NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:991
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

—PROLOG—

Yurie kecil suka duduk di bawah meja makan.

Bukan karena ia dihukum, bukan pula karena disuruh. Ia hanya merasa tempat itu paling nyaman. Dari sana, ia bisa melihat kaki-kaki kursi yang tinggi, sepatu ayahnya yang selalu mengilap, dan gaun ibunya yang menjuntai lembut saat berjalan. Dunia Yurie sederhana. Jika ibunya tersenyum, maka segalanya baik-baik saja.

Hari itu, Yurie baru berusia lima tahun.

Ia sedang duduk di lantai marmer ruang makan, memeluk boneka kelinci kesayangannya. Boneka itu sudah agak usang, salah satu telinganya sedikit robek, tapi Yurie tetap menyukainya.

Ibunya yang memberikannya. Segala sesuatu yang berasal dari ibunya selalu terasa hangat.

“Yurie, jangan main di lantai terus,” suara lembut itu terdengar dari arah dapur.

Yurie mendongak. “Iya, Mama.”

Shella Nazeeran berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan gaun rumah berwarna pucat. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya terlihat sedikit lelah, tapi senyumnya tetap sama—hangat, penuh kasih, seperti selalu.

“Ayo sini,” kata Shella sambil berjongkok. “Mama mau minum obat dulu, habis itu kita main.”

Yurie berdiri dan berlari kecil ke arah ibunya. Ia menggenggam tangan Shella dengan dua tangannya yang kecil. Tangan itu terasa dingin.

“Mama capek?” tanya Yurie polos.

“Sedikit,” jawab Shella pelan. “Tapi tidak apa-apa.”

Di atas meja dapur, sudah ada segelas air putih dan sebuah botol kecil. Yurie memperhatikannya dengan rasa penasaran. Biasanya, Mama tidak minum obat di siang hari.

“Obat apa itu, Ma?”

Shella hendak menjawab, namun langkah kaki terdengar mendekat. Seorang wanita muncul dari balik pintu dapur. Wajahnya dirias rapi, senyumnya tipis tapi matanya dingin.

“Obat vitamin,” kata wanita itu ringan. “Biar tubuhnya cepat kuat lagi.”

Yurie menoleh. “Tante siapa?”

Wanita itu tersenyum lebih lebar. “Tante Agnesa.”

Shella sedikit menegang. “Agnesa… kamu masih di sini?”

Agnesa tertawa kecil. “Tentu. Aku khawatir dengan keadaanmu.”

Nada suaranya terdengar ramah, tapi entah kenapa Yurie merasa tidak nyaman. Ia merapat ke sisi ibunya, memeluk kakinya.

Shella mengambil botol itu. Tangannya sedikit bergetar. “Aku rasa aku tidak perlu—”

“Shella,” potong Agnesa, suaranya lebih tegas. “Dokter sudah menyarankan. Kamu tidak mau Yurie melihatmu sakit lebih lama, kan?”

Nama Yurie membuat Shella terdiam.

Ia menatap anaknya yang sedang memeluknya erat. “Iya… Mama tidak apa-apa kok,” katanya lembut pada Yurie.

Shella menuangkan cairan dari botol kecil itu ke dalam gelas. Cairannya bening, nyaris tak berwarna. Yurie memperhatikannya tanpa berkedip.

“Mama jangan minum,” ucap Yurie tiba-tiba.

Semua berhenti.

Shella menatapnya bingung. “Kenapa, sayang?”

“Yurie nggak suka,” jawabnya jujur. “Mama jangan minum dari Tante itu.”

Agnesa tertawa kecil. “Anak kecil memang suka ngarang.”

Shella tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Yurie. Ini cuma obat.”

Ia mengangkat gelas itu, lalu meminumnya perlahan.

Yurie merasa dadanya sesak. Ada perasaan aneh yang membuatnya ingin menangis, padahal ia tidak tahu kenapa. Ia memeluk ibunya lebih erat.

Beberapa menit berlalu.

Shella duduk di kursi dapur. Wajahnya mulai pucat. Tangannya mencengkeram meja.

“Shella?” Agnesa mendekat. “Kamu tidak apa-apa?”

“Pusing…” bisik Shella. “Dadaku…”

Yurie panik. “Mama?”

Shella berusaha berdiri, tapi kakinya melemah. Gelas di tangannya jatuh dan pecah di lantai. Airnya membasahi marmer.

“Shella!” Agnesa berseru, tapi suaranya terdengar terlalu tenang.

Yurie melihat ibunya terjatuh. Tubuh itu ambruk ke lantai, tepat di depan matanya.

“MAMA!” teriak Yurie.

Ia berlutut, mengguncang tubuh ibunya yang kini terasa dingin. “Mama bangun… Mama bohong kan? Kita mau main…”

Shella tidak menjawab.

Agnesa berdiri di samping mereka, menatap pemandangan itu dengan wajah datar. Bibirnya melengkung tipis.

“Tenang,” katanya. “Aku akan panggil seseorang.”

Namun ia tidak bergerak.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki berat terdengar. Bimantara Nazeeran masuk ke dapur. Wajahnya berubah ketika melihat tubuh Shella tergeletak.

“Shella?!” serunya.

Yurie menoleh cepat. “Ayah! Mama minum obat dari Tante Agnesa! Terus Mama jatuh!”

Bimantara berlutut, memeriksa denyut nadi istrinya. Wajahnya pucat.

“Ayah…” Yurie menarik lengan jasnya. “Tante itu jahat… Tante kasih Mama obat…”

“Yurie,” potong Bimantara keras. “Diam.”

Agnesa menutup mulutnya, berpura-pura terkejut. “Aku hanya ingin menolong…”

Tangisan Yurie semakin keras. “Ayah percaya Yurie! Yurie lihat!”

Namun malam itu, suara Yurie tenggelam.

Dokter datang. Ambulans datang. Orang-orang datang dan pergi. Rumah besar itu dipenuhi bisikan. Tapi tak ada yang benar-benar mendengarkan seorang anak kecil.

Shella Nazeeran dinyatakan meninggal dunia.

Karena sakit.

Begitulah kata mereka.

Pemakaman berlangsung sunyi. Yurie berdiri di samping peti mati, memegang ujung baju hitamnya. Dunia terasa aneh. Semua orang berpakaian hitam, semua orang menangis, tapi tidak ada yang bisa mengembalikan ibunya.

“Ma…” bisiknya. “Yurie di sini…”

Dua hari setelah pemakaman, rumah itu kembali ramai.

Bukan karena duka.

Melainkan pernikahan.

Yurie berdiri di tangga, melihat ayahnya mengenakan jas, dan Agnesa berdiri di sisinya, tersenyum bahagia. Kayla berdiri di samping Agnesa, menggenggam tangannya.

“Mulai hari ini, kita keluarga,” kata Bimantara.

Yurie tidak mengerti.

Ia hanya tahu, sejak hari itu, rumahnya tidak pernah sama. Dan kebenaran tentang malam itu… perlahan terkubur.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!