NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15Panggilan Pulang dan Takdir yang Bertemu

Sore itu, cahaya matahari musim dingin yang pucat menyinari ruang tamu kediaman Kiai Hamzah. Amara sedang duduk sendirian, mencoba mengulang hafalan huruf-huruf hijaiyah yang baru saja diajarkan Ummi Halimah. Namun, konsentrasinya buyar saat ponselnya yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari nomor yang sangat ia kenal—asisten rumah tangga di rumah lamanya di Jakarta.

Wajah Amara seketika pucat pasi saat membaca baris demi baris pesan itu. “Non Amara, tolong pulang... Bunda kecelakaan parah. Beliau di ICU sekarang. Tidak ada yang menjaga, Papa tiri Non sudah ditahan di Amerika kan? Keluarga besar Bunda tidak mau peduli karena masalah hutang Papa. Bunda terus memanggil nama Non...”

Jantung Amara seolah berhenti berdetak. Kilasan wajah bundanya yang selalu lemah lembut namun tak berdaya di bawah tekanan papa tirinya muncul di pelupuk mata. Meski Amara kabur karena ingin menyelamatkan diri, ia tak pernah membenci wanita yang telah melahirkannya itu.

"Bunda..." bisik Amara parau. Air matanya jatuh mengenai layar ponsel.

Ia melihat jam di dinding. Hannan sedang berada di kampus untuk urusan asisten peneliti, dan Gus Malik sedang mendampingi Kiai Hamzah ke sebuah pertemuan lintas agama. Amara merasa terjepit. Jika ia meminta izin pada Hannan, ia takut Hannan akan melarangnya karena alasan keamanan—mengingat kaki tangan papa tirinya masih berkeliaran. Namun, jika ia menunggu, ia takut tak akan sempat melihat bundanya untuk terakhir kali.

Dalam kepanikan yang luar biasa, akal sehat Amara kalah oleh rasa bakti dan ketakutan akan kehilangan.

Ia masuk ke dalam kamar, mengambil paspor, uang tabungan hasil kerja freelance yang selama ini ia simpan, dan tas kecil berisi pakaian seadanya. Dengan tangan gemetar, ia menuliskan secarik kertas pendek: “Mas Hannan, maafkan aku. Bunda kecelakaan parah di Jakarta. Aku harus pulang. Jangan cari aku, aku tidak mau Mas dalam bahaya lagi karena aku. Aku mencintaimu.”

Amara pergi melalui pintu belakang, memesan taksi online menuju Bandara Internasional Los Angeles (LAX). Sepanjang perjalanan, ia terus menangis, mematikan ponselnya agar tak bisa dilacak, dan hanya fokus pada satu tujuan: Jakarta.

Setelah penerbangan panjang yang melelahkan dan penuh kecemasan, kaki Amara akhirnya berpijak di Bandara Soekarno-Hatta. Udara panas dan lembap Jakarta menyambutnya, sangat kontras dengan dinginnya California. Amara berjalan terburu-buru keluar dari terminal kedatangan, matanya mencari-cari papan arah menuju area taksi.

Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengar teriakan di dekat area parkir yang agak lengang.

"Tolong! Jambret! Kembalikan tas saya!"

Amara menoleh dan melihat seorang gadis mengenakan gamis hitam lebar dan cadar yang menutup wajahnya sedang tersungkur di lantai. Seorang pria berjaket kulit baru saja merampas tas selempang gadis itu dan mencoba lari menuju motor yang sudah menunggu di pinggir jalan.

Tanpa pikir panjang, keberanian yang muncul dari rasa terdesaknya selama di Amerika bangkit. Amara melemparkan tas punggungnya ke arah kaki sang perampok hingga pria itu tersandung dan jatuh tersungkur.

"Berhenti!" teriak Amara sambil berlari mengejar. Ia sempat belajar sedikit teknik kuncian dari Hannan saat di California. Saat perampok itu hendak berdiri, Amara dengan sigap menendang pergelangan tangan pria itu hingga tas milik gadis bercadar itu terlepas.

"Kurang ajar!" perampok itu menghunuskan pisau kecil, namun kerumunan orang mulai mendekat karena teriakan Amara. Melihat situasi tidak menguntungkan, sang perampok memilih lari menyusul temannya di motor dan menghilang di tengah kemacetan Jakarta.

Amara mengatur napasnya yang memburu. Ia mengambil tas yang terjatuh dan menghampiri gadis bercadar yang masih terduduk lemas di aspal.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Amara cemas. Ia membantu gadis itu berdiri.

Gadis itu gemetar hebat. Matanya yang indah tampak berkaca-kaca di balik cadarnya. "Terima kasih... terima kasih banyak, Mbak. Saya... saya baru saja sampai dari Jawa Timur, saya bingung sekali jika tas itu hilang. Isinya ponsel dan alamat kakak saya."

Amara tersenyum lembut, mencoba menenangkan. "Sama-sama. Syukurlah tasnya kembali. Kamu sendirian ke Jakarta?"

"Iya, Mbak. Saya mencari kakak laki-laki saya yang katanya sudah pulang dari luar negeri tapi tidak memberi kabar ke pesantren. Nama saya Aisyah," ujar gadis itu sambil merapikan pakaiannya yang sedikit kotor.

Amara tertegun sejenak mendengar nama itu, namun ia segera sadar bahwa ia harus ke rumah sakit. "Aisyah, saya harus segera pergi. Ibuku sedang kritis. Kamu hati-hati ya di Jakarta, jangan sendirian di tempat sepi."

"Tunggu, Mbak!" Aisyah menahan tangan Amara. "Nama Mbak siapa? Boleh saya minta nomornya? Saya berutang budi sekali pada Mbak."

Amara ragu. Ia ingin menyembunyikan identitasnya, namun ia melihat ketulusan dari gadis ini. "Nama saya Amara. Maaf, ponselku mati. Aku benar-benar harus pergi."

Amara segera mencegat taksi dan menghilang, meninggalkan Aisyah yang masih terpaku. Aisyah tidak tahu bahwa wanita yang baru saja menyelamatkannya adalah kakak iparnya—wanita yang menjadi alasan ayahnya, Kiai Abdullah, murka besar di pesantren.

Dan Amara pun tidak menyadari, bahwa takdir baru saja mempertemukannya dengan adik bungsu Hannan yang sangat disayangi suaminya itu. Pertemuan di bandara ini adalah awal dari benang merah yang akan membawa rahasia pernikahan mereka ke permukaan di tanah air.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!