NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Cahaya lampu meja belajar yang redup memantul di permukaan koper perak itu. Sudah tiga jam berlalu sejak pelarian gila mereka dari gudang sekolah, dan kini koper itu duduk diam di tengah karpet kamar Raka seolah-olah sebuah bom waktu yang menunggu pemicu. Raka mondar-mandir di sekitarnya, sesekali menendang udara karena frustrasi, sementara Keyra duduk bersila, matanya tak lepas dari benda asing tersebut.

"Nggak ada lubang kunci. Nggak ada keypad. Nggak ada pemindai sidik jari," gumam Keyra, jarinya menelusuri tepian koper yang mulus tanpa celah. "Benda ini kayak dicetak utuh dari satu blok logam."

"Atau mungkin bukan logam bumi," sahut Raka sinis, melempar tubuhnya ke atas kasur. "Mengingat lo bilang pemiliknya bisa berubah jadi piksel kayak karakter *Minecraft* yang *error*."

Keyra mengabaikan sarkasme itu. Pikirannya berpacu kembali ke momen di gudang. Getaran itu. Rasa dingin yang tidak wajar. Dan tatapan Julian yang kosong sebelum realitas di sekitarnya berkerut. "Kita butuh pemicu, Ka. Julian pasti punya kuncinya. Atau... mungkin Julian *adalah* kuncinya."

"Maksud lo?"

"Biometrik jarak jauh? Atau mungkin suara?" Keyra berdiri, menyambar tas sekolahnya. "Gue harus deketin dia lagi besok."

"Gila lo!" Raka langsung duduk tegak, matanya melotot. "Lo baru aja lolos dari maut, Key! Lo bilang sendiri dia bukan manusia. Lo mau nyerahin nyawa lo lagi ke dia?"

"Gue nggak punya pilihan! Koper ini nggak guna kalau nggak bisa dibuka. Di dalamnya mungkin ada jawaban kenapa garis waktu kacau, kenapa lo dan gue terjebak di loop ini!" Keyra menatap Raka tajam, namun ada ketakutan yang tersembunyi di balik iris matanya. "Dan gue perlu mastiin... apakah yang gue liat tadi malem itu nyata atau cuma halusinasi panik."

Raka mendengus kasar, memalingkan wajah. Rahangnya mengeras. Ia benci ide itu. Ia benci fakta bahwa untuk menyelamatkan diri, Keyra harus masuk kembali ke kandang singa. Tapi lebih dari itu, ada rasa panas yang tidak nyaman di dadanya saat membayangkan Keyra harus berpura-pura manis di depan cowok misterius itu.

***

Keesokan harinya, atmosfer di lapangan basket *indoor* SMA Pelita Bangsa terasa lebih padat dari biasanya. Suara decit sepatu karet beradu dengan lantai kayu menggema hingga ke tribun penonton. Jam pelajaran olahraga kelas 11 gabungan selalu menjadi ajang pamer testosteron, dan hari ini tidak ada bedanya.

Julian ada di sana. Berdiri di tengah lapangan dengan seragam basket yang sedikit kebesaran, memantulkan bola dengan ritme yang terlalu sempurna. Dia tampak normal. Terlalu normal. Tidak ada tanda-tanda *glitch*, tidak ada piksel yang pecah. Dia tertawa saat salah satu temannya melontarkan lelucon, sebuah tawa yang terdengar sangat manusiawi.

Keyra berdiri di pinggir lapangan, memegang botol air mineral yang sudah berembun. Ia menarik napas panjang, menekan rasa mual di perutnya. *Ini demi investigasi,* batinnya. *Cuma investigasi.*

"Hei, Julian!" panggil Keyra, melangkah masuk ke area teknis saat peluit istirahat berbunyi.

Julian menoleh. Senyumnya mengembang, lambat dan penuh perhitungan. Ia menangkap bola yang dioper temannya tanpa melihat, matanya terkunci pada Keyra. "Keyra. Tumben turun ke lapangan. Kirain lo tipe yang alergi keringat."

"Gue cuma mau balikin ini," Keyra berbohong lancar, mengangkat sebuah pulpen mahal yang ia temukan acak di kelas—alibi yang lemah, tapi cukup untuk memulai percakapan. "Lo jatuhin ini di koridor kemarin."

Julian berjalan mendekat, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Jarak mereka menipis. Keyra menahan napas, matanya meneliti kulit Julian. Pori-porinya, tekstur kulitnya, cara cahaya jatuh di wajahnya. Semuanya tampak riil. Tapi Keyra ingat sensasi listrik statis itu.

"Oh ya?" Julian mengambil pulpen itu. Ujung jari mereka bersentuhan.

*Zzzzt.*

Keyra merasakannya lagi. Sengatan kecil yang bukan berasal dari listrik statis biasa. Itu terasa dingin, seolah menyedot panas tubuhnya. Keyra berusaha tidak menarik tangannya, menatap lekat-lekat ke mata Julian, mencari tanda-tanda kerusakan digital seperti semalam.

"Tangan lo dingin, Key," ujar Julian pelan, suaranya merendah sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar. "Masih *shock* gara-gara kucing yang pecahin kaca gudang semalam?"

Keyra membeku. Julian tahu. Dia tahu Keyra ada di sana. Kalimat itu adalah ancaman terselubung.

Dari sudut mata, Keyra melihat bayangan bergerak cepat. Di sisi lain lapangan, Raka sedang men-dribble bola dengan agresif. Matanya tidak tertuju pada ring, melainkan lurus ke arah Keyra dan Julian. Wajah Raka merah padam, bukan karena lelah, tapi karena amarah yang mendidih melihat Julian mencondongkan tubuh begitu dekat ke arah Keyra, seolah sedang membisikkan kata-kata manis.

Raka tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi bahasa tubuh Julian yang mendominasi membuat darahnya naik ke kepala. Dia melihat Julian tersenyum miring—senyum predator yang sedang bermain dengan makanannya.

"Raka! Oper!" seru salah satu teman setimnya yang bebas di bawah ring.

Raka mengabaikan seruan itu. Dia mencengkeram bola basket dengan kedua tangan, otot-otot lengannya menegang. Logika di kepalanya putus sesaat, digantikan oleh impuls purba untuk melindungi—dan menandai wilayah.

"Awas!"

Tanpa peringatan, Raka melempar bola itu sekuat tenaga. Bukan operan lambung yang elegan, melainkan lemparan lurus mendatar—sebuah *chest pass* yang diperkuat dengan emosi murni. Targetnya bukan teman setimnya. Bola oranye itu melesat seperti peluru meriam membelah udara, langsung menuju kepala Julian.

"Julian!" pekik Keyra refleks.

Waktu seolah melambat. Jarak lima meter itu dilahap bola dalam sepersekian detik. Keyra menutup mata, membayangkan bunyi benturan keras dan hidung yang patah.

*TAP.*

Tidak ada bunyi *gedebuk*. Tidak ada teriakan kesakitan. Hanya suara karet bertemu kulit yang redam tapi tegas.

Keyra membuka mata. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Julian tidak bergeming satu inci pun. Dia tidak menghindar, tidak menunduk. Tangan kanannya terangkat di samping kepala, menangkap bola basket yang melesat secepat mobil itu hanya dengan satu telapak tangan terbuka. Jari-jarinya mencengkeram bola itu begitu kuat hingga permukaan bola terlihat sedikit penyok.

Seluruh gedung olahraga hening. Semua orang tahu seberapa keras lemparan Raka barusan. Normalnya, jari tangan orang biasa akan patah atau setidaknya terkilir jika mencoba menangkap bola sekeras itu dengan satu tangan tanpa ancang-ancang.

Julian perlahan menoleh ke arah Raka. Senyum di wajahnya belum pudar, malah semakin lebar. Dia menurunkan bola itu dengan santai, lalu memutarnya di ujung telunjuk seolah tidak terjadi apa-apa.

"Operan yang... *bersemangat*, Raka," ujar Julian, suaranya tenang namun bergema di keheningan lapangan. "Tapi akurasinya agak meleset. Ring-nya di sana, bukan di muka gue."

Raka berdiri kaku di posisinya, napasnya memburu. Dia tidak menyesal melempar bola itu, tapi dia terkejut dengan hasilnya. Tatapan Julian padanya bukan tatapan marah, melainkan tatapan meremehkan. Tatapan seseorang yang tahu bahwa lawannya tidak selevel.

Julian kemudian melemparkan bola itu kembali ke Raka dengan gerakan pergelangan tangan yang santai. Namun, bola itu meluncur balik dengan kecepatan dua kali lipat. Raka harus menangkapnya dengan kedua tangan di dada, dan dorongannya begitu kuat hingga Raka terhuyung mundur dua langkah. Rasa nyeri langsung menjalar di lengan Raka.

"Latihan lagi, ya," ejek Julian, sebelum kembali menatap Keyra. "*Thanks* pulpennya, Key. Hati-hati, lapangan ini berbahaya. Banyak benda terbang tak terduga."

Julian berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Keyra yang gemetar dan Raka yang menahan malu sekaligus amarah.

Begitu pelatih meniup peluit memecah ketegangan, Raka membanting bola ke lantai dan berjalan cepat menghampiri Keyra. Dia menarik lengan gadis itu, menyeretnya keluar dari gym menuju koridor yang lebih sepi di dekat ruang ganti.

"Lepasin, Raka! Sakit!" Keyra menghempaskan tangan Raka.

"Lo ngapain sih?!" bentak Raka, suaranya parau. "Gue udah bilang jangan deketin dia! Lo liat tadi? Dia nangkep bola itu kayak nangkep lalat! Manusia normal tangannya udah patah, Key!"

"Justru itu poinnya!" balas Keyra tak kalah sengit, matanya berkaca-kaca karena adrenalin. "Sekarang kita punya konfirmasi! Dia punya refleks di atas rata-rata. Itu data buat kita!"

"Data? Persetan sama data!" Raka menyisir rambutnya yang basah oleh keringat dengan kasar. "Gue liat cara dia natap lo. Gue liat dia bisik-bisik ke lo. Dan lo... lo cuma diem aja di sana kayak umpan!"

"Gue emang umpan, Raka! Kalau gue nggak jadi umpan, kita nggak bakal tau apa isi koper itu!" Keyra menunjuk dadanya sendiri. "Dia tau kita yang ambil, Ka. Tadi dia nyindir soal 'kucing di gudang'. Kita udah ketahuan. Satu-satunya cara bertahan adalah dengan pura-pura bodoh sambil cari celah!"

Raka terdiam, kemarahannya belum surut tapi argumen Keyra menohok logikanya. Dia menatap Keyra, melihat keteguhan yang bercampur dengan rasa takut di wajah gadis itu. Rasa cemburu yang tadi membakar kini perlahan berubah menjadi rasa protektif yang menyakitkan.

"Gue nggak suka," desis Raka, suaranya merendah, lebih jujur. "Gue nggak suka liat lo harus senyum ke dia. Gue nggak suka liat lo dalam bahaya sementara gue cuma bisa nonton dari jauh."

Keyra menghela napas panjang, bahunya merosot. Dia melangkah mendekat, menyentuh lengan Raka yang masih tegang. "Gue tau. Gue juga takut, Ka. Tangan dia... dingin banget. Kayak megang es. Tapi gue harus lakuin ini."

Sebelum Raka sempat menjawab, getaran halus terasa dari saku rok Keyra. Bukan ponselnya. Keyra merogoh saku, mengeluarkan sebuah *tracker* kecil berbentuk kancing yang tadi sempat ia selipkan ke dalam saku celana Julian saat insiden 'pulpen jatuh'.

Layar kecil pada alat pelacak buatan rakitan Keyra itu berkedip merah.

"Sinyalnya aktif," bisik Keyra, matanya membelalak. "Tapi bukan nunjukin lokasi GPS."

"Terus apa?"

Keyra memperlihatkan layar itu pada Raka. Tidak ada peta di sana. Hanya satu baris kode biner yang terus berubah dengan cepat, dan di bawahnya, sebuah tulisan berkedip: *DEVICE PAIRED*.

"Kopernya," kata Keyra, menatap Raka dengan horor. "Koper di kamar lo... barusan bereaksi sama keberadaan Julian, walaupun jaraknya kiloan meter. Koper itu hidup, Raka."

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!