NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Ayyan menarik pelatuk senapan mainannya dengan tenang. Dorr! Boneka beruang kecil itu jatuh sekali tembak. Namira melompat kegirangan, suaranya yang cempreng mengundang perhatian orang-orang sekitar.

"Yey! Mas Ayyan emang paling top markotop! Mana sini bonekanya, Bang!" seru Namira kepada penjaga stan.

Ayyan memberikan boneka itu kepada Namira, namun matanya tidak ikut tertawa. Instingnya sebagai laki-laki yang waspada mulai menangkap sinyal aneh.

Dari pantulan kaca stan di depannya, ia melihat seorang pria bertopi hitam yang terus menjaga jarak sekitar lima meter di belakang mereka.

"Mas? Kok malah bengong? Ayo, aku mau beli kembang gula!" ajak Namira sambil menarik lengan jaket Ayyan.

Ayyan menggenggam tangan Namira lebih erat dari sebelumnya. "Namira, dengerin Mas. Jangan lepas dari tangan Mas, ya? Kita jalan santai saja, jangan lari-lari."

"Iya, Mas Imamku yang ganteng. Mas kenapa sih? Kok mukanya jadi mode serius lagi? Takut dipalak preman pasar malam ya?" goda Namira tanpa beban.

"Bukan. Mas cuma mau memastikan istri Mas yang berisik ini nggak hilang diambil orang," jawab Ayyan sambil terus memantau pergerakan pria bertopi itu lewat sudut matanya.

Saat mereka melewati kerumunan di dekat komidi putar yang berisik, pria bertopi itu mulai bergerak mendekat. Langkahnya dipercepat, tangannya merogoh saku jaket seolah hendak mengambil sesuatu.

Ayyan dengan sigap menarik Namira ke arah sebuah stan pakaian yang agak tertutup.

"Mas! Kok ke sini? Aku nggak mau beli baju, aku mau gulali!" protes Namira bingung.

"Sstt... diam sebentar," bisik Ayyan tepat di telinga Namira, suaranya sangat rendah dan penuh otoritas.

Ayyan memutar tubuhnya tepat saat pria bertopi itu lewat di depan mereka.

Dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, Ayyan menjegal kaki pria itu hingga ia tersungkur menabrak tumpukan karung di pojok stan.

"Aduh!" pria itu meringis. Sebuah ponsel terjatuh dari tangannya, layarnya masih menyala menunjukkan foto Namira yang sedang tertawa.

Namira melotot. "Lho! Itu kan foto aku! Mas, dia siapa?! Kok dia punya foto aku pas lagi makan arum manis tadi?!"

Ayyan berdiri tegak di depan pria yang masih terduduk itu. Aura "Gus" yang tenang seketika hilang, berganti dengan tatapan tajam yang seolah siap menerkam. Ayyan menginjak ponsel pria itu sebelum ia sempat meraihnya.

"Sampaikan pada tuanmu," ucap Ayyan dengan suara yang sangat tenang namun bergetar penuh ancaman.

"Kalau dia mau bermain, jangan pakai cara pengecut seperti ini. Saya tahu siapa yang menyuruhmu."

Pria itu gemetar melihat tatapan Ayyan. Ia segera bangkit, meninggalkan ponselnya yang retak, dan lari tunggang langgang menembus kerumunan.

Namira mematung. Bibirnya yang tadi tidak berhenti bicara, kini tertutup rapat. Ia menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. "Mas... tadi itu... Mas kok bisa tahu? Dan tadi Mas bilang 'tuanmu'... maksudnya Randi?"

Ayyan menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya yang sempat naik. Ia berbalik menatap Namira, lalu mengusap pipi istrinya dengan lembut.

"Sudah, jangan takut. Ada Mas di sini."

Namira bukannya takut, ia malah menatap Ayyan dengan mata berbinar-binar. "MAS AYYAN! KEREN BANGET! Tadi itu kayak adegan di film aksi! Mas jago silat ya?! Wah, suamiku ternyata diam-diam pendekar!"

