Derasnya hujan malam ini, seorang gadis yang sedang merenungkan nasibnya sekarang, air mata terus berjatuhan tak ada niatan untuk di hentikan, bibirnya mengatup hanya ada isakan yang terdengar, matanya hanya tertuju pada satu benda dan kertas foto persegi kotak di tangannya dan seluruh tubuhnya bergetar hebat "Apa, yang harus aku lakukan." Jeritnya pilu.
Keputusan apa yang akan ia pilih. melepas atau menerimanya dan pergi menjauh ia butuh ketenangan.
Dan apa jadinya saat kehidupannya sudah tenang seolah olah takdir sedang mempermainkannya.
Ini tantangan hidup apakah ia bisa melawan traumanya karena masa lalu ataukah ia akan menemukan takdirnya bersamaan kembalinya dia dan orang orang masa lalu yang mulai hadir.
Heyy buat para reader semoga suka karena karya ini asli hasil imajinasi sendiri NO PLAGIAT NO CURI² MILIK ORANG LAIN, murni hasil berpikir sendiri 😁.
selamat membaca 💞
salam dari Author 💋😻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKSM 21
Derasnya hujan malam ini, membuat Yashica sedikit linglung, pulang dari rumah sakit sampe malam ini ia sedang merenungkan nasibnya ke depan, air mata berjatuhan dengan deras sama halnya yang sekarang yang ada di luar kos terjadi hujan lebat, petir saling sahut sahutan dan terdengar menggelegar suaranya. Tetapi itu semua tak membuatnya takut semakin membuat air mata itu mengalir deras layaknya air terjun yang terusan mengalir tanpa niat menghentikannya ia biarkan begitu saja. Saat ini matanya sedang tertuju pada satu benda persegi panjang dan kertas foto persegi kotak di tangannya dan itu membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. "Apa, yang harus aku lakukan," Batinya menjerit pilu. Ia mengingat lagi apa yang di katakan oleh kedua sahabatnya sesaat mereka keluar dari rumah sakit.
"Shica, gue tau sekarang pikiran lo lagi kalut dan gak singkron dengan hati lo, tapi gue minta jangan pernah berfikir buat menghilangkan mereka, apa yang di bilang oleh dokter Anggun benar, coba lo pake hati nurani lo, janin yang sekarang sedang lo kandung itu ada dua, lo tega sama mereka, mereka gak tau apa apa Ca, mereka juga gak minta buat di hadirin di dunia ini tapi semua itu udah takdirnya jadi lo harus bisa terima mereka, kalo lo takut nantinya biar gue, gue siap kok buat ngurus calon dua keponakan gue itu. Sekarang lo udah mau jadi ibu, coba lo bayangin banyak pasangan bertahun tahun nikah tapi belum juga di karuniai anak dan mereka sangat sangat mengidam idamkan hadirnya seorang anak untuk pelipur lara mereka, sedangkan lo, lo dengan mudah di kasih anak bahkan di kasih dua sekaligus. Gue mohon sama lo Ca, pake hati nurani keibuan lo," Nasihat Alexa ke Yashica.
"Kalo lo nanti udah lahiran, biar gue yang ngedidik mereka, dan bakal gue jadiin penerus nantinya," Ucap Tarissa dingin tapi terselip nada bersalah.
"Iya Ca, lo gak sendiri ada kita sahabat sahabat lo yang bakal ngelindungin lo dari cibiran orang, kita bakal sama sama ngerawat mereka, oke, jadi lo jangan merasa sendirian di dunia ini, lo harus ingat kita para sahabat lo yang akan selalu ada buat lo," Ucap Alexa menyemangati sambil mengenggam tangan dingin Yashica.
Yashica yang sedang meremas perutnya sekarang, ia tersadar dari kata kata Alexa, lalu ia perlahan lahan mengusap perutnya dengan lembut dan menangis tersedu-sedu.
"Maaf, maafkan aku yang hampir menghilangkan kalian, aku janji akan menjaga kalian, kita akan hidup bersama sama," Ucap Yashica. Lalu ia mulai merangkak ke tempat tidur untuk istirahat. Untuk berjalan ke tempat tidur ia tak sanggup karena tenaganya terkuras habis padahal ia hanya menangis. Setalah berbaring dengan posisi nyaman tak menunggu lama ia pun mulai terlelap.
Pagi harinya Yashica mulai terlihat segar, ia mulai bisa menerima semua keadaannya termasuk dua janin yang bersemayam di perutnya. Ia saat ini sedang berfikir akan kemana, tak mungkin terus ada di sini, kalo masih di sini ia takut tak bisa menyamarkan perutnya yang setiap bulannya pasti akan membesar, saat ini pun perutnya sudah terlihat menonjol tapi masih bisa ia samarkan dengan pakaian kebesaran atau pakaian longgar. Akhirnya ia memutuskan akan pergi ke sesuatu tempat tapi sebelumnya ia akan pergi ke cafe tempatnya bekerja. Sedangkan Rahma yang berkeinginan menemui Yashica selalu terkendala, seperti saat ini padahal ia dan Yashica satu kosan dan kamar mereka bersebelahan tetapi ia sama sekali belum bisa menyambangi teman rekan kerjanya itu. Saat di ambang pintu ia hanya ingin melihat keadaan Yashica seperti apa setelah kejadian di rumah sakit, tetapi sebelum tangannya ingin mengetok kamar Yashica tiba tiba ada nada dering dari hpnya yang ingin segera di angkat.
"Ya haloo,"
".....
"Baik, saya segera ke sana,"
Ia menutup panggilan itu, lagi lagi ia gagal mungkin pikirnya masih banyak waktu bisa menyambangi Yashica saat ini, ada hal yang lebih penting. Beberapa menit berlalu saat Rahma pergi dari hadapan kamar Yashica, Yashica mulai keluar dari kamarnya.
Beberapa jam bermacet ria akhirnya Yashica tiba juga di depan cafe tempatnya bekerja, ia sempat menghubungi Rio menanyakan pak bos ada di tempat atau tidak, makanya sekarang ia ada di sini. Sebelum masuk ia sudah gugup duluan apa lagi tadi tak sengaja bersitatap dengan rekan kerjanya yang menatapnya sinis.
"Inhale, Exhale oke Shica, kamu harus tenang hiraukan tatapan mereka yang sinis, anggap angin lalu," Ucapnya mengsugestikan diri sendiri.
Ia pun masuk dan tak menghiraukan tatapan para rekan kerjanya, ia lalu menemui Rio yang sekarang ada di bagian dapur.
"Mas," Panggil Yashica saat ia melihat Rio ada di bagian dapur untuk melakukan pengecekan bahan.
"Eh, Ca udah datang aku kira ke sini mau agak siangan," Ucap Rio. "Yuk ke ruangan ku saja, kayaknya ada yang mau kamu omongin nih," Lanjut Rio seyara mengajak Yashica ke ruangan khusus manager.
Yashica pun mengikuti Rio dari belakang dan itu harus melewati para pekerja yang sedang bersih bersih.
Desi, Lia dan Dian yang melihat Yashica masuk ke ruangan manager pun berusaha menguping mencuri pembicaraan Rio dan Yashica tapi itu sia sia saja karena ruangannya kedap suara walau pun begitu mereka tidak menyerah tetap berusaha mendapat berita untuk bahan gosip mereka. Sedangkan Eli yang kemarin ikut menggosip tapi hanya memberi nasihat tapi tak di gubris oleh para penggosip ia hanya melihat datar teman temannya yang berusaha menguping, tak ia hiraukan ia lanjut bersih bersih ia biarkan saja.
Di dalam ruangan Rio, setelah Rio mempersilahkan Yashica duduk di sofa minimalis ia juga duduk di single sofa setelah mengambil minuman dingin di lemari pendingin.
"Jadi ada hal penting apa nih Ca, sampai sepagi ini datang ke cafe padahal ini hari libur kamu, jadi? Tanya Rio, ia sudah punya firasat tak enak tentang Yashica tapi ia tidak bisa menebak itu apa, biarlah Yashica yang menjelaskannya nanti.
Yashica sebelum memulai pembicaraan ia mengambil sesuatu di tasnya lalu menyodorkan kertas di balut map itu di hadapan Rio. Rio pun mengambil map itu lalu membukanya dan membacanya, ia sempat kaget tetapi ia yakin Yashica pasti punya alasan sendiri. Kenapa ia memilih jalan seperti ini.
"Kamu yakin Ca?" Tanya Rio.
"Iya mas, Shica mau resign dari sini," Ujar Yashica.
"Aku gak tau alasan kamu mau resign dari sini Ca, tapi kalo di lihat saat ini wajar sih pasti kamu mau cari pengalaman kerja di bidang kamu," Ucap Rio yang tak tau sebenarnya ia hanya menebaknya saja. "Aku hargai ke putusan mu, lagi pula aku gak bisa maksain kamu buat bertahan di sini. Ya sudah aku antar kamu ke pak bos," Ucap Rio sambil berdiri seraya membawa map dari Yashica untuk di kasihkan ke pak bos.
"Terima kasih mas," Ucap Yashica tersenyum, lalu ia mengikuti langkah Rio untuk ke ruangan Dito.
Sementara para penggosip yang masih di depan pintu ruangan Rio tiba tiba membubarkan diri setelah mendengar bunyi pintu di buka dari dalam.
○●
"Fhuh, Syukur lah kita gak ketahuan, masih untung kita cepat pergi dari sana," Ucap Dian sambil mengelus dada.
"Iya sih, tapikan kita belum dapat info apa-apa, haisss," Ucap Lia kecewa.
"Ya gak pa-pa dari pada maksa buat nyari tapi kita kena sp lagi bisa bisa kita kehilangan pekerjaan, kamu kira di jaman sekarang nyari kerja gampang apa," Sewot Dian.
Sedangkan Desi sudah berlalu menuju dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kedatangan Yashica yang membuatnya penasaran.
Di lantai tiga ruangan Dito.
Tok tok tok...
"Masuk!" Terdengar suara dari dalam ruangan.
"Ijin masuk pak bos," Ucap Rio.
"Oh kamu Rio, Shica, silahkan," Ucap Dito mempersilahkan Rio dan Yashica masuk.
Yashica yang mengekor di belakang Rio tersenyum sungkan dan mereka duduk di sofa.
"Ada apa nih, tumben, apa ada masalah?" Tanya Dito.
"Enggak pak bos, Saya ke sini ingin memberi surat pengajuan resignnya Shica ," Ucap Rio.
Dito yang mendengar kalo Yashica ingin resign tak bisa menahan, apa lagi Alexa sang sepupu sudah cerita apa masalah yang di hadapi oleh karyawannya ini yang sebentar lagi menjadi mantan karyawan, ia hanya menyayangkan sebentar lagi ia kehilangan karyawan teladannya, padahal kalo Yashica bertahan ia tak mempermasalahkannya tapi masalahnya ada pada karyawan lainnya, ia yakin Yashica pasti tak akan betah kalo setiap hari jadi bahan gunjingan. Makanya ia dengan berat hati melepas Yashica.
"Ya sudah mana suratnya biar saya tanda tangani," Ucap Dito, lalu ia berdiri untuk mengambil pena.
Rio pun meletakan surat Yashica di hadapan Dito. Ia sempat binggung kenapa pak bos tidak menanyakan sebab Yashica ingin resign, tapi ya sudah lah itu hak bosnya ingin menanyakan atau tidak. Setelah Dito menyelesaikan tanda tangannya ia menyerahkan lagi surat itu ke Rio.
"Terima kasih pak Dito," Ucap Yashica.
"Sama sama Ca, padahal saya menyayangkan kamu resign tapi saya tidak bisa memaksa kamu untuk tetap kerja, Saya yakin kamu pasti punya alasan sendiri kenapa memilih resign," Jelas Dito memaklumi.
Yashica yang mendengarnya tersenyum sedih lalu berkata "Sekali lagi saya terima kasih sama pak Dito, Saya tidak akan melupakan kebaikan pak Dito dan juga mas Rio," "Kalo begitu saya pamit undur diri pak," Lanjut Yashica seraya keluar dari ruangan Dito di ikuti Rio.
"Saya permisi pak bos," Ucap Rio.
Dito hanya merespon dengan anggukan.
Rio dan Yashica sudah ada di luar cafe. Rio sengaja mengantarkan langsung anggap saja untuk terakhir kalinya.
"Oya mas saya tadi gak lihat mbak Rahma, kemana ya?" Tanya Yashica.
"Hari ini Rahma ijin, karena ada urusan mendesak katanya," Ucap Rio.
"Ya sudah mas saya pamit ya, maaf kalo selma ini saya ada salah sikap atau kata kata," Ucapnya.
"Iya Ca, Mas juga minta maaf kalo selama jadi pemimpin kamu mas agak keras, itu juga buat kebaikan kamu sama yang lainnya," Ucap Rio.
"Iya mas, oya saya titip salam buat mbak Rahma," Ucap Yashica sebelum memasuki mobil pesanannya.
"Iya nanti mas sampaikan, Kamu hati hati," Ucap Rio seraya masuk cafe setelah mobil yang di tumpangi Yashica menghilang di jalan raya.
Yashica pun pulang dengan hati tenang sekarang yang ia fikirkan tentang para sahabatnya, akan ia beritahu atau tidak tentang kepergiannya ia masih bimbang karena ia tidak mau banyak minta bantuan kepada sahabatnya ia terlalu sungkan karena selama ini para sahabatnya sering membantunya banyak hal. Dan ia juga belum memastikan akan pergi kemana nantinya.
♤♡◇♧