Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12- makan malam yang gagal
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Di kamar, Aluna sudah benar-benar tumbang. Alih-alih mengenakan dress soft pink cantik pilihan Mamanya, ia justru masih terbalut seragam sekolah yang sudah kusut. Aluna meringkuk di bawah selimut dengan kompres yang menempel di dahinya.
"Aluna? Kamu sudah siap? Papa sudah nunggu di mobil!" teriak Mama sambil mengetuk pintu kamar dengan keras.
Nggak ada jawaban. Mama yang curiga akhirnya memutar knop pintu. Begitu masuk, ia mendapati putrinya bernapas berat dengan wajah yang memerah padam.
"Astaga, Aluna! Badan kamu panas banget!" Mama panik, langsung membatalkan niatnya untuk marah. Ia menyentuh dahi Aluna yang terasa seperti baru keluar dari panggangan roti.
Mama segera berlari turun dan memanggil Papa. "Pa! Batal, Pa! Aluna demam tinggi! Kita harus panggil dokter!"
Papa yang sudah rapi mengenakan kemeja batik terbaiknya langsung lemas. Dengan berat hati, ia merogoh ponselnya untuk menghubungi sahabat lamanya.
Di sisi lain kota, di sudut gelap dapur The Last Bean.
Arlan masih berlutut di depan panel listrik yang basah. Bajunya sudah tidak berbentuk lagi basah kuyup dan penuh noda hitam. Keringat bercampur air menetes dari ujung rambutnya.
"Mas Arlan, Ayah Mas telepon lagi ke HP saya!" lapor Doni sambil menyodorkan ponselnya dengan ragu.
Arlan mendengus, ia mengambil ponsel itu dengan tangan yang kotor. "Halo, Yah. Arlan nggak bisa pulang. Kafe kacau, air masuk ke panel utama."
Arlan tertegun sejenak. Tangannya yang memegang obeng terhenti di udara. Ada rasa lega yang luar biasa tiba-tiba menghantam dadanya. "Sakit, Yah?"
"Iya, demam tinggi katanya. Jadi ya sudah, kamu fokus saja beresin kafe itu. Tapi ingat, jangan sampai kamu juga ikut sakit."
Klik.
Sambungan terputus. Arlan menyerahkan kembali ponsel itu kepada Doni. Ia menyeka keringat di dahinya, meninggalkan coretan noda hitam di keningnya.
"Batal, Mas?" tanya Doni hati-hati.
"Batal," jawab Arlan singkat. Arlan menarik napas panjang. Ia sama sekali tidak peduli siapa cewek yang dipilihkan ayahnya itu, tapi dalam hati dia bersyukur karena cewek itu sakit di waktu yang sangat tepat. Setidaknya dia nggak perlu pusing mencari alasan buat kabur dari pertemuan itu malam ini.
Arlan kembali fokus pada kabel-kabel di depannya, menganggap kejadian ini hanyalah sebuah keberuntungan tanpa tahu kalau cewek yang sedang sakit itu adalah cewek yang baru saja dia ketuk mejanya tadi siang.
Sementara itu, di kamarnya yang remang, Aluna menggeliat pelan di bawah selimut tebalnya. Bibirnya yang pucat bergumam tidak jelas di tengah igauan demamnya.
Di balik kelopak matanya yang tertutup rapat, Aluna sedang terjebak dalam sebuah mimpi yang sangat aneh.
Ia merasa sedang berada di tengah lapangan sekolah yang luasnya berkali-kali lipat dari aslinya. Anehnya, cuaca di sana sangat ekstrem hujan deras tapi matahari bersinar terik. Aluna berdiri sendirian, memegang mangkuk batagor yang tiba-tiba berubah jadi tumpukan buku Sejarah yang sangat berat.
Tiba-tiba, dari ujung lapangan, muncul sesosok robot raksasa setinggi pohon kelapa. Wajah robot itu tidak jelas, tapi suaranya suaranya persis seperti Arlan yang datar dan menyebalkan.
Aluna mencoba lari, tapi kakinya malah terasa seperti tertanam di semen. Di saat robot itu semakin mendekat dan hendak mengetuk kepalanya dengan pulpen raksasa, Aluna mencoba melawan. Ia mengambil sebuah batagor dari kantongnya dan melemparkannya ke arah robot itu sambil berteriak.
