fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian
Sesampainya di sana, ia tak menemukan apapun. Desa itu telah hancur. ada sisa-sisa pembakaran disepanjang jalan setapak itu. kejadiannya mungkin belum terlalu lama. Bau asap pekat yang berasal dari rumah yang terbakar dan pohon disekitarnya memberikan kesan mendalam atas apa yang terjadi. Namun tak ada satupun mayat di Desa ini.
Rasa was-was membayangkan apa yang terjadi pada keluarganya menyebapkan Regen mempercepat langkah untuk sampai di rumahnya. Namun lokasi dimana sebelumnya terdapat rumah orang tuanya berdiri juga rata dengan tanah tak ada yang tersisa.
“Ayah, Ibu..saudaraku.” gumamnya dalam hati..
Beberapa saat ia mengitari perkampungan kecil itu, dan setelah beberapa lama kemudian ia mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan dan mencari informasi atas apa yang terjadi.
Sampailah ia di Desa di mana menjadi pusat keluarga Loaun. ia bertemu seseorang yang mengatarkannya pada pemimpin perkampungan itu. bernama Lord Rugila Loaun. seorang lelaki paru baya, berusia 54 tahun. Namun masih terlihat gagah. Rugila tentu mengenal Regen dan menceritakan apa yang terjadi di perkampungannya dan desa sekitar.
“Dua hari lalu, pasukan dari penguasa wilayah Kaitaia mendatangi beberapa perkampungan di wilayah ini. Meminta pajak lagi dan memberitahukan kewajiban para pemuda untuk dibawah ke Pulau Lemuria. Tentu permintaan itu mendapatkan perlawanan dari warga di masing-masing desa, sehingga terjadi pembakaran oleh para prajurit kekaisaran. Sebenarnya tak ada perlawanan karena tak ada lagi pemuda dan orang tua yang mampu mengangkat senjata, namun tindakan para prajurit sudah sejauh itu.” Kata Rugila.
“Dimana wanita dan anak-anak? “ tanya Regen.
“Mereka ikut mengungsi bersama orang tua lain, karena tak ada lagi tempat tinggal disana. Salah satu mungkin ibumu.”
“Lalu ayah dan saudaraku?” tanya Regen lagi dengan wajah cemas.
“Orang tua dan pemuda sebagian mungkin dibawah ke Kastel.” Jawab Rugila.
“Aku akan membebaskan mereka.” setengah berbisik Regen. Menggenggam pedang dipingganya.
“Regen, bagaimana perjalanan kalian menjemput perwira bernama Owen itu?”
Regen kemudian menceritakan perjalanan mereka ke Pulau Lemuria. Semuan usaha mereka yang tak mudah selama disana dan dimana Owen saat ini.
“Dia kini sudah ada di rumah Master Sorush. Menunggu perwakilan 27 keluarga yang sudah menyatakan diri berjuang bersama....” Regen menjelaskan meskipun terlihat dia tak fokus. Fikirannya kini soal Ayah dan ibunya.
“Untunglah calon pemimpin itu telah tiba. Baiklah aku akan membantu menghubungi 7 keluarga lain yang terdekat dari sini dengan mengirimkan gagak, apakah kau akan menunggu disini? “
“Tidak Lord, aku akan melanjutkan perjalananku. Aku akan mencari ibu di pengungsiannya.”
Demikianlah, atas bantuan Ser Rugila, 7 keluarga lain bisa dihubungi. Dan ditetapkan waktu pertemuan dengan Owen adalah satu minggu setelah kabar ini. informasi ini juga disampaikan pada 20 keluarga lain berkat bantuan Angurey Wayn dan Aragon Balyn.
Namun kekhawatiran Regen soal keberadaan Ayah, ibu dan saudaranya tak bisa ia abaikan . ia berusaha mencari informasi keberadaan mereka lebih jelas lagi. Termasuk menghubungi mantan istrinya di Desa Oldvillage. Perempuan itu Bernama Ayla berusia 40 tahun. Ia memiliki 2 anak hasil pernikahan dengan Regen ; Bilbo yang berusia 20 tahun dan Dodo berusia 17 tahun dan setelah berpisah kini ia memiliki satu anak lagi dari seorang perwira kekaisaran. Anak Perempuan berusia 5 tahun Xena. Regen menemui mantan istrinya itu saat suaminya tak ada dirumah. Mencoba mencari tahu keberadaan keluarganya. Lewat Ayla-lah kepastian bahwa Ibunya berada di tempat pengungsian tak jauh dari tempat ini bersama dengan anak mereka Bilbo. Anak itu menemani neneknya disana. Sementara ayahnya yang sudah sepuh tenyata sudah meninggal karena sakit di pengungsian.
Saudara Regen, Otto Manollion saat ini ditahan di Kastel bersama 4 orang yang lain karena berusaha melawan. Mendengar cerita mantan istrinya itu, Regen kini mulai tenang. Mengetahui bawah ibunya dalam keadaan aman. Begitupun saudaranya di Penjara Kastel. Ia berjanji akan membebaskannya..
“Aku bersumpah tidak akan meninggalkan tujuanku sebelum tercapai. Demi ibuku dan saudaraku. ”
Dari tempat mantan istrinya itu, Regen sudah akan berniat kembali ke rumah Master Sorush, berniat melaporkan hasil perjalanannya itu. Sayang dijalan ia bertemu dengan para prajurit Kastel yang sedang berpatroli. Mereka mengenal Regen karena salah satu perwira diantara prajurit itu adalah lelaki yang menikahi mantan istrinya. Tak ada niat ia melayani mereka dalam pertarungan, sehingga melarikan diri menjadi pilihan bagi Regen. Sayangnya disuatu tempat ia tetap saja terjepit dalam kepungan para prajurit yang berjumlah 12 orang.
“Menyerahlah Regen. ” kata sang komandan yang bernama Baleth Ia adalah komandan tertinggi di Kastel Kaitaia. Usianya 37 tahun.
“Kami mencarimu sejak lama, kami mendengar kau menyeberang ke pulau besar. Bangga kiranya bisa menangkap sosok yang paling diburu seantero The Horn Land…Regen…ha ha ha.”
“Baik, majulah jika pria sejati. Kita akan bertarung satu lawan satu.” kata Regen lagi.
“Baik. Aku akan menguji kemampuan sosok yang bermimpi menjadi kesatria Kekaisaran ini. ” kata Baleth.
Ia memberikan aba-aba pada para prajuritnya untuk tidak mengganggu pertarungannya ini.
“Siapa yang menggaggu, akan aku bunuh.” katanya lagi penuh rasa percaya diri.
“Majulah.” teriak Regen.