NovelToon NovelToon
WARUNG TENGAH MALAM

WARUNG TENGAH MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Roh Supernatural / Hantu / Mata Batin
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
​Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
​Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 : Apem Putih dan Gedung Tua yang Menangis

​Gadis hantu itu memegang gelas Teh Bunga Telang dengan kedua tangannya yang transparan. Uap hangat dari teh itu menerpa wajahnya, perlahan mengembalikan rona kehidupan yang sempat hilang, meski hanya ilusi.

​Matanya yang tadi kosong kini mulai berair. Air mata hantu—yang jika jatuh ke tanah akan berubah menjadi embun beku.

​"Namaku... Laras," bisiknya. Suaranya terdengar seperti denting piano yang sumbang. "Aku... aku penari. Penari Gambyong."

​Alya mencatat nama itu di buku pesanan kecilnya. "Oke, Mbak Laras. Terus, apa yang Mbak ingat terakhir kali sebelum... um... sampai di sini?"

​Laras memejamkan mata. Tubuhnya bergetar.

"Musik..." katanya. "Aku sedang latihan. Gladi resik untuk pentas perpisahan gedung. Lalu... suara gemuruh. Langit-langit runtuh. Debu di mana-mana. Gelap. Dan sakit... sakit sekali di kaki."

​Laras menunduk melihat kakinya. Kaki yang indah itu kini tampak bengkok tidak wajar di bagian pergelangan.

Alya meringis ngeri, tapi dia berusaha tetap profesional.

​Seno datang membawa piring kecil.

Di atasnya tersaji dua buah Kue Apem putih yang merekah, disiram dengan Kuah Kinca (gula merah cair campur santan dan nangka).

​"Ma... kan," kata Seno dengan suara baritonnya yang serak.

​Laras menatap kue itu.

"Apem?"

​Seno mengangguk. Dia duduk di bangku di seberang Laras, sementara Gulo nangkring di bahunya sambil menjilati sisa kuah kinca di jari.

​"Apem... dari bahasa Arab... Afuan," jelas Seno perlahan, setiap kata butuh usaha. "Artinya... ampunan. Atau... memaafkan."

​Alya melanjutkan penjelasan itu (karena kasihan melihat Seno susah bicara). "Kata Pak Seno, kue ini simbol permohonan maaf. Mungkin Mbak Laras merasa bersalah sama seseorang? Atau Mbak perlu memaafkan diri sendiri sebelum bisa pergi dengan tenang?"

​Laras mengambil sendok. Dia memotong kue apem yang empuk itu.

Saat kue itu masuk ke mulutnya, rasa manis gula merah dan gurih santan meledak. Teksturnya yang lembut membelai lidah.

Rasa itu memicu memori yang lebih kuat.

​"Gedung Kesenian..." Laras tersentak. "Gedung Kesenian Cempaka di pinggir kota. Gedung itu mau digusur. Kami... kami menolak pergi. Kami bertahan di sana."

​Mata Laras terbelalak marah.

"Mereka janji tidak akan merobohkannya sebelum kami selesai pentas terakhir. Tapi mereka bohong! Mereka menghancurkan pilar utamanya saat kami masih di dalam!"

​Alya menutup mulutnya. "Itu pembunuhan..."

​"Bukan kecelakaan," desis Laras. Aura di sekitarnya berubah dingin. Gaun putihnya berubah sedikit kemerahan. "Ada orang jahat... orang yang menyuruh buldoser itu jalan. Orang yang membawa tongkat naga."

​Seno menegang mendengar kata "tongkat naga". Dia teringat bayangan yang dia rasakan sekilas tadi malam.

​"Selendangku..." Laras menangis lagi, tapi kali ini air matanya berwarna merah. "Selendang pusaka nenekku tertinggal di sana. Tertimbun reruntuhan. Aku tidak bisa pergi tanpa selendang itu. Itu... itu jiwaku."

​Laras menatap Alya dan Seno memohon.

"Tolong... ambilkan selendangku. Kalau tidak, aku akan menjadi arwah penasaran selamanya di sana. Aku akan menghantui tempat itu sampai kiamat."

​Alya menatap Seno. Ini dia. Misi pertama.

"Gimana, Pak? Kita ambil?"

​Seno tampak berpikir. Dia mengambil serbet, membersihkan meja.

"Berba... haya," kata Seno. "Gedung itu... sekarang dikuasai... mereka."

​"Mereka siapa?"

​"Manusia... serakah. Dan... pelindung gaib mereka."

​Alya mengepalkan tangan. Dia teringat ketidakadilan yang dia alami sendiri. Dan sekarang, ada hantu penari yang dibunuh demi proyek gusuran? Darah mudanya mendidih.

"Kita nggak bisa biarin, Pak. Kasian Mbak Laras. Lagipula, Bapak kan udah janji mau ngelayanin jiwa yang tersesat."

​Seno menatap mata Alya yang berapi-api. Dia melihat bayangan dirinya saat muda dulu.

Seno menghela napas, lalu tersenyum tipis.

Dia mengangguk.

​"Besok... malam," putus Seno.

​Laras bersujud terima kasih, lalu perlahan memudar, menyisakan piring kosong yang licin tandas.

​Keesokan siangnya.

​Alya tidak langsung ke rumah Joglo. Dia melakukan riset kecil-kecilan. Dia meminjam laptop di warnet (karena HP-nya masih dia matikan untuk menghindari teror ibunya).

​Dia mengetik: Gedung Kesenian Cempaka Runtuh.

​Berita muncul. Baru dua hari yang lalu.

TRAGEDI RUNTUHNYA GEDUNG TUA: 3 PENARI TEWAS TERTIMPA ATAP.

Berita itu menyebutkan penyebabnya adalah "kegagalan struktur bangunan karena usia tua". Tidak ada yang menyebut soal buldoser atau sabotase.

Di bagian bawah berita, tertulis nama pengembang yang akan membangun mal di lokasi itu: PT. Cakra Buana.

​"Cakra Buana..." gumam Alya. "Nama yang sok sakti."

​Saat Alya keluar dari warnet, dia merasa ada yang mengikutinya.

Dia menoleh. Jalanan ramai. Ada tukang bakso, anak sekolah, ibu-ibu belanja. Normal.

Tapi bulu kuduknya berdiri.

​Alya mempercepat langkah menuju halte Trans Jogja.

Saat dia duduk menunggu bus, seorang pria tua duduk di sebelahnya.

Pria itu berpakaian batik rapi, memakai kacamata hitam, dan memegang tongkat kayu dengan ukiran kepala naga.

​Jantung Alya berhenti berdetak.

Tongkat naga. Laras tadi bilang "orang yang membawa tongkat naga".

​Pria itu tidak menoleh ke Alya. Dia menatap lurus ke depan.

"Anak muda jaman sekarang," kata pria tua itu, suaranya serak dan berwibawa. "Suka sekali mencampuri urusan orang mati. Padahal urusan orang hidup saja belum becus."

​Alya kaku. Dia ingin lari, tapi kakinya seperti dipaku ke tanah.

​Pria itu mengetukkan tongkatnya ke lantai halte. TUK.

Seketika, suasana di sekitar halte berubah.

Suara bising kendaraan lenyap. Langit berubah menjadi merah darah. Orang-orang di sekitar halte menghilang.

Alya sendirian di dimensi lain bersama pria tua itu.

​"Si... siapa Anda?" tanya Alya gemetar, tangannya meraba saku celana (mencari garam, tapi dia lupa bawa).

​Pria itu tersenyum tipis.

"Panggil saja saya Mbah Suro. Konsultan spiritual PT. Cakra Buana."

​Mbah Suro menoleh, menurunkan kacamata hitamnya sedikit. Matanya... matanya normal. Tapi di dalam pupil matanya, Alya melihat bayangan ular yang menggeliat.

​"Sampaikan pada majikanmu, si Koki Bisu itu," kata Mbah Suro santai. "Warung kalian sudah selamat dari Penagih. Itu prestasi bagus. Jangan cari masalah baru dengan mengganggu proyek saya."

​"Gedung itu..." Alya memberanikan diri. "Bapak yang ngerobohin kan? Bapak ngebunuh Laras!"

​Mbah Suro tertawa. "Membunuh? Tidak. Saya hanya... membersihkan lahan. Tumbal diperlukan untuk fondasi yang kuat, Nduk. Tiga penari itu adalah paku bumi yang sempurna."

​Mbah Suro mendekatkan wajahnya.

"Dan kamu... kamu punya bakat. Sayang kalau mati muda. Jauhi gedung itu. Atau kamu akan jadi tumbal keempat."

​Mbah Suro menepuk bahu Alya pelan.

PLAK.

​Alya tersentak. Dia berkedip.

Dunia kembali normal.

Suara klakson mobil, teriakan kenek bus, panas matahari.

Di sebelahnya, bangku itu kosong. Tidak ada Mbah Suro.

Tapi bahu Alya terasa panas luar biasa, seperti ditempel setrika.

​Alya melihat bahunya. Di kain kaosnya, tercetak noda hitam berbentuk telapak tangan yang berasap tipis.

Santet Peringatan.

​Bus Trans Jogja datang.

Alya melompat masuk ke dalam bus dengan napas memburu. Dia tidak pulang ke rumahnya. Dia langsung menuju satu-satunya tempat aman: Rumah Joglo Seno.

​"PAK!" Alya mendobrak pintu dapur.

Seno sedang memotong sayuran dibantu Gulo (yang sedang mengupas wortel dengan giginya).

​Seno kaget. Dia melihat wajah Alya yang pucat dan noda tangan hitam di bahunya.

Seno menjatuhkan pisaunya. Dia segera menghampiri Alya.

​"Dia dateng, Pak," Alya menangis ketakutan. "Dukun itu... dia tahu kita mau ke sana. Dia nandain saya."

​Seno memeriksa noda hitam di bahu Alya. Dia menyentuhnya dengan jari telunjuk.

Cesss... Jari Seno melepuh sedikit. Energi jahatnya kuat.

​Seno marah.

Matanya yang biasanya tenang kini berkilat tajam.

Dia mengambil segenggam garam kasar, membacakan doa, lalu menggosokkannya ke bahu Alya.

"Aaaargh! Perih!" Alya menjerit.

​"Tahan," kata Seno tegas. "Ini racun... harus keluar."

​Seno menggosok sampai noda hitam itu luntur dan hilang, meninggalkan kulit merah yang lecet tapi bersih dari energi jahat.

​Seno mengambil papan tulisnya (karena suaranya masih sakit kalau dipakai bicara panjang lebar saat emosi).

​DIA MENANTANG PERANG. DIA PIKIR KITA AKAN MUNDUR.

​Seno menatap Alya.

KAMU TAKUT?

​Alya memegang bahunya yang perih. Dia ingat wajah arogan Mbah Suro. Dia ingat Laras yang menangis darah.

Rasa takut itu ada. Tapi rasa marahnya lebih besar.

​"Enggak," kata Alya. "Saya nggak takut. Kita ambil selendang itu, Pak. Kita bebasin Laras. Biar proyek sialan itu gagal."

​Seno tersenyum bangga.

Dia berjalan ke lemari pusaka di ruang tengah.

Dia tidak mengambil sutil.

Dia mengambil sebuah bungkusan panjang yang terbalut kain mori kuning.

​Dia membukanya di depan Alya.

Isinya adalah sebuah Tumbak (Tombak) pendek yang mata tombaknya berbentuk seperti daun sirih, dan gagangnya terbuat dari kayu stigi hitam.

Tumbak Kyai Plered. (Nama yang sama dengan kendinya, karena ini pasangannya).

Senjata untuk menghalau wabah dan ilmu hitam.

​"Nanti malam," kata Seno dengan suara beratnya. "Kita 'masak' di lapangan."

​Perang beralih.

Bukan lagi bertahan di dalam warung. Tapi menyerbu ke sarang musuh.

Warung Tengah Malam mode: Exorcist.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
ny.KimJeongLee
😭😭 ada bawangnyaa yg epesodeini 😭😭😭
ny.KimJeongLee
pokoknyaa keren deh
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
petualangan seru dan menegangkan
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
ny.KimJeongLee
IHH kerenn
ny.KimJeongLee
uwow kerenn
tanty rahayu: terima kasih kaka sudah mampir baca novel ku
total 1 replies
☠ SULLY
mungkin pak Seno
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
☠ SULLY
yg baca mulai deg degan
alya 😂
Fitri Yama
go Alya go Seno go go go go,,kalian pasti menang
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
3 hari penuh pelajaran berharga
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
ikutan master chef aja mas seno😂👍
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.

kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
tanty rahayu: aamiin .... alhamdulillah seneng nya jangan lupa di promosiin ya ka 😍
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
/Heart//Heart/ ceritanya unik, menarik /Good/
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
kalau jadi tontonan pasti seru ini,
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
tanty rahayu: siap ka... terima kasih banyak kaka 😍
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pak jaksa yg gak punyaa hidung 🙊🙊
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
malam malam kaca mata hitamnya gak dilepas oom /CoolGuy/
Fitri Yama
mantul thorrrr
Fitri Yama
kkkkkeeerrrreeennnnnnnnn
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
oh ada legenda kepala siapa gitu yang ditanam di tangga menuju makam raja raja imogiri.

adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR
takutnya pak seno ini juga hantu😁.
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.
tanty rahayu: cari tau di episode selanjut nya ka 🤭
total 1 replies
Yulia Lia
ceritanya bagus
tanty rahayu: terima kasih kaka sudah baca karya ku😊
total 1 replies
Yulia Lia
😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!