NovelToon NovelToon
Jangan Lihat Gemetarku

Jangan Lihat Gemetarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Game / Idola sekolah / Komedi
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.

Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.

Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Siang di Kantin

Matahari tepat berada di atas kepala, mengubah aspal kampus menjadi panggangan raksasa. Aroma aspal panas bercampur dengan bau gorengan dan asap kendaraan yang terjebak macet di depan gerbang utama. Namun, bagi Genta, ancaman terbesar bukanlah sengatan ultraviolet, melainkan gedung beratap joglo di ujung jalan itu: Kantin Pusat Universitas Nusantara.

"Nggak. Cari tempat lain," ucap Genta datar. Langkah kakinya terhenti tepat sepuluh meter sebelum pintu masuk kantin yang hiruk-pikuk.

Rara ikut berhenti, lalu berbalik dengan tatapan malas. "Kenapa? Di sana makanannya paling enak. Soto Betawi Mang Udin itu legendaris, Genta."

"Terlalu ramai," balas Genta pendek. Ia melirik ke dalam kantin yang nampak penuh sesak. Mahasiswa dari berbagai fakultas berkumpul di sana, menciptakan kebisingan yang setara dengan sarang lebah raksasa. Suara dentingan piring, tawa yang meledak, dan teriakan ibu-ibu kantin yang memanggil nomor pesanan adalah simfoni horor bagi Genta.

"Justru itu poinnya." Rara melangkah mendekat, mengecilkan suaranya agar tidak terdengar mahasiswa lain yang lewat. "Kamu bilang mau belajar jadi manusia di depanku, kan? Manusia itu butuh makan. Dan manusia normal makan di kantin kalau lapar, bukannya sembunyi di ruang BEM sambil makan roti kering."

Genta menggeleng tegas. "Aku bisa pesan antar ke kantorku."

"Oh, tentu saja bisa. Tapi kalau begitu, sesi wawancara eksklusif kita hari ini batal," ancam Rara sambil mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Aku akan tulis di drafku: 'Ketua BEM Genta Erlangga ternyata terlalu takut untuk menghadapi semangkuk soto di depan rakyatnya sendiri'. Gimana? Menarik, kan?"

Genta menatap Rara dengan pandangan yang sulit diartikan. Campuran antara kesal dan rasa tidak percaya. "Kamu sedang memeras Presiden Mahasiswamu sendiri, Ra?"

"Aku sedang memberikan terapi eksposur untuk Paladin-ku," koreksi Rara dengan senyum manis yang nampak sangat licik. "Ayo, atau aku pergi sekarang."

***

Genta menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar seperti seseorang yang akan terjun payung tanpa parasut. Ia memperbaiki kerah kemejanya, memastikan tidak ada kerutan, lalu melangkah masuk.

Seketika, sebuah fenomena ajaib terjadi.

Seperti adegan di film-film di mana musik mendadak berhenti saat tokoh antagonis masuk, kebisingan di Kantin Pusat surut drastis. Mahasiswa yang tadinya sedang tertawa terbahak-bahak mendadak tersedak minumannya. Mereka yang sedang bergosip serentak menoleh.

Genta Erlangga. Di Kantin Pusat. Di jam makan siang paling ramai. Dan dia berjalan di samping seorang gadis logistik yang kemarin baru saja membuat skandal di gudang.

Genta berjalan kaku. Punggungnya tegak lurus seolah-olah ada besi yang menopang tulang belakangnya. Wajahnya membeku, dingin, dan tanpa ekspresi. Mode "Pangeran Es" tingkat maksimal. Ia bisa merasakan ratusan pasang mata menusuk kulitnya, menilai setiap gerakannya.

"Duduk di sana," tunjuk Rara ke sebuah meja panjang di tengah-tengah kantin yang baru saja dikosongkan. Tempat itu adalah titik paling strategis untuk dilihat semua orang.

Genta duduk dengan gerakan mekanis. "Aku akan pesan bakso. Cepat."

"Oke, tunggu di sini. Jangan lari," pesan Rara.

Sepuluh menit kemudian, Rara kembali dengan dua mangkuk bakso urat yang masih mengepul panas. Genta menatap mangkuk di depannya seolah-olah itu berisi racun sianida. Tangannya mulai terasa dingin. Ia mencoba meraih sendok dan garpu, namun begitu ujung logam itu menyentuh jemarinya, tremor itu kembali.

Ting. Ting. Ting.

Ujung sendok Genta beradu dengan pinggiran mangkuk keramik karena tangannya bergetar hebat. Ia mencoba mengambil satu butir bakso, namun sendoknya tergelincir. Kuah bakso yang cokelat bening itu tepercik sedikit ke atas meja putih yang bersih.

Genta segera meletakkan sendoknya kembali. Napasnya mulai memburu, meski ia berusaha menutupinya dengan wajah datar. Ia merasa semua orang sedang menertawakannya di dalam hati karena melihat tangannya yang gemetar.

Rara memperhatikan itu semua dari seberang meja. Ia melihat bagaimana Genta sedang berjuang mati-matian hanya untuk tidak terlihat ketakutan. Ia melihat butiran keringat dingin mulai muncul di pelipis pria itu.

Rasa jahil Rara mendadak berganti dengan rasa iba yang tak terduga. Dia benar-benar menderita, batin Rara.

Tanpa banyak bicara, Rara menggeser kursinya ke samping Genta, mengabaikan bisikan-bisikan mahasiswa di sekitar yang makin riuh. Ia mengambil alih sendok dari tangan Genta yang membeku.

"Sini," ucap Rara pelan.

"Rara, apa yang kamu lakukan?" desis Genta, matanya melotot memperingatkan. "Semua orang melihat."

"Biarin aja mereka liat," sahut Rara santai. Ia meniup sesendok kuah bakso dengan hati-hati. "Aku mau cicipi dulu, takutnya terlalu panas buat Tuan Presma yang manja ini."

Rara menyesap sedikit kuahnya, lalu kembali mengambil satu butir bakso kecil dan memotongnya menjadi dua. Ia menyodorkan sendok itu tepat di depan bibir Genta.

"Buka mulutmu, Paladin. Ini perintah Healer," bisik Rara, matanya menatap Genta dengan intensitas yang membuat pria itu tak berkutik.

Genta mematung. Wajahnya yang tadi pucat pasi karena cemas, kini mulai dialiri warna merah. Ia melirik ke sekeliling. Benar saja, beberapa orang sudah mengeluarkan ponsel mereka untuk memotret. Kania, jika dia ada di sini, pasti akan pingsan melihat adegan ini.

Namun, di tengah tekanan sosial itu, Genta melihat mata Rara. Ada ketenangan di sana. Ada sesuatu yang seolah berkata, 'Jangan takut, aku di sini'. Perlahan, Genta membuka mulutnya dan menerima suapan itu.

Kantin Pusat mendadak heboh. Suara riuh rendah kembali pecah, kali ini penuh dengan keterkejutan.

Genta mengunyah bakso itu dengan sangat lambat. Rasa daging yang gurih dan sambal yang pedas nampaknya sama sekali tidak terasa di lidahnya. Pikirannya kosong. Satu-satunya hal yang ia rasakan adalah panas yang menjalar dari leher hingga ke telinga.

"Enak?" tanya Rara dengan nada polos yang menyebalkan.

Genta menelan bakso itu dengan susah payah. "Jangan lakukan itu lagi."

"Kenapa? Kamu kan susah makan sendiri kalau lagi gemetaran gitu." Rara kembali menyodorkan sendok berisi tahu bakso. "Lagi. Sesuai kesepakatan, kamu harus jadi diri sendiri di depanku. Dan dirimu yang sekarang adalah orang yang butuh bantuan buat makan."

Genta nampak ingin menghilang dari muka bumi. Merah di wajahnya kini sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, merah padam seperti udang rebus.

Rara mendekat, bibirnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari telinga Genta. Ia bisa mencium aroma parfum citrus Genta yang bercampur dengan uap bakso.

"Pelan-pelan makannya, Sayang," bisik Rara dengan suara yang sangat lembut namun penuh dengan nada menggoda.

Uhuk!

Genta langsung tersedak. Ia terbatuk-batuk hebat hingga matanya berair. Ia segera menyambar gelas es teh dan meminumnya sampai habis dalam sekali teguk. Rara tertawa lepas, sebuah tawa yang renyah dan jujur, sama sekali tidak peduli bahwa ia baru saja hampir membunuh Presiden Mahasiswa dengan satu kata saja.

"Rara... kamu..." Genta mencoba bicara, namun suaranya habis.

"Iya, iya, maaf." Rara menyeka air matanya karena terlalu banyak tertawa. "Tapi wajahmu lucu banget kalau lagi panik gitu. Jauh lebih ganteng daripada muka robotmu itu."

Genta meletakkan gelasnya dengan tangan yang anehnya, sudah tidak lagi bergetar sehebat tadi. Mungkin rasa malu yang luar biasa telah mengalahkan rasa cemasnya. Ia menatap Rara yang masih tersenyum manis ke arahnya.

Di tengah kebisingan kantin yang menghakiminya, untuk pertama kalinya, Genta merasa tidak keberatan menjadi pusat perhatian. Selama ada seseorang di sampingnya yang berani memanggilnya "Sayang" hanya untuk melihatnya tersedak, mungkin dunia nyata tidak seburuk yang ia bayangkan.

"Kita pergi dari sini," ucap Genta, suaranya sudah lebih stabil meski wajahnya masih memerah. "Sebelum kamu benar-benar membuatku mati jantungan."

"Oke, oke. Ayo, Paladin," sahut Rara sambil bangkit berdiri, mengikuti langkah Genta yang kini sedikit lebih santai keluar dari kantin, meninggalkan sejuta gosip baru yang akan meledak dalam hitungan menit.

1
Hana Agustina
first
Hana Agustina
sweet bgt sih rara n genta
Leel K: Btw, udah baca dari awal belum? Soalnya aku udah revisi total dari bab 1 kemarin 😭
total 1 replies
Hana Agustina
first like thor.. sambil ngopi yaa.. aku krm biar semangat, aku sneng sm crita kamu
Leel K: Makasiiiii❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!