NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Langkah kaki Sava bergema di sepanjang koridor eksklusif lantai 40. Meskipun jantungnya masih berdegup kencang akibat konfrontasi panas di dalam lift tadi, wajahnya tetap menunjukkan ketenangan yang mematikan. Ia mendorong pintu ganda ruang kerjanya yang bernuansa modern-minimalis, diikuti oleh Winata dan Desi di belakangnya.

Sava langsung duduk di kursi kebesarannya, meletakkan tas tangannya dengan suara gedebuk yang cukup keras—satu-satunya tanda bahwa emosinya sedang tidak stabil.

"Selamat pagi, Miss Sava," sapa Desi dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Ia berdiri dengan sikap tegak, namun matanya sesekali melirik ke arah pintu keluar, seolah berharap bisa melihat sosok CEO rupawan yang baru saja tiba.

"Pagi. Langsung saja, Desi. Bacakan jadwal saya hari ini," perintah Sava dingin. Ia membuka MacBook-nya tanpa memandang Desi sedikit pun.

Desi berdeham, membuka tabletnya dengan cekatan. "Pukul sembilan pagi ini, Anda ada pertemuan dengan tim audit internal untuk membahas laporan triwulan. Pukul sebelas, makan siang bisnis dengan perwakilan dari Bank Global di Restoran Le Jardin. Kemudian pukul dua siang, ada peninjauan proyek pembangunan mall baru di kawasan Ring Road."

Sava mendengarkan dengan seksama, jemarinya mengetik cepat di atas keyboard. Profesionalisme adalah perisai terbaiknya.

"Ada lagi?"

"Pukul empat sore, Mr. Garvi meminta Anda untuk mendampinginya dalam rapat koordinasi dengan seluruh kepala divisi di ruang konferensi utama, Miss," tambah Desi. Ada binar aneh di mata sekretaris baru itu saat menyebut nama Garvi.

Sava terhenti sejenak. "Dampingi Mr. Garvi? Bukankah itu tugas asisten pribadinya, yaitu Roy?"

"Mr. Garvi secara khusus meminta kehadiran Anda sebagai COO, Miss. Beliau bilang ada beberapa poin operasional yang hanya Anda yang menguasai," jawab Desi patuh.

Sava menghela napas panjang, mencoba mengusir bayangan Garvi yang memojokkannya di lift tadi. "Baiklah. Kamu boleh keluar sekarang, Desi. Siapkan semua dokumen untuk tim audit."

"Baik, Miss. Permisi." Desi membungkuk hormat lalu melangkah keluar.

Begitu pintu tertutup, Winata yang sejak tadi diam langsung mendekat ke meja Sava. Ia melipat tangan di dada, menatap sahabatnya dengan tatapan menyelidik.

"Kamu baru saja membuat kehebohan besar di pagi buta, Alsava," bisik Winata. "Meninggalkan perhiasan seharga tiga puluh miliar di lantai lift? Kamu gila atau terlalu kaya?"

Sava tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Bukankah itu sudah biasa, Win? Dia melakukan kesalahan, lalu mencoba membeliku dengan barang mewah. Dia pikir hatiku ini bisa ditukar dengan sertifikat berlian."

"Tapi itu tiga puluh miliar, Va! Garvi membawanya jauh-jauh dari China khusus untukmu. Roy bercerita padaku tadi, Tuan Besar itu menghabiskan waktu dua jam di butik hanya untuk memilih desain yang menurutnya cocok untuk lehermu," Winata mencoba memberi sudut pandang lain, meski ia tahu Garvi bersalah.

Sava terkekeh sumbang. Ada nada luka yang menyayat di balik tawa singkat itu. "Kasihan? Kalau orang lain yang melihat, mungkin mereka akan menangis haru melihat betapa romantisnya suamiku. Tapi aku? Aku hanya melihat itu sebagai upeti. Dia membayar 'pajak' karena sudah tidur dengan wanita lain. Aku tidak butuh berliannya, Win. Aku bisa membeli toko perhiasannya sendiri jika aku mau."

Winata menghela napas, ia berjalan memutari meja dan menyentuh bahu Sava dengan lembut. "Aku tahu hatimu sakit. Tapi sampai kapan kamu mau begini? Kamu mulai terlihat seperti patung es yang tidak punya nyawa."

Sava mendongak, menatap Winata dengan mata yang berkaca-kaca namun tetap tegas.

"Aku sedang berusaha menyembuhkan lukaku, Win. Caranya adalah dengan berhenti peduli. Semakin aku mati rasa, semakin aku tidak akan merasa sakit saat dia membawa parfum wanita lain masuk ke rumah kami."

"Aku hanya berharap ada seseorang atau sesuatu yang bisa mencairkan es di hatimu tanpa harus menghancurkannya," doa Winata tulus.

Sava tersenyum, kali ini sedikit lebih tulus. "Aku juga berharap begitu, Win. Aku juga berharap begitu."

**

Dua jam kemudian, ketenangan di ruangan Sava kembali terusik. Melalui dinding kaca ruangannya yang tembus pandang secara satu arah, Sava bisa melihat Desi yang tadi sedang asyik mengetik, tiba-tiba berdiri dengan gugup saat pintu ruangan CEO yang berada di seberang aula terbuka.

Garvi Darwin keluar dari ruangannya. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan otot lengan yang kokoh. Pria itu tampak begitu karismatik sekaligus berbahaya.

Garvi tidak memandang ke arah ruangan Sava, namun ia tahu istrinya sedang memperhatikannya dari balik kaca. Ia sengaja berdiri di dekat meja Desi.

"Desi, masuk ke ruangan saya sekarang. Bawa catatanmu," suara Garvi terdengar bariton dan menggema, cukup keras untuk didengar oleh siapapun di sekitar sana.

Desi tampak sangat terkejut sekaligus senang. "B-baik, Mr. Garvi."

Sava yang melihat pemandangan itu dari mejanya hanya bisa mengeratkan genggamannya pada pulpen yang ia pegang. Ia tahu betul apa yang sedang dilakukan Garvi. Ini adalah permainan kecemburuan. Garvi sengaja memanggil sekretaris baru yang cantik ke ruangannya untuk memancing reaksi Sava, untuk melihat apakah "Nyonya Darwin" masih memiliki rasa cemburu.

Winata yang kebetulan sedang menyusun berkas di rak buku Sava ikut mengintip.

"Lihat itu. Benar-benar pria manipulatif. Dia tahu kamu sedang melihat, Va."

Sava membuang muka, kembali fokus pada layar laptopnya. "Biarkan saja. Dia ingin bermain api? Silakan. Aku sudah bertekad untuk tidak terjebak lagi dalam drama murahan seperti itu."

Namun, telinga Sava tetap tidak bisa berkompromi. Suara tawa pelan Desi terdengar dari dalam ruangan CEO yang pintunya sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Garvi sedang melakukan apa yang paling dikuasainya: mempesona wanita di depannya untuk menyakiti wanita yang dicintainya.

"Miss Sava? Anda baik-baik saja?" tanya Winata khawatir melihat buku jari Sava yang memutih.

"Aku sangat baik, Win. Tolong panggilkan sopirku. Setelah makan siang nanti, aku tidak akan kembali ke kantor. Aku akan langsung pulang ke mansion," ucap Sava dengan suara datar.

"Tapi rapat jam dua dan empat sore dengan Mr. Garvi, bagaimana?"

"Katakan padanya, COO sedang tidak enak badan. Biar dia ditemani oleh sekretaris barunya yang berbakat itu," balas Sava sinis.

**

Restoran Le Jardin, Medan. Pukul 11.00 WIB.

Siang itu, matahari Medan menyengat dengan beringas, namun di dalam Restoran Le Jardin, suasana terasa seperti musim semi yang abadi di Paris. Restoran ini adalah lambang kemewahan; dinding kaca tinggi yang menghadap ke taman vertikal yang rimbun, denting alat makan perak, dan aroma truffle yang bercampur dengan keharuman bunga mawar segar di setiap meja.

Sava melangkah masuk dengan langkah anggun. Setelah drama pagi tadi di kantor dan mansion, ia memutuskan untuk tetap profesional. Ia menggantikan kemejanya dengan sutra tipis berwarna putih tulang yang dipadukan dengan celana palazo hitam berpinggang tinggi. Sederhana, namun tetap memancarkan aura seorang COO yang berkelas.

"Meja atas nama Bank Global," ucap Sava singkat kepada hostess di depan.

"Mari, Miss Sava. Tamu Anda sudah menunggu di area VIP taman."

Sava berjalan menyusuri lantai marmer. Saat langkahnya mendekati meja nomor 12 di sudut taman, langkah Sava mendadak melambat. Jantungnya melewatkan satu detakan.

Seorang pria sedang duduk membelakanginya, namun bahu tegap dan cara pria itu menyesap kopinya terasa sangat familier. Ketika pria itu berbalik karena mendengar suara langkah kaki, Sava terpaku di tempatnya.

"Sava?" pria itu berdiri, sebuah senyuman hangat merekah di wajahnya yang maskulin namun jauh lebih lembut dibandingkan wajah tajam Garvi.

"Kak... Arkan?" suara Sava nyaris berbisik.

Arkan Wiratama. Laki-laki berusia 28 tahun itu kini tampak jauh lebih matang dengan setelan jas biru navy yang pas. Ia adalah mantan kekasih Sava saat SMA—sang Ketua OSIS yang dulu menjadi pelindung sekaligus cinta pertama Sava. Hubungan mereka berakhir secara damai saat Arkan harus melanjutkan kuliah ke Amerika, dan sejak itu, mereka kehilangan kontak.

"Aku tidak menyangka perwakilan dari Skyline Group adalah kamu. Maksudku... aku tahu nama pimpinan operasionalnya adalah Alsava Emily, tapi aku tidak berani berharap terlalu jauh kalau itu benar-benar kamu," Arkan terkekeh, suara tawanya masih semanis dulu, membuat ketegangan di bahu Sava perlahan luruh.

Sava akhirnya tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar mencapai matanya. "Dunia ini sempit sekali, Kak. Jadi, Kak Arkan sekarang di Bank Global?"

"Baru pindah ke cabang Medan sebulan lalu sebagai Director of Corporate Funding. Duduklah, Va. Kamu masih sama cantiknya, bahkan lebih mempesona dari terakhir kali aku melihatmu di podium kelulusan."

Sava duduk, merasa sedikit kikuk namun nyaman. "Kakak terlalu berlebihan. Kita di sini untuk urusan profesional, bukan?"

"Tentu," Arkan mengedipkan sebelah matanya, gestur yang dulu selalu membuat jantung Sava berdebar. "Tapi apa salahnya jika kita mencampur sedikit nostalgia dalam diskusi bisnis kita?"

**

Di Sisi Lain - Kantor Skyline Group.

Garvi Darwin sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Ia berdiri di depan jendela raksasa di ruangannya, menatap jalanan Medan dengan pandangan gelap. Di atas mejanya, sebuah laporan GPS menunjukkan bahwa mobil Sava berada di Restoran Le Jardin.

"Roy!" panggil Garvi dengan nada yang sanggup menggetarkan dinding kaca.

Roy masuk dengan cepat. "Ya, Tuan?"

"Siapa perwakilan Bank Global yang ditemui Miss Sava siang ini?"

Roy membuka tabletnya dengan gugup. "Namanya Arkan Wiratama, Tuan. Baru pindah dari New York. Berdasarkan data latar belakang..." Roy ragu sejenak, "...dia adalah senior sekaligus mantan kekasih Nyonya saat masa sekolah menengah."

BRAKK!

Garvi memukul meja kerjanya hingga vas bunga kristal di sana bergetar. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol. Posesifitasnya yang sudah mendarah daging mendidih seketika.

"Mantan kekasih? Dan dia menemuinya seorang diri?" desis Garvi. "Sava sengaja melakukan ini untuk menantangku."

"Tuan, ini adalah pertemuan bisnis resmi," Roy mencoba menenangkan.

"Aku tidak peduli! Siapkan mobil. Aku ingin makan siang di Le Jardin sekarang juga," perintah Garvi dengan tatapan predator.

Kembali ke Le Jardin.

Suasana di meja nomor 12 semakin hangat. Setelah membahas poin-poin krusial mengenai bunga pinjaman dan jangka waktu kredit, pembicaraan mereka beralih ke ranah pribadi.

"Jadi, bagaimana kabarmu, Va? Terakhir aku dengar kamu menghilang setelah lulus dari London. Apakah... ada pria beruntung yang sudah memilikimu?" tanya Arkan hati-hati, matanya menatap lekat ke arah jari manis Sava yang kosong—Sava memang sengaja tidak memakai cincin kawinnya hari ini sebagai bentuk protes pada Garvi.

Sava terdiam sejenak. Ia teringat statusnya sebagai istri rahasia seorang pria manipulatif.

"Hidupku... cukup rumit, Kak. Tapi untuk sekarang, aku hanya ingin fokus pada karirku di SL Group."

"Kamu selalu menjadi wanita yang ambisius, Sava. Itu yang membuatku kagum padamu sejak dulu," Arkan mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Sava sebentar di atas meja.

"Jika suatu saat kerumitan itu butuh tempat untuk berbagi, aku masih orang yang sama yang dulu sering mendengarkan keluh kesahmu di kantin sekolah."

Sava tertawa kecil. "Terima kasih, Kak Arkan. Kamu tidak berubah, selalu tahu cara membuat orang lain merasa dihargai."

Tepat saat itu, suasana restoran yang tenang mendadak berubah menjadi tegang. Kehadiran seseorang di pintu masuk membuat para pelayan bergerak panik dan tamu-tamu lain berbisik-bisik.

Sava menoleh, dan jantungnya serasa berhenti berdetak.

Garvi Darwin melangkah masuk dengan gaya seorang penguasa. Jasnya disampirkan di bahu, kacamata hitamnya dilepas dengan satu gerakan angkuh. Matanya langsung mengunci keberadaan Sava dan Arkan di sudut taman.

"Mr. Garvi?" gumam Sava, suaranya tercekat. Ia buru-buru menarik tangannya dari jangkauan Arkan.

Garvi berjalan mendekat, setiap langkahnya memancarkan ancaman. Roy mengikuti di belakang dengan wajah pucat.

"Selamat siang, Miss Sava," ucap Garvi dengan suara yang terdengar seperti madu namun beracun. Ia berdiri tepat di samping meja mereka, menatap Arkan dengan tatapan yang seolah ingin menguliti pria itu hidup-hidup.

Arkan berdiri, menunjukkan sikap profesionalnya. "Selamat siang. Anda pasti Mr. Garvi Darwin, CEO Skyline Group. Saya Arkan Wiratama dari Bank Global."

Garvi tidak membalas jabat tangan Arkan. Ia justru menarik kursi di sebelah Sava dan duduk tanpa diundang. Ia melingkarkan lengannya di sandaran kursi Sava, sebuah gestur yang sangat posesif dan intim di depan umum.

"Bank Global, ya? Aku tidak tahu kalau mereka mengirimkan direktur mudanya hanya untuk makan siang yang... tampak begitu pribadi ini," ucap Garvi sambil menatap Sava dengan tajam.

"Kami sedang membahas pendanaan proyek Ring Road, Mr. Garvi," sahut Sava, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski hatinya bergejolak. "Dan ini adalah pertemuan bisnis yang dijadwalkan secara resmi."

"Bisnis?" Garvi terkekeh sinis, tangannya kini beralih menyentuh helai rambut brunette Sava, merapikannya ke belakang telinga dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat agar Arkan melihatnya.

"Tapi sepertinya kalian lebih banyak tertawa daripada bicara angka. Apakah saya melewatkan sesuatu yang lucu?"

Arkan, yang mulai merasakan ketegangan yang tidak biasa, mencoba menengahi. "Kami hanya sedikit bernostalgia sebagai teman lama, Mr. Garvi. Saya dan Sava adalah rekan lama di masa sekolah."

Mendengar kata 'Sava' keluar dari mulut Arkan, emosi Garvi meledak di balik topeng tenangnya. Hanya dia yang boleh memanggil istrinya dengan nama panggilan kecil jika dalam konteks pribadi, meski di kantor dia memanggilnya Miss Sava.

"Teman lama?" Garvi menyeringai, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Sava, berbisik namun cukup keras untuk didengar Arkan. "Miss Sava, sepertinya kamu lupa memberitahu rekanmu ini bahwa kamu sangat sibuk. Dan bahwa ada seseorang di rumah yang selalu menunggu laporanmu... secara mendalam."

Wajah Sava memerah karena malu dan marah. Garvi sedang menandai wilayahnya dengan cara yang paling memuakkan.

"Mr. Garvi, urusan kita di sini sudah selesai. Kak Arkan, aku rasa dokumennya bisa kita finalisasi besok di kantor," ucap Sava sambil berdiri dengan terburu-buru.

"Kak Arkan?" Garvi ikut berdiri, rahangnya mengeras. "Panggilan yang sangat manis untuk sebuah hubungan profesional."

Sava tidak mempedulikan sindiran Garvi. Ia menatap Arkan dengan tatapan meminta maaf. "Maaf atas gangguan ini, Kak. Kita bicara lagi nanti."

"Tidak perlu nanti," sela Garvi cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Sava, tidak cukup kuat untuk menyakiti, namun cukup tegas untuk menunjukkan kendali. "Miss Sava harus kembali ke kantor denganku. Ada rapat mendadak yang jauh lebih penting daripada... nostalgia ini."

Tanpa menunggu jawaban, Garvi menarik Sava pergi dari restoran. Arkan berdiri terpaku, menatap punggung mereka dengan penuh tanda tanya. Ia bisa melihat ada sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan atasan dan bawahan di antara keduanya. Ada api, ada luka, dan ada rantai yang mengikat mereka.

***

1
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
Murnia Nia
lanjut thor aku kirim vote ni untuk karyamu
Umi Kolifah
buat gavi menyesal Thor , ave pergi sejauh mungkin
Desi Santiani
menarikk alurnya semangat thor
merry
cinta tp menlukai psagann y,,
Nda
selalu mampir thor
Nda
ditunggu double up-nya thor 😍
Nda
ditunggu kelanjutanya thor,ceritanya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!