Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang tanpa suara
Bugh! Bugh! Bugh!
Dari arah belakang, Jarwo, Bagas dan Ucup menerima tendangan bertubi-tubi hingga tubuh mereka terhempas dan tersungkur di tanah yang masih basah oleh lumpur. Bau tanah dan air got langsung memenuhi hidung mereka.
Mereka bertiga menoleh ke belakang dengan napas tersengal, dan saat itulah terlihat tiga pria berbaju hitam tegap di hadapan mereka. Tatapan mereka tajam, dingin, seolah tidak membawa emosi sedikit pun.
Jarwo memuntahkan tanah dari mulutnya, lalu menatap dengan wajah penuh amarah.
"Siapa kalian, berani-beraninya—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, salah satu pria berbaju hitam sudah kembali melayangkan tendangan keras ke arah perutnya.
Bugh!
Jarwo terhempas lagi, meringis menahan nyeri yang menjalar hingga ke tulang rusuknya. Bagas dan Ucup yang baru saja mencoba bangkit kembali terjungkal saat dua pria lain bergerak serempak, begitu cepat dan terlatih.
"Kalian salah sasaran," desis salah satu pria berbaju hitam dengan suara rendah namun dingin.
Jarwo mencoba bangkit dengan tertatih. Matanya menyala penuh dendam meski tubuhnya gemetar.
"Jangan sok jago kalian!" teriaknya, lalu menyerang membabi buta.
Namun serangannya dengan mudah ditangkis. Salah satu pria berbaju hitam memutar pergelangan tangan Jarwo dengan gerakan cepat dan presisi, membuat tubuh pria itu terpelintir.
Krak!
"Arrggh!" Jarwo menjerit saat kembali tersungkur ke tanah.
Bagas dan Ucup ikut maju, berusaha mengeroyok mereka. Tapi mereka seperti menghantam tembok. Salah satu pria berbaju hitam menyapu kaki Bagas hingga ia terjatuh dengan wajah menghantam lumpur, sementara yang lain mendorong dada Ucup keras-keras sampai pria itu terguling beberapa meter.
"Tidak ada gunanya melawan," ucap pria berbaju hitam yang berdiri paling depan.
Nada suaranya datar, seolah semua yang terjadi hanyalah rutinitas biasa. "Kalian bahkan tidak selevel untuk menyentuh kami."
Jarwo terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Ia mencoba berdiri lagi, namun kakinya seolah kehilangan tenaga. Satu pukulan telak kembali mendarat di perutnya.
Bugh!
Napasnya langsung tersedak, membuatnya jatuh terduduk dengan wajah pucat. Untuk pertama kalinya, matanya menunjukkan rasa takut.
"Kami cuma menjalankan perintah..." gumamnya lemah.
"Iya Tuan, maafkan kami, uhuk... uhuk..." ucap Ucup sambil memegangi dadanya yang sesak. "Kami hanya ingin dapat uang cepat."
"Ibu saya sedang sakit, Tuan. Saya melakukan ini sebab biaya, uhuk... uhuk..." timpal Bagas sambil menahan perih di dadanya.
Ketiga pria berbaju hitam itu saling bertukar pandang singkat, lalu salah satu dari mereka melangkah maju setengah langkah.
"Katakan pada Amelia tugasnya telah selesai, agar kalian masih dapat upah darinya."
Ketiga preman kampung itu langsung kaget. Dari mana mereka tahu Amelia yang menyuruh mereka?
"Kalian nggak usah pikir kami tahu dari mana," ucap salah satu pria berbaju hitam, seolah membaca isi kepala mereka. "Jika kalian masih mengganggu ketenangan keluarga Bi Wati, siap-siap kepala kalian akan pisah dari tubuh kalian."
Ketiga preman itu menelan ludah dengan kasar, tubuh mereka langsung menegang ketakutan.
"Cepat pergi!"
"Tapi Tuan, jika Nyonya Amelia minta bukti bagaimana?" tanya Jarwo ragu dengan suara bergetar.
Ting!
Notifikasi ponsel Jarwo berbunyi nyaring di tengah keheningan.
"Kirimkan saja apa yang baru saya kirim."
Jarwo kembali terkejut. Dari mana mereka tahu nomor ponselnya? Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku celananya dan membuka layar ponsel.
Matanya langsung membelalak. Rumah Bi Wati benar-benar tampak seperti habis diserang. Ia ternganga, dadanya terasa sesak, mereka benar-benar salah sasaran.
"Cepat pergi."
"Iya, Tuan!"
Ketiga preman kampung itu pun berlari terbirit-birit, meninggalkan lumpur, rasa sakit, dan ketakutan yang membekas di dada mereka.
Salah satu pria berbaju hitam menatap punggung mereka yang menjauh, lalu berkata pelan,
“Laporkan pada Tuan Dewa.”
♡♡
Di meja makan, suasana terasa dingin dan menekan. Elina sama sekali tidak berselera menyentuh makanannya. Sejak beberapa waktu terakhir, hubungannya dengan keluarga suaminya memang semakin renggang.
Di seberangnya, Ares terlihat fokus menyuap makanan, namun pikirannya melayang pada sisa tabungannya yang terus menipis akibat ambisinya merebut perusahaan dan seluruh aset Elina.
Ares harus sabar, tinggal dua hari lagi, ucapnya dalam hati, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Elina menatap piringnya sebentar, lalu perlahan berdiri dan meninggalkan meja makan tanpa sepatah kata.
Nafsu makannya benar-benar hilang, terlebih setelah mengingat perbuatan Ares yang memukul Radit. Meski begitu, ia berusaha tetap sabar, menunggu hari kemenangannya tiba.
“Dasar menantu durhaka,” gerutu Amelia kesal melihat Elina pergi begitu saja.
“Biarin aja, Mah. Jangan kuras tenaga Mama,” sahut Arman santai, lalu menatap Ares. “Res, bagaimana? Semua aset Elina?”
“Dua hari lagi semua akan selesai, Pah,” jawab Ares dengan senyum puas.
“Serius, Res?” tanya Amelia dan Arman hampir bersamaan, mata mereka berbinar penuh harap.
Ares mengangguk. “Iya, Mah, Pah. Ares minta prosesnya dipercepat sebelum pengumuman CEO baru diumumkan.”
Wajah Amelia dan Arman semakin berseri. Di benak mereka, bayangan hidup mewah mulai terlukis jelas.
Ting!
Ponsel Amelia berbunyi. Ia segera membukanya.
“Pesan dari siapa, Mah?” tanya Arman.
“Jarwo, Pah. Dia berhasil membuat rumah dan toko Bi Wati hancur,” jawab Amelia sambil menyerahkan ponselnya pada Arman.
"Mama buat rencana apa?" tanya Ares sedikit penasaran.
"Mama kesal dengan Bi Wati, Res. Selalu dibela Elina. Jadi Mama sewa preman kampung lagi buat kasih perhitungan ke keluarganya," jelas Amelia tanpa merasa bersalah.
"Ide bagus, aku juga setuju dengan ide Mama," ucap Ares.
"Res, Mama minta uang. Para preman itu minta bayaran," lanjut Amelia.
Ares langsung menatap Ibunya lekat-lekat. "Tabungan aku sisa sedikit. Hari ini aku sudah mengeluarkan empat koma lima miliar."
"Apa? Untuk apa kamu keluarin uang sebanyak itu, Res?" tanya Arman kaget.
"Mah, Pah, dengar Ares. Untuk mengalihkan aset dan dana perusahaan Elina, aku harus sewa tim profesional. Bayarannya nggak main-main. Total yang aku keluarin enam miliar," jelas Ares tegas.
"Tapi Res, kenapa bisa sebanyak itu?" ucap Amelia membayangkan nominal besar tersebut.
"Awalnya cuma dua miliar, Mah. Tapi karena pengumuman CEO tinggal dua hari lagi, aku mau semua aset itu sudah jadi milik aku sebelum hari itu," jelas Ares. "Tapi Mama dan Papa tenang saja. Orang-orangku sangat bisa dipercaya. Sekarang mungkin aku rugi, tapi nanti keuntungannya bakal berlipat ganda."
Amelia dan Arman saling pandang. Wajah mereka yang semula berbinar perlahan berubah penuh perhitungan.
"Kalau begitu," ujar Amelia akhirnya dengan suara merendah namun sarat ambisi, "kita harus pastikan tidak ada yang mengganggu rencana kamu dua hari ini, Res."
Arman mengangguk setuju. "Iya. Jangan sampai Elina atau orang-orang kepercayaannya mencium gerak-gerikmu."
Ares menyeringai tipis. "Tenang saja, Pah. Elina terlalu sibuk mengurusi karyawan dan drama di kantor. Dia nggak akan sadar apa yang sebenarnya sedang terjadi."
Amelia kembali menatap layar ponselnya, membaca ulang pesan dari Jarwo dengan senyum puas. "Bagus. Biar Bi Wati dan keluarganya kapok. Lihat saja nanti, setelah semua aset pindah ke tangan kita, mereka semua nggak akan punya daya apa-apa."
Ares mengangguk pelan, meski ada rasa tak nyaman yang samar di hadapannya. Namun ia segera menepisnya. “Mah, soal uang preman itu… nanti aku transfer. Tapi setelah ini jangan lagi buat masalah. Dua hari ini harus bersih dari keributan,” ucapnya tegas.
Amelia mendengus kecil. “Baiklah, Mama ikuti maumu. Tapi setelah kita kaya nanti, jangan pelit-pelit sama orang tua.”
Ares tersenyum tipis. “Tentu, Mah. Setelah semuanya beres, Mama dan Papa bisa hidup mewah sepuasnya.”