NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: BANTUAN DATANG

#

Malam itu, jam tujuh tepat.

Aku duduk di studio TV nasional. Studio gede dengan lampu-lampu terang. Kamera besar di depan aku. Mikrofon klip nempel di kerah baju.

Di sebelah aku ada pembawa acara. Cewek cantik berkacamata. Ramah. Dia senyum ke aku.

"Satria, kamu siap?"

Aku tarik napas dalam. Tangan gemetar. "Siap, Kak."

"Oke. Kita mulai dalam tiga... dua... satu..."

Lampu merah kamera menyala.

LIVE.

"Selamat malam, Indonesia. Malam ini kami punya tamu istimewa. Satria Bumi Aksara. Seorang siswa SMA yang berani membongkar korupsi beasiswa di sekolahnya. Dan kini, dia berjuang menyelamatkan nyawa ayahnya. Mari kita dengar kisahnya."

Pembawa acara liat aku. "Satria, ceritakan pada pemirsa di rumah. Apa yang kamu alami?"

Aku liat kamera. Bayangin jutaan orang nonton di TV mereka.

Aku mulai cerita. Dari awal. Tentang ayah yang lumpuh. Ibu yang cuci baju. Aku yang sekolah sambil kerja. Diejek. Dihina. Dijauhin.

Tentang beasiswa yang dikorupsi. Tentang kami berlima yang berjuang. Dipukulin. Rumah dibakar. Ibu kolaps. Nareswari diserang.

Tentang H. Bambang sama Pak Julian yang akhirnya ditangkep.

Dan tentang ayah yang sekarang sekarat butuh operasi dua ratus lima puluh juta.

Aku cerita sambil nangis. Gak bisa nahan. Air mata jatuh di depan kamera.

Tapi aku gak malu. Ini air mata jujur.

Pembawa acara juga nangis. Dia lap matanya pake tissue.

"Satria... kamu anak yang sangat kuat. Sangat berani. Dan kami... kami di sini ingin membantu. Pemirsa di rumah, mari kita bantu Satria. Nomor rekening galang dana ada di layar. Donasi kalian sangat berarti."

Di layar TV muncul nomor rekening galang dana kami.

"Terima kasih, Satria. Kami semua mendoakan ayahmu."

"Terima kasih, Kak..."

Acara selesai. Lampu merah kamera mati.

Tapi aku masih duduk. Masih nangis.

***

Aku pulang jam sepuluh malam.

Vanya, Adrian, Arjuna, Nareswari udah nunggu di warung Pak Hadi. Mereka nonton acara tadi di TV.

Begitu liat aku masuk, mereka langsung berdiri. Peluk aku.

"Sat! Lu keren banget tadi! Cerita lu bikin kita semua nangis!"

"Iya! Gue yakin banyak orang yang tersentuh!"

Aku senyum tipis. Capek banget. Tapi lega.

"Semoga... semoga ada yang mau bantuin..."

Adrian buka laptopnya. Dia cek saldo galang dana online.

Matanya melebar. "SAT! LIAT INI!"

Aku liat layar laptop.

Saldo: seratus tujuh puluh juta rupiah.

Naik tiga puluh juta dalam tiga jam.

"Gila... gila ini beneran...?"

Adrian ngangguk cepat. "Iya! Donasi terus masuk! Setiap menit ada yang nyumbang!"

Kami semua liat layar itu. Gak percaya.

Angkanya terus naik. Seratus tujuh puluh satu juta. Seratus tujuh puluh dua juta. Seratus tujuh puluh lima juta.

"Ya Allah... Ya Allah terima kasih..."

Bisikku sambil nangis lega.

***

Hari pertama setelah tayang di TV.

Donasi: dua ratus lima puluh juta rupiah.

Pas. Tepat sesuai target.

Aku gak bisa berhenti nangis. Duduk di ruang tunggu rumah sakit sambil liat saldo di hape.

Dua ratus lima puluh juta. Dari puluhan ribu orang. Orang-orang yang gak kenal aku. Tapi mereka peduli.