Ayyan yang tadinya tegang langsung lemas mendengar respon istrinya. "Namira... kita hampir saja dalam bahaya, dan kamu malah bilang itu keren?"

"Ya habisnya Mas gagah banget tadi! Tapi Mas, Randi beneran sejahat itu ya sampai ngirim orang buat foto-fotoin kita?" tanya Namira, wajahnya kini berubah serius dan sedikit sedih.

Ayyan menarik Namira ke dalam pelukannya di tengah hiruk pikuk pasar malam. Ia tidak peduli lagi dengan pandangan orang. "Dia tidak jahat, dia hanya belum dewasa. Dia pikir dunia bisa diatur dengan uang dan paksaan. Tapi dia lupa satu hal... kamu bukan barang yang bisa ditawar."

Namira membalas pelukan Ayyan, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. "Mas, aku mau pulang aja. Tiba-tiba selera gulalinya hilang, ganti jadi pengen makan masakan Umi."

"Ayo kita pulang. Tapi janji, jangan dipikirkan lagi ya? Serahkan urusan Randi pada Mas dan Abah," ucap Ayyan sambil menuntun Namira menuju tempat parkir motor.

Sesampainya di parkiran, saat Ayyan hendak memasangkan helm ke kepala Namira, ia berbisik kecil.

"Namira?"

"Iya, Mas?"

"Besok... hapus dulu aplikasi TikTok-mu selama beberapa hari ya? Mas tidak mau kamu baca komentar-komentar aneh kalau si Randi itu macam-macam di media sosial."

Namira diam sejenak, lalu mengangguk mantap. "Oke! Demi Mas Ayyan, jangankan TikTok, hapus kenangan mantan juga aku sanggup!"

"Kamu kan nggak punya mantan, Namira."

"Oh iya ya! Hehehe, lupa. Kan mantan aku cuma Mas Ayyan di masa depan!"

Ayyan hanya bisa geleng-geleng kepala. "Naik, kita pulang."

Motor gede Ayyan membelah jalanan desa yang mulai sepi menuju gerbang besar pesantren. Namira menyandarkan kepalanya di punggung Ayyan, tangannya masih memeluk erat boneka beruang kecil hasil kemenangan Ayyan tadi. Di balik sikap cerianya, Namira sebenarnya sedang berpikir keras.

"Mas..." panggil Namira pelan saat motor sudah terparkir di halaman ndalem.

Ayyan mematikan mesin, lalu menoleh. "Iya? Ada yang ketinggalan di pasar malam?"

"Enggak. Cuma... kalau nanti Randi beneran datang ke pesantren lagi gimana? Mas tahu kan, dia kalau punya mau itu keras kepala banget. Aku takut Abah sama Umi jadi keganggu gara-gara aku."

Ayyan turun dari motor, lalu membantu Namira melepas helmnya. Ia menangkup wajah Namira dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap lembut pipi Namira yang agak dingin terkena angin malam.

"Dengar ya. Pesantren ini rumah kamu sekarang. Dan di rumah ini, ada Abah, ada para santri, dan yang paling utama, ada Mas. Randi itu cuma tamu yang tidak tahu aturan. Jangan pernah merasa diri kamu pembawa masalah, paham?"

Namira mengangguk kecil, matanya sedikit berkaca-kaca. "Paham, Gus Kulkas."

"Eits, barusan panggil apa?"

"Gus Sayang maksudnya! Typo mulut dikit," cengir Namira.

Keesokan harinya, firasat Namira terbukti. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan kediaman Abah Kyai. Randi turun dengan kacamata hitamnya, membawa beberapa map tebal dan sebuah kotak kayu yang terlihat sangat eksklusif.

Namira yang sedang membantu Umi Fatimah menjemur mukena di samping rumah, langsung membeku. "Umi... itu si 'Dajal' datang lagi," bisiknya spontan.

Umi Fatimah mengernyit. "Siapa, Mira? Oh, Nak Randi yang mau wakaf itu?"

"Iya, Mi. Tapi mukanya nggak muka-muka mau wakaf, lebih mirip muka orang mau ngajak ribut," gerutu Namira sambil meremas jemuran di tangannya.

