Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.
Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.
Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.
Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.
Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?
****
Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Jiwa yang Lain
...⚠️ WARNING!!!⚠️...
...PART INI DAPAT MEMBUAT KALIAN MUAL, PUSING, KEHILANGAN NAFSU MAKAN DAN BADMOOD. HINDARI MEMBACA BAGIAN INI SAMBIL MAKAN....
...HAPPY READING, GUYS❤️...
...****...
Waktu yang dibutuhkan dari tempat prostitusi ialah 30 menit, Zahra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beberapa waktu lalu, Revan kembali mengirimkan pesan jika markas diserang.
Markas itu ada di pinggiran kota, dekat dengan hutan dan sungai. Zahra membangunnya di situ untuk kelancaran misinya dan jauh dari kebisingan. Suara kota yang bising tentu akan menggangu konsentrasi anggotanya, ia tidak mau itu terjadi.
Walaupun markas yang didirikannya itu berada di pinggiran kota, tapi tidak menutup kemungkinan markas itu berdiri dengan megahnya. Zahra sendiri yang merancang bangunan tersebut, bangunan itu berdiri layaknya istana. Tanpa orang ketahui dunia kegelapan bersembunyi di balik megahnya markas.
Mobilnya datang bersamaan dengan mobil Revan, sebelum turun ia mengenakan topeng kebesarannya. Penting untuknya menjaga identitas. Identitasnya banyak yang mengincar, itu akan berpengaruh untuk keselamatannya dan keluarga.
Zahra memakai outfit kaus hitam lengan pendek dan legging hitam yang dipadukan dengan sneaker hitam putih. Rambutnya membentuk gelungan, memperlihatkan beberapa kissmark yang keunguan.
Revan terkejut melihat keadaan Zahra, ia berpikir kekasihnya yang melakukan itu. Pria itu mengidikkan bahu, tidak pantas jika ia mempertanyakan privasi orang.
Saat Zahra turun, yang pertama dilihat ialah halaman markasnya yang berantakan dan beberapa anggota musuh yang terkapar tak berdaya di halamannya. Tak sedikit juga darah yang keluar dari beberapa bagian tubuh mereka. Zahra menatap mereka dengan seringai.
"Bagus juga kerjanya, ga sia-sia gue ngelatih mereka," ucap Revan saat berdiri di samping Zahra.
"Yukk, masuk!"
Mereka melangkahkan kaki menuju halaman utama yang dijaga oleh dua anggota Black Devil. Begitulah mereka menyebut gangster yang ber-leader gadis cantik buah cinta Deron dan Zaskia. Dibalik sikap manja dan keras kepala gadis itu tersembunyi jiwa iblis yang meraung-raung.
Memang tak banyak yang tahu identitas asli dari leader Black Devil tersebut, tapi kehadiran Zahra begitu disegani di dunia bawah. Orang-orang mengenalnya dengan Queen of the Devil, Zahra menganggap semua itu berlebihan. Tapi ia juga tak bisa menolak karna itu fakta. Keganasan dalam bertarung dan mempertahankan keadilan begitu tersohor hingga membuat gangster lain menyegani mereka.
Gangster yang terbentuk satu tahun lalu bukan hanya berdiri atas dasar dendam, tetapi juga kebaikan yang ingin ia tebar.
"Mereka sedang bertarung di dalam, Nona," kata seorang penjaga yang berdiri di samping pintu masuk. Dalam yang dimaksud ialah ruang eksekusi di markas BD.
Zahra melarang penjaga untuk tidak ikut bertarung, toh yang lain masih banyak. Gadis itu menganggukkan kepalanya.
Begitu masuk ia dihadapan oleh anak buahnya yang menyerang musuhnya. Zahra nampak tak asing dengan orang itu.
"Hentikan!" katanya tegas dengan aura kepemimpinan yang kentara.
"Keluar!" Ia mempersilakan semua anak buahnya dan meninggalkan tiga orang di dalamnya. Musuhnya itu, Revan dan dirinya.
Oh, tentu Revan tidak ikut melawan. Pria itu telah mempersiapkan daging bakar untuk menemani menonton pertarung live di depannya.
Zahra dan orang itu berputar-putar dan saling memandang sinis.
"Hey, Nona. Sudah siap menemui ajalmu, ya?" ejeknya pada Zahra.
"Oh, tentu. Tapi setelah kau." Zahra menyeringai ketika musuhnya menyerangnya duluan. Musuhnya cemen sekali, ia menggunakan pisau lipat sedangkan dirinya tidak membawa apa-apa. Meskipun membawa, ia tidak akan mengeluarkan benda itu.
Orang itu menyerang Zahra dengan membabi buta, bahkan pisaunya sempat menggores lengan Zahra. Revan sempat berdiri akan mengambil alih pertarungan, tapi kode dari Zahra menghentikannya.
Zahra menendang perut orang itu hingga tubuhnya terpental menabrak dinding ruangan, ia berjalan mendekatinya dan menarik kerah bajunya. "Sorry, kau bermain dengan orang yang salah," ucap Zahra berbisik.
Orang itu mengeluarkan pisau dari balik tangannya dengan napas yang memburu. Zahra yang menangkap gerakan kecil tersebut lantas menarik tangan orang itu dan menghempaskannya keras. Bersamaan dengan orang itu yang terhuyung kemudian telentang di bawah Zahra.
Zahra menduduki pinggulnya, ia mengambil pisau yang masih tergenggam erat di tangan musuhnya. Lalu menuntun tangan orang itu untuk menusuk perutnya sendiri. Zahra menusuk-nusuk perut orang itu dan mengobok-obok isi perutnya hingga orang itu merintih kesakitan.
Sepercik dua percik darah mengenainya, tapi Zahra tetap melanjutkan aktivitasnya.
"Ahhh, hen-hentikannn. Gu-ggue bisa mati," rintih orang itu.
Zahra menusuk perut itu semakin dalam dan mengarahkan pisau itu ke atas menuju dadanya.
"Ahhh, bunuh gue, jangan kayak gini. Lo nyiksa gue, Anj*ng!" ucapnya tertatih menahan sakit, tapi Zahra tetap dengar apa yang dilakukannya.
"Mau banget mati, padahal mati tu ga enak. Emang amal lo udah cukup, main mati-mati aja." Zahra melepaskan pisau yang menancap dengan mencabutnya perlahan-lahan, meninggalkan rasa sakit yang teramat sangat. Ia beralih ke pipi orang itu, menyayat pipi itu dengan perlahan.
Zahra membuka topeng yang masih bertengger di wajah orang yang membuat kacau markasnya.
Geraldy, seorang mantan karyawannya yang ia pecat secara tidak hormat, karena telah mengirimkan beberapa laporan palsu ke pemegang saham di perusahaannya.
Rupa-rupanya ia tahu bahwa Zahra ialah leader Black Devil, tapi kenapa ia malah bermain api? Zahra tak menyangka bahwa mantan karyawannya ini seorang leader dari gangster yang mengincar kedudukannya.
"Kangen sama bos lo yang cantik ini, ya?" Zahra membuka topengnya sambil menyeringai, ia mengisap kuat pipi Geraldy.
"Pliss bunuh gue, jangan kayak gini ...."
Zahra tak mengindahkannya, ia terus bermain dengan pipi orang itu sampai-sampai darahnya muncrat ke tangannya. Zahra menjilatinya dengan senang.
Setelah puas bermain, akhirnya ia melepaskan cekalannya pada telinga Geral. Ahhh, telinga itu memerah.
"Cihh, lemah. Orang kek lo kok bisa sih jadi leader, heran gue!" Zahra berbisik.
Beberapa saat kemudian Revan mendengar suara seperti tulang yang patah, tak lama sebuah kepala menggelinding ke arahnya. Zahra menyeringai, menatap Revan dengan wajah iblisnya.
Revan kelu, kakinya tak dapat digerakkan. Matanya bergantian menatap kepala dan tubuh yang sudah terpisah itu.
Bukannya ia takut, tapi biasanya dirinyalah yang melakukan itu. Tapi kenapa Zahra melakukannya kali ini? Zahra hanya akan menikam mangsa, tidak membunuhnya.
Gadis itu berjalan ke arah Revan setelah membuang goloknya. Golok yang diambil dari punggungnya. Ya, dia menyembunyikan senjatanya di sana. Pakaian yang dipakainya mengandung magnet, sehingga golok itu dapat menempel di punggungnya tanpa tergoncang sedikit pun.
Bola coklat itu berubah menjadi hitam pekat, kekehan keluar dari mulutnya. Revan berusaha menahan degup jantungnya, ini kedua kalinya Zahra membunuh seseorang. Tampang yang sama seperti setengah tahun lalu. Ada yang tidak beres dengan gadis ini.
Zahra mengulurkan tangan menyentuh pipi di depannya, darah yang menempel di telapak tangannya juga perlahan mewarnai pipi Revan.
Tangan yang membunuh Geraldy begitu dingin kala menyentuh pipi Revan Adhitama. Ia merasakannya, merasakan kegelisahan yang dialami pemilik tangan.
"Jangan lupa mayatnya dikasih Leon, kepalanya terserah mau kalian apakan!"
Dia pergi, meninggalkan Revan yang terpaku. Suaranya berat seperti menahan sesuatu, dia hilang bersamaan dengan harum mawar yang bercampur oleh bau anyirnya darah.
Revan tersadar, segera berlari keluar dari ruang eksekusi. Ia berlari ke gerbang utama, mencari keberadaan mobil yang dikendarai Zahra. Terlambat, mobil itu sudah pergi.
Ia memejamkan mata. Saat Zahra datang, ia melihat pipi Zahra yang merah dan lengan yang berbalut perban. Cara jalannya yang agak terbungkuk seperti menahan berat tubuhnya.
Revan masuk kembali ke dalam. "Lio!"
Seseorang dengan rambut maskulin itu berjalan mendekati Revan.
"Kasih mayatnya ke Leon!" perintah Revan.
"Siap, Bos." Lio pergi, memanggul mayat Geraldy di pundaknya. Darahnya yang masih basah menghiasi ubin yang berwarna putih itu.
Revan duduk, mengatur napas sejenak. Menikmati AC di ruang santai markas. Ruangan yang sering digunakan saat berkumpul itu fungsinya sama seperti ruang keluarga, ada sofa besar membentuk lingkaran dengan total panjang 30 meter. Dilengkapi dengan televisi, PSP beserta CD-nya dan proyektor.
Biasanya setelah terjadi serangan seperti ini, Zahra akan berpesta dengan anggotanya—sekedar makan-makan dan minum. Sekarang mereka tanpa komando Zahra hanya membersihkan sisa kekacauan, mungkin tak akan berpesta jika leader mereka pergi.
Revan memanggil beberapa dari mereka. "Kalian, cari Zahra! Susur semua wilayah di Jakarta dan sekitar. Kalau ketemu cukup kabari gue sama pantau Zahra diam-diam. Kalian tau kan kalau Zahra itu nekatan? Jadi gue ga mau ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi."
Setelah mempersilahkan mereka pergi, Revan juga mengambil kunci mobilnya—segera melesat mencari Zahra. Revan tau persis Zahra seperti apa, selain nekat, gadis itu juga akan bersembunyi di tempat tak terduga, makannya ia menyuruh bawahannya untuk menyusuri seluruh Jakarta.
****
Oke, di sini aku bawain sesuatu buat kalian.
Trailer dari cerita ini, AGB atau Adek Gue BAD udah rilis dari beberapa bulan lalu.
**Oke, jika kalian ingin melihat trailer x kalian bisa cari dengan menulis di pencarian, seperti contoh di gambar. Atau kalian bisa datang ke Chanel YouTube 'Fatimah Zaira'
Semoga kalian yg nonton suka sama trailer x, boleh kasih masukan or saran... biar kalau aku mau buat trailer untuk cerita lain bisa lbih bagus lagi.
Terimakasih yg sudah membaca dan mendedikasikan waktunya untuk sekedar singgah di cerita ini dan menonton trailer—aku ucapkan terimakasih banyak-banyak untuk kalian semua.
Aku sayang kalian ❤️
Semoga suka🥰**