Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 – Rahasia yang Terungkap
Diskors tiga hari seharusnya memberi ruang untuk tenang.
Tapi bagi **Kia**, tiga hari itu justru terasa seperti lorong panjang tanpa pintu keluar.
---
Hari pertama, Kia menghabiskannya di rumah. Ia tidak menyentuh ponsel, tidak membuka media sosial, tidak membaca satu pun pesan yang masuk. Dunia di luar terlalu bising, terlalu penuh opini yang tidak pernah meminta izinnya.
Ibunya pergi bekerja seperti biasa. Rumah kembali sunyi.
Kia duduk di meja makan, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Kepalanya penuh potongan kejadian yang tidak mau menyatu: pertengkaran di kelas, tatapan Daffa, wajah Tara yang merah karena emosi, dan—yang paling mengganggu—reaksi ayah Tara malam itu.
*Papa kenal dia, kan?*
Pertanyaan itu terngiang seperti gema.
Kenapa ayah Tara terlihat takut?
Kenapa wajahnya berubah?
Kenapa ia selalu menyuruh Tara menjauh darinya?
Kia menutup mata, menghela napas panjang.
Ia sudah lama belajar hidup tanpa ayah. Tapi ia tidak pernah benar-benar berhenti bertanya.
---
Sore itu, Kia membantu ibunya membereskan lemari lama di gudang kecil belakang rumah. Lemari kayu itu sudah bertahun-tahun tidak dibuka. Engselnya berderit saat ditarik.
“Ngapain dibuka, Bu?” tanya Kia.
Ibunya ragu sejenak. “Ibu mau cari dokumen lama. Akta, surat-surat.”
Kia mengangguk dan mulai mengeluarkan tumpukan map usang. Bau kertas lama memenuhi ruangan.
Ia membuka satu map cokelat yang hampir sobek.
Dan di sanalah semuanya berubah.
---
Di dalam map itu ada beberapa lembar kertas.
Fotokopi KTP seorang pria.
Surat perjanjian bermaterai.
Dan satu lembar yang membuat tangan Kia gemetar.
**Akta kelahiran.**
Namanya tertera jelas:
**Kiandra Aulia Pratama.**
Nama ayah:
**—**
Kosong.
Tapi di bawahnya, ada satu catatan kecil, tulisan tangan yang mulai pudar.
*Ayah biologis: R.P.*
Kia menelan ludah.
“In—bu…” suaranya tercekat.
Ibunya berhenti melipat kain. Wajahnya langsung berubah saat melihat apa yang Kia pegang.
“Kamu nemu itu…”
“R.P. itu siapa?” tanya Kia. Suaranya pelan, tapi tajam. “Kenapa baru sekarang aku lihat ini?”
Ibunya duduk perlahan di bangku kecil. Tangannya bergetar.
“Kia,” ucapnya lirih. “Ibu nggak pernah mau bohong. Ibu cuma… nunggu kamu siap.”
“Siap untuk apa?” Kia mendekat. “Untuk tahu aku anak siapa?”
Ibunya memejamkan mata.
“Untuk tahu kalau ayahmu… punya keluarga lain.”
Dunia Kia seolah berhenti.
“Keluarga lain?” ulangnya pelan.
Ibunya mengangguk, air mata jatuh tanpa suara. “Dia menikah. Resmi. Dari keluarga terpandang.”
Napas Kia tercekat.
“Dan aku?” tanyanya. “Aku apa?”
“Kamu anaknya,” jawab ibunya cepat. “Anak yang sah secara darah. Tapi tidak diakui.”
Kia tertawa pendek. Pahit. “Hebat.”
Ibunya mengusap wajahnya. “Dia janji. Berkali-kali. Tapi setiap kali hampir mengaku, keluarganya menekan. Istrinya menangis. Reputasinya dipertaruhkan.”
“Jadi aku yang dikorbankan,” kata Kia datar.
Ibunya menunduk. Tidak menyangkal.
---
Kia kembali menatap akta itu.
R.P.
Inisial itu terasa asing—dan sekaligus tidak.
“Nama lengkapnya siapa?” tanya Kia.
Ibunya diam lama. Terlalu lama.
“Ibu,” suara Kia mengeras. “Aku berhak tahu.”
Ibunya menghela napas panjang. “Rangga Pratama.”
Nama itu menghantam ingatan Kia.
Pratama.
Seperti nama belakang Tara.
Dadanya berdebar keras.
“Tara…” gumam Kia. “Ayahnya…”
Ibunya menatapnya dengan mata basah. “Iya.”
Kia berdiri terlalu cepat sampai kursinya tergeser.
“Jadi…” suaranya bergetar. “Tara itu…”
“Adikmu,” jawab ibunya pelan. “Saudara tiri.”
Ruangan terasa sempit.
Udara seperti menghilang.
Kia mundur satu langkah, lalu dua, sampai punggungnya menabrak lemari kayu.
Semua potongan akhirnya menyatu.
Wajah yang mirip.
Tatapan yang sama.
Sikap ayah Tara yang menghindar.
Larangan untuk menjauh.
Bukan karena benci.
Karena takut.
---
“Dia tahu?” tanya Kia.
Ibunya menggeleng. “Tidak. Setidaknya… tidak seharusnya.”
Kia tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Hampir seperti orang kehabisan akal.
“Sekolah kami sama,” katanya. “Kami sekelas. Kami bermusuhan.”
Ibunya menutup mulutnya, terkejut. “Apa?”
“Kami bertengkar. Semua orang menonton,” lanjut Kia. “Dan dia benci aku.”
Ibunya berdiri, memeluk Kia erat. “Kamu nggak salah.”
Kia tidak membalas pelukan itu.
Kepalanya penuh satu wajah.
Tara.
---
Hari kedua diskors, Kia tidak tahan lagi tinggal di rumah.
Ia keluar tanpa tujuan jelas, berjalan menyusuri jalan yang terlalu dikenalnya. Langkahnya membawanya ke depan rumah besar dengan pagar tinggi.
Rumah Tara.
Ia berhenti di seberang jalan.
Memandang.
Di sinilah ayahnya tinggal.
Di sinilah hidup yang seharusnya bisa ia miliki—jika dunia lebih adil.
Gerbang terbuka.
Tara keluar bersama ibunya, masuk ke mobil.
Wajah Tara terlihat lelah. Matanya sembab.
Kia menunduk, bersembunyi di balik pohon.
Mobil itu melaju pergi.
Kia berdiri lama, dadanya terasa sakit.
Ia tidak marah.
Ia hancur.
---
Malam itu, Kia duduk di kamarnya dengan lampu mati. Ponselnya menyala.
Pesan dari Daffa masuk.
> **Daffa:** Gue denger dari guru BK. Lo diskors.
> **Daffa:** Lo nggak sendirian.
Kia membaca pesan itu berulang kali.
Lalu mengetik.
> **Kia:** Kalau gue bilang… orang yang paling gue benci selama ini adalah saudara gue sendiri?
Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
> **Daffa:** Maksud lo?
Kia menutup mata.
> **Kia:** Tara.
Tidak ada balasan cukup lama.
> **Daffa:** …Lo serius?
> **Kia:** Sayangnya, iya.
---
Sementara itu, di rumah besar, Tara duduk di kamarnya.
Ayahnya berdiri di ambang pintu.
“Kamu jangan cari masalah lagi sama Kia,” ucapnya tegas.
Tara menoleh. “Kenapa Papa selalu belain dia?”
Ayahnya terdiam.
“Kenapa Papa selalu kelihatan takut tiap aku sebut namanya?” lanjut Tara. “Dia siapa buat Papa?”
Ayahnya mengepalkan tangan.
“Kamu nggak perlu tahu,” jawabnya.
Tara tertawa getir. “Kalau begitu, Papa nggak perlu tahu kenapa aku benci dia.”
Pintu ditutup keras.
Ayahnya berdiri sendiri di lorong gelap.
Wajahnya runtuh.
Karena rahasia yang ia kubur terlalu lama mulai mencari jalan keluar.
---
Kia menatap langit-langit kamar malam itu.
Sekarang ia tahu.
Ia tahu kenapa hidupnya selalu terasa setengah.
Kenapa marahnya mudah meledak.
Kenapa ia begitu terganggu oleh Tara.
Bukan karena cemburu.
Bukan karena Daffa.
Tapi karena darah yang sama mengalir di tubuh mereka—tanpa pernah diberi kesempatan untuk saling memilih.
Ia memejamkan mata.
*Bagaimana kalau Tara tahu?*
Pertanyaan itu terasa lebih menakutkan daripada kebencian apa pun.
Karena begitu kebenaran terungkap, tidak ada yang bisa kembali seperti semula.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya