Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Mobil melaju kencang, membelah jalanan pagi yang masih berembun. Beberapa kendaraan lain mulai terlihat di kejauhan, tapi suasana jalan tetap terasa sepi dan dingin.
Karina duduk bersandar ke kaca, menatap keluar dengan pandangan kosong. Pikirannya kembali ke rumah besar Fuller, ke malam-malam panjang yang menjadi mimpi buruk untuknya, ke malam-malam yang yang ia nikmati dan juga ingin ia lupakan. Tangannya otomatis mengusap perutnya, memikirkan kemungkinan yang paling menakutkan: ia benar-benar hamil.
Hamil anak Hugo…? pikirnya. Itu bukan kabar baik sama sekali. Bagaimana jika anak yang akan ia lahirkan nanti juga menjadi seorang monster, seperti Hugo? Rasa sakit itu begitu menekan. Tapi di sisi lain, Karina tahu, ia tidak ingin membunuhnya. Melakukan perbuatan terlarang dengan Hugo sudah merupakan dosa besar, jika ia membunuh anak itu, dosanya akan menjadi lebih besar lagi.
“Ada apa?”
“Hah?” Karina tersentak kaget, menoleh ke samping. Damon menatapnya dengan pandangan dalam, mungkin juga sedikit penasaran.
“Apa yang kamu pikirkan? Kenapa wajahmu terlihat jelek sekali?” Damon memperjelas pertanyaannya, nada suaranya tenang tapi menuntut jawaban.
Karina melotot. “Jelek? Tentu saja sekarang wajahku jelek! Aku baru saja menghabiskan malam yang melelahkan, apa kamu tidak mengerti?” jawabnya sambil cemberut.
“Jangan tersinggung, kamu tahu maksudku,” Damon menambahkan, tetap menatapnya serius.
Karina terdiam sejenak. Tentu saja ia tahu maksud pertanyaan itu. Ia hanya… tidak ingin menjawab, jadi memilih mengalihkan perhatian dengan pura-pura tersinggung.
Terdengar helaan napas Damon sebelum ia berkata lagi. “Kamu tidak perlu menjawab jika tidak mau. Aku bisa menebak apa yang sedang kamu pikirkan.”
“Apa?” Karina menoleh, penasaran.
“Pikiranmu kacau karena anak dalam kandunganmu,” ucap Damon singkat, tajam, tepat sasaran.
Karina menatapnya curiga. Jangan-jangan pria ini… bisa membaca pikirannya lagi. Gemetar sedikit, ia menempel lebih erat ke kaca mobil, mencoba menjaga jarak.
“Darimana kamu tahu aku sedang hamil?” Tanya Karina lagi.
Damon meraih tirai pembatas antara kursi depan dan kursi belakang, lalu menariknya rapat, seolah tak ingin sopir itu mendengar sepatah kata pun dari percakapan mereka.
“Mual dan muntah darah,” ucap Damon tenang. “Itu tanda paling umum ketika seseorang hamil anak Demon Silence.” Ia lalu membuka sedikit kaca mobil di sampingnya, membiarkan udara pagi yang dingin masuk. “Setelah itu, tubuhmu akan menjadi lemah, cepat lelah, dan sulit pulih.”
“Kamu tahu banyak,” kata Karina perlahan, sorot matanya menajam. “Kamu pasti bagian dari para Demon Silence itu. Bahkan namamu saja… Damon.”
Citttttt!
Belum sempat Damon menjawab, mobil berhenti mendadak. Gesekan keras antara ban dan aspal membuat tubuh Karina terdorong ke depan sebelum sabuk pengaman menahannya.
“Ada apa?” tanya Damon cepat sambil menyibak tirai.
“Seseorang berdiri di tengah jalan,” jawab sang sopir, suaranya panik.
Karina dan Damon serempak menatap ke depan. Seketika tubuh Karina merinding, napasnya tercekat.
Hugo berdiri di sana bersama Sam. Mata Hugo merah menyala, rahangnya mengeras, jelas menandakan amarah yang tak lagi disembunyikan.
"Cepat juga mereka tahu, sepertinya waktunya sudah semakin dekat." gumam Damon yang tidak di mengerti oleh Karina sama sekali.
“B–bagaimana ini…?” suara Karina bergetar.
Belum sempat ada jawaban, seseorang muncul dari belakang Hugo. Kate. Tangannya mencengkeram Ranra dengan kasar, melinting lehernya seperti membawa anak kucing yang tak berdaya.
Mereka melangkah mendekat ke mobil. Hugo berhenti tepat di sisi jendela tempat Karina duduk, lalu mengetuknya dengan keras.
TAK! TAK! TAK!
“KELUAR!” Suara Hugo dingin dan memerintah, tangannya kembali menggedor kaca.
Karina refleks menjauh, tubuhnya menempel ke sisi Damon. “Apa yang harus kita lakukan?” bisiknya panik.
Entah sadar atau hanya refleks, Damon mengusap pelan bahu Karina, sentuhannya stabil dan menenangkan. “Tunggu di sini. Aku yang keluar.”
Ia membuka sabuk pengamannya dan hendak keluar.
“Damon…” Karina menahan pergelangan tangannya. “Kita pergi saja. Mereka berbahaya.”
“Tunggu di sini,” ulang Damon singkat, tanpa menoleh.
Pintu tertutup di belakangnya, meninggalkan Karina sendirian di dalam mobil dengan jantung yang berdegup liar dan rasa takut yang mencekik dadanya semakin kuat.
“Keluarkan istriku,” ujar Hugo dingin, setiap katanya terdengar seperti perintah yang tak menerima bantahan.
Damon berdiri santai di hadapannya. Postur mereka hampir sejajar, tinggi badan dan garis wajahnya pun nyaris sama, terlalu mirip untuk dianggap kebetulan. Dari timur, matahari mulai memancarkan cahaya pertamanya, menyinari rambut abu-abu Damon hingga tampak berkilau pucat. Kedua tangannya terselip di saku celana, sikapnya tenang, seolah intimidasi Hugo tak berarti apa-apa baginya.
“Dia bukan istrimu,” balas Damon datar. “Lepaskan Ranra, lalu kalian pergi. Itu tawaranku. Jika tidak, maka apa yang terjadi padanya hari ini akan membuat posisi kalian semakin sulit."
Hugo terkekeh pelan, tawa dingin tanpa humor. Ia melirik Kate, memberi isyarat singkat. Tanpa ragu, Kate mendorong Ranra dengan kasar ke arahnya. Tubuh wanita itu hampir terjatuh sebelum Hugo menangkapnya, bukan untuk menolong, melainkan untuk mencengkram lehernya.
“Serahkan Karina,” ucap Hugo rendah dan mematikan. “Aku bebaskan pengkhianat ini.” Ia berhenti sejenak, senyum bengis terukir di wajahnya, jari-jarinya menguat. “Atau… aku bunuh dia di depan matamu.”
Ranra menggeleng cepat, nafasnya tersengal. “P–pergi, Damon. Bawa Karin pergi, aku mohon. Jangan pedulikan aku.”
Dari dalam mobil, Karina menyaksikan semuanya dengan dada terasa diremas. Pemandangan itu menimbulkan rasa sakit yang aneh, bukan hanya takut, tapi juga bersalah. Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri karena begitu banyak kenangan yang hilang. Jika ia tidak lupa, mungkin ia akan tahu alasan Ranra rela berkorban sejauh ini. Mungkin ia akan mengerti apa hubungannya dengan mereka semua… dan mengapa dirinya menjadi pusat dari segala kekacauan ini.
“Hugo! Lepaskan dia!” Tak sanggup lagi melihat Ranra menahan sakit, Karina keluar dari mobil dan berlari menghampiri mereka.
“Tentu, sayang. Tapi kamu harus ikut denganku. Ayo, kita pulang.” Hugo menyunggingkan senyum tipis ke arah Karina. Cengkeramannya di leher Ranra sedikit mengendur, meski belum sepenuhnya melepaskan.
“Pergi, Karin. Jangan pedulikan aku.” Ranra menatap Karina dengan penuh keyakinan. Ia memaksakan diri untuk berdiri tegak, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang jelas menyiksa tubuhnya. Namun Karina tahu, itu pasti sangat menyakitkan. Jejak garis kemerahan membekas jelas di leher Ranra, bahkan di beberapa bagian tampak darah merembes keluar.
Karina mengepalkan tangannya. Ia hendak maju, ingin menarik Ranra menjauh dari pria mengerikan itu. Namun Damon lebih dulu bergerak, menahan Karina sebelum ia sempat melangkah.
“Kita pergi.” Damon akhirnya bersuara, tanpa mengalihkan pandangannya dari Ranra.
Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk menyelamatkan Ranra. Namun Damon tahu betul apa yang paling diinginkan wanita itu. Bukan keselamatannya, melainkan kebebasan untuk Karina.
Damon yakin ia bisa berkelahi dengan Hugo. Bahkan mungkin menang. Tetapi resikonya terlalu besar. Karina bisa saja diseret pergi oleh salah satu dari mereka. Jika Karina kembali jatuh ke tangan mereka, maka semua pengorbanan Ranra akan menjadi sia-sia.
“Damon, ayo kita selamatkan Ranra,” suara Karina bergetar, matanya berkaca-kaca.
Damon menggeleng pelan. Ia menarik tangan Karina, membawanya kembali ke arah mobil. Namun langkah mereka terhenti ketika Sam berdiri menghadang di depan mereka.
Sam bergerak lebih dulu.
Tinju pria itu melayang ke arah wajah Damon tanpa peringatan. Damon reflek menangkis, mundur setengah langkah sebelum membalas dengan pukulan ke rahang Sam. Benturan keras terdengar, membuat Sam terhuyung, namun pria itu segera bangkit dan menyerang lagi.
Damon tak memberi kesempatan.
Ia menangkap pergelangan tangan Sam, memutar tubuhnya, lalu menghantamkan siku ke dada lawannya. Sam terengah, nafasnya tersendat, tetapi masih berusaha melawan. Keduanya terjatuh ke tanah, bergulat di atas aspal dingin.
Sam mencoba meraih senjata di pinggangnya.
Damon menyadarinya lebih dulu.
Dengan satu gerakan cepat, ia menghantamkan kepala Sam ke tanah. Sekali. Dua kali. Hingga tubuh Sam akhirnya melemah dan terdiam, hanya tersisa napas berat yang tak lagi teratur.
Damon berdiri, dadanya naik turun.
“Masuk mobil. Sekarang.”
Karina tak perlu disuruh dua kali. Ia berlari ke kursi penumpang, tangannya gemetar saat membuka pintu. Damon masuk ke kursi pengemudi, meminta si supir pindah ke belakang dan segera menyalakan mesin.
Namun sebelum mobil melaju,
KRAK.
Suara itu terdengar jelas, dan cukup keras di pagi yang sunyi.
Karina menoleh.
Hugo berdiri di dibelakang mereka, satu tangan mencengkram kepala Ranra. Mata Ranra terbuka lebar. Kosong. Tubuhnya terkulai begitu saja saat Hugo melepaskannya, jatuh ke tanah tanpa nyawa.
Karina menjerit.
“Ranra!!!”
Damon menginjak pedal gas.
Mobil melesat pergi, meninggalkan debu dan pemandangan mengerikan di belakang mereka.
Namun Hugo tersenyum.
Ia menoleh ke arah mobil yang menjauh, lalu berjalan menuju kendaraan lain yang terparkir tak jauh dari sana. Gerakannya tenang, seolah apa yang baru saja ia lakukan hanyalah urusan sepele.
“Hugo, bagaimana dengan Sam?” Kate buru-buru menyusul sembari bertanya.
“Biarkan saja. Kalau dia mati, seseorang akan menemukannya.”
Mesin mobil Hugo menyala.
Lampu depan menyala terang.
Dan tak lama kemudian, suara mesin itu menggema, mengejar mobil yang membawa Karina dari belakang.
...***...
...Like, komen dan vote ...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor