"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Dongeng Pengantar Tidur (Versi CEO)
"Ini laporan keuangan kuartal tiga yang Bapak minta harus selesai besok pagi jam delapan teng. Jadi, tolong kerja samanya, Pak. Saya butuh fokus."
Hara meletakkan tumpukan dokumen setebal bantal di meja makan Zona Kuning, lalu menatap suaminya dengan tatapan mematikan. Matanya yang dihiasi lingkaran hitam itu mengirim sinyal bahaya: Ganggu aku, nyawamu melayang.
Cayvion yang sedang santai menyesap espresso malamnya tersedak pelan. Dia melirik jam dinding. Pukul sembilan malam.
"Kamu menyuruhku... apa?" tanya Cayvion, alis tebalnya terangkat satu.
"Menidurkan anak-anak," jawab Hara tegas tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop yang baru saja dia buka. "Biasanya saya yang bacakan dongeng. Tapi karena Bos saya yang kejam memberi tugas mendadak di luar jam kerja, jadi Bos saya itu harus menggantikan tugas saya sebagai ibu. Adil, kan?"
Cayvion mendengus. "Aku CEO, Hara. Bukan baby sitter."
"Dan saya Asisten Pribadi merangkap Istri yang sedang lembur. Bapak mau laporan ini selesai atau tidak? Kalau Bapak nggak mau bantu, silahkan kerjakan sendiri laporannya. Saya mau tidur sama Elia."
Ancaman itu telak. Cayvion benci mengerjakan detail laporan keuangan yang njelimet. Itu keahlian Hara.
"Baik," Cayvion berdiri dengan gaya dramatis, meletakkan cangkir kopinya. Dia melonggarkan dasi, seolah bersiap masuk ke medan perang. "Menidurkan dua bocah. Seberapa susah sih? Paling cuma butuh manajemen waktu lima belas menit."
Dia berjalan menuju kamar anak-anak dengan langkah percaya diri. Hara hanya menggeleng pelan, bergumam, "Semoga beruntung," lalu mulai mengetik dengan kecepatan cahaya.
Di dalam kamar tidur bernuansa pastel itu, Elio dan Elia sudah siap di atas kasur. Mereka memakai piyama kembar—Elio gambar robot, Elia gambar beruang.
"Papa mau ngapain?" tanya Elio curiga saat melihat ayahnya masuk dan duduk canggung di kursi kecil di samping ranjang.
"Mami sibuk cari uang. Papa yang ambil alih shift malam," jawab Cayvion singkat. Dia melihat tumpukan buku cerita warna-warni di nakas. "Oke, pilih satu. Papa bacakan, terus kalian tidur. Jangan banyak tanya, jangan minta minum, jangan pipis. Mengerti?"
Elia langsung menyambar buku paling tebal dengan sampul glitter pink menyilaukan.
"Cinderella!" seru Elia semangat, menyodorkan buku itu ke muka Cayvion. "Baca yang ini, Pa! Elia suka banget sama sepatu kacanya!"
Cayvion menerima buku itu dengan dua jari, menatap sampulnya dengan skeptis. "Cinderella? Kisah tentang wanita yang kehilangan sepatu lalu dinikahi pangeran? Terdengar tidak higienis."
"Baca aja, Pa!" Elio mendesak, sudah memeluk guling. "Biar Elia cepat diam dan kita bisa tidur."
Cayvion membuka halaman pertama. Dia berdehem, mengatur suaranya agar terdengar berwibawa—seperti sedang memimpin Rapat Umum Pemegang Saham.
"Pada suatu hari, hiduplah seorang gadis cantik bernama Cinderella. Dia tinggal bersama ibu tiri dan dua kakak tirinya yang jahat. Mereka menyuruh Cinderella menyapu, mengepel, dan memasak setiap hari tanpa dibayar..."
Cayvion berhenti membaca. Keningnya berkerut dalam.
"Tunggu sebentar," gumam Cayvion, jiwa pebisnisnya terusik. "Ini tidak masuk akal."
