NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAPAT KERAJAAN

Seorang bangsawan dengan jubah beludru biru tua melangkah keluar dari barisan. Ia menghentakkan tongkat kayunya ke lantai marmer dengan pelan, lalu membungkuk hormat dengan khidmat sebelum mulai berbicara.

"Baginda Raja," ucapnya dengan nada berat,

"di wilayah perbatasan utara, dekat Benteng Valdridge, telah terjadi serangkaian penjarahan yang brutal. Desa-desa di kaki gunung telah ludes dibakar, pasokan gandum mereka dijarah, dan banyak warga sipil yang tewas di tangan para perampok. Berdasarkan laporan para penyintas, sepertinya mereka bukan sekadar bandit biasa, melainkan tentara bayaran yang sengaja didatangkan dari negeri antah-berantah untuk mengacaukan stabilitas kita."

Raja Valerius terdiam sejenak, rahangnya mengeras. Tatapannya kemudian tertuju tajam ke arah seorang pria berzirah perak lengkap yang berdiri di urutan paling depan para ksatria.

"General Von Gardo," seru Raja dengan suara yang menggema di seluruh balairung.

"Kirimkan dua legiun ksatria terbaik dari divisi kavaleri untuk mengamankan Benteng Valdridge. Aku tidak ingin mendengar ada satu pun nyawa rakyatku yang hilang lagi karena ulah tikus-tikus itu."

General Von Gardo segera meletakkan tangan kanannya di atas dada, di tempat jantungnya berada, lalu menundukkan kepalanya dengan tegas.

"Titah Anda adalah perintah bagi hamba, Baginda Raja. Pasukan akan segera bergerak sebelum fajar tiba."

Vion yang duduk di samping Raja, hanya bisa melongo melihat interaksi itu. Gila, ini bukan main-main, pikirnya. Sekali perintah, nyawa orang langsung jadi taruhannya. Di Jakarta paling banter gue cuma disuruh Pak RT kerja bakti hari Minggu.

Seorang pria tua dengan jubah bermotif sulaman perak melangkah maju dari barisan menteri. Ia membungkuk dalam dengan tangan di atas dada.

"Baginda Raja, kekeringan hebat tengah melanda wilayah utara Norfolk. Ladang-ladang mengering, sehingga stok rumput terbaik untuk pakan kuda-kuda kavaleri kita telah menipis. Saat ini, kita hanya bisa mengandalkan sisa stok di gudang bawah tanah dan padang rumput yang masih tersisa di lembah bawah pegunungan Alpen," lapornya dengan wajah penuh kekhawatiran.

Raja Valerius mengangguk pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran takhtanya yang terbuat dari emas.

"Menteri Perdagangan!" panggilnya dengan suara yang berwibawa, menatap ke arah kerumunan bangsawan yang hadir.

Seorang pria dengan tubuh agak tambun dan pakaian yang sangat modis melangkah keluar, memberi hormat dengan gaya khas bangsawan Eropa.

"Hamba di sini, Baginda Raja."

"Menteri Guenther, bicarakan masalah ini segera dengan Menteri Keuangan. Kirimkan bantuan dana ke wilayah Norfolk. Ajaklah beberapa Duke dan Earl yang dua bulan lalu aku tugaskan ke wilayah perbatasan timur. Bawa mereka ke Norfolk dan perintahkan untuk membangun sistem kanal serta bendungan di sana agar aliran air dari pegunungan bisa sampai ke ladang-ladang," titah Sang Raja dengan tegas.

Vion yang duduk di samping ayahnya hanya bisa mengerutkan kening. Dalam pikirannya, ia teringat sesuatu dari masa depannya di Jakarta.

Kanal? Bendungan? Di zaman ini apa mereka sudah tahu cara bikin irigasi yang bener? batinnya ragu.

Raja Valerius menghela napas panjang, sebuah beban yang tampak nyata di pundaknya yang tegap. Ia menggerakkan satu tangan, memberikan kode kepada Lord Hamilton untuk segera menyampaikan laporannya.

Di kursi kebesaran sebelah kanan sang raja, vion hanya terdiam. Matanya yang biasanya jenaka kini menatap kosong, mencoba mencerna rentetan ucapan para menteri tentang krisis pangan, ancaman perang, dan kekacauan di luar benteng istana.

Dalam ingatannya yang asli, di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun, seharusnya ia masih asyik nongkrong di kafe, mabar gim hingga subuh, atau sekadar memacu motornya di jalanan Jakarta.

Ia seharusnya menikmati sisa masa remajanya tanpa beban. Namun, siapa sangka takdir malah menyeretnya ke sini, duduk di sebuah aula megah abad pertengahan dan dihadapkan pada urusan hidup-mati sebuah bangsa.

Vion merenung. Bukankah ini yang selalu ia impikan dulu? Menjadi anak orang kaya raya, hidup di dalam kastel mewah, meminta apa pun pasti terpenuhi, bahkan memiliki pelayan cantik seperti Meiden yang siap melakukan apa pun perintahnya.

Tapi, kenapa setelah semua itu ada di depan mata, rasanya justru menyiksa? Kenapa kursi emas yang ia duduki sekarang terasa lebih panas dan tak nyaman daripada jok motor tuanya?

Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang setiap saat diintai oleh belati dari balik bayang-bayang.

Setiap keputusan yang diambil di ruangan ini bukan lagi soal "besok makan apa", melainkan "besok siapa yang akan mati".

"Gila... ternyata jadi orang kaya di zaman dulu itu lebih ribet daripada jadi anak kos akhir bulan," gumamnya dalam hati sambil membenarkan posisi mahkota emasnya yang terasa berat di kepala

Vion mengepalkan satu tangannya dengan kuat, berusaha keras menundukkan kepala dan tidak mempedulikan sekelilingnya.

Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukanlah dunianya. Ia hanyalah orang asing yang sedang meminjam raga Pangeran Alaric agar bisa tetap bernapas. Jika memang takdir sekejam ini, anggap saja ini adalah reinkarnasi yang harus ia jalani dengan terpaksa.

"Sidang hari ini ditutup!" teriak Lord Chamberlain dengan suara yang menggelegar di seluruh aula.

Seketika, seluruh menteri, General Von Gardo, dan para bangsawan lainnya kembali membungkuk dalam-dalam dengan penuh rasa hormat.

Setelah memberikan penghormatan terakhir kepada takhta, satu per satu dari mereka mulai melangkah mundur dan undur diri, meninggalkan balairung istana yang megah namun terasa menyesakkan itu.

Tanpa terasa, vion rupanya telah lama memejamkan mata dan mencoba menutup telinganya rapat-rapat dari segala keruwetan laporan negara yang membingungkan.

Begitu suasana mulai sunyi, ia segera beranjak dari kursi kebesarannya. Ia tidak butuh pesta atau obrolan basa-basi; ia hanya ingin segera kembali ke kamarnya, The Prince’s Chamber, tempat di mana ia bisa bersembunyi sejenak dari kenyataan gila ini.

Vion melangkah dengan terburu-buru, jubah beludrunya yang berat menyapu lantai batu saat ia melewati koridor-koridor panjang yang diterangi obor. Pikirannya hanya satu: ia ingin merebahkan diri dan berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir saat ia bangun nanti.

"Alaric,"

Langkah vion terhenti seketika saat mendengar panggilan lembut namun tajam itu dari Ratu Isabelle.

Ia menoleh, menatap sang permaisuri yang berdiri dengan senyum penuh kekaguman yang tersungging di bibirnya. Cckk, vion bukan orang bodoh.

Bahkan dengan sekali lihat pun, ia bisa merasakan bahwa senyum itu hanyalah topeng yang dibuat sedemikian rupa untuk menutupi sesuatu.

Kepedulian palsu. Vion yakin, semua kemanisan ini hanya demi mengamankan takhta dan posisinya di istana ini.

"Bagaimana perasaanmu, Anakku? Apa tubuhmu sudah jauh lebih baik?" Suara lembut sang Ratu terdengar begitu meyakinkan, bahkan membuat Raja Valerius ikut tersenyum hangat melihat interaksi istri dan putranya.

Vion hanya mampu menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang dipaksakan. "Sudah. Aku sudah jauh lebih baik."

"Baguslah. Pastikan kau meminum ramuan teh lavender-gold yang Ibu kirimkan ke kamarmu, tiga kali sehari. Ramuan itu akan sangat berkhasiat jika kau meminumnya sesaat sebelum tidur malam agar jiwamu tenang," ucap Ratu Isabelle sambil mengelus lengan vion dengan lembut.

Raja Valerius tiba-tiba menoleh, menatap istrinya dengan dahi berkerut penuh tanda tanya. "Kapan kau mengirimkan ramuan itu ke The Prince's Chamber, Isabelle? Bukankah kemarin kau bilang sedang tidak enak badan dan harus beristirahat di kamarmu sepanjang hari!? "

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!