Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: MUSIM YANG TAK PERNAH BENAR-BENAR BERUBAH
Kemenangan Bima di kontes matematika membawa sesuatu yang lebih dari sekadar uang: perhatian. Pertama dari sekolah guru-guru yang tiba-tiba melihat potensi "anak dari keluarga sederhana" itu. Kemudian dari media lokal sebuah surat kabar membuat artikel kecil tentang "Bima, Juara Matematika yang Merawat Ibu Sakit".
Dan seperti biasanya, perhatian membawa konsekuensi yang tidak diundang.
Kepala sekolah memanggilku suatu Senin pagi. Ruangannya berbau kapur barus dan kertas lama.
"Pak Raka, tentang Bima..." mulai Bu Kepala, perempuan lima puluh tahun dengan kacamata tebal. "Kami sangat bangga tentunya. Tapi... ada masalah."
"Masalah apa, Bu?"
"Beberapa orang tua murid protes. Mereka khawatir... tekanan di rumah Bima terlalu berat. Mengasuh ibu yang sakit, membantu merawat adik-adik, sekarang ditambah latihan untuk kompetisi..."
"Bima baik-baik saja, Bu."
"Tapi nilai-nilainya yang lain turun. Bahasa Indonesia. IPS. Dan guru BK melaporkan... dia sering terlihat lelah di kelas."
Aku menarik napas. Itu benar. Seminggu terakhir, Bima memang tidur larut malam kadang aku dapati dia masih belajar jam sebelas malam, atau menulis di jurnalnya.
"Kami hanya khawatir," lanjut Bu Kepala. "Dan... ada tawaran dari sekolah khusus di Jakarta. Untuk anak berbakat. Mereka lihat artikel di koran, tertarik pada Bima."
"Bima tidak akan pindah ke Jakarta."
"Tapi ini kesempatan, Pak. Pendidikan terbaik. Asrama. Bahkan... mereka tawarkan beasiswa penuh."
Hati berdesir. Sekali lagi, Jakarta. Sekali lagi, tawaran yang "terlalu baik untuk ditolak". Sekali lagi, pemisahan.
"Bima masih anak-anak, Bu. Dia butuh keluarga."
"Dan keluarga butuh pengorbanan kadang." Suaranya lembut, tapi kata-katanya tajam. "Pikirkan masa depannya. Di sini... dengan segala keterbatasan..."
"Keterbatasan kami tidak membuatnya kurang bahagia."
Tapi apakah itu benar? Apakah Bima benar-benar bahagia? Atau hanya pura-pura kuat, seperti aku?
---
Pulang dari sekolah, aku temui Bima di kamarnya. Dia sedang memperbaiki mainan Kinan yang rusak konsentrasi penuh, ujung lidahnya terjulur seperti waktu kecil.
"Bima, kita perlu bicara."
Dia menoleh. "Tentang panggilan kepala sekolah?"
"Kamu tahu?"
"Bu Guru bilang kemarin. Tentang sekolah di Jakarta."
"Dan?"
"Aku tidak mau pergi."
"Tapi"
"TIDAK MAU." Suaranya keras, tak terduga. "Om selalu bilang keluarga harus bersama. Kenapa sekarang mau kirim aku jauh?"
"Ini untuk masa depanmu, Bima."
"Masa depan aku di sini! Dengan Mama yang butuh dijaga! Dengan Kinan yang takut gelap! Dengan Aisyah yang belum bisa panggil 'kakak' dengan benar!"
Dia berdiri, wajah merah. "Semua orang selalu bilang 'untuk kebaikanmu'. Papa dulu bilang pergi 'untuk kebaikan kita'. Sekarang Om mau kirim aku 'untuk kebaikanku'. TAPI AKU NGGAK MAU!"
Tangisnya meledak marah, kesal, terluka. "Aku capek jadi anak pinter! Capek harus menang lomba! Capek harus jadi contoh! Aku mau... aku mau jadi anak biasa! Yang punya ibu yang ingat ulang tahunnya! Yang punya ayah yang tidak kerja sampai malam! Yang tidak harus pura-pura kuat!"
Aku memeluknya, dan dia meronta. "Lepasin! Aku benci semua ini! Benci!"
"Bima..."
"AKU BUKAN BIMA YANG SEMPURNA! AKU HANYA BIMA YANG CAPEK! YANG INGIN IBUNYA KEMBALI SEPERTI DULU! YANG INGIN KELUARGA NORMAL!"
Dia lari keluar kamar, membanting pintu. Suaranya membuat Kinan terkejut dari kamarnya, dan Aisyah menangis.
Dan di tengah kekacauan itu, Maya duduk di sofa, memandangi kami dengan ekspresi bingung. "Suara apa itu?"
"Tidak apa, Sayang," bisikku, tapi suara itu kosong.
---
Malam itu, Bima tidak mau makan malam. Kinan makan dalam diam, sesekali melirik kakaknya yang mengurung diri.
"Mengapa Bima marah?" tanya Maya tiba-tiba, saat kami sedang mencuci piring.
"Dia... stres."
"Karena aku?"
"Tidak, Sayang. Karena banyak hal."
"Tapi aku dengar namaku disebut."
Aku berhenti, melihatnya. "Kamu dengar?"
"Dia bilang... ingin ibunya kembali seperti dulu." Mata Maya berkaca-kaca. "Aku... aku ingin itu juga."
Itu momen langka: Maya menyadari keadaannya. Menyadari bahwa dia adalah sumber penderitaan, meski tidak disengaja.
"Bukan salahmu, Maya."
"Tapi aku penyebabnya. Aku yang sakit. Aku yang membuat segalanya sulit."
Dia menangis tangisan sunyi, air mata mengalir tanpa suara. "Raka... lebih baik kalau aku tidak ada."
"JANGAN PERNAH BILANG ITU!"
Suaraku keras, membuatnya terkejut. "Kamu adalah segalanya untuk kami. Tanpa kamu... kami bukan keluarga."
"Tapi lihat Bima. Dia menderita."
"Dia kuat. Seperti ibunya."
Tapi kata-kata itu terasa palsu. Karena Bima tidak kuat. Dia hanya anak sembilan tahun yang dipaksa kuat. Dan kami, orang dewasa, gagal melindunginya.
---
Keesokan harinya, Bima tidak masuk sekolah. "Aku sakit," klaimnya, tetap di tempat tidur.
Aku izinkan. Mungkin dia memang sakit bukan fisik, tapi jiwa.
Ketika aku berangkat kerja, Kinan mengambil alih. Aku dengar dari pintu, sebelum pergi:
"Kak, Adek bikin teh hangat. Mama dulu selalu kasih teh hangat kalau kita sakit."
"Terima kasih, Kinan."
"Kakak jangan sedih. Adek di sini."
"Kamu tidak paham, Kinan."
"Adek paham. Adek juga sedih lihat Mama lupa. Tapi... kita masih punya satu sama lain kan?"
Diam. Lalu suara Bima: "Kamu terlalu bijak untuk umur enam tahun."
"Dari Mama. Kata Mama dulu, kebijaksanaan tidak ada hubungannya dengan umur."
Aku pergi dengan hati sedikit lebih ringan. Setidaknya mereka punya satu sama lain.
---
Di tempat kerja, Bayu memperhatikan kegelisahanku. "Ada masalah?"
"Bima. Dan sekolah di Jakarta."
"Ah." Dia mengangguk. "Rangga juga dengar. Dia... punya pendapat."
"Apa?"
"Dia bilang, biarkan Bima memilih. Tapi beri dia semua informasi. Termasuk... bahwa di Jakarta ada spesialis yang bisa menangani kondisi Maya lebih baik."
Aku terkejut. "Maksudmu?"
"Rangga sudah riset. Ada program terapi eksperimental untuk early onset Alzheimer. Di Jakarta. Tapi biayanya... sangat mahal."
"Berapa?"
"Ratusan juta per tahun."
Angka itu seperti pukulan. "Kami tidak punya itu."
"Hadiah kontes Bima... itu cukup untuk deposit. Dan perusahaan... bisa membantu."
"Sebagai apa? Investasi lagi?"
"Sebagai keluarga." Bayu memandangku. "Rangga masih mencintai Maya, Raka. Bukan seperti dulu. Tapi sebagai keluarga. Sebagai ibu anak-anaknya. Dan dia ingin membantu."
"Kenapa tidak dari dulu?"
"Karena dulu ego masih besar. Sekarang... sekarang dia sudah belajar. Seperti kita semua."
---
Pulang kerja, aku kumpulkan keluarga kecilku. Bima sudah keluar kamar, wajah masih pucat.
"Aku punya sesuatu untuk dibicarakan," mulaku. "Tentang Jakarta."
Bima langsung gelisah.
"Bukan tentang kamu pindah sekolah. Tapi... tentang Mama."
Semua mata tertuju padaku.
"Ada terapi baru di Jakarta. Bisa memperlambat penyakit Mama. Tapi... kita harus ke sana. Untuk beberapa bulan."
Kinan bertanya: "Kita semua?"
"Iya. Semua. Tapi... itu berarti meninggalkan rumah ini. Pekerjaanku. Sekolah kalian."
"Dan biayanya?" tanya Bima, praktis.
"Mahal. Tapi... ada yang mau membantu."
"Papa?"
Aku mengangguk. "Dia tawarkan bantuan finansial. Dan tempat tinggal."
Bima memandangi tangannya. "Jadi... pilihannya: tetap di sini, Mama semakin sakit. Atau ke Jakarta, Mama dapat perawatan, tapi kita harus bergantung pada Papa."
"Bergantung bukan kata yang tepat. Tapi... ya."
"Dan aku... harus pindah sekolah ke sana?"
"Mungkin. Untuk sementara."
Diam panjang. Lalu Maya, yang selama ini diam, berkata: "Aku tidak mau pergi."
Semua terkejut.
"Kenapa, Sayang?" tanyaku.
"Rumah ini... satu-satunya yang masih kukenal. Jika pergi... aku akan benar-benar tersesat."
Tapi itu justru alasan untuk pergi, pikirku. Karena di Jakarta, mungkin dia bisa menemukan kembali sesuatu yang hilang. Atau setidaknya, tidak kehilangan lebih banyak.
---
Malam itu, setelah semua tidur, Bima mengetuk pintu kamarku.
"Om, aku sudah putuskan."
"Apa?"
"Aku mau ke Jakarta. Tapi dengan syarat."
"Syarat apa?"
"Pertama, kita semua pergi bersama. Kedua, kita tidak tinggal serumah dengan Papa. Cukup dekat saja. Ketiga..." dia berhenti. "Ketiga, kalau terapi tidak berhasil, kita boleh pulang kapan saja."
"Kamu yakin?"
"Tidak. Tapi... untuk Mama, aku coba." Matanya berkaca-kaca. "Karena kalau tidak kita coba, dan Mama semakin parah... aku tidak akan pernah memaafkan diriku."
Anak sembilan tahun. Membuat keputusan yang seharusnya dibuat oleh orang dewasa. Karena orang dewasa di sekitarnya terlalu sibuk dengan ego, dengan harga diri, dengan masa lalu.
"Baik," kataku. "Kita coba."
---
Mengatur keberangkatan ke Jakarta adalah pekerjaan besar. Memberhentikan kerja (meski Bayu bilang posisiku akan tetap terbuka). Menyekolahkan anak-anak. Mengemas rumah. Dan yang paling sulit: menjelaskan pada Maya, berulang-ulang, bahwa kami akan pergi.
Setiap pagi, pertanyaan yang sama: "Kemana kita pergi?"
"Ke Jakarta, Sayang. Untuk berobat."
"Jakarta... itu jauh?"
"Iya."
"Kenapa harus pergi?"
"Untuk membuatmu lebih baik."
"Apakah aku sakit?"
"Iya, Sayang."
"Oh."
Dan besok, percakapan yang sama diulang. Seperti rekaman rusak. Seperti hidup dalam loop.
---
Hari keberangkatan tiba. Keluarga besar datang melepas Bibi Sartika, beberapa bibi, bahkan tetangga dekat. Banyak yang menangis. Seperti perpisahan untuk selamanya, meski kami bilang hanya sementara.
Di bandara, Kinan memegangi kotak ingatannya kotak sepatu berisi segala hal tentang Maya. Bima memegang piala matematikanya. Aku menggendong Aisyah. Dan Maya... Maya hanya memandangi sekeliling dengan bingung.
"Kita naik pesawat?" tanyanya.
"Iya."
"Aku takut."
"Tidak apa. Aku di sini."
Pesawat lepas landas. Makassar mengecil di bawah. Dan aku memandangi kota yang dulu kutinggalkan untuk Singapura, kemudian kukembalikan untuk Maya, dan kini kutinggalkan lagi dengan Maya.
Lingkaran. Sepertinya hidupku adalah serangkaian lingkaran. Pergi, kembali, pergi lagi. Tapi kali ini, bukan sendirian.
Kali ini, dengan keluarga yang kubangun dari reruntuhan. Dengan cinta yang bertahan meski ingatan memudar. Dengan anak-anak yang belajar terlalu cepat bahwa hidup tidak adil, tapi tetap memilih untuk baik.
Jakarta menanti. Dengan terapi baru. Dengan harapan baru. Dengan kemungkinan baru untuk tersesat, atau ditemukan.
Dan di antara semua ketidakpastian itu, ada satu hal yang pasti: kami bersama.
Dalam pesawat yang membawa kami menuju ketidakpastian.
Dalam penyakit yang merenggut ingatan.
Dalam cinta yang bertahan meski segalanya berubah.
Kami bersama.
Itu satu-satunya peta yang kami punya.
Dan untuk sekarang, itu cukup.