NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:372
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

Hannan tertegun. Hatinya teriris mendengar kenyataan pahit yang dialami gadis di depannya. Di bawah lampu jalan yang mulai menyala, Hannan membuat sebuah janji dalam hatinya.

"Jangan takut, Amara. Selama ada kami di sini, insya Allah, pria itu tidak akan bisa menyentuhmu lagi. Mari, ikutlah bersama kami. Kami akan membawa Anda ke tempat yang lebih aman."

Malam itu, di tengah gemerlapnya California, takdir Hannan dan Amara terikat lebih kuat. Bukan lagi sekadar pertemuan karena kecerobohan, tapi sebuah misi untuk melindungi sebuah nyawa.

Hannan terdiam sejenak, melihat keraguan yang sangat besar di mata Amara. Gadis itu masih gemetar, tangannya meremas ujung dress pink yang kini sedikit kotor terkena debu aspal.

"Tapi Nan, saya... anu itu..." Amara menggantung kalimatnya. Ia menunduk dalam, air matanya jatuh menetes ke jalanan. "Saya bukan wanita baik-baik di mata orang seperti Anda. Saya melarikan diri, saya tidak punya siapa-siapa, dan sekarang saya malah merepotkan Anda yang seorang ustadz. Saya takut... keberadaan saya justru jadi fitnah buat Anda."

Hannan menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menoleh ke arah Gus Malik yang mengangguk pelan seolah memberi dukungan moral.

"Amara," panggil Hannan dengan suara rendah namun sangat menenangkan. "Dalam agama saya, menolong sesama yang sedang dizalimi bukan soal siapa orang yang ditolong, tapi soal kemanusiaan. Allah mengirim saya dan Gus Malik ke pantai ini sore ini pasti ada alasannya."

Hannan melanjutkan dengan nada yang lebih tegas namun tetap santun, "Jangan pikirkan soal fitnah atau apa pun itu sekarang. Yang utama adalah keselamatan Anda. Papa tiri Anda bisa saja kembali kapan saja."

Gus Malik ikut menimpali untuk mencairkan suasana. "Betul, Amara. Kalau kamu khawatir soal tinggal dengan kami yang laki-laki semua, tenang saja. Kami punya kenalan keluarga Indonesia di dekat sini, pasangan suami istri yang sudah sepuh dan sangat baik. Kamu bisa tinggal di sana untuk sementara waktu."

Amara mendongak, menatap Hannan dengan tatapan tidak percaya. "Kenapa... kenapa Anda begitu baik?"

Hannan tersenyum tipis, kali ini senyumnya sedikit lebih lebar namun tetap menjaga wibawanya.

"Karena setiap manusia berhak atas rasa aman, Amara. Dan kebetulan, hari ini tugas itu jatuh ke tangan saya."

"Ayo," ajak Hannan sambil memberi isyarat agar Amara mengikuti mereka menuju mobil. "Kita pergi dari sini sebelum hari benar-benar gelap."

Amara menghapus air matanya dengan punggung tangan. Perasaan hangat yang asing mulai menyusup ke hatinya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama hidup dalam ketakutan, ia merasa benar-benar dilindungi.

Lanjutan cerita:

Sesampainya di mobil, suasana masih terasa canggung. Hannan menyetir dengan fokus, sementara Amara duduk di kursi belakang bersama pikirannya yang kalut.

"Hannan," panggil Amara pelan dari kursi belakang.

"Iya?" sahut Hannan lewat kaca spion tengah.

"Terima kasih... untuk semuanya. Saya tidak tahu harus membalas apa."

Gus Malik yang duduk di samping Hannan langsung menyambar sambil bercanda, "Doakan saja Hannan cepat selesai kuliahnya, Amara. Biar dia tidak pusing lagi dengan disertasi dan bisa fokus cari... eh, fokus dakwah maksudnya."

Hannan hanya menggelengkan kepala mendengar candaan sahabatnya itu, sementara Amara akhirnya bisa tertawa kecil untuk pertama kalinya sore itu.

Amara menatap punggung Hannan yang hendak melangkah menuju tempat wudhu. Sebelum Hannan menjauh, Amara memanggilnya sekali lagi dengan suara yang sedikit bergetar karena haru.

"Hannan..."

Hannan menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit, namun tetap menjaga pandangannya agar tidak menatap Amara terlalu tajam.

"Terima kasih... Terima kasih banyak untuk semuanya. Untuk bantuanmu, untuk tidak menghakimiku, dan untuk tempat aman ini," ucap Amara tulus. Matanya yang indah tampak berkaca-kaca, memancarkan rasa syukur yang mendalam.

Hannan terdiam sejenak. Ia bisa merasakan beban berat yang selama ini dipikul gadis itu mulai terangkat sedikit demi sedikit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!