"MAMPUS LO ROBOT KORSLET! JANGAN GANGGU GUE!"
Mama yang sedang mengganti kompres di dahi Aluna sampai terlonjak kaget karena Aluna tiba-tiba meracau keras.
"Robot... rese... mampus lo..." gumam Aluna dengan kening berkerut dalam.
Mama cuma bisa geleng-geleng kepala sambil membetulkan letak selimut Aluna. "Sakit begini kok masih ngigo robot, Al. Sepertinya kamu beneran kecapekan atau kebanyakan nonton film fiksi ilmiah ini."
Arlan menghela napas panjang melihat dapur kafe yang akhirnya mulai kondusif. Meski bajunya kotor dan badannya lengket, dia sama sekali nggak berniat pulang ke rumah untuk mendengarkan pertanyaan Ayahnya lebih lanjut soal batalnya makan malam itu.
"Don, sisanya lo beresin. Gue balik duluan," ucap Arlan sambil menyambar jaket dan kunci motornya.
"Siap, Mas!" ucap Dion.
Arlan melajukan Ninjanya membelah jalanan malam yang mulai mendingin. Namun, bukannya belok ke arah kompleks perumahannya, Arlan justru memutar kemudi menuju sebuah bangunan tua di pinggiran kota markas rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya.
Sesampainya di sana, suara deru knalpot motornya disambut oleh kepulan asap rokok dan tawa riuh. Di sudut ruangan, Barra sedang asyik main PS sambil teriak-teriak nggak jelas.
"Woi! Robot kita dateng!" seru Barra begitu melihat Arlan masuk dengan tampang kuyu dan baju penuh noda oli. "Gila, lo abis tempur sama trafo apa gimana? Bukannya harusnya lo lagi makan formal sama temen bokap lo?"
Arlan melempar kunci motornya ke meja dengan suara klontang yang keras. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa kumal di sebelah Barra. "Batal. Anak temen bokap gue sakit."
"Sakit? Wah, hoki lo, Lan!" Barra tertawa ngakak tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV. "Mungkin dia emang nggak ditakdirkan ketemu Robot kayak lo. Palingan anaknya kaku juga kayak bapak-bapak, makanya lo males banget dateng."
Arlan hanya mendengus, menyandarkan kepalanya ke sofa sambil memejamkan mata. "Bodo amat. Yang penting gue nggak perlu duduk tegak dengerin mereka ngomongin bisnis sepanjang malam."
Arlan sama sekali tidak peduli siapa anak sahabat ayahnya itu. Baginya, itu cuma acara formalitas orang tua yang sangat mengganggu waktunya.
"Bisa-bisanya lo lebih milih bermesraan sama obeng daripada makan enak di restoran bintang lima," celetuk Barra lagi, tangannya masih lincah menekan tombol controller PS.
"Makan enak nggak sebanding sama dengerin kolega bokap pamer pencapaian anak mereka yang paling-paling cuma bisa main golf atau les piano," balas Arlan datar. Ia memejamkan mata, membiarkan kebisingan di markas itu menenggelamkan rasa lelahnya.
Barra terkekeh. "Tapi serius, Lan, gimana kalau ternyata anaknya cantik? Gue denger dari selentingan bokap gue, sahabat bokap lo itu pengusaha sukses. Biasanya anaknya minimal model iklan sampo lah."
"Cantik atau nggak, kalau cuma bisa manut sama omongan orang tua, tetep aja ngebosenin," gumam Arlan. Pikirannya mendadak terlintas pada sosok Aluna. Gadis itu memang menyebalkan, berisik, dan hobi melanggar aturan, tapi setidaknya dia punya karakter meskipun karakternya itu jenis yang membuat Arlan ingin memijat pelipis setiap hari.
Barra tertawa kencang sampai tersedak ludahnya sendiri. "Halah, benci sama cinta itu bedanya tipis, Lan. Kayak tipisnya pembatas buku Sejarah yang lo bawa-bawa itu!"
Arlan tidak menanggapi. Ia memilih untuk benar-benar memejamkan mata, mengabaikan cengkeraman rasa penasaran Barra. Baginya, Aluna hanyalah anomali di sekolah, dan cewek sakit yang batal dia temui malam ini hanyalah orang asing yang keberadaannya tidak penting.