NovelToon NovelToon
Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Status: tamat
Genre:Misteri / Bad Boy / Romansa / Tamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Sangkar Emas Mawar Hitam

Menjadi "Ratu" ternyata tidak seindah yang Lia bayangkan di dalam novel-novel fantasinya. Sejak pesan misterius itu masuk ke ponsel Devan, penjagaan terhadap Lia berubah menjadi sangat ketat, bahkan cenderung berlebihan. Lia merasa seperti burung dalam sangkar emas—semua kebutuhannya terpenuhi, namun ia kehilangan kebebasannya untuk sekadar menghirup udara tanpa pengawasan.

Ke mana pun Lia pergi, Baron atau anggota Black Roses lainnya selalu membuntuti dengan jarak tak lebih dari lima meter. Di perpustakaan, mereka duduk di meja sebelah. Di depan kelas, mereka berdiri bersandar di tembok seperti penjaga istana. Bahkan saat Lia ingin ke toilet, mereka menunggu di depan pintu dengan tampang garang yang membuat mahasiswi lain takut untuk masuk.

"Baron, tolonglah. Aku hanya ingin membeli es krim di seberang jalan. Kalian tidak perlu ikut sampai ke depan rombongnya," keluh Lia saat jam pulang kampus.

Baron menggeleng tegas sambil membetulkan letak rompi kulitnya. "Maaf, Nona Lia. Instruksi Bos Devan jelas: jangan biarkan Nona lepas dari pandangan, bahkan untuk sedetik pun. Situasi sedang memanas."

Lia menghela napas panjang. Ia mencoba menghubungi Devan, namun pria itu sangat sulit dihubungi akhir-akhir ini. Devan seolah menghilang ke dalam lubang kelinci, sibuk menyelidiki siapa pengirim teror yang mulai mengusik ketenangannya.

Sore harinya, Devan akhirnya muncul di rumah Lia. Namun, ia tidak datang dengan senyum tipisnya yang menenangkan. Wajahnya tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menandakan ia kurang tidur.

"Kita harus bicara," kata Devan tanpa basa-basi begitu mereka duduk di teras belakang rumah Lia.

"Ya, kita memang harus bicara, Devan! Aku merasa seperti tahanan," protes Lia langsung. "Aku menghargai perlindunganmu, tapi ini sudah keterlaluan. Orang-orang di kampus menganggapku aneh, dan aku tidak bisa fokus belajar."

Devan memegang tangan Lia, genggamannya terasa lebih erat dan sedikit gemetar. "Lia, seseorang sedang mengincarmu. Dan ini bukan soal perebutan wilayah geng. Ini soal seseorang yang tahu segalanya tentang aku... dan

dia menggunakanmu untuk memancingku keluar."

"Siapa, Devan? Katakan padaku!"

Devan terdiam cukup lama, matanya menatap ke arah mawar-mawar di taman yang mulai layu karena kurang air. "Aku belum yakin. Tapi pola ini... cara dia mengambil foto dan pesan-pesan yang dikirimkannya, mengingatkanku pada seseorang dari masa lalu yang seharusnya sudah tidak ada lagi di kota ini."

Lia bisa merasakan ketegangan yang luar biasa dari tubuh Devan. "Apa dia... mantan pacarmu?" tanya Lia hati-hati.

Devan tersentak, sedikit terkejut dengan ketajaman intuisi Lia. "Kenapa kamu berpikir begitu?"

"Karena hanya seseorang yang pernah memiliki hatimu yang tahu cara paling menyakitkan untuk menghancurkanmu," jawab Lia lirih.

Devan tidak membenarkan, namun ia juga tidak membantah. Ia justru menarik Lia ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di bahu gadis itu. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu, Lia. Bahkan jika itu berarti aku harus membakar seluruh kota ini."

Keesokan harinya, tekanan itu semakin nyata. Saat Lia sedang berada di kelas sejarah, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor pribadi masuk.

"Cantik sekali kalung mawar perakmu, Lia. Devan selalu punya selera yang sama untuk wanita-wanitanya. Tahukah kamu? Aku juga punya yang persis seperti itu. Ingin melihatnya?"

Lia merasa sekujur tubuhnya mendingin.

Ia memegang liontin mawar di lehernya dengan tangan gemetar. Ia segera menoleh ke arah jendela kelas yang menghadap ke area parkir. Di sana, di bawah pohon besar, ia melihat sebuah mobil sedan merah mewah terparkir. Kaca jendela mobil itu turun perlahan, memperlihatkan seorang wanita dengan kacamata hitam besar yang memberikan senyum tipis ke arah Lia sebelum kembali menaikkan kaca dan melesat pergi.

Lia segera berlari keluar kelas, mengabaikan dosen yang sedang mengajar. Baron yang berjaga di depan pintu langsung sigap mengikuti.

"Nona! Ada apa?!" seru Baron panik.

"Dia ada di sini, Baron! Mobil merah itu!" teriak Lia sambil menunjuk ke arah gerbang kampus yang sudah kosong.

Lia segera menelepon Devan. Kali ini, Devan langsung mengangkatnya di dering pertama.

"Devan... dia baru saja mengirimiku pesan. Dia ada di kampus tadi," suara Lia tersedak tangis.

Di seberang telepon, Lia bisa mendengar suara mesin motor yang meraung keras. "Tetap bersama Baron, Lia! Jangan pergi ke mana pun! Aku akan sampai dalam lima menit!"

Malam itu, markas Black Roses berubah menjadi pusat komando. Devan mengumpulkan semua informasi tentang mobil merah tersebut. Dan akhirnya, sebuah nama muncul di layar komputer markas.

Clara Anastasya.

Melihat nama itu, Devan memukul meja dengan keras hingga gelas kopi di atasnya tumpah. "Dia kembali. Sialan, kenapa dia kembali sekarang?!"

Lia yang duduk di pojok ruangan merasa dunianya seolah runtuh. Nama itu... Clara. Ia pernah mendengar nama itu dibisikkan oleh anggota geng lama sebagai sosok wanita yang hampir membuat Devan kehilangan nyawanya tiga tahun lalu. Wanita yang merupakan cinta pertama Devan sekaligus pengkhianat terbesar bagi Black Roses.

Kini, sang "Mantan" telah kembali dari bayang-bayang, dan target pertamanya bukan Devan, melainkan gadis culun yang dianggap telah merebut posisinya sebagai Ratu Mawar Hitam. Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, musuhnya bukan lagi laki-laki dengan otot dan senjata, melainkan wanita licik yang tahu persis di mana letak titik terlemah di hati Devan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!