NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: SERIGALA DI BALIK GAUN SUTRA

​Malam di mansion Dirgantara tidak pernah benar-benar sunyi. Di balik kemewahan dinding marmernya, selalu ada bisik-bisik rencana dan bau mesiu yang samar. Alana berdiri di depan cermin besar di kamar utama, menatap pantulan dirinya yang mengenakan jubah tidur sutra berwarna hitam. Di lehernya, kalung safir pemberian Arkano berkilau dingin, sementara di atas meja rias, pistol itu tergeletak diam, seolah menanti saatnya untuk kembali menyalak.

​Pintu kamar terbuka. Arkano masuk dengan langkah tegap, melepaskan kancing kemeja atasnya yang ternoda sedikit percikan darah—sisa dari interogasi bawah tanah terhadap penyusup semalam. Ia berhenti tepat di belakang Alana, melingkarkan tangannya yang kuat di pinggang istrinya.

​"Kau memandangi senjata itu seolah-olah kau sedang merindukan medan perang, Alana," bisik Arkano. Suaranya rendah, menggetarkan saraf-saraf di leher Alana.

​Alana membalikkan tubuhnya dalam pelukan Arkano. Ia menatap mata gelap suaminya yang penuh dengan obsesi. "Aku bukan merindukan perangnya, Arkano. Aku merindukan saat di mana aku bisa menarik pelatuk itu tepat di dahi pria yang menyebut dirinya mentorku."

​Arkano menyeringai, sebuah ekspresi bangga yang mematikan. "Sabar, Sayang. Menghancurkan pria seperti Pak Hendrawan tidak bisa dilakukan dengan satu peluru. Kita harus mengulitinya perlahan. Kita harus menghancurkan martabatnya sebelum kita mengambil nyawanya."

​Arkano menarik Alana lebih dekat, hingga napas mereka menyatu. "Besok, klan Silver Fang akan mengadakan pertemuan rahasia di dermaga timur untuk menerima kiriman barang dari luar negeri. Aku tahu, Hendrawan akan ada di sana untuk memastikan bagiannya aman. Kau ingin ikut bermain?"

​Mata Alana berkilat tajam. "Aku tidak hanya ingin ikut, Arkano. Aku ingin menjadi orang pertama yang dia lihat saat semuanya hancur."

​Keesokan harinya, persiapan dilakukan dengan presisi militer. Arkano tidak lagi memandang Alana sebagai tawanan yang harus dikunci di kamar. Ia justru memerintahkan Marco untuk memberikan akses penuh pada Alana ke sistem komunikasi klan Dirgantara.

​Di ruang taktis bawah tanah, Alana duduk di depan deretan monitor. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas keyboard, meretas frekuensi radio kepolisian yang biasa digunakan oleh unit khusus Hendrawan.

​"Dulu dia mengajariku cara menutup jejak digital," gumam Alana dingin. "Sekarang, aku akan menggunakan ilmu itu untuk memburu bayangannya sendiri."

​Arkano berdiri di sampingnya, menyesap kopi hitam tanpa gula. Ia menatap layar yang menunjukkan titik-titik koordinat di dermaga. "Marco dan tim elit sudah berada di posisi. Kita akan berangkat sepuluh menit lagi."

​Arkano meletakkan cangkirnya, lalu membungkuk, mengecup kening Alana dengan sangat lembut namun posesif. "Pakai pakaian taktis yang kusiapkan. Dan jangan lupa, kau adalah permaisuriku. Jika terjadi sesuatu, jangan ragu untuk menghabisi siapa pun yang menghalangi jalanmu. Aku akan menjaga punggungmu dari kejauhan."

​Pukul dua dini hari, dermaga timur diselimuti kabut tebal. Bau garam dan karat memenuhi udara. Alana bergerak dalam kegelapan seperti bayangan yang tak terlihat. Ia mengenakan pakaian taktis serba hitam dengan rompi antipeluru yang tersembunyi di balik jaketnya. Di telinganya, earpiece terus menyiarkan laporan dari tim Arkano.

​"Target terlihat. Unit Hendrawan masuk melalui pintu selatan," suara Marco terdengar statis.

​Alana mengintip dari balik tumpukan kontainer. Di sana, di bawah lampu merkuri yang remang-remang, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya. Pak Hendrawan, dengan setelan jas rapi dan wajah berwibawa yang selama ini menipu Alana, sedang bersalaman dengan pemimpin klan Silver Fang.

​"Kau lihat itu, Arkano?" bisik Alana ke mikrofon kecil di kerahnya.

​"Aku melihatnya, Sayang. Titik merah penembak jituku sudah berada di dadanya. Tinggal satu perintah darimu, dan drama ini berakhir," jawab Arkano dari posisi sniper-nya di gedung seberang.

​"Jangan sekarang. Aku ingin dia merasakan ketakutan terlebih dahulu," jawab Alana dingin.

​Alana bergerak maju, menyelinap melewati penjaga luar dengan gerakan yang sangat terlatih. Saat Hendrawan sedang memeriksa isi peti kayu yang berisi senjata ilegal, Alana sengaja menginjak sebuah kaleng kosong, menciptakan suara denting yang cukup keras untuk memicu alarm para penjaga.

​"Siapa di sana?!" teriak salah satu pengawal Silver Fang.

​Seketika, baku tembak pecah. Namun, tim Arkano jauh lebih siap. Mereka mematikan lampu sorot dermaga, membuat suasana menjadi gelap gulita. Di tengah kekacauan itu, Alana bergerak dengan insting predator. Ia tidak menembak untuk membunuh pengawal rendahan; ia hanya ingin satu target.

​Hendrawan mencoba melarikan diri ke arah mobil SUV-nya, namun langkahnya terhenti saat sebuah peluru bersarang di ban mobilnya.

​DOR!

​Hendrawan terjatuh, terengah-engah. Ia mencoba mencabut pistol dari balik jasnya, namun sebuah sepatu bot hitam menginjak tangannya dengan kasar.

​"Lama tidak bertemu, Pak Hendrawan," suara lembut namun dingin itu membuat darah Hendrawan membeku.

​Hendrawan mendongak, matanya membelalak saat melihat Alana berdiri di hadapannya. Alana tidak lagi tampak seperti agen muda yang lugu. Ia tampak seperti malaikat maut yang mengenakan mahkota kegelapan.

​"Alana? Kau... kau masih hidup?" suara Hendrawan bergetar.

​Alana menodongkan pistol Kimber-nya tepat di antara kedua mata Hendrawan. "Kau kecewa? Maaf karena aku tidak mati seperti yang kau rencanakan di pesta itu. Maaf karena 'umpan' ini justru kembali untuk memburu nelayannya."

​"Alana, dengarkan aku... ini semua bagian dari penyamaranmu! Aku melakukannya untuk melindungimu!" Hendrawan mencoba berbohong, sebuah kebohongan yang membuat Alana ingin tertawa muak.

​"Lindungi aku dengan menjualku seharga 50 juta dolar? Lindungi aku dengan mengirim klan Silver Fang untuk membantarku?" Alana menekan ujung pistolnya lebih keras ke dahi Hendrawan. "Aku sudah melihat data The Bishop, Pak. Aku tahu semuanya."

​Tiba-tiba, Arkano muncul dari kegelapan, berjalan dengan angkuh sambil memegang senapan runduk di bahunya. Ia berdiri di samping Alana, merangkul pundak istrinya dengan posesif.

​"Bagaimana rasanya, Inspektur? Melihat mahakaryamu sendiri berbalik menodongkan senjata ke arahmu?" tanya Arkano dengan tawa rendah yang mengerikan.

​Hendrawan menatap Arkano, lalu kembali ke Alana. "Kau... kau sudah benar-benar menjadi bagian dari mereka, Alana. Kau mengkhianati negaramu!"

​"Negaraku tidak pernah mengkhianatiku, Hendrawan. Kau yang melakukannya," sahut Alana. "Dan di dunia mafia, kami punya cara sendiri untuk menghukum pengkhianat."

​Arkano menatap Alana, memberikan ruang bagi istrinya untuk mengambil keputusan. "Ingin aku menghabisinya sekarang, Sayang? Atau ingin membawanya pulang untuk 'bermain' lebih lama di ruang bawah tanah?"

​Alana menurunkan senjatanya sedikit, namun matanya tetap tajam. "Bawa dia. Kematian terlalu cepat adalah kemewahan yang tidak pantas dia dapatkan malam ini. Aku ingin dia melihat bagaimana klan Dirgantara menghancurkan seluruh jaringan korupsinya hingga tidak ada satu pun nama baik yang tersisa darinya."

​Arkano tersenyum puas. Ia memerintahkan Marco untuk menyeret Hendrawan yang meronta-ronta ke dalam mobil.

​Malam itu, saat mereka kembali ke mansion, adrenalin masih terasa mengalir di pembuluh darah Alana. Di dalam kamar, Arkano menarik Alana ke dalam pelukan yang sangat erat. Ia menciumi wajah Alana dengan gairah yang meluap, bangga atas keberanian istrinya.

​"Kau sangat luar biasa malam ini, Alana," bisik Arkano di sela ciumannya. "Kau adalah serigala paling cantik yang pernah aku temukan."

​Alana menyandarkan kepalanya di dada Arkano, mendengarkan detak jantung pria itu yang kuat. "Aku melakukannya untuk kita, Arkano. Agar tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita dengan rencana busuk mereka."

​Arkano mengangkat dagu Alana, menatap matanya dengan tatapan yang sangat dalam. "Mulai sekarang, siapapun yang berani menyentuhmu, mereka akan berurusan dengan seluruh kekuatanku. Kau bukan lagi agen, Alana. Kau adalah nyawa dari klan Dirgantara."

​Malam itu berakhir dengan keintiman yang penuh emosi. Di balik setiap sentuhan Arkano, Alana merasa bahwa ia telah menemukan tempat di mana ia benar-benar dihargai—bukan sebagai pion, melainkan sebagai pasangan hidup. Namun, ia tahu, ini barulah awal. Pak Hendrawan sudah di tangannya, tapi jaringan polisi korup masih luas. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Leebit
hehehe..
makasih ya udah mampir, semoga betah ya😁
Gheya Giyani
ikut deg deg kan kak
Siti Patimah
semoga badai cepat berlalu, dan kalian bisa hidup bahagia
Leebit
terima kasih😍
Diana
😍
Murni Dewita
👣👣
Murni Dewita: sama-sama thor
total 2 replies
Leebit
siap!!! mari kita hancurkan, hehe..
makasih ya udah dukung karya ku😊
Siti Patimah
hayo tetap bersatu hancurkan para musuh,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!