Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 – Musuh Sejak Awal
Pertengkaran itu tidak terjadi dengan teriakan.
Tidak juga dengan kata-kata kasar yang memancing perhatian guru.
Justru karena itulah, luka yang ditinggalkan terasa lebih dalam.
Pagi itu, kelas XI IPS sedang gaduh. Guru sosiologi belum datang, dan sebagian siswa memanfaatkan waktu untuk mengobrol. Kia duduk di bangkunya seperti biasa, dekat jendela, memandangi halaman sekolah yang basah sisa hujan semalam. Ia mencoret-coret buku tulisnya tanpa tujuan jelas.
Sampai suara kursi diseret terdengar tepat di belakangnya.
“Kia.”
Ia tidak menoleh.
“Kia,” ulang suara itu, lebih tegas.
Kia menghela napas pelan sebelum akhirnya berbalik. Tara berdiri di sana, wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya mengeras.
“Ada apa?” tanya Kia datar.
“Kita satu kelompok lagi,” kata Tara sambil mengangkat kertas daftar kelompok. “Presentasi minggu depan.”
“Terus?” Kia menaikkan alis. “Itu bukan salahku.”
Tara menahan diri untuk tidak langsung membalas. “Aku cuma mau kita kerja profesional. Nilai kita dipertaruhkan.”
Kia tertawa kecil, tanpa humor. “Tenang aja. Aku nggak pernah main-main soal tugas. Nggak semua orang hidupnya bisa santai kayak kamu.”
Beberapa siswa di sekitar mereka mulai memperhatikan.
Tara mengerutkan kening. “Maksud kamu apa?”
“Ya maksudnya itu,” jawab Kia dingin. “Kamu enak. Apa-apa disiapin. Tinggal jalan.”
Wajah Tara memerah. “Kamu nggak tahu hidup aku.”
“Dan aku juga nggak tertarik tahu,” potong Kia cepat.
Itu pertama kalinya Tara kehilangan kendali.
“Kamu pikir cuma kamu yang susah?” suaranya meninggi sedikit. “Kamu pikir aku nggak punya tekanan?”
Kia berdiri. Gerakannya tenang, tapi matanya tajam.
“Tekanan karena apa?” tanya Kia pelan. “Takut nilai turun sedikit? Takut Papa kecewa? Itu bukan tekanan. Itu kemewahan.”
Suasana kelas membeku.
Tara menatap Kia dengan mata bergetar. “Kamu keterlaluan.”
“Keterlaluan itu,” balas Kia, “orang-orang yang pura-pura baik tapi sebenarnya cuma nggak pernah kekurangan.”
Bel masuk berbunyi tepat saat wali kelas masuk.
Keduanya duduk kembali tanpa kata. Tapi sejak detik itu, garis tak terlihat tercipta di antara mereka.
Dan tidak ada yang berniat menghapusnya.
Hari-hari setelahnya berubah jadi medan perang sunyi.
Sindiran kecil saat diskusi.
Tatapan dingin di lorong.
Keheningan canggung saat harus satu kelompok.
Kia dan Tara sama-sama pintar. Dan justru itu yang membuat benturan mereka semakin keras.
Setiap pendapat terasa seperti tantangan.
Setiap ide terasa seperti serangan.
“Kita pakai data tahun terbaru,” ujar Tara saat rapat kelompok.
“Data itu terlalu umum,” sahut Kia cepat. “Nggak mewakili kondisi lapangan.”
“Kamu punya sumber lain?” tanya Tara, menahan kesal.
“Ada,” jawab Kia singkat. “Tapi kalau kamu mau aman, silakan pakai punyamu.”
Nada itu menusuk.
“Aku bukan cari aman,” balas Tara. “Aku cari hasil terbaik.”
“Versi kamu,” Kia menyela. “Selalu versi kamu.”
Teman satu kelompok mereka saling pandang, tak berani ikut campur.
Akhirnya, tugas itu selesai. Dengan nilai tinggi. Guru memuji kerja tim mereka.
Ironis.
Karena tak satu pun dari mereka merasa itu kemenangan.
Pertengkaran terbesar terjadi seminggu kemudian.
Hari itu hujan turun deras. Kegiatan ekstrakurikuler dibatalkan, dan sebagian siswa menunggu hujan reda di selasar belakang gedung.
Kia duduk sendirian, mendengarkan musik dari earphone. Ia tidak menyadari Tara berdiri tak jauh darinya, sampai suara itu datang.
“Kamu sengaja, ya?”
Kia melepas satu earphone. “Apa lagi?”
“Kamu sengaja bikin aku kelihatan buruk di depan Pak Rudi tadi,” kata Tara.
Kia tertawa pendek. “Serius?”
“Kamu mengoreksi jawabanku di kelas,” lanjut Tara. “Padahal kamu bisa ngomong setelah pelajaran.”
“Kalau salah, ya salah,” jawab Kia datar. “Aku nggak tanggung jawab jaga gengsi kamu.”
“Itu bukan soal gengsi!” Tara meninggikan suara. “Itu soal menghargai!”
Kia berdiri, kini jarak mereka hanya beberapa langkah. “Menghargai siapa? Kamu?”
“Iya!” jawab Tara spontan. “Setidaknya sebagai teman sekelas!”
Kia terdiam sejenak. Lalu tersenyum miring. “Teman?”
Kata itu terdengar seperti lelucon di mulutnya.
“Kita nggak pernah jadi teman,” lanjut Kia. “Dari awal, kamu lihat aku dari atas. Seolah aku ini gangguan kecil yang kebetulan satu kelas sama kamu.”
“Itu nggak benar,” bantah Tara cepat.
“Benar atau nggak, itu yang aku rasakan,” ucap Kia pelan. “Dan perasaan itu valid.”
Hujan semakin deras. Suara gemuruhnya memantul di dinding sekolah.
Tara mengepalkan tangan. “Kamu selalu merasa dunia berutang padamu.”
“Dan kamu selalu merasa dunia ada di pihakmu,” balas Kia.
Mereka saling menatap. Dua pasang mata dengan api yang berbeda, tapi sama panasnya.
“Aku nggak pernah minta dilahirkan seperti ini,” kata Tara tiba-tiba, suaranya bergetar.
Kia tertegun.
“Dan aku juga nggak pernah minta jadi seperti ini,” balas Kia, tak kalah pelan.
Kalimat itu menggantung di udara.
Untuk sesaat, kebencian mereka bukan lagi tentang sekolah, atau tugas, atau sindiran kecil. Ada sesuatu yang lebih besar, lebih dalam—sesuatu yang bahkan mereka sendiri belum pahami.
Tara melangkah mundur. “Aku capek berantem sama kamu.”
“Bagus,” jawab Kia. “Aku juga.”
Tara berbalik pergi, meninggalkan Kia di bawah selasar.
Namun langkahnya terhenti saat Kia berkata satu kalimat terakhir.
“Orang kayak kamu nggak akan pernah ngerti rasanya nggak dipilih.”
Tara berhenti.
Ia tidak menoleh.
Tapi kalimat itu menancap di dadanya seperti duri.
Malam itu, Tara pulang dengan kepala penuh.
Ia duduk di meja makan, nyaris tidak menyentuh makanannya. Ibunya menatap heran.
“Kamu kenapa, Tar?”
“Nggak apa-apa,” jawabnya cepat.
Ayahnya diam saja, fokus pada ponselnya.
Tara memperhatikan wajah ayahnya. Garis wajah itu. Tatapan mata yang familiar.
Dan tanpa ia sadari, satu pertanyaan yang selama ini ia hindari akhirnya muncul dengan keras di kepalanya.
Kenapa Kia begitu membencinya?
Bukan sekadar tidak suka.
Tapi seperti… dendam.
Di sisi lain kota, Kia duduk di kamarnya yang sempit. Ia memijat pelipisnya, mencoba meredakan sakit kepala.
Ibunya mengetuk pintu. “Kia, kamu habis berantem lagi?”
Kia menghela napas. “Biasa, Bu. Anak-anak sekolah.”
Ibunya duduk di sampingnya. “Kamu capek?”
Kia mengangguk pelan.
“Kalau capek, pulang ke rumah itu nggak apa-apa,” kata ibunya lembut. “Di luar, kamu boleh kuat. Tapi di sini, kamu boleh lelah.”
Kia menunduk. Tenggorokannya terasa panas.
“Ibu…” suaranya serak. “Kalau suatu hari orang yang bikin hidup kita susah itu muncul lagi… Ibu bakal gimana?”
Ibunya terdiam lama.
“Ada luka yang nggak pernah benar-benar sembuh,” jawab ibunya akhirnya. “Tapi bukan berarti kita harus berdarah selamanya.”
Kia menelan ludah.
Ia teringat wajah Tara. Tatapan marahnya. Suaranya yang bergetar di selasar tadi.
Untuk pertama kalinya, Kia bertanya pada dirinya sendiri—
Kenapa kemarahan itu terasa terlalu personal?
Dan kenapa, di balik bencinya, ada rasa asing yang… familier?
Di sekolah, mereka mulai dikenal sebagai “dua musuh alami”.
Tidak ada yang tahu kenapa.
Tidak ada yang berani menanya.
Yang pasti, setiap kali Kia dan Tara berada di ruangan yang sama, udara terasa lebih tegang.
Dan tak satu pun dari mereka sadar—
Kebencian itu bukan kebetulan.
Ia tumbuh dari luka yang sama,
dari ayah yang sama,
dan dari kebenaran yang terlalu lama disembunyikan.
Pertengkaran pertama hanyalah permulaan.
Karena untuk dua anak yang lahir dari satu darah,
menjadi musuh adalah jalan terdekat sebelum kebenaran memaksa mereka berdiri di titik yang sama.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya