(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 3
Kekaisaran Langit – Taman Teratai Es.
Suasana di taman pribadi Permaisuri Xue Ling biasanya tenang dan damai, namun hari ini udara terasa berat oleh kecemasan.
Di tengah kolam teratai, sebuah layar proyeksi raksasa yang terbuat dari uap air (Cermin Samsara) melayang di udara. Cermin itu menampilkan pemandangan dari Alam Bawah seorang remaja kurus dengan pakaian kotor sedang terseok-seok menaiki tangga batu terjal di bawah terik matahari.
Long Yin, sang Ibu dan Putri Naga, duduk di tepi kolam. Tangannya meremas sapu tangan sutra hingga hampir robek. Matanya yang indah sembab.
"Kakinya berdarah, Kakak Chen..." isak Long Yin pelan. "Dia tidak pernah berjalan lebih dari seratus langkah tanpa digendong awan. Sekarang dia harus memanggul air seberat itu? Ayah terlalu kejam."
Ye Chen, Kaisar Naga Iblis yang ditakuti ribuan dunia, berdiri di belakang istrinya. Wajahnya keras dan tegang. Dia mondar-mandir seperti harimau yang dikurung.
"Aku akan turun," geram Ye Chen tiba-tiba. "Aku akan menyamar jadi pedagang lewat dan memberinya Pil Pemulih Otot. Hanya satu pil. Ayah tidak akan tahu."
"Duduk, Ye Chen."
Suara dingin namun anggun menghentikan langkah Ye Chen.
Xue Ling, nenek dari Ye Xing (dan istri Tian Feng), sedang menuangkan teh dengan gerakan santai. Di seberangnya, Tian Feng duduk sambil memegang bidak catur, matanya juga menatap layar air itu.
"Tapi, Ibu..." protes Ye Chen.
"Lihat matanya," kata Tian Feng tanpa menoleh. Dia menunjuk ke wajah Ye Xing di dalam cermin. "Apa kau melihat ketakutan di sana? Apa kau melihat dia menyerah?"
Ye Chen dan Long Yin menatap layar lebih dekat.
Di dalam cermin, Ye Xing memang bermandikan keringat. Wajahnya pucat, kakinya gemetar hebat. Tapi matanya... mata itu membara dengan api tekad yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Dia tidak sedang menderita," kata Tian Feng pelan. "Dia sedang bangun."
Alam Bawah – Jalur Pendakian Sekte Awan Rusak.
"Sembilan ratus... sepuluh..."
Napas Ye Xing terdengar seperti parutan besi. Paru-parunya terasa terbakar.
Tugas ujian ini sederhana namun brutal: Bawa dua ember air dari Sungai Hitam di kaki gunung menuju Area Budak di puncak. Masalahnya, air ini mengandung pasir besi. Berat totalnya hampir 50 kilogram.
Bagi Ye Xing yang asli (Soul Formation), beban ini seringan kapas. Tapi bagi tubuh Qi Condensation tingkat 3 yang tersegel dan tidak terlatih fisik? Ini siksaan neraka.
Di sebelahnya, Lin Xiao sudah jatuh berlutut di anak tangga ke-900. Embernya tumpah sedikit. Bocah itu menangis tanpa suara, tubuhnya yang kurang gizi sudah mencapai batasnya.
"Aku... tidak kuat lagi, Xing..." bisik Lin Xiao. "Kau jalan saja... tinggalkan aku. Kalau kau berhenti, kau akan gagal juga."
Pengawas ujian, seorang pria gemuk dengan cambuk, berdiri di puncak tangga sambil berteriak. "Waktu tinggal setengah dupa! Yang belum sampai, silakan pulang dan jadi petani!"
Ye Xing berhenti. Kakinya terasa seperti timah. Dia menatap puncak, lalu menatap Lin Xiao.
Logika Ye Xing berkata Tinggalkan dia. Dia beban. Aku harus lulus.
Tapi kemudian dia teringat rasa roti berjamur itu. Rasa persahabatan pertama yang tulus.
"Jangan bodoh," desis Ye Xing.
Ye Xing meletakkan embernya sebentar. Dia mengatur napasnya. Bukan napas biasa, tapi Pernapasan Naga Tidur teknik tingkat tinggi yang dia sederhanakan secara instan agar cocok untuk tubuh lemah.
Tarik... Tahan... Salurkan ke Kaki... Hembuskan.
Rasa sakit di ototnya sedikit berkurang. Oksigen mengalir lebih efisien.
Ye Xing tidak mengambil embernya sendiri. Dia malah membungkuk, menyambar kerah baju Lin Xiao dengan satu tangan, dan menarik bocah itu berdiri.
"Dengar irama napasku," perintah Ye Xing tegas. "Ikuti aku. Satu... Dua... Satu... Dua..."
"Tapi embermu..."
"Diam dan jalan!"
Ye Xing mengangkat kembali dua embernya. Beban bertambah, tapi pikirannya jernih. Dia memimpin langkah.
Tap. Tap. Tap.
Langkah mereka menjadi teratur. Ye Xing membagi sedikit aura ritmenya kepada Lin Xiao, menciptakan resonansi aneh yang membuat beban terasa sedikit lebih ringan.
Para peserta lain menatap mereka dengan heran. Dua bocah paling kurus dan lemah itu berjalan beriringan, melewati anak-anak berbadan besar yang sudah pingsan karena kelelahan.
Langkah 950. Langkah 980. Langkah 999.
Brak!
Ye Xing dan Lin Xiao ambruk bersamaan tepat di garis finis di Area Budak. Air di ember mereka masih tersisa setengah—batas minimum untuk lulus.
"LULUS!" teriak pengawas.
Ye Xing terbaring terlentang menatap langit biru. Dia tidak pernah merasa selelah ini seumur hidupnya. Tapi saat dia menoleh dan melihat Lin Xiao tertawa sambil menangis bahagia, sudut bibir Ye Xing terangkat.
Ada rasa hangat di dadanya. Bukan karena kekuatan, tapi karena pencapaian.
Kekaisaran Langit.
Long Yin menghapus air matanya, kali ini sambil tersenyum bangga. "Dia... dia menolong temannya."
"Dia menggunakan Teknik Pernapasan Resonansi," komentar Ye Chen, matanya berbinar. "Dia merubah teknik Kekaisaran agar bisa dipakai oleh orang biasa dalam hitungan detik. Jenius! Itu baru anakku!"
Tian Feng meletakkan bidak caturnya. Skakmat.
"Kalian lihat?" kata Tian Feng sambil berdiri, jubah putihnya berkibar. "Emas akan tetap bersinar meski kau melemparnya ke dalam lumpur. Biarkan dia tumbuh. Jangan ada yang ikut campur."
Tian Feng berjalan menuju balkon, menatap ke arah bintang yang jauh.
Namun, di dalam hatinya, Dewa Bintang itu menyimpan kekhawatiran yang tidak ia tunjukkan pada anak cucunya.
Bakatnya terlalu mencolok, batin Tian Feng. Bahkan di Alam Bawah, cahaya seperti itu akan menarik perhatian pemangsa. Aku harus mengawasi 'bayangan' di sekte itu.
Di layar cermin, Ye Xing yang kelelahan tiba-tiba menatap langit, tepat ke arah di mana "mata" cermin itu berada, seolah-olah dia tahu sedang ditonton.
Bocah itu mengacungkan jempolnya ke langit, lalu menyeringai nakal.
Ye Fan (Paman Ye Xing) yang baru datang membawa camilan tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Lihat bocah tengik itu! Dia menantang kita!"
Keluarga Ye tertawa. Untuk saat ini, rasa khawatir itu mereda.