Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Retakan di Sangkar Emas
Cahaya matahari pagi yang menembus jendela setinggi langit-langit di penthouse SCBD itu tidak membawa kehangatan bagi Siska. Sebaliknya, sinar itu justru memperjelas debu tipis di atas meja rias marmer yang belum sempat dibersihkan asisten rumah tangga. Namun, bukan debu itu yang membuat perut Siska bergejolak menahan mual.
Di sudut kamar, rangkaian bunga lili putih yang dikirimkan Alana dua hari lalu masih berdiri tegak. Aromanya yang terlalu menyengat memenuhi ruangan, mengingatkan Siska pada rumah duka alih-alih perayaan kehidupan. Kartu ucapannya sudah Siska buang ke tempat sampah, tapi kalimat di dalamnya—“Semoga warisannya sepadan”—masih terngiang seperti rekaman rusak di kepalanya.
Siska berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya ke wastafel. Ini bukan akting. Mual itu nyata. Kehamilannya nyata. Tapi ketakutan yang mencekik lehernya setiap kali ia melihat kalender juga sama nyatanya.
"Masih mual?"
Suara bariton Hendra mengejutkannya. Siska buru-buru membasuh mulut, menatap pantulan wajahnya yang pucat di cermin sebelum berbalik. Hendra berdiri di ambang pintu, sudah rapi dengan setelan jas abu-abu mahalnya. Tidak ada simpati di mata pria itu, hanya tatapan kalkulatif seorang investor yang sedang memeriksa aset berharganya.
"Sedikit, Mas. Biasa, bawaan bayi," jawab Siska, memaksakan senyum manja yang biasanya ampuh meluluhkan Hendra.
Namun kali ini, Hendra tidak tersenyum balik. Ia berjalan masuk, meletakkan segelas air mineral dan sebutir pil di meja rias. "Minum vitaminnya. Nanti siang Dokter Gunawan akan datang untuk cek rutin. Jangan keluar rumah."
Siska membeku. "Dokter Gunawan? Mas, aku sudah bilang aku lebih nyaman dengan Dokter Rian di klinik yang biasa..."
"Dokter Rian itu dokter umum di ruko," potong Hendra dingin. Ia melangkah mendekat, mencengkeram dagu Siska lembut namun posesif. "Kamu mengandung pewaris Wardhana, Siska. Aku tidak akan mengambil risiko dengan dokter murahan pilihanmu. Gunawan dokter terbaik. Dia akan memantau perkembangan janin ini setiap minggu. Memastikan segalanya... sesuai jadwal."
Kata "jadwal" itu diucapkan dengan penekanan yang membuat darah Siska desir. Hendra tahu cara menghitung. Jika usia kandungan ini meleset dua minggu saja dari tanggal mereka mulai berhubungan tanpa pengaman, tamatlah riwayatnya.
"Baik, Mas," bisik Siska patuh.
Hendra melepaskan cengkeramannya, lalu melirik tas Hermes Birkin di lemari kaca yang pintunya sedikit terbuka. "Oh ya, aku perhatikan koleksi tasmu berkurang satu. Yang warna oranye. Kemana?"
Jantung Siska serasa berhenti berdetak. Ia memang menjual tas itu kemarin melalui kurir instan ke sebuah butik barang bekas di Jakarta Selatan. Ia butuh uang tunai. Mendesak.
"Oh... itu... sedang di-laundry, Mas. Ada noda wine waktu pesta kemarin," bohong Siska cepat. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Hendra menatapnya lama, seolah sedang menimbang apakah kebohongan itu layak dikonfrontasi sekarang atau nanti. Akhirnya, ia hanya mendengus. "Jangan ceroboh. Barang-barang di rumah ini dibeli dengan uangku. Jangan sampai hilang."
Setelah Hendra pergi, Siska merosot ke lantai kamar mandi. Ponsel yang ia sembunyikan di balik tumpukan handuk bergetar. Satu pesan masuk dari nomor yang tidak disimpan.
*"Lima puluh juta lagi. Hari ini. Atau aku kirim foto kita di Bali tahun lalu ke kantor 'suami' barumu. - Rico"*
Siska memejamkan mata, menahan tangis. Uang hasil jual tas kemarin sudah habis untuk membayar hutang judi online yang menumpuk, dan sekarang Rico—masa lalu yang seharusnya sudah terkubur—datang menagih jatah. Akses kartu kreditnya sudah dipangkas Hendra pasca skandal marmer, dan ia tidak memegang uang tunai sama sekali. Ia terperangkap dalam kemewahan yang tidak bisa ia cairkan.
***
Di sisi lain kota, suasana di kantor Terra Architecture jauh berbeda. Udara dipenuhi aroma kopi segar dan suara ketikan keyboard yang ritmis. Tidak ada kemewahan marmer dingin di sini; hanya dinding bata ekspos, meja kerja kayu solid yang luas, dan energi produktif yang kental.
Alana berdiri di depan papan tulis kaca, mencoret beberapa detail pada sketsa lobi Blue Coral Resort. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan digulung hingga siku, rambutnya diikat asal. Tidak ada lagi gaun desainer atau perhiasan mencolok. Alana yang sekarang adalah arsitek yang bekerja, bukan putri pewaris yang mematung.
"Mbak Alana," panggil Rini, berjalan cepat dari meja resepsionis dengan tablet di tangan. Rini kini terlihat lebih segar dan percaya diri dibandingkan saat masih menjadi sekretaris tertindas di kantor Hendra.
"Ada kabar dari vendor kayu?" tanya Alana tanpa menoleh, masih fokus pada garis perspektif di papan.
"Bukan, ini soal 'Nyonya Besar'," jawab Rini, merendahkan suaranya.
Alana langsung berbalik. Spidol di tangannya berhenti bergerak.
"Info dari teman saya yang kerja di butik 'Second Chance' di Kemang," Rini menggeser layar tabletnya, memperlihatkan sebuah foto tas Hermes oranye dan bukti transfer. "Siska baru saja menjual tas ini kemarin sore. Cash keras. Harganya dia banting tiga puluh persen di bawah pasar biar cepat cair."
Alana menatap foto itu, alisnya terangkat. "Hendra tidak mungkin membiarkan wanitanya menjual barang. Gengsinya terlalu tinggi. Kalau Siska menjual tas, berarti dia butuh uang tunai yang tidak bisa dilacak oleh pembukuan Hendra."
"Buat apa?" tanya Rini polos. "Belanja lagi?"
"Orang yang punya akses ke kartu kredit black card tidak butuh uang tunai untuk belanja, Rin," gumam Alana, otaknya berputar cepat. "Uang tunai itu untuk sesuatu yang ilegal, atau... untuk menutup mulut seseorang."
Pintu kaca depan terbuka. Elang Pradipta masuk dengan langkah santai namun berwibawa. Ia mengenakan kaos polo hitam dan celana chino, tapi jam tangan di pergelangan tangannya berharga lebih mahal dari renovasi kantor itu. Ia membawa dua cup kopi dari kedai di seberang jalan.
"Analisis yang tajam, Partner," kata Elang, menyerahkan satu cup kopi pada Alana. Ia rupanya mendengar percakapan terakhir mereka.
Alana menerima kopi itu. "Terima kasih. Kamu jarang ke sini pagi-pagi kalau tidak ada masalah urgent."
Elang duduk di tepi meja kerja Alana, menyesap kopinya. "PI (Penyidik Swasta) aku menemukan sesuatu yang menarik. Siska sering menerima telepon dari nomor prabayar yang berganti-ganti. Lokasi sinyalnya selalu dari area apartemen murah di Jakarta Barat. Dan pagi ini, setelah dia menjual tas itu, ada pergerakan dana tunai yang disetor ke rekening atas nama Rico Santoso."
"Siapa Rico Santoso?" tanya Alana.
"Mantan germo, kadang bandar judi kecil-kecilan. Dulu dia punya bar di daerah Kota, tempat Siska pernah... bekerja sebentar sebagai host sebelum bertemu ayahmu," jelas Elang datar. Tidak ada nada menghakimi, hanya penyampaian fakta.
Alana terdiam. Ia tahu Siska bukan berasal dari keluarga baik-baik, tapi mendengar detail konkret tentang masa lalunya tetap membuatnya merinding. "Jadi, Rico memerasnya?"
"Kemungkinan besar," jawab Elang. "Dan dengan kehamilan Siska sekarang, taruhannya jadi lebih tinggi. Kalau Rico tahu rahasia yang bisa merusak klaim Siska atas anak itu, dia akan memerah Siska sampai kering."
Alana menatap sketsa resor di papan tulis. "Siska terdesak. Di rumah, Ayah pasti memperketat keuangannya karena kasus mark-up kemarin. Di luar, ada preman masa lalu yang menagih uang."
"Orang yang terdesak akan membuat kesalahan," kata Elang, matanya menatap Alana lekat. "Pertanyaannya, apa kamu mau menunggu dia salah langkah, atau kita yang memancingnya?"
Alana membalas tatapan Elang. Ada kilatan berbahaya di mata cokelat pemuda itu, jenis bahaya yang membuat Alana merasa aman karena bahaya itu kini berpihak padanya.
"Kita pancing," putus Alana dingin. "Rini, tolong cari kontak Dokter Gunawan. Aku tahu Ayah pasti pakai jasa dia. Dia dokter langganan keluarga kami sejak dulu."
"Kamu mau menyuap dokternya?" tanya Elang, alisnya terangkat tertarik.
"Tidak. Dokter Gunawan terlalu berintegritas dan terlalu kaya untuk disuap. Tapi dia sangat teliti soal administrasi," Alana tersenyum tipis, senyum yang sangat mirip dengan Hendra Wardhana saat akan memenangkan tender. "Aku hanya perlu memastikan Dokter Gunawan mendapatkan rekam medis lama Siska. Rekam medis yang mungkin tidak pernah Siska tunjukkan pada Ayah."
***
Sore harinya, Siska berhasil keluar rumah dengan alasan "ngidam" martabak spesifik di daerah Pecenongan. Supir yang ditugaskan Hendra, Pak Asep, mengantarnya dengan patuh, namun Siska bersikeras turun sendiri di depan kedai yang ramai.
