya masih sakit ya? batin Ayra cemas. Namun, ia tetap berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tidak terlihat goyah.
Setelah upacara selesai dibubarkan, para siswa diperbolehkan beristirahat sejenak sebelum masuk ke materi kepramukaan. Ayra segera mencari sosok Alano. Ia melihat Alano sedang duduk di pinggir lapangan sambil memijat bahunya, wajahnya tampak lelah dan sedikit basah karena gerimis.
Ayra mendekat, tapi kali ini ia tidak membawa buku catatan. Ia membawa sebotol air mineral dan minyak kayu putih yang selalu ada di tas kecilnya.
"Sakit ya?" tanya Ayra pelan, duduk di samping Alano tanpa mempedulikan tatapan siswa lain.
Alano menoleh, ia sedikit terkejut melihat kehadiran Ayra. "Kirain masih mau jadi polisi Pramuka."
"Maaf ya, Lan. Aku cuma jalanin tugas. Kalau aku biarin kamu, nanti Ambalan lain bakal mikir aku pilih kasih," jelas Ayra tulus. Ia membuka botol minumnya dan memberikannya pada Alano.
Alano menerimanya, lalu meminumnya hingga tandas. Ia menyeka air di wajahnya. "Gue nggak marah kok, Ay. Gue justru suka liat lo tegas tadi. Lo keliatan keren banget pake seragam itu."
"Tapi punggung kamu... masih sakit?" tanya Ayra lagi, suaranya penuh kekhawatiran.
Alano tersenyum tipis, ia meraih tangan Ayra dan menggenggamnya sebentar di bawah meja kantin tempat mereka duduk. "Dikit sih. Tadi pas push-up berasa narik ototnya. Tapi nggak apa-apa, sebanding kok sama rasa bangga gue punya cewek sehebat lo."
Ayra kemudian merogoh kantong jas Ambalannya. Ia mengeluarkan sebuah hasduk merah putih yang masih terlipat rapi dan harum parfumnya.
"Lho, itu punya siapa?" tanya Alano bingung.
"Punya aku. Tadi aku sengaja bawa cadangan di tas," Ayra mulai melingkarkan hasduk itu di leher Alano. Ia merapikan lipatannya dan memasang ring hasduk dari rotan dengan teliti.
Jarak mereka sangat dekat. Alano bisa mencium aroma sabun dari tubuh Ayra. Ia menatap wajah Ayra yang sangat fokus merapikan atributnya.
"Nah, sekarang udah ganteng lagi. Jangan dicopot ya sampe pulang," ucap Ayra setelah selesai.
Alano memegang hasduk itu, lalu menatap Ayra dengan tatapan jahilnya yang kembali. "Jadi, ini bentuk sogokan karena udah hukum gue tadi?"
"Bukan! Ini biar kamu nggak dihukum lagi di materi selanjutnya!" seru Ayra, pipinya kembali merona.
"Makasih ya, Ay. Tapi jujur, gue lebih suka dihukum push-up seratus kali asal yang ngawasin itu lo terus," goda Alano sambil mengedipkan matanya.
"Gombal terus! Udah sana masuk ke regu kamu, udah mau mulai materinya!" Ayra mendorong bahu Alano, namun ia tersenyum lebar.
Sore itu, meskipun tanpa bando biru dan jas OSIS, Ayra merasa jauh lebih bahagia. Ia belajar bahwa cinta bukan berarti memberikan pengecualian pada aturan, tapi tentang bagaimana kita merawat seseorang setelah konsekuensi dari aturan itu dijalani. Dan bagi Alano, hukuman seberat apa pun tidak akan terasa sakit selama ada hasduk pemberian Ayra yang melingkar di lehernya.