NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Senin pagi di SMA Nusantara selalu diawali dengan rutinitas yang sama: upacara bendera. Lapangan sekolah dipenuhi siswa-siswi berseragam putih abu-abu yang berbaris rapi di bawah teriknya matahari pagi. Di barisan paling belakang, di bawah rindangnya pohon beringin yang cukup tua, berdiri dua sosok yang menarik perhatian—Ayrania Johan dan Rendy Aditama, Ketua OSIS.

Ayra, dengan senyum ramah yang khas, sesekali bertukar canda dengan Rendy sambil memegang buku catatan dan pulpen. Mereka berdua bertugas menjaga ketertiban barisan belakang dan mencatat siswa yang terlambat atau tidak disiplin. Interaksi mereka tampak natural dan akrab, bahkan sesekali Ayra tertawa kecil mendengar lelucon Rendy.

"Kak Rendy itu kadang-kadang lucu juga ya, bisa ngelawak," bisik Ayra pada Rendy, menahan senyumnya.

Rendy hanya tersenyum simpul, merapikan kacamata yang sedikit melorot di hidungnya. "Ya kan biar nggak tegang-tegang amat, Ay. Upacara pagi-pagi gini kan butuh hiburan biar melek."

Mereka kembali fokus pada tugas mereka, mencatat beberapa nama siswa yang terlihat ribut di barisan. Namun, tawa kecil dan bisikan akrab mereka tidak luput dari pandangan mata tajam seseorang.

Di barisan kelas 11 IPS 2, beberapa baris di depan mereka, berdiri Alano. Matanya menyipit, menatap lurus ke arah Ayra dan Rendy di belakang. Senyum di wajah Ayra saat bersama Rendy terasa seperti sengatan listrik di hatinya. Apalagi saat ia melihat Rendy sesekali menyentuh lengan Ayra ringan saat Ayra tertawa. Sialan! batin Alano.

Alano mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia tahu dia tidak bisa begitu saja menerobos ke belakang tanpa alasan. Alano berpikir cepat. Operasi "Jaga Jarak" harus segera dimulai.

"Ugh..." Alano tiba-tiba memegang dahinya, mengerang pelan.

Teman di sebelahnya, Bima, menoleh. "Kenapa, Bro? Pusing?"

"Iya nih, Bim. Kepala gue agak kliyengan. Kayaknya kecapekan latihan basket kemarin," jawab Alano dengan suara sedikit lemas, aktingnya meyakinkan. Ia bahkan sedikit memejamkan mata dan mengusap pelipisnya.

Bima yang khawatir langsung menepuk pundak Alano. "Yaudah, lo ke belakang aja deh. Bilang ke guru yang jaga. Nanti gue yang izinin."

Ini dia! Kesempatan emas!

Dengan langkah yang diperlambat, Alano mulai bergeser keluar dari barisan. Ia berjalan pelan, membungkuk sedikit, seolah menahan pusing yang teramat sangat. Beberapa guru yang melihatnya sempat bertanya, dan Alano hanya mengangguk lemas, "Pusing, Bu. Mau ke belakang sebentar."

Tentu saja, para guru tidak ada yang curiga. Alano adalah kapten tim basket yang punya reputasi baik di mata guru olahraga, dan dikenal jarang sekali mengeluh.

Alano berjalan memutar, mengambil rute terjauh agar terlihat alami dan tidak langsung menuju ke tempat Ayra. Jantungnya berdebar kencang. Ini bukan karena pusing, tapi karena adrenalin.

Akhirnya, ia sampai di barisan paling belakang, tepat di bawah pohon beringin. Dari kejauhan, ia bisa melihat Ayra dan Rendy masih asyik mengobrol, diselingi senyum dan tawa. Ini sudah keterlaluan!

Tanpa pikir panjang, Alano mempercepat langkahnya. Dengan wajah yang masih agak ditekuk seolah kesakitan, ia langsung menerobos masuk di antara Ayra dan Rendy. Tubuhnya yang tinggi dan besar membuat keduanya sedikit terhuyung kaget.

"Alano! Kamu kenapa? Kok tiba-tiba di sini?" Ayra terkejut melihat sepupunya yang mendadak muncul.

Alano tidak menjawab Ayra. Matanya langsung menatap tajam ke arah Rendy. Ia bahkan tidak peduli pada tatapan bingung dari siswa-siswi di sekitar mereka.

"Heh, Ketua OSIS yang terhormat!" Alano berbisik, namun dengan nada yang sangat mengancam. "Jangan nempel-nempel ke Ayang gue, Lo!"

Rendy, yang kaget dengan kemunculan dan ucapan Alano, hanya bisa terdiam. Kacamata di hidungnya sedikit melorot, dan ia refleks mundur selangkah.

Ayra melongo. Ia menatap Alano, lalu Rendy, lalu kembali ke Alano. Wajahnya memerah padam, antara marah dan malu. "Lano! Apa-apaan sih kamu?!"

Alano tidak peduli. Ia dengan sengaja memposisikan dirinya persis di antara Ayra dan Rendy, seolah menjadi dinding penghalang yang tak terlihat. Ia bahkan menyentuh bahu Ayra, seolah mengklaim gadis itu adalah miliknya.

"Nggak apa-apa, Ay. Aku cuma lagi nggak enak badan. Kebetulan di sini lebih adem," kata Alano dengan nada pura-pura santai, namun matanya masih sesekali melirik sinis ke arah Rendy.

Rendy yang merasa tidak enak dan tidak ingin memperkeruh suasana, akhirnya memilih untuk mundur teratur. "Eh, saya kayaknya ke sana dulu deh, Ay. Ada yang harus saya cek juga."

Ayra menatap Rendy dengan perasaan bersalah. "Maaf ya, Kak Rendy. Dia memang suka gitu."

Rendy hanya tersenyum tipis dan bergegas pergi, meninggalkan Ayra berdua dengan Alano yang masih berdiri tegap di sampingnya.

Begitu Rendy sudah cukup jauh, Ayra langsung meninju pelan lengan Alano. "Kamu itu bikin malu tau! Kenapa sih selalu bikin ulah?! Jelas-jelas Kak Rendy tadi cuma mau bantu aku!"

Alano mengusap lengannya yang sedikit perih. "Bantu apaan? Bantu ngedeketin kamu? Nggak usah sok polos deh, Ay. Cowok kayak gitu itu tipikal modus."

"Bukan modus! Dia itu baik banget, Lano. Beda sama kamu yang kerjaannya cuma nyebelin!" Ayra mendengus kesal. "Sekarang kamu minggir sana! Aku lagi tugas!"

"Nggak mau," tolak Alano keras kepala. Ia bahkan menyandarkan tubuhnya ke pohon beringin, seolah betah berlama-lama di sana. "Aku kan lagi sakit. Nggak bisa kerja berat-berat. Lagian, kalau aku di sini, kamu jadi punya temen ngobrol. Nggak kesepian."

"Siapa yang kesepian?!" Ayra hampir berteriak. "Aku malah pengen kamu jauh-jauh dari sini!"

Alano hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ada sedikit luka di sana. "Oh, jadi kamu lebih seneng sama cowok kacamata itu daripada sama sepupumu sendiri yang ganteng ini?"

"Apa hubungannya sama ganteng?! Kamu itu nyebelin!" Ayra memijat pelipisnya. Upacara masih berlangsung, dan ia tidak bisa berteriak lebih keras lagi. "Pokoknya kamu jangan bikin aku malu lagi di depan Kak Rendy atau siapapun."

"Siap, Bos!" Alano memberi hormat dengan gaya militer, namun matanya masih menatap Ayra dengan tatapan posesif yang tak tersembunyi.

Saat upacara akhirnya selesai dan para siswa bubar, Alano mengikuti Ayra dari belakang menuju ruang OSIS. Ia sengaja tidak banyak bicara, hanya sesekali bersiul jail ketika melihat Ayra masih cemberut.

Dalam hati, Alano berjanji. Tidak akan ada cowok lain yang bisa mendekati Ayra sedekat itu. Tidak jika ia masih bernapas. Ia ingat saat ia masih kecil, setelah diangkat anak oleh Om Malik, Ayra pernah bercerita kepadanya tentang seorang teman TK yang merebut boneka kesayangannya. Saat itu, Alano kecil langsung berjanji akan selalu melindungi Ayra dari siapapun yang mencoba menyakitinya atau merebut miliknya.

Dan di mata Alano, kini Rendy adalah "boneka" yang mengganggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!