"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke-dua puluh dua
Wajah Alendra berubah pucat pasi. Tangannya yang memegang lembaran kertas hasil laboratorium itu gemetar hebat. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris, mencari celah bahwa ini semua mungkin hanya mimpi buruk, namun angka 0% dari hasil tes DNA di sana menghantam jantungnya seperti palu bogem.
" bagaimana kak?" tanya Adriansyah yang berada di belakang Alendra, namun Alendra tetap diam, wajahnya masih terlihat syok.
Suasana ruang tengah yang megah itu mendadak senyap, hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti bom waktu.
"Alen... berikan kertas itu pada Mama, Nak. Jangan percaya... itu pasti palsu! Kakekmu sengaja memfitnah Mama!" teriak Monica dengan suara melengking yang pecah. Ia mencoba menerjang, namun Alendra justru mundur selangkah, menatap ibunya dengan tatapan yang belum pernah dilihat siapa pun, tatapan penuh kekecewaan.
"Palsu, Ma?" suara Alendra serak, hampir habis. "Kertas yang ada di tangan Kakek mungkin Mama bilang palsu. Tapi bagaimana dengan hasil tes yang aku bawa sendiri dari laboratorium berbeda? Aku mengambil sampel rambut Raisa dan rambut Papa secara diam-diam karena aku curiga... dan hasilnya sama, Ma!"
Alendra melempar map di tangannya ke lantai marmer. Kertas-kertas itu berhamburan di kaki Raisa.
Raisa bersimpuh, tangannya yang gemetar mengambil satu lembar kertas. Ia membacanya dengan napas yang tersengal. "Tidak... tidak mungkin.. hiks. Papa... Kak Alen... ini bohong, kan? Aku anak Papa, kan... hiks?!" Raisa merangkak mendekati kaki Afkar, menangis histeris hingga suaranya serak. "Pa, katakan sesuatu! Aku anak Papa! Aku darah daging Suhadi. Hiks hiks hiks....!"
Afkar memalingkan wajah. Pria itu menutup matanya rapat-rapat, bahunya berguncang. Keheningan Afkar adalah jawaban paling menyakitkan bagi Raisa.
"Kau bukan cucuku, Raisa," suara Kakek Suhadi terdengar dingin dan tanpa ampun. "Sembilan belas tahun aku membiarkanmu tinggal di sini, memberimu fasilitas mewah, hanya karena aku ingin menjaga nama baik putraku yang bodoh ini. Tapi ketika kau dan ibumu mulai menginjak-injak Najwa, satu-satunya cucu perempuan kandungku, maka kesabaranku habis..dan puncaknya tadi saat Monica menyuruh cucuku untuk pergi dari sini."
Kakek Suhadi menatap Monica dengan mata berkilat. "Kau keguguran sembilan belas tahun lalu, Monica.
"kau membawa Raisa yang tergeletak di depan rumah dan menganggapnya sebagai putri kandung mu"
Najwa berdiri terpaku di sudut ruangan. Air matanya mengalir deras, bukan karena menangis untuk dirinya sendiri, tapi karena melihat kehancuran di depan matanya. Ia melihat Raisa yang meraung-raung di lantai, kehilangan identitasnya dalam sekejap.
"Cukup, Kek... cukup," bisik Najwa lirih, suaranya bergetar.
"Belum cukup, Najwa!" bentak Kakek Suhadi. "Dunia harus tahu siapa yang benar dan siapa yang penipu!"
Alendra tiba-tiba tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Ia menatap Monica. "Selama ini... aku membela Raisa mati-matian. Aku menjauhi Najwa karena aku pikir Najwa adalah pengganggu di keluarga kita. Ternyata... orang yang aku bela adalah orang yang tidak punya hubungan darah denganku, dan orang yang aku sakiti adalah adik kandungku sendiri."
Alendra berjalan perlahan mendekati Najwa. Di depan adik kandungnya itu, Alendra jatuh berlutut. Ia menundukkan kepala sedalam-dalamnya. "Maafkan aku, Najwa... Maafkan Kakakmu yang buta ini. Aku telah menyakiti darah dagingku sendiri demi seorang penipu."
"Kak Alen, bangun Kak..." Najwa mencoba menarik bahu Alendra, namun Alendra tetap bersimpuh, bahunya terguncang hebat karena tangis penyesalan yang pecah.
Akhirnya Najwa ikut bersimpuh lalu memeluk kakaknya.
"sudah kak, Najwa tidak benci kakak, Najwa sudah memaafkan semuanya "ucapnya lembut.
Adriansyah mengikuti apa yang dilakukan kakaknya. Ia memeluk adiknya dan meminta maaf.
"aku juga minta maaf Najwa...,aku sudah sempat membencimu " ucap Adriansyah merasa bersalah.
Di lantai, Raisa menatap kosong ke arah mereka. Ia merasa seperti sampah yang dibuang ke tempat pembuangan. Identitasnya hilang, harga dirinya hancur, dan kakak yang selalu memujanya kini bersimpuh di kaki musuhnya.
"Mama... kenapa Mama lakukan ini?" suara Raisa lemah, menatap Monica dengan tatapan kosong. "Kenapa Mama membuatku menjadi orang asing di rumah ini hiks hiks hiks?"
Monica hanya bisa terduduk lemas di sofa, menutupi wajahnya dengan tangan, meratapi istana pasir yang ia bangun selama belasan tahun kini rata dengan tanah dalam satu malam.
Kakek Suhadi mengangkat tongkatnya, menunjuk ke arah pintu besar. "Monica, Raisa... malam ini juga, kemasi barang kalian. Aku tidak akan membiarkan benalu tinggal lebih lama di rumah ini. Afkar, jika kau ingin ikut dengan mereka, silakan lepaskan namamu dari keluarga Suhadi!"
Afkar tersentak, ia menatap ayahnya, lalu menatap Najwa yang berdiri dengan sisa-sisa ketegaran. Ia menyadari bahwa demi sebuah kebohongan, ia telah kehilangan segalanya, kehormatan, integritas, dan cinta tulus dari Maryam serta Najwa.
Monica menatap Afkar dengan tatapan memohon. "Mas Afkar juga setuju, kan? Kita sepakat untuk mengadopsinya, !", ayo mas , katakan pada ayah agar membiarkan kami tetap disini, bagaimanapun juga, kami sudah ada disini belasan tahun lamanya.".
"ayah , bukankah ayah juga dulu setuju saat aku menemukan Raisa di dalam kardus yang berada di depan rumah, dan menganggapnya sebagai putri kandung ku" tuntut Monica yang tidak mau di usir.
Kakek Suhadi memejamkan mata, memegang tongkatnya dengan kepalan tangan yang memutih. "Dan kau mendidik bayi yang kau temukan itu untuk menjadi serigala yang menggigit cucu kandungku? Kau membiarkannya merasa begitu tinggi hingga dia berani menghina darah dagingku sendiri, kau memanjakan nya dan memberikan duniamu untuk nya sehingga dia memiliki sifat jahat seperti itu, aku sudah tahu semuanya, bahkan saat itu kau akan merusak pesta Najwa dengan menyabotase gaunnya?!"
Deg...
Monica tersentak, ia tidak menyangka kalau ayah mertuanya itu tahu apa yang ia rencanakan.
" itu...itu..." ucap Monica.
"Diam.... jangan kau fikir aku tidak tahu, dinding di rumah ini punya telinga, aku tahu semuanya, " bentak kakek Suhadi.
Raisa, yang masih bersimpuh di lantai marmer yang dingin, merasa dunianya gelap. Jadi, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya bayi dalam kardus yang ditemukan di depan gerbang. Semua kemewahan, status "putri mahkota", dan kesombongan yang ia banggakan selama ini hanyalah pinjaman yang kini ditarik paksa.
Raisa menyela perkataan orang dewasa"Ja...di aku... aku anak buangan?" bisik Raisa. Suaranya terdengar sangat kecil dan hancur. "Aku yang menghina Najwa sebagai anak selingkuhan... ternyata aku bahkan tidak tahu siapa orang tuaku sendiri.. hiks hiks hiks?"
Raisa tertawa histeris, tawa yang kemudian berubah menjadi raungan pilu yang memenuhi ruang tamu megah itu. Ia menatap tangannya, menatap pakaian mahalnya, lalu menatap Najwa dengan tatapan hampa.
"Najwa... kau menang," ucap Raisa lirih di tengah tangisnya. "Kau punya darah itu. Kau punya bukti itu. Sedangkan aku? Aku tidak punya apa-apa. Bahkan namaku pun bukan milikku."
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong