Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh bulan dalam bayang bayang bagian 2
Ruang auditorium UA penuh dengan gumaman ratusan remaja yang tegang. Present Mic, pahlawan dengan suara menggelegar, sedang memberikan penjelasan di atas panggung dengan gaya yang sangat mencolok.
Mitsuki duduk di sebelah Izuku, menopang dagu dengan satu tangan. Matanya yang kuning keemasan menyapu seisi ruangan. Ia melihat berbagai macam Quirk mulai dari orang dengan tanduk, kulit batu, hingga seseorang yang memiliki mesin di kakinya.
"Sangat berisik," gumam Mitsuki pelan. "Dunia ini benar-benar tidak mengenal konsep stealth."
Izuku, yang sedang gemetar namun terlihat lebih fokus, mengangguk kecil. "Itu Present Mic, Mitsuki-kun. Di dunia hero, karisma dan suara yang keras adalah bagian dari cara menenangkan publik."
"Atau cara yang bagus untuk memberitahu posisi pada musuh," balas Mitsuki datar.
Tiba-tiba, seorang remaja berkacamata dengan postur tubuh kaku berdiri dan memprotes tentang brosur ujian. Ia juga menunjuk Izuku, menyebutnya mengganggu karena terus bergumam.
"Dan kau, yang berambut pucat!" Pria itu, Tenya Iida, menunjuk Mitsuki. "Kau terlihat sangat tidak serius. Jika kau di sini hanya untuk bermain-main, sebaiknya kau pergi sekarang. Ini adalah institusi tertinggi!"
Mitsuki menatap Iida tanpa ekspresi. Tatapannya begitu kosong hingga membuat Iida terdiam sejenak. "Aku hanya sedang menghitung berapa banyak dari kalian yang akan langsung tereliminasi dalam sepuluh detik pertama karena terlalu banyak bicara," ucap Mitsuki dengan suara lembut namun dingin.
Ruangan seketika sunyi. Aura yang dipancarkan Mitsuki membuat beberapa peserta di sekitarnya merasa merinding tanpa alasan yang jelas. Izuku segera menarik lengan baju Mitsuki. "Sudahlah, Mitsuki-kun..."
Pusat Ujian B: Kota Buatan
Gerbang raksasa menjulang di depan mereka. Izuku mengenakan pakaian olahraga hijaunya, sementara Mitsuki tetap dengan gaya sederhananya—hanya saja kali ini ia mengenakan sarung tangan hitam tanpa jari.
"Ingat latihan kita, Izuku," ucap Mitsuki saat mereka berdiri di depan gerbang. "Jangan mengejar robotnya. Kejar kelemahannya."
"Paham!" Izuku mengambil napas dalam-dalam.
"START!" Teriak Present Mic dari atas menara.
Saat peserta lain masih bengong karena tidak ada aba-aba hitung mundur, dua bayangan sudah melesat lebih dulu. Mitsuki dan Izuku.
Mitsuki bergerak bukan dengan berlari biasa. Ia melakukan shunshin gerakan cepat yang terlihat seperti berpindah tempat dalam sekejap. Saat robot poin 3 muncul di hadapannya, Mitsuki tidak memukulnya. Ia hanya berjalan melewati robot itu.
Sret.
Dua detik kemudian, kepala robot itu terlepas, terpotong oleh benang kawat tipis yang hampir tidak terlihat yang ia pasang sambil lewat.
"Efisiensi adalah kunci," gumam Mitsuki.
Di sisi lain, Izuku melakukan sesuatu yang mengejutkan para pengawas di ruang monitor. Ia tidak menggunakan kekuatan destruktif. Saat sebuah robot poin 2 menyerangnya, Izuku melompat ke dinding, memantul dengan gerakan yang sangat mirip dengan cara Mitsuki bergerak, lalu menghantam sendi leher robot itu dengan tendangan presisi.
"Dia tidak menggunakan Quirk-nya?" tanya Midnight di ruang pengawas, matanya tertuju pada layar Izuku.
"Dia menggunakan teknik," sahut Nezu, sang Kepala Sekolah, sambil menyesap tehnya. "Dan lihat anak yang satu lagi. Dia tidak menghancurkan robot-robot itu secara kasar. Dia mematikan sistem saraf pusat mereka seolah-olah robot itu adalah makhluk hidup."
Aizawa, yang biasanya terlihat malas, kini duduk tegak. Ia memperhatikan Mitsuki. "Anak berambut pucat itu... dia tidak punya catatan Quirk yang jelas. Tapi gerakannya... itu bukan gerakan amatir. Dia bergerak seperti seseorang yang sudah terbiasa melakukan pembunuhan diam-diam."
Zero Pointer Munculnya Sang Raksasa
Tanah bergetar hebat. Sebuah robot setinggi gedung pencakar langit muncul, menghancurkan aspal di bawah kakinya. Peserta lain mulai lari ketakutan. Ini adalah robot "Zero Pointer" yang tidak menghasilkan poin apa pun.
Mitsuki berdiri di atas sebuah tiang lampu yang bengkok, menatap robot itu dengan bosan. Ia sudah mengumpulkan lebih dari 70 poin hanya dengan memutus kabel-kabel inti robot kecil. Ia berniat untuk pergi, sampai ia mendengar suara rintihan.
Ochaco Uraraka terjepit di bawah reruntuhan beton, tepat di jalur kaki sang Zero Pointer.
Mitsuki menyipitkan mata. Ia bisa saja menyelamatkannya dalam sekejap, namun ia berhenti saat merasakan lonjakan energi yang sangat besar dari arah belakangnya.
"Matahari..." bisik Mitsuki.
Izuku Midoriya berlari ke arah raksasa itu. Tidak ada keraguan di matanya. Ia melompat tinggi ke udara, melampaui ketinggian gedung-gedung di sekitarnya.
"Mitsuki-kun pernah bilang..." Izuku menggertakkan giginya, energi merah mulai mengalir di kulitnya. "Fokuskan aliran energinya, jangan biarkan dia meledak begitu saja... jadikan dia satu titik!"
"SMASH!"
Pukulan Izuku menghantam wajah Zero Pointer. Ledakannya begitu dahsyat hingga menciptakan gelombang kejut yang membersihkan debu di seluruh area ujian. Robot raksasa itu hancur seketika, kepalanya ringsek total.
Namun, seperti yang sudah diperkirakan Mitsuki, tubuh Izuku tidak sanggup menahan beban dari kekuatannya sendiri. Lengan dan kakinya patah, dan ia mulai jatuh bebas dari ketinggian puluhan meter.
"Selalu saja ceroboh," ucap Mitsuki.
Sebelum Izuku menyentuh tanah, Mitsuki sudah melesat di udara. Ia tidak menggunakan Quirk untuk terbang, melainkan memanjangkan lengannya secara elastis sebuah mutasi fisik yang ia klaim sebagai "Quirk"-nya dan menangkap Izuku dengan lembut di udara, lalu mendarat dengan putaran yang meredam benturan.
Mitsuki meletakkan Izuku yang tak sadarkan diri di atas aspal. Ia menoleh ke arah Uraraka yang masih kaget, lalu dengan satu sentuhan ringan, ia menghancurkan beton yang menjepit kaki gadis itu menggunakan sedikit Chakra elemen angin.
"Temanmu sudah aman," ucap Mitsuki pada Izuku yang pingsan, meskipun ia tahu anak itu tidak mendengar.
Ujian berakhir dengan keheningan panjang. Mitsuki berdiri di tengah reruntuhan, menatap ke arah kamera pengawas dengan tatapan yang seolah menembus dinding ruang guru.
Di Ruang Guru UA
"Luar biasa..." Recovery Girl bergumam. "Anak Midoriya itu punya kekuatan yang sangat besar, tapi anak yang satunya..."
"Mitsuki," sela Nezu. "Dia menyelamatkan Midoriya tanpa ada satu pun gerakan yang sia-sia. Dan perhatikan lengannya yang memanjang tadi. Itu bukan sekadar Quirk mutasi biasa. Kontrolnya sangat sempurna."
Aizawa menatap layar yang menampilkan profil Mitsuki yang masih kosong. "Dia bukan pahlawan. Dia adalah sesuatu yang lain. Kita harus mengawasinya dengan sangat ketat di Kelas 1-A nanti."
Nezu tersenyum lebar. "Justru itulah yang membuat tahun ajaran ini akan menjadi sangat menarik, bukan?"
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen