Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Tuan Muda Yi
Setelah urusan selesai, rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Aruna meminta pria bertopeng itu untuk mengurus sisanya, informasi yang dia dapat dari orang itu adalah, mereka mencurigai Desa Suning dengan menghilangnya Bandit gunung serta Bandit laut secara misterius, karena keduanya menghilang setelah melewati di daerah tersebut.
Sehingga membuat atasan untuk menyelidikinya, tapi melihat para remaja Desa Suning memiliki wajah yang rupawan dan tubuh yang sempurna membuat mereka terpancing, padahal sang atasan sudah melarangnya untuk beraksi, karena ada utusan penyelidikan di kota itu.
Namun, para penguntit itu malah melanggar perintah, mereka benar-benar ingin menculik Aruna dan yang lainnya, tepat saat incaran berpencar untuk mencari kayu bakar, tapi sayang sekali dirinya harus kalah, padahal kekuatan mereka setingkat lebih kuat. Mereka benar-benar menyesal tidak menyelidikinya terlebih dahulu.
Di sore hari mereka tiba di sebuah Desa yang bernama Desa Lihe. Setelah melapor mereka beristirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan, mereka lebih bersemangat lagi saat mengetahui hanya ada sekitar dua Kota lagi yang harus mereka lewati, jika tidak ada halangan maka rombongan akan tiba di Ibu Kota dalam waktu satu minggu, mereka terus berjalan melewati beberapa Desa.
Di perjalanan menuju Kota selanjutnya mereka bertemu dua kereta kuda yang sedang berhenti ditengah jalan. Aruna melihat beberapa pengawal yang menunggang kuda memiliki kekuatan yang berada ditingkat 6, setara dengan para penguntit sebelumnya.
Mereka terpaksa berhenti, kerena pengawal dari kedua kereta itu menahan mereka, Pengawal itu hanya ingin bertanya apakah dirombongan mereka ada seorang Tabib? Karena penyakit Tuan mereka sedang kambuh, itu semua diluar prediksi mereka.
Selama perjalanan kembali Ke Ibu Kota mereka membawa semua ramuan obat, tapi ada bahan yang langkah, dan saat itu hanya terisa tiga kali minum saja, Penyakit Tuan Muda mereka hanya kambuh sekali dalam sebulan, dan ramuan itu diminum sebelum mereka melakukan perjalanan, dan dua sisanya diminum saat penyakit itu kambuh, dan perkiraan mereka penyakit Tuan Muda akan akan kambuh lagi setelah tiba di Ibu Kota.
Tapi tiba-tiba penyakit itu kambuh sebelum waktunya, dan mereka sudah kehabisan bahan obat yang langkah. Tabib yang ikut dengan mereka hanya bisa berusaha meredakan rasa sakit untuk sementara, kemudian dia pergi ke Kota dengan menunggang kuda dengan berharap mendapatkan ramuan obat yang bisa menstabilkan rasa sakit Tuan Mudanya.
Tapi sayang sekali, rasa sakit yang di stabilkan dengan akupuntur hanya bisa bertahan beberapa menit saja, baru kemudian mereka melihat rombongan Desa Suning yang juga menuju Kota, Pengawal itu sangat berharap salah satu dari mereka adalah seorang Tabib.
"Oh, jika Anda mempercayai kami, biarkan Tabib dari Desa kami mencoba untuk melihat Tuan Muda Anda!" ucap Kepala Desa dengan ramah.
Pengawal yang bertanya itu ternyata Pengawal pribadi Tuan Muda yang ada di dalam kereta, "Tuan, kami selalu menghormati para Tabib, jika Tuan Tabib berkenan mari ikut saya!"
Tabib Gu yang berada ditengah rombongan segera maju ke depan, saat ini ilmunya sudah sangat meningkat berkat kerja kerasnya belajar dari bimbingan Aruna, jadi setiap ada kesempatan dia akan maju, jika dia tidak mampu dia tidak malu untuk bertanya kepada Aruna, "Salam kepada Tuan!"
Pengawal yang melihat Tabib Gu sangat terkejut, Auranya hampir menyamai para Tabib yang ada di istana "Salam Tuan Tabib! Bawahan ini memohon kepada Tuan untuk berkenang melihat kondisi Tuan Muda kami!" Dia langsung memberi hormat ala seorang prajurit militer.
Tabib Gu sudah lumayan terbiasa dengan reaksi seperti itu, dia membantu pengawal itu berdiri lalu berkata. "Mari kita lihat kondisi Tuanmu!" dia juga mengajak salah satu dari muridnya untuk membawa kotak obatnya.
Pengawal mempersilahkan Tabib Gu naik ke atas kereta, dan dia menunggu di luar bersama murid Tabib Gu yang bernama Ye Ping.
Di dalam kereta, Tabib Gu melihat seorang pemuda tampan yang terbaring sambil menahan rasa sakit, tubuhnya pucat dengan keringat yang sudah menetes.
Tabib Gu memeriksa nadinya, dia terdiam, lalu menghela nafas berat ,"Tuan Muda, Anda sudah bekerja keras!" Ini racun terganas yang pernah dia temui sepanjang karirnya sebagai seorang Tabib. Dia mengeluarkan jarum peraknya, dan menusuk beberapa dibagian kepala, dada dan kaki. Seketika badan Tuan Muda itu menjadi rileks, dia berbaring tanpa menahan rasa sakit lagi.
Tabib Gu turun dari kereta dan mengatakan kepada Pengawal, jika Obat-obatan yang mereka gunakan selama ini tidak bisa mengeluarkan racun itu, hanya untuk membantu untuk memperlambat penyebaran diseluruh tubuhnya.
Sang Pengawal terdiam menunduk, hal itu juga diungkapkan oleh Tabib Istana dan juga Tabib yang ada di lembah Hijau.
"Ya Tabib Gu, terima kasih! Kalau boleh tau, bagaimana keadaan Tuan Muda kami?" Dia hampir lupa bertanya kondisi Tuannya.
"Tuanmu sedang tidur, sakitnya sudah meredah. Saya kembali dulu, kau bisa datang memanggilku untuk mencabut jarumnya setelah tigah puluh menit!" Berbalik dan kembali menuju rombongan mencari Aruna.
Sang Pengawal hanya bisa terdiam sambil melihat kepergian Tabib Gu, lalu naik kereta untuk melihat Tuannya, dan benar saja ada banyak jarum yang tertusuk, tapi melihat tuannya tidur dengan nyenyak dia menghela nafas lega.
Dia bertanya-tanya apakah Tabib Gu memang benar hanya Tabib Desa? Tapi kemampuannya bisa menyaingi Tabib yang ada di Istana. Untuk melakukan Akupuntur juga membutuhkan tenaga dalam.
***
Di bawah pohon yang rimbun, Tabib Gu menjelaskan kepada Aruna apa yang terjadi dengan Tuan Muda itu, "Bisa disembuhkan," katanya sambil menyodorkan sebuah kertas yang beriskan obat yang diperlukan.
Tabib Gu membacanya, dia hanya menghela nafas berat melihat bahan obat apa saja yang diperlukan. "Nak, apa kamu punya bahan obatnya? Obat itu sangat langkah di Negara kita, katanya Obat itu sangat sulit tumbuh jika ada yang menanamnya!"
Aruna terdiam dan bergumam dalam hati, "Bukan tidak bisa tumbuh, tapi mereka yang tidak tau cara menanamnya, mereka mengira sedang menanam sayuran!"
"Kakek, aku akan melihatnya nanti! Jawab Aruna sambil makan buah, melihat buah di tangan dia tiba-tiba ingin makan es buah, apalagi cuacanya sangat panas.
Tabib Gu beranjak saat melihat Pengawal itu datang untuk memanggilnya, dia pergi dengan membawa kertas yang berisi bahan obat, siapa tau Mereka memilikinya.
Aruna melihat jam yang sudah pukul 4 sore, dia menghampiri Kakek Ji untuk tidak melanjutkan perjalanan, padahal Kota yang mereka tuju hanya perlu menempuh perjalanan selama satu jam. Tapi Tabib Gu sedang ada pasien yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Kakek Ji segera meminta warganya memasang tenda, tanpa banyak tanya mereka segera melakukannya.
Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum waktunya masak untuk makan malam. Aruna mengeluarkan beberapa buah yang cocok digunakan untuk membuat es buah.
"Waahh buahnya sangat banyak!" Ujar Chen dengan takjub, selama perjalanan mereka juga makan buah yang diberikan Aruna, tapi baru kali ini melihat banyak buah yang beragam.
"Untuk apa buahnya? Apa yang harus kami lakukan?" Tanya Rhui yang juga mewakili teman-temannya.
"Kalian kupas dan potong buahnya seperti ini!" Ada beberapa buah potong yang dia ambil sebagai contoh.
Itu hal yang muda bagi para gadis, bahkan para bocah juga ikut membantu, tapi Chen hanya meminta mereka untuk duduk diam agar tidak terlalu banyak tangan menyentuhnya.
***
Di lain sisi, Tabib Gu baru saja selesai mencabut semua jarum peraknya. "Tuan, bagaimana perasaanmu?" Dia bertanya kepada Tuan Muda yang sudah bangun dari tidurnya.
"Saya baik-baik saja! Anda..??"
"Oh, saya hampir lupa. Perkenalkan, orang-orang biasanya memanggilku Tabib Gu, Pengawal Anda memintaku untuk datang!"
"Terima kasih Tabib Gu. Anda bisa memanggil Saya Yi Qing!"
"Ya baiklah Tuan, saya kembali dulu!" Tabib Gu segera turun dari Kareta, dan menjelaskan kondisi Tuannya kepada sang Pengawal.
"Sebaiknya Anda melanjutkan perjalanan dan menginap di Kota, kondisi Tuan Anda tidak baik untuk berada di sini!" Tabib Gu memberi nasehat.
Pengawal pribadi yang bernama Mo Ying mengangguk setuju. "Tuan Tabib, bagaimana jika penyakit Tuan kambuh lagi? Saya menebak jika Tabib yang kami bawa pasti tidak menemukan bahan obatnya!"
"Untuk beberapa minggu kedepan penyakitnya tidak akan kambuh" Ucapnya dengan yakin. "Oh ini, aku ada sedikit bahan obat yang kalian cari!" Mengambilnya di dalan kotak obat.
Mo Ying tampak terkejut, Tabib Desa ternyata juga memiliki bahan obat yang langkah, dugaan sebelumnya makin membuatnya berasumsi jika Tabib Gu memeliki orang besar di belakangnya, bahan obat itu sangat sulit didapatkan.
Dia mengambil obat itu dengan raut wajah bahagia, obatnya bisa diminun sebanyak dua kali, sehingga nyawa Tuanya saat ini bisa sedikit tenang.
"Ini, Oh terima kasih Tabib Gu. Anda adalah penyelamat Tuan kami." Dia ingin bersujud tapi Tabib Gu langsung mencegahnya.
"Baiklah,, baiklah. Jangan seperti itu, ini kewajibanku sebagai Tabib!"
"Ya Tuan, tunggu sebentar!" Dia segera naik kereta menghampiri Tuannya dan memperlihatkan bahan obat yang ada di tangannya.
Tuan Muda Yi sangat terkejut, bahan obat ini dalam kondisi yang baik, masih sangat segar tanpa cacat sedikitpun, dia juga tak menyangka Tabib Gu bisa sehebat itu, andai saja Tabib Gu ingin ikut dengannya, tapi itu tidak mungkin.
"Berikan harga yang lebih tinggi! Bahan obat ini sangat berbeda yang pernah kita miliki sebelumnya!"
"Baik Tuan!" Mo Ying juga setuju, dia segera mengambil uang di dalan kotak sesuai apa yang dikatakan Tuannya, tak lupa juga biaya pengobatan.
Dia menghampiri Tabib Gu dan menyerahkan uangnya dan mengucapkan terima kasih untuk ke sekian kalinya. Dan tak lama setelah itu, Tabib yang pergi ke Kota untuk mencari bahan obat pulang dengan tangan kosong.
Tapi dia sangat bersyukur melihat Tuannya dalam kondisi baik, setelah mendengar cerita dari Mo Ying, dia terkejut dan terdiam cukup lama, ternyata dia harus belajar lebih banyak lagi, ilmunya bahkan kalah jauh dari Tabib Desa.
Mereka melanjutkan perjalanan ke Kota dan akan menginap di penginapan, saat akan berangkat murid Tabib Gu, Ye Ping datang membawa wadah yang berbentuk seperti ember, mereka tidak bisa melihat isinya karena wadahnya tertutup, Ye Ping berpesan untuk memakannya setelah tiba di penginapan.
lanjut thorr💪💪💪