NovelToon NovelToon
Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Gadis Culun Itu "Pacar" Ketua Geng Motor

Status: tamat
Genre:Misteri / Bad Boy / Romansa / Tamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Bayang-Bayang di Balik Kabut

Jakarta menyambut Devan dengan hawa panas yang menyesakkan dan deru klakson yang memekakkan telinga, sangat kontras dengan kedamaian pegunungan yang baru saja ia tinggalkan. Devan berdiri di atas gedung tua yang terbengkalai, menatap ke arah sebuah kelab malam mewah milik Marco di pusat kota. Di bawah sana, kehidupan malam yang busuk sedang berdenyut, dan di suatu tempat di dalam gedung itu, Clara dan Marco sedang menyusun rencana untuk menghancurkan apa yang tersisa dari Black Roses.

"Bos, tim pengintai bilang Marco tidak pernah lepas dari koper hitam itu. Kami yakin dokumen asli dan kunci brankas ada di sana," bisik Baron yang berdiri di samping Devan.

Devan tidak mengenakan jaket kulit, namun aura kepemimpinannya kembali secara alami. Matanya yang tajam mengamati setiap pergerakan penjaga di pintu masuk. "Aku tidak ingin ada pertumpahan darah yang tidak perlu, Baron. Kita masuk, ambil apa yang menjadi milik kita, dan hancurkan bukti palsu yang mereka buat. Setelah itu, aku ingin segera pulang."

"Siap, Bos. Anak-anak sudah siap di posisi masing-masing."

Namun, di saat Devan sedang menyusun strategi penyusupan, pikirannya terus melayang kembali ke rumah kayu di lereng bukit. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Firasat seorang calon ayah dan mantan pemimpin geng motor jarang sekali meleset.

Di Lereng Bukit Bandung...

Kabut sore itu turun lebih cepat dan lebih tebal dari biasanya. Lia duduk di kursi goyang di teras, mencoba merajut sepasang sepatu bayi kecil sambil sesekali mengusap perutnya yang mulai terasa berat. Lima orang anggota Black Roses pilihan Baron berjaga dengan waspada di sekitar pagar rumah. Mereka tampak seperti warga biasa, namun tangan mereka selalu siap di balik jaket.

Tiba-tiba, suara kicauan burung di hutan belakang rumah berhenti serentak. Kesunyian yang tidak alami menyelimuti tempat itu.

"Nona Lia, silakan masuk ke dalam dan kunci pintunya," instruksi salah satu penjaga bernama Andi. Ia merasakan ada pergerakan di balik semak-semak pinus.

Lia berdiri dengan susah payah, jantungnya berdegup kencang. "Ada apa, Andi?"

"Cepat, Nona!"

Belum sempat Lia melangkah masuk, sebuah anak panah bius melesat dari kegelapan hutan dan mengenai leher Andi. Ia tumbang seketika. Empat penjaga lainnya segera mencabut senjata mereka, namun mereka kalah jumlah.

Dari balik kabut, muncul belasan orang berpakaian hitam dengan penutup wajah. Mereka bukan anggota geng motor biasa; gerakan mereka taktis dan efisien, seperti tentara bayaran.

Lia berhasil masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu kayu itu dengan tangan gemetar. Ia segera berlari menuju dapur, tempat Devan menyembunyikan sebuah radio panggil darurat.

"Andi? Siapa pun? Tolong!" teriak Lia ke arah radio, namun yang terdengar hanyalah suara statis. Sinyal telah diputus.

Brakkk!

Pintu depan dihantam dengan keras. Lia tidak punya waktu untuk takut. Ia teringat latihan singkat yang diberikan Devan dan Baron. Ia berlari ke kamar, mengambil sebuah botol semprotan berisi cairan cabai yang pernah dibuat Devan untuk perlindungannya, dan menyelipkan pisau lipat mawar pemberian Devan di saku daster hamilnya.

"Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh anakku," bisik Lia pada dirinya sendiri, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa.

Pintu depan hancur. Dua orang penyusup masuk. Lia bersembunyi di balik lemari besar di ruang tengah. Saat salah satu dari mereka mendekat, Lia menyemprotkan cairan cabai tepat ke mata pria itu dan menendang tulang keringnya sekuat tenaga.

Pria itu menjerit, namun temannya segera meringkus Lia.

"Lepaskan aku!" Lia meronta, namun tenaga pria itu terlalu besar.

Tiba-tiba, suara tembakan terdengar dari luar. Seseorang datang membantu. Namun itu bukan Baron, bukan juga Devan.

Kembali ke Jakarta...

Devan berhasil menyusup ke ruang kerja Marco melalui saluran udara. Ia mendarat dengan senyap seperti kucing. Di dalam ruangan itu, ia melihat Marco sedang tertawa bersama Clara. Di atas meja, terdapat koper hitam yang dicari-cari.

"Kamu yakin Devan akan datang?" tanya Marco sambil menuangkan wine.

"Dia selalu menjadi pahlawan yang bodoh, Marco," sahut Clara sambil mengikir kukunya. "Dia akan datang demi anak buahnya, dan saat dia di sini, orang-orang kita di bukit akan membereskan istrinya. Kita akan menghancurkan hatinya sebelum kita mengakhiri hidupnya."

Mendengar itu, darah Devan mendidih. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Devan menendang meja kayu besar itu hingga terbalik, mengejutkan kedua pengkhianat itu.

"Devan?!" Clara membelalakkan mata, wajah cantiknya seketika pucat pasi.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu menyentuh keluargaku lagi, Clara?" suara Devan terdengar seperti guntur.

Marco segera mencabut pistolnya, namun Devan lebih cepat. Ia melempar sebuah pisau lempar yang tepat mengenai pergelangan tangan Marco, membuat pistol itu terjatuh. Devan menerjang Marco dengan kemarahan yang sudah memuncak. Pukulan demi pukulan ia daratkan ke wajah pria yang telah mencoba menculik istrinya.

Clara mencoba melarikan diri membawa koper hitam itu, namun ia terhenti saat melihat Baron dan anggota Black Roses lainnya sudah mengepung pintu keluar.

"Selesai, Clara," ucap Baron dingin.

Devan mengambil koper hitam itu, namun ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari nomor rumahnya. Ia segera mengangkatnya dengan tangan gemetar.

"Lia?! Lia, jawab aku!"

Bukan suara Lia yang terdengar, melainkan suara berat seorang pria yang sangat dikenal Devan. "Tenang, Devan. Istrimu aman bersamaku... untuk saat ini."

Devan jatuh terduduk. Suara itu adalah suara Reno—mantan ketua The Vipers yang seharusnya masih berada di penjara.

"Reno... bagaimana bisa?"

"Uang bisa membuka semua pintu penjara, Devan. Aku sudah mengambil apa yang paling berharga bagimu. Jika kamu ingin istrimu selamat, bawa dokumen di koper itu ke gudang tua pelabuhan sekarang juga. Sendirian. Tanpa polisi, tanpa Baron."

Telepon terputus. Devan menatap Clara dan Marco dengan tatapan yang bisa membunuh. Ia menyadari bahwa selama ini Marco hanyalah pion, dan Clara adalah perantaranya, sementara otak sebenarnya adalah Reno yang penuh dendam.

"Bos, apa yang terjadi?" tanya Baron cemas.

Devan berdiri, matanya kosong namun penuh tekad. "Reno memegang Lia. Dia di bukit."

"Kita ke sana sekarang!" seru Baron.

"Tidak," Devan menahan Baron. "Kalian urus Marco dan Clara. Serahkan dokumen ini ke pengacara kita agar anak-anak yang di penjara bisa bebas. Aku akan menjemput Lia sendiri."

"Tapi Bos, itu bunuh diri!"

Devan memakai jaketnya yang penuh debu, lalu menatap Baron. "Ini bukan lagi soal geng, Baron. Ini soal aku sebagai seorang suami dan ayah. Jika aku tidak kembali... jaga anakku."

Tanpa menunggu jawaban, Devan memacu motornya kembali menuju Bandung dengan kecepatan yang menantang maut. Di dalam hatinya, ia terus berdoa agar Lia tetap kuat. Ia tidak peduli jika ia harus berhadapan dengan seluruh pasukan Reno, ia akan membawa Lia pulang, meski itu adalah hal terakhir yang ia lakukan.

Di tengah perjalanan, hujan badai mulai turun, seolah menggambarkan pertempuran besar yang akan segera pecah. Babak penentuan antara sang Serigala Hitam dan musuh bebuyutannya telah dimulai, dengan nyawa seorang ibu dan calon bayi sebagai taruhannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!