Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naga Melawan Elang Darah
Keheningan di alun-alun Kota Batu Hijau pecah seketika, digantikan oleh gelombang sorakan yang memekakkan telinga. Pemandangan Wang Feng—salah satu petarung unggulan—diterbangkan keluar arena hanya dengan satu tendangan santai adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
Di tribun kehormatan, wajah Patriark Wang Tian berubah menjadi sangat buruk, seolah-olah dia baru saja menelan lalat hidup-hidup.
"Tingkat 4... dikalahkan dalam satu detik?" Wang Tian bergumam, jari-jarinya meremas sandaran kursi batu hingga menjadi bubuk. "Dan anak itu... dia tidak menggunakan Qi sedikit pun. Itu murni kekuatan fisik!"
Di sisi lain, Lin Hai tertawa terbahak-bahak, tawanya lepas dan penuh kebanggaan. "Lihat itu, Lin Zhen? Itu putraku! Kau bilang dia sampah? Lalu cucumu yang kalah darinya apa? Limbah?"
Wajah Tetua Agung Lin Zhen berubah warna menjadi ungu, lalu hijau. Dia tidak bisa membalas sepatah kata pun. Fakta di depan mata terlalu telak.
Di arena, wasit yang masih gemetar akhirnya mengangkat tangannya. "Pemenang... Lin Xiao!"
Lin Xiao turun dari panggung dengan wajah datar, seolah baru saja membuang sampah, bukan memenangkan duel.
Babak eliminasi berlanjut dengan cepat. Namun, atmosfer turnamen telah berubah total. Nama "Lin Xiao" yang sebelumnya menjadi bahan tertawaan, kini menjadi nama yang ditakuti.
Pertandingan kedua Lin Xiao adalah melawan seorang pemuda dari keluarga kecil. Begitu nama mereka dipanggil, pemuda itu langsung mengangkat tangan. "Saya menyerah! Saya tidak mau tulang saya patah!"
Pertandingan ketiga, melawan Su Jian dari Keluarga Su (Tingkat 4 Awal). Su Jian naik ke panggung dengan gemetar. Dia mencoba menyerang, tapi Lin Xiao hanya menepis pedangnya dengan jari telanjang dan menendang pantatnya keluar arena.
"Terlalu lemah," komentar Lin Xiao singkat.
Hingga akhirnya, sampailah kita pada momen yang ditunggu-tunggu. Babak Final.
Matahari sudah condong ke barat, memandikan arena batu dengan cahaya oranye kemerahan, seolah meramalkan pertumpahan darah yang akan terjadi.
Wasit menarik napas panjang, suaranya bergetar karena antusiasme.
"Pertandingan Puncak! Perebutan Juara Babak Duel!"
"Di sisi kiri... Jenius nomor satu Kota Batu Hijau, Tuan Muda Wang Lei!"
Wang Lei melompat ke arena. Gerakannya ringan seperti kapas, mendarat tanpa suara. Dia mengenakan jubah tempur merah darah. Wajahnya tampan namun dingin, matanya memancarkan niat membunuh yang tak ditutup-tutupi. Aura Ranah Pengumpulan Qi Tingkat 5 Puncak miliknya berputar di sekelilingnya, menciptakan angin kecil.
"Di sisi kanan... Kuda Hitam yang misterius, Lin Xiao!"
Lin Xiao berjalan naik tangga dengan santai. Dia masih mengenakan pakaian compang-camping bekas dari hutan. Pedang hitam besarnya masih terikat di punggung. Dia terlihat seperti pengemis yang tersesat di pesta bangsawan, namun tidak ada satu orang pun yang berani tertawa sekarang.
Keduanya berdiri berhadapan di tengah arena. Jarak mereka hanya lima meter.
"Akhirnya," Wang Lei membuka suara, seringai kejam terukir di bibirnya. "Aku akui, kau mengejutkanku, Sampah. Kau pasti memakan obat terlarang atau menemukan teknik iblis di hutan untuk mendapatkan kekuatan fisik itu."
Lin Xiao menguap pelan, tidak tertarik. "Apa kau naik ke sini untuk bertarung atau untuk berpidato?"
Urat nadi di dahi Wang Lei berkedut. "Mulutmu besar. Tapi ketahuilah, kekuatan fisik kasar tidak akan berguna melawan Teknik Tingkat Menengah. Hari ini, aku akan mematahkan keempat anggota gerakmu dan menggantungmu di gerbang kota!"
Wang Lei merentangkan kedua tangannya. Kuku-kukunya tiba-tiba memanjang tiga inci, bersinar merah menyala seperti dicelup darah.
Teknik Cakar Elang Darah! Ini adalah teknik andalan Keluarga Wang, dikenal karena kekejamannya yang bisa merobek daging dan menghancurkan tulang.
"Mati!"
Wang Lei menerjang. Kecepatannya dua kali lipat lebih cepat dari Wang Feng. Dia meninggalkan bayangan merah di udara.
Sreeet!
Cakar kanannya menyambar ke arah tenggorokan Lin Xiao.
Penonton menahan napas. Serangan itu terlalu cepat!
Namun, Lin Xiao hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kiri.
Cakar itu meleset tipis, hanya memotong beberapa helai rambut Lin Xiao.
Wang Lei tidak berhenti. Dia memutar tubuhnya, melancarkan serangan beruntun. Cakar kiri mengincar jantung, cakar kanan mengincar mata, tendangan lutut mengincar selangkangan. Serangan yang sangat kotor dan mematikan.
Lin Xiao bergerak mundur selangkah demi selangkah. Tangannya masih di belakang punggung. Dia menghindar ke kiri, menunduk, bergeser.
Setiap serangan Wang Lei meleset hanya beberapa milimeter.
"Kenapa?! Kenapa tidak kena?!" batin Wang Lei berteriak panik. Dia merasa seperti sedang menyerang hantu.
"Apa hanya segini?" suara Lin Xiao terdengar tepat di telinga Wang Lei. "Jenius nomor satu? Kau bahkan lebih lambat dari serigala lumpuh yang kutemui di hutan."
"DIAM!" Wang Lei meraung. Harga dirinya terluka parah.
Dia menggigit lidahnya, menyemburkan sedikit esensi darah untuk memicu teknik terlarang sementara. Pembakaran Darah!
Aura Wang Lei meledak. Kecepatannya meningkat drastis. Cakarnya kini memancarkan sinar merah darah yang pekat.
"Cakar Pembelah Jantung!"
Wang Lei melesat, kali ini bukan bayangan lagi, dia benar-benar menghilang dari pandangan penonton awam dan muncul tepat di depan dada Lin Xiao. Cakarnya menghantam dada Lin Xiao dengan telak!
DUAR!
Suara hantaman keras terdengar. Debu mengepul.
"Kena!" seru Wang Tian di tribun, berdiri kegirangan. "Jantungnya pasti hancur!"
Lin Hai memucat. "Xiao'er!"
Namun, tawa kemenangan Wang Lei di arena tiba-tiba terhenti. Matanya melotot horor.
Tangannya... cakarnya yang mematikan... berhenti tepat di kulit dada Lin Xiao. Pakaian Lin Xiao robek di bagian dada, memperlihatkan kulit yang bersinar dengan lapisan logam samar.
Cakar Wang Lei tidak bisa menembus kulit itu! Bahkan tidak ada goresan!
"Bagaimana... mungkin..." suara Wang Lei bergetar. Teknik Tingkat Menengah miliknya ditahan dengan tubuh telanjang?
Lin Xiao menunduk, menatap tangan Wang Lei yang menempel di dadanya.
"Kulitku telah ditempa oleh api teratai dan darah naga," bisik Lin Xiao dingin. "Cakar kucingmu tidak cukup tajam."
Tangan Lin Xiao tiba-tiba bergerak. Cepat. Sangat cepat.
Dia mencengkeram pergelangan tangan kanan Wang Lei yang masih menempel di dadanya.
"Kau bilang ingin mematahkan keempat anggota gerakku?" tanya Lin Xiao.
"Lepaskan!" Wang Lei mencoba menarik tangannya, tapi cengkeraman Lin Xiao sekuat catut besi.
"Baiklah. Aku orang yang adil. Aku akan mengembalikan niat itu padamu."
KRAK!
Lin Xiao memutar pergelangan tangan Wang Lei 90 derajat ke arah yang salah.
"AAAARRRGGHHH!"
Jeritan memilukan Wang Lei menggema di seluruh alun-alun. Tulang pergelangan tangannya hancur total.
Tapi Lin Xiao belum selesai. Dia menendang lutut kanan Wang Lei.
KREK!
Lutut itu patah terbalik. Wang Lei jatuh berlutut dengan satu kaki.
"Kau..." Wang Lei menangis, air mata dan ingus bercampur darah. Rasa sakitnya luar biasa. "Ayah! Tolong aku! Dia iblis!"
