Suci.. seorang gadis mualaf yang memiliki cinta sejati bernama Fathan.
Seiring perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan, suci rela berkorban ditinggalkan keluarga besarnya demi memperjuangkan Islam. Karena keputusannya ini suci dibenci oleh keluarganya.
Suci mencari hidayahnya untuk berhijrah dan bertemu dengan keluarga baik hati yang membantunya dalam mengucapkan DUA KALIMAT SYAHADAT.
Bagaimana dengan cinta sejatinya yang telah menunggu? atau suci memilih Zhein yang selama ini selalu ada dalam proses hijrahnya.
simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 LAUHUL MAHFUDZ
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
SUATU HARI NANTI , ALLOH akan menjawab do'a mu, hingga kedua matamu menangis bahagia. Dia akan mewujudkan mimpimu didepan kedua matamu, hingga membuatmu takjub akan Rahma dan kuasaNya.
" Mas, kenapa? jadi gak yakin sama suci?, kok dari tadi diam aja. Suci siap dengan semua resikonya mas." ucap suci.
" Gak Suci, gak papa, mas malah takut suatu saat kamu pergi meninggalkan mas, suci." ucap Zhein gugup.
" Insya Allah gak mas, Suci akan menemani hari hari mas hingga diusia senja nanti.", ucap suci lembut.
Mobil melaju dengan kecepatan pelan, tak terasa sudah sampai didepan rumah bunda Jihan. Suci dan Zhein pun turun bersama, dengan membawa semua belanjaan untuk seserahan dan mahar.
" Mas setelah ini sholat ashar bareng, lanjut bacaan Qur'an ya mas, tinggal dikit lagi." ucap suci manja.
" Iya suci nanti mas bantu bacaan Qur'an nya, yuk ke dalam.", ucap Zhein
Assalamualaikum bunda.... keduanya mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam, duh anak anak kesayangan bunda udah pada datang nih. Gimana beres untuk seserahan ,biar di bungkus sama periasnya." ucap bunda sambil melihat kantong kantong plastik berisi seserahan tersebut.
" Sudah bunda, suci rasa cukup, segitu aja gak perlu ditambah lagi bunda. Bunda suci mandi dulu, sudah lengket semua, habis itu mau sholat ashar berjamaah sama mas zhein" ucap suci.
" Bunda lagi Kedatangan tamu sayang, kalin berdua aja ya. Bunda mau lihat lihat ini seserahan nanti Mbak Lia bungkus." ucap bunda
Suci masuk ke kamarnya, segera mandi dan wudhu, sudah lengkap menggunakan mukena dan membawa Quran.
Suci pun menunggu Zhein di mushola kecil rumah bunda.
Mushola ini hanya untuk sekita 5 orang tapi disini sungguh nyaman. Tapi biasanya hanya digunakan bila sholat berjamaah saja. Karena bila sendiri suci lebih suka sholat dikamar nya.
" Sudah siap suci, mari kita sholat" , ucap Zhein.
" Iya mas", ucap suci.
Sholat ashar berjamaah sudah selesai, dilanjutkan bacaan Qur'an suci.
" Kamu sudah sampai man suci? ayat ke berapa ?", tanya Zhein.
" Sudah surat ke 100, Surat Al-Adiyat, mas.", ucap suci mantap.
" Wahh cepe nih, hebat kamu bisa buru buru nikah donk kan menuju khatam", goda Zhein.
" Kan tiap malam suci baca Qur'an terus mas seblem dan sesudah tahajud, tapi kayaknya masih ada yang salah, suci belum paham yang panjang pendek itu lho mas, suci selama ini cuma baca, ya nanti diulang lagi biar bacaannya sempurna mas, suci akan belajar lebih giat lagi." ucap suci.
" Panjang pendek yang mana suci, kok mas malah gak paham, apa mas yang gagal paham?" tanya Zhein sambil menarik turunkan alisnya.
" Ihhhhh mas nyebelin, bisa bisanya godain suci dasar ustadz mesum, udah ah ntar suci gak khatam khatam nih gara gara mas ngeledek Mulu ah..." jawab suci dengan kesal.
Bismillahirrahmanirrahim
Surat Al 'Adiyat
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالْعٰدِيٰتِ ضَبْحًاۙ
wal-'ādiyāti ḍab-ḥā
Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah,
فَالْمُوْرِيٰتِ قَدْحًاۙ
fal-mụriyāti qad-ḥā
dan kuda yang memercikkan bunga api (dengan pukulan kuku kakinya),
فَالْمُغِيْرٰتِ صُبْحًاۙ
fal-mugīrāti ṣub-ḥādan
kuda yang menyerang (dengan tiba-tiba) pada waktu pagi,
فَاَثَرْنَ بِهٖ نَقْعًاۙ
fa aṡarna bihī naq'ā
sehingga menerbangkan debu,
فَوَسَطْنَ بِهٖ جَمْعًاۙ
fa wasaṭna bihī jam'ā
lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,
اِنَّ الْاِنْسَانَ لِرَبِّهٖ لَكَنُوْدٌ ۚ
innal-insāna lirabbihī lakanụd
sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak bersyukur) kepada Tuhannya,
وَاِنَّهٗ عَلٰى ذٰلِكَ لَشَهِيْدٌۚ
wa innahụ 'alā żālika lasyahīddan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan (mengakui) keingkarannya,
وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ ۗ
wa innahụ liḥubbil-khairi lasyadīddan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan.
۞ اَفَلَا يَعْلَمُ اِذَا بُعْثِرَ مَا فِى الْقُبُوْرِۙ
a fa lā ya'lamu iżā bu'ṡira mā fil-qubụr
Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan,
وَحُصِّلَ مَا فِى الصُّدُوْرِۙ
wa huṣṣila mā fiṣ-ṣudụr
dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan?
اِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّخَبِيْرٌ
inna rabbahum bihim yauma`iżil lakhabīr
sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka.
“Shadaqallahul’azhim.”
Alhamdulillah ....
" Suci kamu sudah lebih baik, mas bangga sama kamu, kamu cepat paham dan mengerti. Gak sia sia nih mas jadiin istri." ucap Zhein.
" Mulai nih.... mas mau apa biar aku buatin mas" , ucap suci sambil melipat mukenanya dan merapikan sajadahnya.
" Mas pengen roti bakar selai apa aja, sama jus atau sirup, yang penting dingin, minumnya di gazebo belakang. Tapi temenin ya, ada yang mau mas tanyakan", ucap Zhein. Hatinya masih mengganjal masalah fathan, dan belum mendapat jawaban yang menurutnya memuaskan dari suci, seakan suci bimbang alam mengambil keputusan.
Entah apa yang malah membuat ku ragu terhadap suci saat ini.
Suci dan Zhein keluar bersama dari mushola kecilnya. Suci menuju dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan yang di minta Zhein. Sedangkan Zhein menuju gazebo belakang rumah.
Suci membawa pesanan ke arah gazebo, suci melihat Zhein duduk termenung seperti sedang ada masalah.
" Mas Zhein ini orange jus nya, ayo di minum biar seger, katanya mau yang dingin dingin." ucap suci sambil menyodorkan gelas jusnya kepada Zhein.
Zhein menerimanya dengan senyum " Terima kasih ya sayang..", ucap Zhein.
Wajah suci langsung memerah malu mendengar ucapan Zhein.
" Mas, suci malu ihhh" ucap suci menundukkan kepala.
" Kenapa harus malu, dua hari lagi kita menikah", ucap Zhein
Tak terbayangkan oleh suci bagaimana nanti setelah menikah, Zhein yang dingin tapi punya selera humor yang cukup bikin heboh. Cukup membuat suci suka terheran heran, tapi lucu bikin gemes.
" Suci apakah kamu keberatan menikah dengan mas? apakah kamu masih mencintai Fathan? jawablah jujur dari hatimu, mas tidak akan marah, mas akan menunggumu sampai kamu siap menerima mas. Pernikahan itu tetap dilaksanakan jangan buat bunda kecewa, mas gak mau suci. Tolong jawablah jujur, mas bisa mengerti keadaanmu." ucap Zhein lembut. Wanita itu harus diberikan kelembutan maka ia akan membalas kelembutan juga.
Deg....
Deg...
Deg....
Suci tidak bisa berkat kata, entah sebenarnya perasaan seperti apa yang sedang dihadapinya. Suci menarik nafasnya dalam, dia keluarkan perlahan. Sebenarnya menerima lamaran zhein bukan juga atas bujukan bundanya, tapi memang ada perasaan nyaman.
Ya Alloh kenapa membuat hati ku bimbang, apakah ini ujian ku, aku berharap nama Mas Zhein yang tertulis di Lauhul Mahfudz. Semoga memang Mas Zhein takdir jodohku dari Alloh. Tapi ada perasaan tidak bisa meninggalkan Fathan, perasaan tidak rela bila Fathan benar menungguku ini benar menjadi masalah terberatku. Kenapa situasi ini harus dihadapkan kepada hambamu yang lemah ini.
Aku selalu sholat istikharah meminta petunjuk mu, dan inilah menikah dengan mas Zhein adalah keputusan terbaik, disaat sudah mantap, aku diberikan kebimbangan lagi mengnai Fathan. Apa yang harus jelaskan ke mas zhein. Tadi siang aku sudah menjelaskan tapi sekarang minta dijelaskan, apa mas Zhein mulai tidak yakin denganku.
" Mas Zhein, aku harap kamu bisa mengerti posisiku........
***Prank.....
..........................
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
💚💚💚💚💚***