NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Phoenix

...SELAMAT MEMBACA!...

...🐰...

Rumah yang sederhana dengan kehangatan setiap harinya. Seorang laki-laki berdiri di depan meja makan, ia menyuapi mulutnya dengan sepotong roti selai kacang. Sang bunda melirik tingkah putranya dan menatap tajam dari depan kulkas. "Kalau makan itu sambil duduk, Tino!" ujarnya.

Bila, dia berjalan mendekati sang putra yang menuruti perkataannya. Lelaki tampan berusia 15 tahun itu duduk di kursi, mengigit roti di tangan. Bila memandangnya dengan geleng-geleng kepala. "Kalau libur sekolah, kamu gak pernah ada di rumah," ucap Bila.

Setelah menghabiskan rotinya, Tino menuangkan segelas air putih dan meminumnya sampai habis. Lalu, dia mengelap bibirnya yang basah dengan punggung tangan. "Aku mau ke rumah Kak Dara, Bunda," ucap Tino membuat Bila membulatkan mata.

"Kenapa gak bilang dari tadi?" tegur Bila dengan ketus, melotot kepada putranya.

"Ini, aku udah kasih tahu." Tino berdiri dari duduknya, tetapi Bila menghentikannya.

"Tunggu! Bunda titip makanan buat Kakak kamu." Bila bergegas mengambil rantang, membungkus makanan pagi ini untuk diberikan kepada sang putri.

Tino menghembuskan napas panjang dan kembali duduk. Dia melihat bundanya sedang heboh sendiri. Ini adalah efek rindu karena terlalu lama berpisah dengan sang anak.

Di sebuah tempat yang dipenuhi mesin-mesin dan terlihat hitam di beberapa tempat, Dino berdiri di tengah-tengah. Para pekerja di bengkelnya, menghadap sang atasan di tengah bangunan itu. Dino menegakkan badannya, sangat keren. "Hari ini, karena pekerjaan kalian juga sudah selesai semua, kalian pulang lebih awal," ujar Dino.

Mereka bersorak mendengarnya. "Besok, kalian semua libur."

"Udah, itu aja. Makasih," kata Dino, kemudian melenggang dari sana. "Kalian bisa langsung pulang setelah beres-beres."

"Siap, Bos!" jawab mereka dengan lantang bersamaan.

Siang yang terik. Aspal mungkin dapat mematangkan telur. Dino mengendarai motor kesayangannya, membawanya melewati kota Jakarta yang tidak terlalu padat hari ini. Lelaki tersebut melaju untuk sampai ke tempat tujuan, basecamp.

Bukan untuk rapat penting atau sebagainya. Dino datang ke sini dengan tujuan melatih fisiknya. Di atap bangunan yang menjadi basecamp Ultimate Phoenix, terdapat sebuah ruangan di sudut. Di dalamnya, ada samsak tinju, beberapa barbel dan sofa kecil.

Sesampainya di sana, Dino langsung melepas bajunya, membuat dirinya telanjang dada. Dia melakukan pemasangan kecil untuk membuat otot-otot tubuh relaks terlebih dahulu. Lalu, seolah meluapkan seluruh emosi, Dino meninju samsak itu dengan kepalan tangan yang kuat.

Wajah lelaki itu pun selaras dengan kondisinya saat ini. Terdapat kerutan di dahi, tatapan mata yang menusuk tajam, dan siapapun seolah sedia untuk diterkam olehnya. Dino akan terlihat menakutkan ketika sudah memasuki area Ultimate Phoenix, sebab ia adalah ketua dari perkumpulan tersebut.

Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan fisik Dino, kecuali sang kakek di masa itu. Namun, seiring bertambahnya usia Dino, lelaki ini menjadi lebih kuat dari kakeknya. Sebanding.

Pernah sekali, ada sekelompok brandal yang menganggu ibu-ibu hamil. Dino kala itu tengah berjalan santai dengan Mahen, dan dua anggota Ultimate Phoenix lain. Mahen memerintahkan lima brandal tersebut untuk berhenti, tetapi mereka manusia keras kepala.

Ketika matahari bersinar cerah dengan awan yang melambung tinggi di sana, angin pun turut serta untuk berhembus bebas ke sana dan ke mari. Tiga brandal itu menganggap remeh tutur kata Mahen, mereka bersumpah serapah kepada anak 16 tahun tersebut.

"Jangan ganggu Ibu itu, kasihan!" kata Mahen.

"Anak kemarin sore, jangan sok pinter di depan gue!"

"Punya keberanian apa lo, nasehati gue kayak gitu?"

Mahen melangkah mundur saat para lawan menantang. Tentu saja Mahen takut karena kekuatan fisiknya masih awam, dia pun baru bergabung dengan Ultimate Phoenix.

Dino yang siaga, dia menghentikan langkah seorang preman dengan satu tinjuan di rahang. Manusia keras kepala yang tidak gentar, mereka bersamaan mulai melawan tanpa berhasil melukai Dino.

Kekuatan yang bisa dibilang sangat menguasai, membuat Dino sedikit kesulitan untuk menjatuhkan mereka. Namun, setelah waktu berjalan selama satu jam, Dino meruntuhkan ketahanan para brandal itu tanpa mendapat luka pada tubuhnya sendiri.

Dino sangat tersulut emosi kala itu, sehingga matanya merah menyeramkan dan seluruh amarahnya keluar. Dia kesetanan melihat wanita hamil digoda sampah masyarakat seperti itu.

Setelah kejadian itu juga, tiga brandal tersebut kini dikenal di sebuah restoran. Mereka menjadi pemilik di sana.

Keringat keluar membuat tubuh Dino basah. Napasnya mulai ngos-ngosan. Bentuk tubuh yang sudah sempurna seperti itu, dia masih melatihnya. Perutnya sixpack, para perempuan memanggilnya roti sobek, lengan milik Dino terlihat besar dan bahunya lebar, sangat nyaman untuk tempat bersandar.

Pintu kayu itu dibuka seseorang secara tiba-tiba, membuat Dino menghentikan samsaknya yang bergerak dan segera menoleh. Lelaki yang biasanya berwajah datar itu terlihat panik. "Kak Dino, ada anak-anak WB di bawah!"

"Mereka balas dendam sama Bama!" lanjut Aga.

Dino yang mendengar itu, lantas menyambar kaosnya di sofa dan memakainya sambil melangkah untuk turun. Aga mengikuti Dino dari belakang, detak jantungnya berdebar melihat sang ketua mulai memasang wajah mengamuknya.

Benar saja, di bawah---tepatnya di halaman basecamp Ultimate Phoenix, lebih dari 20 laki-laki berdiri dengan sombongnya. Mereka memakai jaket kulit yang sama, berwarna hitam dan bertuliskan Wind Blaze. "Kita marah karena lo udah buat salah satu anggota angin pingsan!" ujar seorang lelaki.

Wind Blaze---Kobaran Angin yang terkenal nakal dan tidak punya aturan. Anggota dari mereka tak hanya dari kalangan pemuda, tetapi para lansia telah bergabung sejak WB dibentuk, dan mereka masih bernaung di dalamnya hingga sekarang.

Dino datang, dia langsung menjadi pusat perhatian. "Ada perlu apa?" tanya Dino, ketika berada di hadapan seorang lelaki bertubuh lebih tinggi darinya. "Wan, ketua divisi dua."

Lelaki tersebut menarik sudut bibirnya, tersenyum miring dan menatap remeh Dino. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. "Ini ketua kalian?" tanya Wan dengan suara lantang. "Lumayan."

Dino menghembuskan napas berat, menatap lawan di depannya. "Gue tanya, ada perlu apa lo ke sini?"

"Lo belum dikasih tahu, ya?"

"Bama, anak cupu itu udah buat Yiro adik kesayangan kita pingsan di pinggir jalan," katanya. Terlihat guratan marah di wajahnya. "Kita ke sini, mau buat dia ngerasain hal yang sama kayak yang Yiro rasain."

Dino menyunggingkan senyum menanggapi Wan. "Bama, ke sini!" pintanya. Sedangkan Bama yang tengah tegang sambil memegangi pipinya berada di antara temannya, tersentak kaget mendengar panggilan untuk dirinya. Mahen mengigit bibirnya, melihat temannya ketakutan.

Tanpa berbicara, Bama melangkah maju dan berdiri di samping Dino. Dia menunduk, tidak berani menatap Dino yang jelas sedang marah. Wan melihat Bama, seolah sangat dendam dan mengepalkan tangannya.

Dino merangkul Bama, membuat cowok itu terkejut sampai matanya melebar. "Dia?" tanya Dino.

"Anak cupu ini udah berani buat adik gue pingsan. Punya nyawa berapa lo?" seru Wan, menaikkan alisnya menantang Bama.

"Lo bilang dia cupu?" Dino mengangkat kepalanya, menatap tajam segerombol pemuda yang berdiri di belakang Wan. "Dia berani lawan adik lo sendirian, sedangkan lo?"

"Lo bawa mereka buat balas dendam sama adik gue?"

Wan mendadak mati kutu, bergeming karena mulai merasakan aura menyeramkan Dino. "Terserah gue," sambung Wan.

"Dan, lo bawa lebih banyak dari jumlah kita. Jadi, Bama yang cupu atau kalian?" kata Dino. Dia melepaskan tangannya dari pundak Bama, melangkah maju hingga wajahnya bertemu dengan Wan. "Mending lo cari aman karena ketua Ultimate Phoenix ada di sini. Sedangkan, ketua lo gak ada di sini."

Wan mengeratkan kepalan tangannya, emosinya menggebu. Begitu juga dengan anggota lain di belakangnya. "Kita, Kobaran Angin akan bunuh kobaran api burung sialan lo itu!" seru Wan.

Satu tinjuan mendarat di pipi Wan, membuat cowok itu jatuh ke tanah. Kepalan tangan Dino sudah tidak bisa ditahan. "Itu lambang gue, jangan lo hina, Sampah!"

"Kita, api dan air, sama. Kalau kecil bisa jadi teman, tapi kalau besar bisa jadi bahaya."

"Kita gak pernah ngejelekin kalian. Jadi, jangan pernah lo lakuin hal itu ke kita, apalagi di depan gue!"

"Lo pergi buat cari aman, atau habis di sini?" kata Dino.

Wan mendongak, memandang Dino dari bawah. Dia mengepalkan tangannya, ingin sekali melayangkan pukulan kepada cowok itu. Namun, jika dirinya menyerang, dia mungkin akan menang, tetapi tidak dengan harga diri yang sudah dianggap tidak berani melawan sendiri tapi membawa banyak anggota.

.....

"Maaf, Kak. Gue kelepasan tadi pagi," ujar Bama. Dia terus menunduk tidak berani menatap Dino yang sedang mengajaknya bicara.

Angin berhembus kencang, menerbangkan rambut dua lelaki itu. Rooftop selalu menjadi tempat sidang Dino dengan anggota. Dino menepuk pundak Bama, mengulas senyum tipis. "Keren. Lo berani lawan sendirian. Gue apresiasi buat itu," kata Dino.

Bama jadi berani menatapnya, berbinar kala mendengar pujian untuk dirinya. "Tapi, jangan sampai buat lawan lo lebih dari pingsan! Jangan pernah!" ujar Dino.

"Iya, Kak. Tadi, gue cuma bener-bener kacau dan lampiasin ke Yiro."

"Gue beneran sakit hati sama dia," lanjut Bama.

Dino memandang jauh ke depan, melihat kota Jakarta yang terlihat kecil dari atas sini. "Kalau soal hati, memang susah," kata Dino. "Apalagi, menyangkut seseorang yang disayang."

Kalimat bersejarah yang pertama kali didengar oleh Bama dari mulut seorang Dino. Sungguh, Bama tidak pernah mendengar kata-kata lembut seperti itu diucapkan oleh ketua Ultimate Phoenix.

Dino mengulurkan tangannya. "Kita buat Ultimate Phoenix jadi lebih keren?"

Bama meletakkan tangannya di atas tangan Dino. "Gue bakal berjuang buat Ultimate Phoenix, sampai titik darah penghabisan."

"Kita buat api burung ini semakin berkobar."

...Vote komen everybody!...

...Kalau engga, nanti tak datengin rumahmu 😼👋...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!