Di tribun, Wang Tian mengaum marah. "LIN XIAO! BERANI KAU!"
Wang Tian melompat dari tribun VIP, berniat terbang ke arena untuk menyelamatkan putranya.
Tapi sebuah bayangan biru menghalanginya di udara. Lin Hai!
"Wang Tian! Ini duel resmi! Tidak ada yang boleh ikut campur sampai salah satu mati atau menyerah!" bentak Lin Hai, memblokir jalan Wang Tian.
Di arena, Lin Xiao tidak peduli dengan keributan di atas. Dia menatap Wang Lei yang berlutut di depannya.
"Kau mencoba membunuhku berkali-kali. Kau menghina ayahku. Kau menindas pelayanku."
Lin Xiao mencengkeram leher Wang Lei, mengangkat tubuh pemuda itu tinggi-tinggi dengan satu tangan, kaki Wang Lei yang patah menggantung menyedihkan.
"Hari ini, aku tidak akan membunuhmu. Itu terlalu mudah," kata Lin Xiao. Matanya bersinar keemasan. "Aku akan menghancurkan Dantian-mu."
Mata Wang Lei membelalak maksimal. Menghancurkan Dantian? Itu lebih buruk dari mati! Itu berarti dia akan menjadi cacat seumur hidup, tidak bisa berkultivasi lagi. Dari jenius menjadi sampah.
"JANGAN! AMPUN!"
Lin Xiao tidak bergeming. Tangan kirinya mengepal, energi Qi Tingkat 5 miliknya memadat.
BUK!
Tinju Lin Xiao menghantam perut bawah Wang Lei.
Seperti balon yang ditusuk jarum, terdengar suara psshhh pelan saat Qi di dalam tubuh Wang Lei bocor keluar. Wajah Wang Lei menjadi abu-abu seketika. Matanya kosong. Masa depannya hancur.
Lin Xiao melepaskan cengkeramannya. Tubuh Wang Lei jatuh teronggok seperti boneka rusak di lantai arena.
Hening. Kali ini, keheningan itu dipenuhi rasa takut.
Seluruh kota menatap Lin Xiao dengan pandangan ngeri. Kejam! Tegas! Tanpa ampun!
Lin Xiao berbalik, menatap ke arah tribun Keluarga Wang. Dia menatap Wang Tian yang sedang ditahan oleh Lin Hai.
"Aku menang," kata Lin Xiao datar, suaranya diperkuat Qi hingga terdengar ke seluruh penjuru. "Keluarga Wang, bawa pulang sampah kalian."
Wang Tian gemetar hebat. Bukan karena takut, tapi karena kebencian yang meluap-luap. Putranya... harapan masa depan klan... dihancurkan di depan matanya sendiri.
"Lin Xiao..." geram Wang Tian, suaranya seperti berasal dari neraka. "Aku bersumpah demi leluhur... aku akan mencincangmu menjadi ribuan potongan!"
Wasit buru-buru naik ke panggung, takut terjadi perang antar klan di tempat itu.
"Pemenang Babak Duel... LIN XIAO DARI KELUARGA LIN!"
Sorakan perlahan mulai terdengar, dimulai dari tribun Keluarga Lin, lalu menyebar ke penonton umum yang menyukai sosok yang kuat.
"Lin Xiao! Lin Xiao! Lin Xiao!"
Di tengah sorakan itu, Lin Xiao berdiri tegak. Dia tidak tersenyum. Dia tahu ini bukan akhir. Menghancurkan Wang Lei hanyalah pemicu perang yang lebih besar.
Dia menatap langit sore. "Mulai hari ini, nama 'Sampah' telah dihapus. Langkah selanjutnya... menaklukkan dunia ini."
Saat dia hendak turun panggung, tatapannya bertemu dengan seorang gadis cantik di tribun Keluarga Su. Su Mei. Gadis itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—penasaran, kagum, dan sedikit waspada.
Lin Xiao mengabaikannya dan berjalan menuju ayahnya.
Namun, di dalam benaknya, Kitab Keabadian tiba-tiba bergetar.
Ding. Misi Pertama Selesai: Memulihkan Kehormatan. Hadiah Terbuka: Teknik Pedang Naga Langit.
Sudut bibir Lin Xiao terangkat sedikit. Hadiah yang dia tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dengan teknik pedang ini, pedang hitam Xuan di punggungnya akan benar-benar bangun dari tidurnya.
Perang keluarga mungkin akan meletus besok, tapi Sang Naga sudah siap menari di tengah badai.