Ibu peluk aku. Nangis juga. "Alhamdulillah... Alhamdulillah, Satria... ayahmu bisa operasi... ayahmu bisa sembuh..."

Aku peluk ibu erat. "Iya, Bu... ayah bakal sembuh..."

***

Hari kedua.

Donasi: tiga ratus juta rupiah.

Lebih dari target. Lima puluh juta lebih.

Dan donasi masih terus masuk. Gak berhenti.

Beberapa artis terkenal share cerita aku di akun mereka. Beberapa pengusaha kaya nyumbang puluhan juta.

Bahkan ada pejabat pemerintah yang dateng jenguk ayah aku di rumah sakit. Bawa kamera. Bawa wartawan. Kasih amplop.

Aku terima dengan sopan. Meskipun dalem hati aku tau mereka cuma cari panggung.

Tapi gak papa. Yang penting ayah bisa sembuh.

***

Hari ketiga.

Dokter bilang operasi bisa dilakukan besok pagi.

Semua persiapan udah selesai. Uang udah dibayar. Tim dokter udah siap.

Aku masuk ruang rawat ayah. Ayah lagi tidur. Napasnya masih sesak. Tapi lebih baik dari kemarin.

Aku duduk di sebelah kasur. Pegang tangan ayah.

"Yah... besok ayah operasi. Dokter bilang operasinya berisiko. Tapi ayah pasti bisa. Ayah harus bisa. Satria... Satria butuh ayah."

Ayah buka mata pelan. Liat aku. Senyum lemah.

"Sat... terima kasih... terima kasih sudah... berjuang keras... buat ayah..."

Aku geleng. "Gak usah terima kasih, Yah. Ini kewajiban anak. Besok ayah harus kuat. Ayah harus sembuh. Ayah harus liat Satria wisuda nanti."

Ayah senyum. "Insya Allah... ayah akan... bertahan..."

***

Pagi itu, jam enam.

Ayah dibawa ke ruang operasi. Dipindahin ke brankar. Didorong perawat.

Aku sama ibu jalan di samping brankar. Pegang tangan ayah.

"Yah... Satria doain ayah. Ayah pasti bisa."

Ayah angguk lemah. "Aamiin..."

Sampai di depan pintu ruang operasi. Pintu besar bertulisan RUANG OPERASI. DILARANG MASUK.

Perawat berhenti. "Maaf, keluarga hanya sampai sini."

Aku peluk ayah. Hati-hati. Takut sakit lukanya.

"Ayah... Satria sayang ayah... Satria tunggu ayah keluar sehat."

Ayah belai rambut aku. Tangannya gemetar. "Ayah... ayah juga sayang Satria... dan ibumu... kalian... kalian adalah segalanya buat ayah..."

Ibu peluk ayah. Nangis. "Abang... kumohon selamat... kumohon pulang ke kami..."

Ayah senyum. "Insya Allah..."

Pintu ruang operasi terbuka. Ayah didorong masuk. Pintu ditutup.

Kami cuma bisa liat dari kaca. Ayah dibawa ke meja operasi. Dokter-dokter pakai baju hijau. Masker. Sarung tangan.

Lampu operasi nyala. Terang banget.

Aku sama ibu duduk di bangku ruang tunggu. Pegang tangan erat.

"Ya Allah... selamatkan suami ibu... selamatkan ayah Satria... kumohon..."

Doa ibu pelan. Tapi penuh harap.

***

Enam jam kemudian.

Pintu ruang operasi terbuka.

Dokter keluar. Masker diturunin. Mukanya capek. Tapi dia senyum.

"Keluarga Pak Budi Aksara?"

Aku sama ibu langsung berdiri. Lari ke dokter.

"Iya, Dok! Gimana? Ayah saya gimana?!"

Dokter senyum lebar. "Operasi berjalan sukses. Kami berhasil pasang tiga ring di jantung beliau. Penyumbatan sudah dibersihkan. Jantungnya sekarang jauh lebih kuat. Beliau... beliau selamat."

Aku jatuh berlutut. Nangis keras.

"ALHAMDULILLAH... ALHAMDULILLAH..."

Ibu juga jatuh berlutut. Peluk aku. Nangis bareng.

"Terima kasih, Ya Allah... terima kasih..."

Dokter tepuk pundak kami. "Tapi beliau masih harus dirawat intensif minimal dua minggu. Dan... dan meskipun jantungnya sudah kuat, beliau tetap tidak bisa berjalan karena kondisi lumpuhnya. Itu masalah berbeda. Tapi setidaknya... beliau bisa hidup lebih lama sekarang."

Aku angguk. "Gak papa, Dok. Yang penting ayah hidup. Terima kasih... terima kasih banyak, Dok."

***

Tiga hari kemudian.

Ayah udah sadar penuh. Dipindahin ke ruang rawat biasa.

Aku jenguk tiap hari. Bawa makanan. Bawa buah. Bawa buku buat dibacain ke ayah.

Ayah senyum liat aku. Senyum yang lebih kuat dari sebelumnya.

"Sat... ayah... ayah ngerasa lebih baik sekarang. Napas ayah gak sesak lagi. Dada ayah gak sakit lagi."

Aku senyum. "Alhamdulillah, Yah. Ayah harus terus semangat. Ayah harus sembuh total."

Ayah pegang tangan aku. "Sat... ayah bangga padamu. Kamu... kamu berjuang keras. Kamu... kamu anak terbaik yang ayah punya."

Aku nangis. "Satria cuma gak mau kehilangan ayah. Ayah... ayah adalah segalanya buat Satria."

Ayah nangis juga. "Terima kasih, Nak... terima kasih sudah jadi anak yang hebat..."

Kami pelukan. Nangis bareng.

Ibu di sebelah juga nangis. Tapi nangis bahagia.

Keluarga kami... keluarga kami bertahan. Meskipun penuh luka. Tapi kami masih bersama.

***

Seminggu kemudian.

Aku hitung sisa donasi. Setelah bayar operasi, obat, perawatan, masih sisa lima puluh juta lebih.

Aku kumpulin Vanya, Adrian, Arjuna, Nareswari.

"Temen-temen... sisa donasi lima puluh juta. Aku... aku gak akan pakai buat diri aku sendiri. Aku mau pakai buat bantuin anak-anak miskin lain yang butuh. Kayak aku dulu. Kalian setuju?"

Mereka semua senyum. Ngangguk.

"Setuju. Itu keputusan yang tepat, Sat."

Aku senyum lega. "Terima kasih."

***

Dua minggu kemudian.

Ujian nasional tinggal dua minggu lagi.

Aku harus fokus belajar. Aku harus dapet nilai terbaik. Buat beasiswa kuliah kedokteran.

Kami berlima belajar bareng di perpustakaan sekolah. Kayak dulu. Tapi sekarang beda. Sekarang kami dihargai. Dihormati.

"Sat... lu yakin mau kuliah kedokteran? Berat lho. Tujuh tahun," tanya Adrian sambil baca buku biologi.

Aku ngangguk. "Aku yakin. Aku mau jadi dokter. Buat ngobatin orang-orang kayak ayah aku. Orang-orang yang gak mampu. Aku mau bantuin mereka."

Vanya senyum. "Lu pasti bisa, Sat. Gue yakin."

Arjuna tepuk pundak aku. "Kita semua yakin."

Nareswari angkat kepalan tangan. "Buat masa depan kita!"

Kami semua angkat kepalan tangan.

"Buat masa depan kita!"

***

*

1
Was pray
satria terlalu ambisius
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
memang kadang harapan gak sesuai dengan kenyataan
aa ge _ Andri Author Geje: good💪 benar ituh
total 1 replies
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
keren untuk Bagas ,tetap semangat dengan segala keterbatasannya
yuningsih titin: lanjut kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!