Randi melangkah menuju teras di mana Abah Kyai dan Ayyan ternyata sudah duduk menunggu.

Sepertinya pertemuan ini memang sudah dijadwalkan secara resmi untuk penandatanganan berkas wakaf.

Ayyan duduk dengan posisi tegak, mengenakan sarung batik dan baju koko putih yang sangat rapi. Ekspresinya benar-benar datar, sulit dibaca, bahkan lebih dingin dari biasanya.

"Silakan duduk, Nak Randi," ucap Abah Kyai ramah namun berwibawa.

Randi duduk dan langsung meletakkan kotak kayu itu di atas meja. "Terima kasih, Kyai. Ini semua berkasnya sudah siap. Dan ini... ada sedikit buah tangan khusus untuk keluarga ndalem. Jam tangan terbatas untuk Gus Ayyan, dan perhiasan kecil untuk Namira."

Ayyan melirik kotak itu tanpa minat. "Simpan saja pemberiannya, Randi. Kita di sini untuk urusan wakaf, bukan untuk bertukar kado."

Randi tertawa kecil, suara tawanya terdengar meremehkan. "Gus Ayyan ini kaku sekali ya. Padahal saya cuma mau menjalin silaturahmi. Oh ya, omong-omong soal kemarin malam... ponsel anak buah saya rusak berat karena diinjak seseorang. Apa Gus tahu sesuatu?"

Suasana di teras mendadak mencekam. Abah Kyai yang tadinya tersenyum kini mulai menatap Randi dengan serius.

Ayyan memajukan tubuhnya, menatap lurus ke mata Randi. "Kalau anak buahmu diajarkan cara memotret yang sopan tanpa harus menguntit istri orang, mungkin ponselnya tidak akan rusak. Kamu beruntung saya hanya menginjak ponselnya, bukan orangnya."

Namira yang mengintip dari balik tirai jendela di dalam rumah, menutup mulutnya dengan tangan. "Waduh... Mas Ayyan mode maung keluar nih," batinnya antara takut dan bangga.

Randi malah tersenyum sinis. Ia menoleh ke arah jendela, seolah tahu Namira sedang mengintip. "Namira! Keluar dong! Masa calon donatur asramamu datang, kamu malah sembunyi?"

Ayyan langsung berdiri, membuat kursi kayunya berderit keras. "Jaga bicaramu, Randi. Dia istri saya, bukan penerima tamu perusahaanmu."

"Tenang, Gus. Saya cuma penasaran, apa Namira betah tinggal di tempat yang 'sunyi' begini? Dia itu terbiasa dengan kemewahan Jakarta, keramaian mall, dan makanan berkelas. Bukan cuma duduk menghafal kitab dan makan seblak di pinggir jalan setiap hari."

"Randi!" suara Abah Kyai menggelegar, tenang tapi penuh penekanan.

"Niat baikmu soal wakaf kami hargai. Tapi jika kedatanganmu ke sini hanya untuk menghina kehidupan pesantren dan mengusik ketenangan keluarga kami, silakan ambil kembali berkasmu. Kami tidak butuh tanah yang diberikan dengan hati yang kotor."

Randi terdiam. Ia tidak menyangka Kyai yang sangat lembut itu bisa bicara setegas itu.

Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Namira keluar dengan wajah yang sudah berubah jadi mode "Senggol Bacok Level Max". Ia berdiri di samping Ayyan, melipat tangan di dada.

"Heh, Randi! Dengerin ya! Biar kata di sini sunyi, tapi hati aku tenang! Di Jakarta emang banyak mall, tapi nggak ada imam kayak Mas Ayyan! Dan soal seblak... meskipun murah, rasanya jauh lebih enak daripada makan steak mahal tapi duduknya sama orang sombong kayak kamu! Pergi nggak sekarang?! Atau mau aku siram pakai air bekas rendaman mukena?!"

Ayyan hampir saja tertawa mendengar ancaman "air rendaman mukena" itu, tapi ia berhasil menjaga wajah sangarnya.

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!