NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Disembunyikan Suamiku

Rahasia Yang Disembunyikan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Beda Usia / Selingkuh / Cintamanis / Cinta Terlarang
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.

"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)

Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.

"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)

Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?

Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batin Ini Sudah Terlalu Dalam Kamu Sakiti.

Malam turun tanpa suara. Lampu kamar menyala redup.

Koper terbuka di atas ranjang.  Jemari Nadira bergerak cepat, memasukkan sisa barangnya yang tertinggal.

Tak pernah terbayang didalam hidupnya, bahwa bertahan dalam pernikahan ini akan berakhir seperti ini.

“Kamu mau ke mana?”

Suara itu membuat bahunya menegang. Tanpa menoleh, resleting tas ditarik kuat.

“Kemana lagi kalau bukan pergi? Lagian ini bukan rumahku. Tapi rumah kamu.”

Sunyi menggantung beberapa detik.

“Gak perlu pergi. Biar aku saja. Rumah ini sebagai gantinya karena sudah membuat waktumu sia-sia.”

Tawa tipis keluar dari bibir Nadira. Hambar.

“Menempati rumah bekas kamu dan Wisnu bercinta?” Kepala akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, dingin. “Yang benar saja? Aku gak kekurangan uang buat beli rumah baru.”

Tas digenggam erat. Langkah bersiap menuju pintu.

“Sudah malam. Besok saja perginya.”

Kalimat itu menahannya sesaat. Pandangan bergeser ke jendela. Gelap pekat di luar sana. Jalanan pasti sudah sepi. Kendaraan umum tak lagi beroperasi.

Napasnya keluar pelan. “Kalau gitu pergi dari kamarku, Mas.”

Ada jeda. Lalu suara langkah menjauh. Pintu tertutup pelan.

Hening.

Tubuh Nadira limbung dan jatuh terduduk di tepi ranjang. Beberapa detik kemudian, punggungnya menyentuh kasur. Pandangan menatap langit-langit kamar.

Tak ada tangis. Tak ada isak.

Hanya napas yang naik turun tak beraturan.

“Bisa-bisanya aku gak menyadari,” gumamnya.

Kelopak matanya perlahan memberat. Gelap datang pelan, menelan pandangan yang masih kosong menatap langit kamar.

...

Sementara Ardian, langkahnya berhenti di lorong, bahunya turun naik. Telapak tangan meraup wajah kasar, napasnya berat.

Ruangan terasa sempit.

Getaran kecil dari saku celana membuat ia langsung merogoh saku celananya. Ponsel ditarik keluar. Layar menyala.

Wisnu.

“Apa semua baik-baik saja?”

Rahangnya mengeras. Jemari yang memegang ponsel perlahan menegang. Beberapa detik berlalu tanpa balasan.

Baik-baik saja?

Apa keadaan seperti ini bisa di bilang baik-baik saja?

Tatapan Ardian kosong. Ingatannya kembali pada wajah Nadira, nada suaranya dan juga bagaimana wanita itu berbicara.

Pandangannya kembali menatap ponsel, jempolnya bergerak, lalu berhenti di atas layar. Tak satu huruf pun diketik. Ponsel kembali digenggam erat. Bukan untuk membalas.

Langkahnya kembali berjalan, berat.

...

Pagi datang pelan, menyelinap lewat celah tirai.

Udara masih dingin. Aroma nasi hangat dan telur yang baru diangkat dari wajan bercampur samar dengan wangi kopi yang mengepul pelan.

Tak ada lagi suara langkah tergesa. Tak ada percakapan ringan seperti pagi-pagi sebelumnya.

Hanya bunyi piring diletakkan di meja makan.

Sarapan terakhir.

Kursi bergeser pelan saat Ardian duduk. Nadira menghentikan tangannya yang hampir menyuapi sendok ke mulutnya. Tatapan lurus ke depan, bukan ke wajah pria itu.

“Maaf sekali lagi.”

Kalimat itu terdengar lirih.

Wajah Nadira tak berubah.

“Gak perlu,” jawabnya datar. “Sekarang yang perlu, cepat tanda tangani dan serahkan ke pengadilan agar bisa secepatnya bercerai.”

Ardian mengangguk pelan. “Akan aku serahkan. Tenang saja.”

Nadira menarik napas pelan, lalu menghembuskan perlahan. Pandangannya menyapu meja makan yang selama lima tahun menjadi saksi pagi-pagi mereka.

“Jika aku bisa berubah... Apa kamu masih mau memberikanku kesempatan?”

Nadira terdiam, ia menatap Ardian. “Enggak ada kesempatan, Mas. Satu kali, dua kali, dan seterusnya. Karena batin ini sudah terlalu dalam kamu sakiti.”

Jemarinya mengepal di sisi tubuh. Luka yang dulu disembunyikan rapi kini membekas, dan tak bisa dihapus hanya dengan kata maaf.

Hening.

Nadira meletakkan sendok diatas piring, hingga menimbulkan suara nyaring.

“Aku sudah selesai. Jangan lupa di bereskan.”

Kursi didorong pelan. Ia meraih tasnya. Langkahnya ringan saat menjauh dari meja. Tanpa menoleh. Tanpa ragu.

Ardian masih duduk di kursi makan. Tatapannya menatap punggung itu yang perlahan menjauh dari pandangan. Hingga sendok tergeletak di samping piring yang belum habis. Nafsu makan hilang begitu saja. Telapak tangan mengusap wajahnya kasar, napasnya berat.

Tak pernah terpikir, rahasia yang disimpan rapat selama ini ternyata sudah lama diketahui.

Kursi didorong mundur. Langkahnya cepat menuju garasi.

...

Beberapa saat kemudian, mobil berhenti di halaman perusahaan. Gedung tinggi itu berdiri seperti biasa, megah dan kaku. Namun pagi ini terasa berbeda.

Begitu langkahnya memasuki lobi.

Namun suara-suara itu langsung menyusup ke telinga.

“Lihat, nyangka gak kalian semua?”

“Ih, padahal dulu pernah menghayal punya suami seperti Pak Ardian. Sayangnya malah suka yang sesama jenis.”

Rahang Ardian mengeras. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak mendengar. Padahal setiap kata menusuk jelas.

Pintu lift terbuka. Beberapa karyawan berdiri di dalam. Hening saat ia masuk. Tatapan-tatapan itu berubah aneh. Ada yang menunduk pura-pura fokus pada ponsel. Ada yang berbisik pelan.

....

Begitu sampai di lantai atas, langkahnya langsung menuju ruang kerja. Pintu dibuka tanpa mengetuk.

Lalu berhenti.

Seorang pria asing duduk santai di kursi kebesarannya. Kursi yang selama ini menjadi simbol kuasa.

“Siapa kamu?” suara Ardian rendah, tertahan.

Pria itu tersenyum tipis. “Eh, Kakak ipar, masa lupa?”

Dada Ardian naik turun. “Kamu—”

“Papah mertua yang suruh aku gantiin posisi Mas.” potong pria tersebut. “Setelah lihat saham anjlok gara-gara berita. Dan juga…” pria itu berdiri, merapikan jasnya, “Mas harus pergi dari keluarga dan perusahaan ini. Itu kata Papah.”

Tangan Ardian mengepal. Urat di pelipisnya menegang. Keputusan sebesar itu diambil tanpa satu pun pembicaraan dengannya.

Tak ada kata yang keluar. Tubuhnya berbalik kaku dan melangkah keluar dari ruangan.

Di lorong, langkahnya terhenti.

“Mas Ardian.”

Suara itu membuat bahunya menegang. Kepala menoleh.

“Wisnu?”

Pria itu berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya bingung. “Mas, ini kenapa? Kok semua orang pada ngeliatin aku?”

Ardian menarik napas panjang. Kepalanya terasa penuh.

“Lebih baik kamu pulang dulu. Pasti wartawan lagi mengincar kita.”

“Eh—”

“Cepetan.” Potong Ardian. “Jangan banyak tanya.”

Nada suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan.

Wisnu terdiam sesaat, lalu mengangguk dan berjalan cepat menjauh. Langkahnya terburu-buru.

Lorong kembali sunyi.

Ardian berdiri sendiri. Pandangannya kosong ke depan.

“Kenapa jadi seperti ini?” gumamnya pelan.

Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.

...

Pintu rumah orang tuanya terbuka lebar saat Ardian masuk tanpa salam.

“Pah! Papah!”

Suara langkah tergesa memenuhi ruang tamu yang luas itu.

“Ada apa? Kenapa kamu berteriak begitu?”

Ardian menoleh cepat. Napasnya masih berat. “Di mana Papah?”

“Kenapa? Kenapa mencariku?”

Suara berat itu datang dari arah ruang kerja. Pak Marlan keluar dengan wajah kaku. Tatapannya tajam, tak lagi seperti seorang ayah yang menyambut anaknya.

Ardian melangkah mendekat. Jarak di antara mereka menyempit, tapi terasa makin jauh.

“Pah, kenapa Papah gak diskusikan ini sama aku?”

“Mau gimana lagi?” suara Pak Marlan meninggi. “Karena berita tentang kamu yang menjijikkan itu? Saham perusahaan anjlok. Papah harus minta ipar kamu ambil alih.”

Kata menjijikkan itu menghantam tepat di dada.

“Pah, kan bisa tutup beritanya. Kenapa mesti—”

“Berita sudah tersebar!” sela Pak Marlan. “Omongan tentang kamu ada di mana-mana. Jadinya percuma.”

Ardian terdiam. Rahangnya mengeras. Jari-jarinya perlahan mengepal di sisi tubuh.

“Jadi mau gak mau kamu harus terima,” lanjut Pak Marlan, suaranya lebih dingin dari sebelumnya. “Dan untuk menutupinya, kamu harus pergi dari rumah ini. Pindah ke luar negeri. Bantu Gama urus perusahaan di sana.”

Pergi.

Kata itu berdengung di kepalanya.

Ia menelan ludah. Bukan karena tak mampu, tapi karena keputusan itu diambil tanpa ruang untuknya bicara.

“Baiklah,” akhirnya keluar juga suara itu, rendah dan tertahan. “Aku akan pergi ke luar negeri. Setelah persidangan ku dengan Nadira resmi.”

“Gak malu apa kamu?” Pak Marlan mendengus. “Diceraikan istrimu sendiri. Apa sih yang enak dari pria itu?”

Setiap kalimat seperti cambuk yang tak berhenti.

“Mas… sudahlah,” suara Bu Wani mencoba meredam, namun terdengar lemah.

“Inilah didikan kamu,” tunjuk Pak Marlan ke arah istrinya. “Kamu selalu menghina Nadira. Lihat sekarang hasilnya. Hinaan malah jadi karma buat keluarga ini.”

1
new user
D tunggu next up
new user
D tungg next up thor
putmelyana
lanjut Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!