"Apanya yang nggak masuk akal, Pa?" tanya Elia polos. "Kan kasihan Cinderella disuruh kerja terus."
"Bukan itu poinnya, Elia," Cayvion menutup buku itu sedikit, menatap putrinya serius. "Kamu harus paham konteks makronya. Ibu tirinya ini bukan jahat, dia cuma realistis. Coba pikir, suaminya meninggal, dia janda, tidak punya penghasilan tetap, tapi harus menanggung biaya hidup tiga anak gadis yang sedang masa pertumbuhan. Itu beban operasional yang sangat tinggi."
Elia mengerjap bingung. "Ha?"
"Cinderella itu aset tak berbayar," lanjut Cayvion berapi-api, mulai lupa kalau dia sedang mendongeng. "Memberdayakan Cinderella untuk urusan domestik itu sebenarnya langkah efisiensi pengeluaran. Kalau ibu tirinya menyewa pembantu, cashflow keluarga mereka akan minus dan bangkrut. Jadi sebenarnya, ibu tirinya itu manajer krisis yang handal."
Mata Elia mulai berkaca-kaca. "Ta-tapi Pa... Ibu tiri kan galak..."
"Itu namanya ketegasan dalam manajemen SDM, Elia," potong Cayvion. "Lanjut ya."
Dia membuka halaman berikutnya. Bagian pesta dansa.
"Ibu Peri datang dan mengubah labu menjadi kereta kencana, dan tikus menjadi kuda..."
"Ini penipuan publik," komentar Cayvion lagi, menggeleng kecewa. "Memalsukan aset. Tikus diubah jadi kuda? Itu ilegal. Kalau Pangeran tahu dia naik kereta hasil rekayasa genetik tikus got, Cinderella bisa kena pasal berlapis."
Elio, yang tadinya mengantuk, kini bangun dan duduk tegak. Matanya berbinar tertarik. "Benar juga, Pa. Itu namanya fraud. Mami pernah bilang istilah itu. Cinderella memalsukan status sosialnya buat masuk ke pesta elit kan, Pa. Dia penipu ulung. Aku sering nonton film kayak gitu."
"Tepat, Elio!" Cayvion menunjuk putranya bangga. "Akhirnya ada yang nyambung. Lanjut ke bagian klimaks."
Halaman sepatu kaca.
"Teng tong! Jam dua belas berdentang. Cinderella lari terburu-buru dan sepatunya terlepas sebelah. Pangeran memungut sepatu itu dan bersumpah akan menikahi gadis yang kakinya muat di sepatu itu."
Cayvion membanting buku itu pelan ke paha.
"Konyol. Bodoh. Pangeran macam apa ini?" gerutu Cayvion frustrasi.
"Kenapa bodoh, Pa? Kan romantis?" cicit Elia, air matanya sudah mau tumpah karena dongeng favoritnya diprotes habis-habisan.
"Romantis apanya? Ini strategi rekrutmen istri yang paling tidak efisien dalam sejarah!" Cayvion mulai menceramahi Elia layaknya menceramahi manajer HRD.
"Dengar, Elia. Pangeran itu calon Raja. Dia butuh Ratu yang kompeten. Masa standarnya cuma ukuran kaki? Kamu tahu berapa banyak wanita di kerajaan itu yang ukuran kakinya nomor 37? Ribuan! Apa Pangeran mau menikahi sembarang orang cuma gara-gara kakinya muat?"
"Harusnya gimana, Pa?" tanya Elio antusias.
"Tes DNA! Atau minimal sidik jari!" seru Cayvion gemas. "Sepatu itu kan bekas keringat Cinderella. Pasti ada jejak DNA-nya. Bawa ke lab forensik, cari datanya di catatan sipil kerajaan. Selesai dalam 24 jam. Ngapain keliling rumah penduduk satu-satu nyobain sepatu ke kaki bau orang lain? Itu buang-buang anggaran negara!"
Elia meledak.
"HUWAAAAAA!"
Tangisan Elia pecah, keras dan melengking.
"Papa jahat! Cinderella bukan penipuuuu! Pangeran nggak mau cek DNA kayak polisi! Pangeran itu cinta sama Cinderella!" Elia melempar boneka beruangnya ke wajah Cayvion. "Dongengnya jadi sereeem! Nggak mau dengar lagi!"
Cayvion kaget, menangkap boneka itu dengan refleks. "Lho? Kok nangis? Papa kan mengajarkan logika biar kamu nggak gampang dibohongi laki-laki modal sepatu kaca doang!"
"Analisis Papa valid," sambung Cayvion sambil mengangguk-angguk dewasa. "Pangerannya bucin nggak logis. Investasi emosi ke wanita yang baru ketemu semalam itu high risk. Harusnya dia cek bibit bebet bobot dulu."
"HUWAAAA! MAMI! PAPA NGERUSAK CINDERELLA!"
Pintu kamar terbuka dengan bantingan keras.
BRAK!
Hara berdiri di ambang pintu, napasnya memburu. Matanya melotot melihat Elia yang menangis histeris sampai sesenggukan, dan Elio yang sedang mengangguk-angguk setuju dengan wajah serius.
"Ada apa ini?!" teriak Hara. Dia langsung lari memeluk Elia. "Kenapa Elia nangis? Bapak apakan anak saya?!"
"Saya cuma membacakan dongeng," bela Cayvion, mengangkat kedua tangannya tanda tak bersalah. "Saya memberikan perspektif bisnis supaya mereka tumbuh cerdas. Pangeran di cerita itu idiot, Hara. Masa cari istri modal sepatu? Saya cuma bilang harusnya dia pakai tes DNA."
Hara menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. Mulutnya terbuka sedikit.
"Bapak..." suara Hara bergetar menahan emosi. "Bapak menganalisis Cinderella pakai ilmu manajemen risiko?"
"Itu edukasi dini," sahut Cayvion defensif. "Elio saja setuju."
"Iya Mi, Pangerannya bego," tambah Elio.
Hara memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu menyambar bantal bergambar Spongebob dari kasur Elio.
Tanpa aba-aba, dia melemparkan bantal itu sekuat tenaga ke wajah tampan CEO Alger Corp.
PLAK!
Bantal itu mendarat telak di muka Cayvion, membuatnya terhuyung ke belakang hampir jatuh dari kursi kecil itu.
"KELUAR!" bentak Hara sambil menunjuk pintu. "Keluar sekarang juga! Bapak merusak masa kecil anak saya! Cinderella itu soal keajaiban, bukan soal audit keuangan! Keluar sebelum saya lempar laptop Bapak ke jendela!"
Cayvion menyingkirkan bantal dari wajahnya, rambutnya jadi berantakan. "Tapi Hara, logikanya—"
"KELUAR!"
Cayvion buru-buru berdiri dan mundur teratur. Dia tahu kapan harus memotong kerugian (cut loss) sebelum saham nyawanya anjlok.
"Oke, oke, saya keluar. Jangan lupa selesaikan laporan itu," gumam Cayvion sambil menyelinap keluar pintu.
Begitu pintu tertutup, Cayvion bersandar di dinding koridor, menghela napas panjang. Dia masih bisa mendengar suara Hara di dalam sedang membujuk Elia.
"Sshh... Papa ngawur itu. Pangerannya nggak bawa polisi kok. Pangerannya baik..."
Cayvion menggelengkan kepala, lalu tersenyum tipis. Aneh. Padahal dia baru saja dilempar bantal dan diusir, tapi kenapa rasanya... hangat? Rumah ini, dengan segala teriakannya, terasa lebih hidup daripada sebelumnya.
"Tapi tetap saja," gumamnya pada diri sendiri saat berjalan kembali ke ruang kerjanya. "Pangeran itu bodoh. Siapa yang percaya sepatu kaca buat lari? Itu pasti lecet."
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri