Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Matahari pukul sepuluh pagi menyengat lapangan basket SMA Pelita Bangsa. Amara berdiri di garis start, memegang bola basket yang terasa bergerigi di telapak tangannya yang mulai berkeringat. Harusnya, fokusnya adalah melewati deretan kerucut oranye dengan teknik dribble yang benar sesuai arahan Pak Gani, guru olahraganya.
Duk. Duk. Duk.
Amara mulai memantulkan bola. Namun, alih-alih menghitung ritme pantulan, otaknya malah memutar ulang kejadian di tukang nasi uduk tadi pagi. Bayangan tangan Nicholas yang mengusap puncak kepalanya—gerakan singkat namun terasa membakar kulit kepalanya—membuat fokusnya buyar total.
"Kak Nick, lo bener-bener ya! Kenapa sih hobi banget bikin gue gila?" teriaknya dalam hati, gemas.
Duk!
"Amara! Fokus! Bolanya jangan malah ditendang!" teriak Pak Gani dari pinggir lapangan.
Amara tersentak. Ternyata tanpa sadar ia memantulkan bola terlalu keras hingga bola itu mengenai ujung sepatunya dan menggelinding liar ke arah selokan. Wajahnya memerah karena malu. Seumur hidup, ia dikenal sebagai siswi yang selalu presisi dalam tugas apa pun, tapi sejak Nicholas masuk kembali ke hidupnya secara frontal, Amara merasa seperti mesin yang bautnya lepas satu per satu.
Jam istirahat tiba. Kantin sekolah penuh sesak oleh aroma soto dan gorengan. Amara duduk di pojokan bersama Daffa yang sejak tadi tampak lebih diam dari biasanya. Cowok itu hanya mengaduk-aduk es teh manisnya tanpa meminumnya.
"Ra," panggil Daffa lirih.
Amara mendongak. "Ya, Daff?"
"Gue rasa... gue butuh penjelasan," Daffa menatap langsung ke mata Amara. "Maksud gue, soal cowok teknik itu. Nicholas. Dia bilang lo 'milik' dia, dia jemput lo setiap hari, bahkan tadi pagi lo sarapan bareng dia. Sebenarnya, ada hubungan apa lo sama dia? Kenapa lo kayak... nggak punya pilihan selain nurut sama dia?"
Amara menggigit bibir bawahnya. Ia ingin bercerita tentang kejadian dua tahun lalu, tentang bagaimana Nicholas adalah sosok yang pernah ia tolong, dan bagaimana pria itu telah menjaganya dalam diam. Tapi, lidahnya terasa kelu. Nicholas memintanya untuk tidak menceritakan rahasia itu pada siapa pun, termasuk Daffa.
"Dia... dia temen Bang Ryan, Daff. Dia cuma lagi dititipin tugas sama abang gue buat jagain gue," jawab Amara dengan suara yang tidak yakin.
"Jagain atau nguasain?" potong Daffa. "Ra, lo kelihatan tertekan kalau deket dia. Lo kayak nggak jadi diri lo sendiri. Kalau dia ancam lo, bilang sama gue. Gue nggak takut sama anak teknik itu."
Tepat saat Amara hendak menjawab, ponselnya di atas meja bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk. Layarnya tidak menampilkan nama, tapi Amara sudah hafal empat digit terakhirnya.
Tanggal lahir Nicholas.
Amara menelan ludah. Ia tidak berani mengangkatnya di depan Daffa. Namun, sebuah pesan singkat masuk segera setelah panggilan itu berakhir.
Unknown: Pulang nanti tunggu di depan gerbang utama. Jangan coba-coba lari atau gue seret lo dari dalem kelas.
Amara memejamkan mata. Posesif. Diktator. Nicholas benar-benar tidak memberikan ruang napas.
"Daff," Amara tiba-tiba meraih tangan Daffa di atas meja, membuat cowok itu tersentak. "Bisa tolongin gue?"
"Apa pun, Ra."
"Anterin gue pulang sekarang. Tapi lewat gerbang belakang sekolah, jangan lewat depan. Motor lo parkir di deket kantin kan? Kita bisa lewat jalan tikus yang tembus ke pemukiman warga," pinta Amara dengan nada memohon.
Daffa mengernyit, tapi kemudian ia mengangguk tegas. Ia merasa ini adalah saatnya ia "menyelamatkan" Amara dari cengkeraman Nicholas. "Oke. Kita lewat belakang. Gue nggak bakal biarin dia ambil lo lagi hari ini."
Bel pulang sekolah berbunyi. Amara bergerak secepat kilat. Ia tidak pergi ke gerbang depan di mana ia tahu Nicholas pasti sudah bersandar di motor besarnya dengan gaya angkuh. Sebaliknya, ia mengikuti Daffa berlari kecil menuju gerbang belakang yang biasanya hanya dilewati oleh petugas kebersihan.
"Naik, Ra!" perintah Daffa setelah mereka sampai di motor matic-nya.
Amara segera naik ke boncengan. Daffa memacu motornya menyusuri gang-gang sempit, menjauhi area jalan utama sekolah. Amara menoleh ke belakang berkali-kali, takut melihat sosok motor hitam besar yang mengejarnya. Tapi jalanan itu sunyi.
"Gue berhasil kabur," bisik Amara dalam hati. Ada rasa lega, tapi entah kenapa, ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Perasaan bersalah karena telah membohongi seseorang yang secara teknis sudah menyelamatkan nyawanya kemarin.
Daffa membawa Amara melintasi jalan alternatif yang cukup berputar. Namun, saat mereka keluar dari gang pemukiman dan hendak masuk ke jalan raya menuju kompleks rumah Amara, sebuah suara raungan mesin yang sangat keras membelah kesunyian dari arah belakang.
VROOOOOOOOOOM!
Sebuah bayangan hitam melesat cepat di samping motor Daffa, lalu dengan manuver yang sangat berbahaya, motor itu memotong jalan Daffa dan berhenti melintang di tengah aspal.
Daffa mengerem mendadak. Ban motornya mencicit keras.
"Sial!" umpat Daffa.
Nicholas melepaskan helmnya. Wajahnya merah padam karena amarah yang tidak tertahan. Matanya menatap Amara dengan sorot yang bisa membuat siapa pun gemetar. Pria itu tidak berkata apa-apa, ia hanya turun dari motor dan berjalan mendekat. Langkah sepatunya yang berat terdengar mengancam.
"Turun," ucap Nick. Suaranya rendah, namun penuh dengan otoritas yang mematikan.
"Bang, jangan keterlaluan ya!" seru Daffa, mencoba melindungi Amara. "Dia mau pulang sama gue!"
Nick mengabaikan Daffa sepenuhnya. Ia menatap Amara yang masih membeku di atas motor. "Ifa, gue nggak suka ngulang kata-kata. Turun atau gue tarik lo sekarang juga."
"Kak Nick, jangan di sini... malu..." bisik Amara, air matanya mulai menggenang.
"Malu?" Nick tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat terluka. "Lo lebih milih kabur lewat gerbang sampah cuma buat bareng dia? Lo anggap gue apa, Ha? Penjahat? Gue udah bilang sama lo semalam, jangan pernah main-main sama kesabaran gue!"
Nicholas menarik tangan Amara dengan paksa agar turun dari motor Daffa. Daffa mencoba menahan, tapi Nick mendorong pundak Daffa dengan satu tangan hingga cowok itu hampir terjatuh bersama motornya.
"Bang! Jangan kasar sama cewek!" teriak Daffa.
Nick berbalik, menatap Daffa dengan mata yang seolah ingin membunuh. "Gue kasih lo satu kesempatan buat pergi dari sini sebelum gue patahin kunci motor lo. Pergi. Sekarang."
Amara terisak. Ia melihat Nicholas yang benar-benar lepas kendali. "Daffa, pergi... tolong, pergi aja. Gue nggak apa-apa. Maafin gue, Daff."
Daffa menatap Amara dengan pandangan hancur, namun melihat kegilaan di mata Nicholas, ia tahu ia tidak akan menang dalam konfrontasi fisik. Dengan berat hati, Daffa menyalakan motornya dan pergi, meninggalkan Amara bersama Nicholas di jalanan sepi itu.
Kini tinggal mereka berdua. Nicholas berdiri di depan Amara, napasnya memburu. Ia mencengkeram bahu Amara, memaksa gadis itu menatapnya.
"Kenapa lo lari dari gue, Ifa? Kenapa?!" tanya Nick dengan suara yang bergetar karena emosi.
"Karena Kakak terlalu maksa! Kakak bikin aku kayak tawanan!" teriak Amara sambil menangis.
Nick terdiam. Cengkeramannya di bahu Amara melemah. Ia menundukkan kepalanya hingga dahinya bersentuhan dengan dahi Amara. "Gue cuma takut, Fa... Gue takut kalau gue nggak ada di deket lo, kejadian kemarin bakal keulang lagi. Dan gue benci fakta kalau lo lebih nyaman sama dia daripada sama gue yang udah nungguin lo selama dua tahun."