NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang-orang Tulus

"Apes banget hidup gue. Lagi pusing-pusingnya dibangunin secara paksa, sekarang disuruh nyetir pula. Mana nggak ada kata maafnya sedikit pun dari tadi."

Anggap saja Arsenio sedang menggali lubang kuburannya sendiri detik ini juga. Karena tidak ada yang berbicara atau mengajaknya mengobrol, ditambah dia yang berkali-kali menguap lantaran masih merasa kurang tidur, alhasil Arsenio mencari cara agar mobil yang dikendarainya ini tidak hening.

Vincent, hanya menatap Arsenio sebentar, sebelum tatapannya kembali mengarah ke luar jendela.

Sedangkan Dreven, dia tidak peduli, dia mengutamakan kenyamanan Shahinaz yang kini tertidur menyandarkan kepalanya di bahunya dengan hati-hati.

"Gini amat hidup gue, selalu aja dicuekkin sama lo pada. Padahal gue kurang apa sih? Ganteng iya, moodboosteriya, tapi kalian nggak pernah nanggapin keaktifan hidup bersosial gue." keluh Arsenio setelah dirasa protesannya tidak menunjukkan tanggapan oleh semua orang yang berada di mobil. Padahal dilihar-lhat, seluruh kursi di mobil ini terisi penuh.

"Berisik, lo kurang waras. Fokus nyetir aja." jawab Vincent kemudian.

Arsenio mencibir pelan, "Emang nasib gue gini banget kalau nggak ada si Kaendra."

Vincent dan Dreven mungkin bisa berbicara panjang lebar ketika ada hal penting saja. Lalu datangnya Shahinaz dalam hidup Dreven, laki-laki itu sudah mulai banyak bicara meskipun hanya dengan gadis itu saja. Tetapi Vincentt?

Cittt... BrakkKKK...

Arsenio mengerem mendadak, membuat seluruh penumpang tersentak ke depan. Shahinaz yang tengah tertidur di bahu Dreven juga terbangun dengan kaget, untung saja sejak awal bersandar, bagian kepalanya yang terluka itu dilindungi secara ketat oleh Dreven.

"Are you okay? Nggak ada yang sakit kan? Kamu baik-baik aja kan?" saking khawatirnya Dreven kepada Shahinaz, bahkan dia menanyakan pertanyaan yang sama secara bertubi-tubi.

Shahinaz mengangguk pelan. Meski sebenarnya merasa nyeri, Shahinaz tidak akan mengatakan dengan jujur, "Aku nggak apa-apa, apa yang terjadi? Kenapa berhenti mendadak."

Namun, sebelum Dreven sempat merespons, Vincent sudah mengambil sesuatu dari dalam dashboard mobil. Dan Shahinaz yang melihatnya, sukses dibuat melotot dengan pistol yang digenggam Vincent sekarang. Namun Shahinaz lebih melotot lagi ketika tersadar bahwa mobil yang ditumpangi mereka sudah dikepung dari luar.

"Keluarga lo emang gila semua Ven. Selain haus harta, haus kekuasaan, dan haus wanita, mereka juga haus dengan darah lo." kata Vincent dengan senyuman mengembang, "Lihat, kita baru keluar dari Mansion Kingsley belum sampai dua jam aja, mereka udah ngerencanain ini semua."

Shahinaz menelan ludah, merasa ngeri dan bingung dengan situasi yang tiba-tiba berubah menjadi mencekam itu. Padahal novel yang ditulis Anya adalah novel romantis, fokus pada perebutan tokoh utama yang digandrungi banyak laki-laki, dan ending dari ceritanya juga berakhir bahagia. Tanpa ada pertumpahan darah, dan ceritanya terkesan minim konflik.

Tidak dia sangka, setiap tokoh dari cerita ini memiliki kehidupan gelapnya masing-masing. Apalagi dia baru mengingat jika Dreven ini adalah tokoh antagonis utama pria, tokoh dengan segudang rahasia gelap yang dideskripsikan oleh Anya dengan penuh teka-teki.

Maksud Shahinaz, Genre ceritanya jadi berubah karena dia masuk ke dalam hidup Dreven sekarang!

"Jangan takut ya, mereka hanya tikus-tikus kecil aja kok. Selagi ada aku di sisi kamu, kamu akan selalu baik-baik aja." bisik Dreven menenangkan Shahinaz.

Shahinaz merasa jantungnya berdegup kencang saat kata-kata Dreven berbisik lembut di telinganya, tetapi suasana di luar mobil tetap tidak bisa diabaikan. Bayangkan ada belasan orang yang mengacungkan senjata ke arah mereka, Shahinaz jadi merasa hidupnya tidak akan lama lagi sekarang.

"Dreven, apa rencana kita?" tanya Arsenio yang akhirnya membuka suaranya juga. Meski terlihat tenang, percayalah jantungnya sudah berpacu cukup cepat lantaran dia merasa badannya kurang fit sekarang.

"Nggak ada rencana. Kalau mereka mau mati, berarti harus mati." jawab Dreven dengan santai.

Suasana dalam mobil semakin mencekam seiring dengan jawaban santai Dreven. Shahinaz merasa dunia berputar lebih cepat, dan waktu seolah-olah melambat. Ketegangan yang menggantung di udara semakin menebal, seperti awan gelap yang siap menghantam mereka kapan saja. Arsenio menatap Dreven, mencari kepastian lebih dalam dari pria yang dia anggap sebagai pemimpin dalam situasi berbahaya ini.

"Gue bawa pistol, gue mau turun duluan. Gue udah nggak sabar main darah lagi." kata Vincent, yang dengan santainya langsung ke luar dari mobil begitu saja, sedangkan Arsenio mau tidak mau juga harus mengikuti sahabatnya untuk membantu.

Dreven menatap Shahinaz sebentar sebelum ikut keluar, "Tunggu di sini ya, langsung kunci mobil dari dalam. Segenting apapun situasi diluar nanti, jangan pernah buka dan keluar dari mobil.

Mengerti?"

Shahinaz mengangguk, meskipun ketegangan di hatinya semakin menggila. Dia menahan napas ketika Dreven sudah keluar dari mobil, meninggalkannya sendirian dengan jantung yang sudah berdegup kencang. Dari jendela mobil yang sedikit terbuka, Shahinaz bisa melihat mereka menghadapi kelompok pria bersenjata tanpa rasa takut.

Shahinaz langsung menggelengkan kepalanya tak habis pikir, "Dunia ini gila, semua orang di sini gila, dan gue lebih gila lagi dari mereka."

Mereka melawan musuh dengan ketangkasan dan keberanian yang mengesankan. Setiap tembakan yang diberikan oleh Vincent selalu akurat, Arsenio yang menggunakan tangan kosong juga terlihat cukup mengesankan. Shahinaz menatap Dreven tanpa kedip, setiap smirk yang keluarkan Dreven dari wajahnya, entah kenapa membuat tubuh Shahinaz semakin merinding.

Namun bukannya musuh semakin sedikit lantaran berhasil ditumpas oleh ketiganya, musuh justru semakin banyak dan berdatangan, dan itu sukses membuat Shahinaz tidak bisa berpikir jernih. Apa mereka bisa keluar dari arena pertarungan itu dengan hidup-hidup.

"Lagian si Arsenio kenapa harus ambil jalur sepi sih? Ini bahkan belum malam banget, tapi kenapa seolah nggak ada orang lain yang lewat sini?" tanya Shahinaz yang akhirnya terserang panik juga.

Shahinaz merasakan kepanikan yang semakin meningkat. Jelas bahwa situasi semakin memburuk dengan jumlah musuh yang terus bertambah. Dia memandangi mereka yang terus bertempur dengan penuh keberanian, tetapi jumlah musuh yang datang sepertinya tidak ada habisnya.

Dreven yang sudah tau situasinya akan semakin memburuk, mendekati Arsenio yang masih fokus menumpas musuh, "Bala bantuan sebentar lagi nyampai. Gue bakal alihin musuh, lo bawa Shahinaz pergi dari sini. Gue percaya sama lo."

Arsenio mendelik di sela-sela pertarungannya, "Jangan aneh lo, gue nggak bakal ninggalin kalian berjuang sendirian."

"Gue nggak akan mati dengan mudah. Cepat, bawa Shahinaz pergi dari sini." kata Dreven dengan tatapan tegasnya.

Arsenio menggeleng, "Nggak mau Ven, Lo mau cari mati? Mereka lebih banyak dari yang lo bayangkan. Ninggalin lo berdua sebelum mereka nyampai, itu sama aja nambahin peluang kekalahan di kubu kita."

"Karena itu, cepat bawa Shahinaz pergi dari sini. Dia nggak ada sangkut pautnya sama situasi ini. Gue percaya sama lo, Arsenio." lanjut Dreven.

"Udah gue bilang, gue nggak akan ninggalin kalian!" seru Arsenio menolak lagi.

"Arsenio Sovializa Winromanov!"

Arsenio merasa terjepit dalam situasi sulit, mendengar Dreven memanggil namanya secara lengkap, dia jadi dihadapkan pada pilihan sulit sekarang. Dia sangat enggan meninggalkan Dreven dan Vincent, tapi Dreven lebih memikirkan keselamatan Shahinaz dibandingkan dirinya sendiri.

Arsenio mengambil napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sebelum mengambil keputusan.

"Oke, gue akan bawa Shahinaz pergi dari sini," kata Arsenio dengan suara tegas. "Tapi janji, kalian harus tetap hidup bagaimanapun caranya.

Dreven mengangguk, senyum tipis di wajahnya.

"Gue akan baik-baik saja, hati-hati. Di dashboard masih ada satu pistol, lo bawa buat jaga-jaga."

Arsenio mengangguk, perlahan-lahan dia kabur dari arena. Masuk ke dalam mobil setelah menumpaskan beberapa orang dengan penuh perjuangan. Shahinaz mengernyit heran, kenapa Arsenio justru masuk ke dalam mobil sekarang?

"Kita harus pergi dari sini Sha. Itu pesan dari Dreven tadi." kata Arsenio memberi tahu. Namun baru saja menghidupkan mesinnya, ban mobil yang ditumpangi mereka ditembak secara bertubi-tubi. Arsenio yakin, jika mobil ini tidak bisa digunakan lagi sekarang.

"Kenapa harus pergi? Kalau kalian masih kekurangan orang, gue juga bisa bela diri. Cuma mungkin nggak setangkas kalian, karena gue udah lama nggak latihan." balas Shahinaz sambil merasa heran.

"Ban mobilnya meledak, cukup riskan kalau kita tetep pergi dengan mobil ini. Lo kuat jalan kaki nggak? Atau mau gue gendong aja ngelihat kondisi lo yang nggak memungkinkan? Nggak ada cara lain, selain jalan kaki dan keluar dari pertengkaran ini." bahkan Arsenio mengesampingkan pertanyaannya dan memberikan ide lain.

Shahinaz menatap Arsenio sejenak, mempertimbangkan pilihan yang diberikan. Dia bisa merasakan ketegangan di udara dan tau bahwa situasi semakin gawat. Namun, dia tidak ingin menjadi beban, terutama saat kondisi menjadi semakin berbahaya.

"Kalau emang harus pergi dari sini, gue masih bisa jalan sendiri. Nggak perlu gendong-gendongan gue segala, yang sakit kepala gue bukan kaki." jawab Shahinaz tegas, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.

Arsenio mengangguk, memahami jawaban Shahinaz yang mengerti keadaan. "Oke, kalau gitu kita harus cepat. Jangan sampai mereka ngeh, kalau kita udah nggak ada di mobil."

Mereka berdua keluar dari mobil dengan hati-hati, berusaha untuk tidak menarik perhatian.

Arsenio memimpin, dengan pistol yang dia dapat dari dashboard di tangan, tatapan matanya mengarah ke arah hutan. Sementara Shahinaz mengikutinya dengan penuh kewaspadaan, jangan sampai dia lengah sedikit saja, karena taruhannya kali ini adalah nyawa.

Dorrrr...

Shahinaz yang memang tidak fokus dengan jalan karena sesekali membalikkan badan melihat perkembangan pertikaian itu, memelototkan matanya ketika korban tembakan kali ini adalah Dreven.

"Arsenio, Dreven ketembak! bahu Dreven keluar banyak darah!" seru Shahinaz yang memintanya untuk berhenti.

"Jangan ngelihat ke belakang Shahinaz, ini pesan dari Dreven buat lo. Ayo cepet lari dari sini, sebelum mereka sadar bahwa kita udah keluar dari mobil." jawab Arsenio sambil menggandeng tangan Shahinaz agar tidak terpisah.

"Tapi Dreven...." ucapan Shahinaz mengambang, karena Arsenio yang sudah menarik dirinya untuk segera pergi.

Shahinaz akhirnya bungkam, ketika Arsenio tidak menjawab pertanyaannya sama sekali. Dia jadi bertanya-tanya pasti sebentar lagi ada yang membantu mereka bukan? Melihat Arsenio yang justru pergi bersama dirinya, pasti bala bantuan itu akan datang tak lama lagi.

"Incaran mereka cuma Dreven. Jadi kalau mereka sadar kita kabur dari sana, mereka juga nggak bakal terlalu ngejar. Kayaknya duduk di sini sampai pertarungan selesai juga kita tetep bakalan aman." kata Arsenio setelah lama mereka berjalan, "Tapi jauh di depan sana, ada jalan raya lain yang tentunya bisa nganterin kita pulang. Lo nggak masalah jalan kaki sampai 45 menit?"

Shahinaz mengangguk mengerti, meski napasnya mulai terengah-engah, luka di kepalanya mulai terasa nyeri, dan rasa pusing mulai mengganggunya, tapi dia tidak menunjukkan rasa itu kepada Arsenio.

"Tapi Dreven terluka. Apa nggak masalah ninggalin mereka diposisi yang sudah terpojok kayak gitu?" tanya Shahinaz yang merasa khawatir dengan Dreven sekarang.

"Mereka udah biasa kena tembak, lo nggak perlu khawatir soal itu. Dreven mungkin tadi sedikit lengah aja, makanya bisa ketembak." jawab Arsenio menenangkan, padahal hatinya juga berkata lain sekarang, "Duduk di sini dulu aja Sha, udah aman kok. Ya kali mereka mau nyusulin kita ke hutan kayak gini. Kalaupun mereka nyusulin kita sampai sini, lo masih ada gue buat jadi tamengnya."

Shahinaz menurut, mereka duduk saling berhadap-hadapan dengan cahaya rembulan yang menerangi perjalanan mereka sejak tadi. Jujur, ini pengalaman baru bagi Shahinaz. Dia tidak pernah menyangka bahwa di kehidupan keduanya, dia akan mengalami hal yang semenegangkan ini.

"Lo pernah dengar nggak, perumpamaan bahwa keluarga sendiri bisa menjadi musuh terbesar untuk kehidupan lo sendiri? Mungkin itu yang dirasakan oleh Dreven sekarang." kata Arsenio berikutnya.

Meski Shahinaz paham dengan maksud Arsenio sekarang, Shahinaz ingin mendengar soal Dreven lebih jauh. Dia ingin tau semua rahasia yang dimiliki oleh laki-laki itu.

"Hidup jadi Dreven emang gila," lanjut Arsenio dengan nada rendah, seolah merenungkan sesuatu. "Dia punya banyak musuh, tetapi kebanyakan berasal dari keluarganya sendiri. Mereka haus kekuasaan dan bisa ngelakuin apa aja, termasuk menyingkirkan penghalang mereka apapun caranya."

"Sebegitu menyeramkannya hidup Dreven ya?" tanya Shahinaz ingin tahu.

"Ya seperti yang lo lihat tadi. Pewaris utama Kingsley Company adalah Dreven, tapi Dreven udah bersi keras nolak, karena dia tau seberapa beringasnya keluarga dari pihak Ayahnya itu." cerita Arsenio sambil memutar-mutarkan pistol yang ada ditangannya, "Tapi meskipun Dreven nggak ngambil kursi pemimpin, saham yang dimiliki Dreven juga tinggi di sana. Makanya sampai saat ini, keluarga dari pihak Ayahnya masih gencar-gencarnya menyerang Dreven dari segala sisi."

Shahinaz mencoba mencerna semua informasi yang baru saja dia dapatkan. Dia tidak menyangka dibalik wajah Dreven yang terlihat tenang, hidupnya benar-benar seberantakan itu. Ayahnya selingkuh, Ibunya gila, hidupnya juga sangat keras dan perlu diacungi jempol.

Dia jadi ingin memeluk Dreven, memberikan segala ketenangan karena Dreven berhasil mempertahankan hidupnya sendiri, Dreven juga perlu bahagia seperti yang lainnya.

"Ayo jalan lagi, baterai ponsel gue bentar lagi mau habis. Takutnya sebelum kita sampai di jalan raya sana, kita malah jalan gelap-gelapan nggak tentu arah." kata Arsenio yang akhirnya mengajak Shahinaz untuk berdiri lagi, "Btw, lo masih kuat jalan kan? Kalau udah nggak kuat, langsung to the point aja ya, gue masih kuat ngegendong lo kok."

Shahinaz menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Mau sesakit apapun dirinya sekarang, dia tetap akan mempertahankan dirinya sendiri untuk berjalan. Dia tau jika Arsenio sudah kekalahan dan tidak punya tenaga lagi.

"Oh ya, percakapan tadi biarlah jadi rahasia kita berdua aja ya. Dreven kadang nggak suka dikasihani, apalagi dari orang yang paling dia cintai segenap jiwa dan raganya." lanjut Arsenio dan dijawab anggukan oleh dirinya.

Meski hidup Dreven berantakan. Dreven cukup beruntung bisa mendapatkan orang-orang tulus seperti Vincent, Arsenio, dan Kaendra.

Lalu apa Shahinaz juga seharus beruntung memiliki Dreven disisinya?

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!