"Bapak tunggu di sini saja, parkir susah. Saya mau pilih sendiri," perintah Siska.
Begitu Pak Asep memarkir mobil, Siska menyelinap ke gang samping kedai martabak, melewati deretan gerobak sampah yang bau. Di ujung gang yang gelap, seorang pria kurus dengan tato naga yang menyembul dari balik kerah kaosnya sedang merokok.
Itu Rico. Wajahnya masih setampan dulu, tapi kini terlihat lebih kasar dan lelah, dengan kantung mata hitam yang menandakan gaya hidup malam yang keras.
"Lama banget, Nyonya Besar," sapa Rico, membuang puntung rokoknya dan menginjaknya.
"Jangan panggil aku begitu di sini," desis Siska, melihat sekeliling dengan paranoid. Ia merogoh tas tangannya, mengeluarkan amplop cokelat tebal. "Ini dua puluh lima juta. Sisanya minggu depan. Aku nggak bisa tarik tunai banyak sekaligus tanpa dicurigai."
Rico mengambil amplop itu, menghitung isinya sekilas dengan ibu jari yang basah oleh air liur. Ia tertawa meremehkan. "Cuma segini? Harga diri lo murah banget sekarang, Sis. Padahal dulu lo primadona."
"Ambil atau aku teriak maling," ancam Siska, suaranya bergetar.
Rico maju selangkah, mengikis jarak hingga Siska bisa mencium bau alkohol basi dari napasnya. Siska mundur hingga punggungnya menabrak tembok lembap.
"Denger ya, manis. Gue tahu lo lagi bunting. Dan gue tahu hitungan bulannya. Kalau gue iseng kirim pesan ke Hendra bilang kalau lo nginep di tempat gue dua minggu sebelum lo resmi jadi 'pacar' dia... kira-kira dia bakal minta tes DNA nggak?"
Wajah Siska memucat seperti mayat. "Itu anak Hendra, Rico. Aku yakin."
"Yakin?" Rico menyeringai, giginya kuning nikotin. "Lo lupa malam itu kita mabuk parah? Siapa yang tahu? Gue nggak peduli anak itu bibit siapa. Yang gue peduli, keraguan Hendra cukup buat bikin lo diusir dari istana itu tanpa bawa apa-apa. Jadi, jangan coba-coba nawar sama gue."
Rico menepuk pipi Siska pelan—gestur yang merendahkan—lalu memasukkan amplop itu ke saku celananya. "Minggu depan, dua puluh lima lagi. Kalau nggak, gue bakal datang ke acara syukuran tujuh bulanan lo nanti."
Pria itu berbalik dan berjalan santai meninggalkan gang, bersiul kecil. Siska merosot, kakinya lemas. Ia memegangi perutnya yang rata. Ancaman Rico bukan sekadar gertakan. Hendra adalah pria yang sangat memuja garis keturunan. Keraguan sekecil apa pun tentang paternitas bayi ini akan membuat Hendra menghancurkannya.
Siska menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya. Ia harus kembali ke mobil sebelum Pak Asep curiga. Saat ia melangkah keluar dari gang, matanya menangkap sosok familiar di seberang jalan, berdiri di samping mobil sedan hitam.
Itu Rini. Mantan sekretaris yang ia fitnah.
Rini tidak melihatnya; wanita itu sedang sibuk menelepon sambil membawa map dokumen. Tapi keberadaan Rini di dekat lokasi pertemuan rahasianya membuat alarm di kepala Siska berdering kencang. Apakah ia diikuti? Apakah Alana tahu?
Ketakutan Siska berubah menjadi tekad yang gelap. Ia tidak bisa hidup dalam bayang-bayang terus menerus. Rico adalah masalah, tapi Alana adalah ancaman eksistensial. Jika Alana dan Rico sampai bertemu atau bertukar informasi, tamatlah riwayatnya.
Siska kembali ke mobil Alphard-nya dengan wajah kaku. Saat Pak Asep membukakan pintu, Siska masuk dan langsung membuka ponselnya. Ia tidak lagi melihat foto bayi atau desain kamar anak. Ia sedang mencari kontak seseorang yang pernah ditawarkannya "jasa pembersihan" masalah—sebuah kontak dari dunia bawah yang jauh lebih gelap daripada Rico.
Jika ia harus jatuh, ia akan memastikan Alana Wardhana jatuh lebih dulu, patah tulang, dan tidak bisa bangkit lagi.
"Jalan, Pak," perintah Siska dingin.
"Ke rumah, Bu?"
"Tidak. Ke kantor Mas Hendra. Aku mau makan malam sama suamiku," jawab Siska. Ia perlu mempererat cengkeramannya pada Hendra. Malam ini juga. Ia harus menjadi wanita paling penurut, paling memikat, dan paling 'hamil' yang pernah Hendra lihat. Ia harus membuat Hendra begitu yakin padanya hingga bukti apa pun yang dibawa Alana nanti akan terlihat seperti fitnah keji.