NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit

Gerhana Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Timur
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".

Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.

Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.

"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membuka Bilah Bayangan

Hutan di sekitar Sekte Pedang Awan semakin gelap saat malam merangkak naik. Suara serangga malam yang bising menjadi satu-satunya teman bagi sesosok bayangan yang berlari tertatih-tatih di antara pepohonan.

Han Luo menekan pipinya dengan tangan kiri. Rasanya panas, seperti lilin yang menetes. Tulang wajahnya bergeser kembali ke posisi semula dengan suara krek pelan yang menyakitkan. Topeng "Wajah Parut" telah runtuh, mengembalikan wajah pemuda tujuh belas tahun yang pucat dan biasa-biasa saja.

Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi punggungnya. Dia baru saja lolos dari pandangan Liu Ming dan rombongan Murid Dalam. Jika dia tertangkap dalam keadaan mencurigakan seperti ini—dengan wajah yang sedang berubah bentuk dan aura yang tidak stabil—dia pasti akan diseret ke Aula Penegakan Hukum dengan tuduhan mempraktikkan seni iblis.

"Sedikit lagi," desisnya.

Cahaya lampu minyak dari asrama murid luar mulai terlihat di kejauhan. Gubuk kayunya yang reyot berada di pinggiran paling luar, berbatasan langsung dengan hutan. Sebuah lokasi yang dulu dia benci karena sepi dan jauh dari fasilitas, tapi sekarang dia syukuri karena memberinya privasi.

Han Luo menyelinap masuk ke dalam gubuknya, segera mengunci pintu kayu itu dengan palang balok, dan merosot duduk di lantai tanah.

Aman.

Dia mengatur napasnya selama beberapa menit, membiarkan detak jantungnya kembali normal. Setelah merasa cukup tenang, dia mengeluarkan harta rampasannya: Pedang Patah yang berkarat.

Di bawah cahaya bulan yang menerobos masuk dari celah atap, pedang itu tampak seperti sampah besi tua. Tidak ada aura spiritual, tidak ada ukiran indah. Hanya sebatang besi rongsokan.

"Orang bodoh melihat karat," gumam Han Luo, jarinya menelusuri gagang kayu pedang itu yang sudah lapuk dimakan rayap. "Tapi orang pintar melihat isinya."

Di novel asli, Long Tian menemukan rahasia pedang ini secara tidak sengaja. Saat bertarung melawan binatang buas, gagang pedang ini hancur karena benturan, dan gulungan teknik di dalamnya terjatuh keluar tepat sebelum binatang itu menerkamnya. Kebetulan yang klasik.

Han Luo tidak butuh kebetulan. Dia mengambil Belati Baja Dingin yang baru dibelinya.

Dengan hati-hati, seperti seorang ahli bedah yang sedang melakukan operasi, dia mulai mengiris lapisan kayu lapuk pada gagang pedang itu. Dia tidak boleh gegabah. Jika dia mengiris terlalu dalam, dia bisa merobek gulungan kuno di dalamnya.

Serpihan demi serpihan.

Kayu tua itu terkelupas, mengungkapkan sebuah rongga kecil di dalam gagang besi. Di sana, terselip sebuah gulungan yang terbuat dari kulit binatang buas berwarna hitam pekat, setipis kertas namun sekuat sutra.

Mata Han Luo berbinar. Dia menarik gulungan itu keluar dengan ujung jari.

Pedang patah itu, yang kini sudah kehilangan nilainya, dilemparkannya ke sudut ruangan. Han Luo memusatkan seluruh perhatiannya pada gulungan kulit hitam itu.

Dia membukanya perlahan.

Tidak ada judul yang tertulis dengan tinta emas. Hanya ada satu gambar sketsa manusia yang sedang menghunus pedang, dikelilingi oleh garis-garis abstrak yang menggambarkan aliran angin dan bayangan.

Di bawah gambar itu, tertulis sebuah mantra pendek:

"Bayangan tidak memiliki bentuk, kilat tidak memiliki suara. Ketika musuh melihat kilatan, kepala mereka sudah jatuh."

TEBASAN BAYANGAN KILAT. Tingkat: Bumi - Kelas Rendah.

Di dunia ini, teknik bela diri dibagi menjadi empat tingkatan: Surga, Bumi, Misteri, dan Kuning. Bagi murid luar yang biasanya hanya mendapatkan teknik tingkat Kuning, teknik tingkat Bumi adalah harta karun yang bisa memicu pertumpahan darah antar sekte.

Han Luo membaca instruksinya dengan teliti. Ingatan ensiklopedisnya merekam setiap kata, setiap diagram aliran Qi.

Teknik ini bukan tentang kekuatan kasar. Ini adalah tentang ledakan. Mengumpulkan seluruh Qi di kaki untuk gerakan eksplosif, dan memusatkan Qi di ujung pedang untuk satu tebasan super cepat yang tak terlihat mata telanjang.

"Prinsipnya mirip dengan Iaido di duniaku sebelumnya," analisis Han Luo. "Tapi dengan tambahan manipulasi Qi untuk menghilangkan gesekan udara."

Dia berdiri, menggenggam Belati Baja Dingin di tangan kanannya.

Dia mencoba menyalurkan sisa-sisa Qi di tubuhnya sesuai instruksi gulungan. Qi harus mengalir dari dantian, memutar di meridian kaki, lalu melesat ke lengan kanan dalam sepersekian detik.

"Hah!"

Han Luo menebas ke depan.

Wush.

Hanya suara angin biasa. Gerakannya kaku, lambat, dan penuh celah. Tidak ada bayangan, tidak ada kilat. Hanya seorang remaja yang mengayunkan pisau dapur.

"Tentu saja," Han Luo mendengus, menyeka keringat di dahinya. "Tubuh ini sampah. Meridianku terlalu sempit untuk aliran Qi secepat itu. Jika aku memaksakan, pembuluh darahku akan pecah sebelum pedang ini menyentuh musuh."

Dia menatap tangannya yang gemetar. Realitas kultivasi menamparnya lagi. Punya teknik tingkat tinggi tidak otomatis membuatmu kuat jika wadahnya rapuh.

Dia butuh Pil. Dia butuh Pil Pembersih Sumsum untuk melebarkan meridiannya, dan Pil Pengumpul Qi untuk meningkatkan basis kultivasinya ke Tingkat 4 atau 5 agar bisa menggunakan teknik ini setidaknya satu kali tanpa pingsan.

"14 Batu Roh..." Han Luo menghitung asetnya. "Cukup untuk membeli bahan-bahan dasar, tapi tidak cukup untuk membeli pil jadi yang harganya selangit."

Dia harus belajar Alkimia. Atau setidaknya, mencuri resep dan meminjam tungku seseorang.

Tapi itu masalah untuk nanti. Sekarang, dia harus tidur. Besok adalah hari besar.

Han Luo menyembunyikan gulungan kulit itu di dalam celah rahasia di bawah lantai kayunya, tepat di bawah tempat tidurnya yang berdebu. Dia juga menyembunyikan kantong Batu Roh dan belatinya di sana. Dia tidak bisa membiarkan siapa pun menemukan barang-barang ini.

Dia berbaring di atas dipan keras, menatap langit-langit yang gelap.

Di kejauhan, di luar gerbang sekte yang megah, dia bisa membayangkan Long Tian sedang berkemah di hutan, ditemani oleh Kakek Tua di dalam cincinnya, penuh dengan harapan dan mimpi naif tentang kepahlawanan.

"Tidurlah yang nyenyak, Anak Takdir," bisik Han Luo, matanya perlahan menutup. "Karena mulai besok, sekte ini tidak akan menyambutmu dengan karpet merah."

Keesokan Harinya.

TENG! TENG! TENG!

Suara lonceng raksasa di Puncak Utama bergema ke seluruh penjuru pegunungan, membangunkan ribuan murid dari tidur dan meditasi mereka. Burung-burung bangau terbang kaget ke angkasa. Kabut pagi mulai menipis, menampakkan gerbang batu putih raksasa Sekte Pedang Awan yang menjulang setinggi lima puluh meter.

Hari Penerimaan Murid Baru telah tiba.

Di lapangan luas di depan gerbang, ribuan pemuda dan pemudi dari berbagai kota dan desa telah berkumpul. Suara dengungan percakapan mereka seperti lebah yang mengerumuni sarang. Ada anak bangsawan dengan kereta kuda mewah, ada anak petani dengan pakaian lusuh, semuanya membawa mimpi yang sama: Menjadi Abadi.

Han Luo, mengenakan jubah murid luar abu-abunya yang sudah dicuci bersih (meski masih ada sedikit noda tanah di ujungnya), berdiri di barisan penjaga keamanan.

Sebagai murid luar, tugasnya hari ini adalah menjadi "pagar betis". Berdiri diam di pinggir lapangan, memastikan tidak ada kerusuhan, dan yang paling penting: menjadi latar belakang yang tidak penting.

Tapi mata Han Luo tidak kosong seperti murid lainnya. Matanya tajam, memindai lautan manusia itu seperti elang mencari mangsa.

Dia mencarinya.

Dan dia menemukannya.

Di barisan paling belakang, berdiri seorang pemuda berusia enam belas tahun dengan pakaian linen biru sederhana. Wajahnya tampan dengan cara yang jujur dan tegas. Di jarinya, melingkar sebuah cincin hitam polos yang tampak kusam. Pemuda itu sedang tersenyum ramah pada seorang gadis desa di sebelahnya, membantunya membawakan barang bawaan.

Long Tian.

Aura "Orang Baik"-nya begitu menyilaukan hingga Han Luo merasa ingin muntah.

"Lihat dia," pikir Han Luo, sudut bibirnya berkedut menahan seringai sinis. "Dia bahkan belum masuk, tapi sudah mulai menggoda calon anggota harem-nya."

Di samping Han Luo, seorang murid luar lain yang berbadan gemuk menyikutnya. "Hei, Han Luo. Lihat gadis berbaju merah di depan sana. Cantik sekali, kan? Kudengar dia putri Jenderal Kota Awan."

Han Luo tidak menoleh. Dia terus menatap Long Tian.

"Jangan melihat wanita itu, Lemak," jawab Han Luo datar. "Lihat bocah berbaju biru di belakang sana."

"Hah? Bocah desa itu? Kenapa?"

"Karena," Han Luo membetulkan posisi pedang di pinggangnya, "Dia adalah alasan kenapa hidup kita akan menjadi sangat menarik... atau sangat singkat."

Tiba-tiba, langit di atas mereka bergemuruh.

Seorang Tetua Sekte melayang turun dari awan dengan pedang terbang raksasa, jubah putihnya berkibar diterpa angin. Tekanan spiritual yang kuat menekan seluruh lapangan, membuat ribuan calon murid terdiam seketika.

"Diam!" suara Tetua itu menggelegar seperti petir. "Ujian Masuk Sekte Pedang Awan dimulai sekarang! Yang memiliki bakat, naiklah ke atas. Yang sampah, pulanglah ke kandang babi kalian!"

Mata Long Tian berbinar penuh tekad. Mata Han Luo menyipit penuh perhitungan.

Pertunjukan dimulai.

1
Jeffie Firmansyah
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
Budi Andrianto
g8
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hentooopz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Cerdik🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🔥🌽Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Njoooooost 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
Ahhhh.... lagi seru seru nya .... abis cerita nya... tunggu update.. terimakasih Thor 💪💪💪💪
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
jadi tdk sabar tunggu update nya 😄👍💪
Jeffie Firmansyah
kasian amat Han luo..... pendekar miskin ,dan terpaksa menjarah kekayaan cincin orang 2 kaya🤣🤣🤣
Efendi Riyadi
cerita macam apa ini guru, season 1-3 sangat menarik knapa season ke 4 jdi gini ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!