Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Permata tersebut mengajarkan cara bagaimana Liang Shan tidak lagi menolak Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang di tubuhnya, melainkan mengolahnya.
Dengan teknik ini, Liang Shan bisa menekan hawa dingin tersebut ke dalam pusat energinya dan mengubah racun mematikan itu menjadi sumber tenaga sakti yang luar biasa dahsyat.
"Jika aku tidak bisa membuang racun ini, maka aku akan menjadikannya senjataku," tekad Liang Shan.
Ia segera bermeditasi. Dalam hitungan jam, Han Xiang dan Yue Niang melihat perubahan drastis.
Hawa dingin yang tadinya menyiksa Liang Shan kini mulai berputar dengan teratur, membentuk sebuah pusaran energi berwarna biru kehitaman di sekitar tubuhnya.
Kekuatannya meningkat berlipat ganda, namun ada harga yang harus dibayar, setiap kali menggunakan tenaga ini, aura kematian akan terpancar dari dirinya, membuatnya terlihat seperti iblis di mata orang lain.
Kabar tentang runtuhnya Makam Naga dan penyatuan lima pecahan permata menyebar seperti api yang ditiup badai.
Dunia persilatan yang tadinya tenang kini mulai bergolak kembali. Nama "Liang Shan" menjadi pembicaraan di setiap kedai teh dan perguruan silat.
Sebagian menyebutnya sebagai Pendekar Golok Sunyi, namun lebih banyak yang menjulukinya sebagai Pembawa Bencana Masa Lalu.
"Seluruh dunia persilatan kini akan memburumu, Liang Shan," ujar Lauw Bun yang datang berkunjung secara rahasia.
"Menteri Wei telah mengeluarkan perintah tangkap mati dengan hadiah ribuan keping emas. Bukan hanya tentara, tapi pendekar-pendekar serakah dari sekte hitam dan putih kini sedang menuju Selatan."
Liang Shan berdiri, mengenakan jubah hitam barunya.
"Biarkan mereka datang," ucap Liang Shan tenang. "Aku tidak akan lagi bersembunyi di bawah tanah. Jika mereka ingin sejarah ini terkubur, maka aku akan mengubur mereka bersama sejarah itu."
Han Xiang menatap Liang Shan dengan cemas. Ia menyadari bahwa pria yang ia cintai ini bukan lagi sekadar pemuda gunung yang lugu.
Tapi dia telah menjadi pusat dari badai besar.
"Ke mana kita akan pergi sekarang?" tanya Han Xiang.
"Kita akan mencari lima orang yang tersisa," jawab Liang Shan.
"Menteri Wei dan Jenderal Long dilindungi oleh tembok istana yang tebal. Aku akan mempreteli kekuatan mereka satu per satu dari luar. Kita mulai dari wilayah Lembah Kematian, tempat salah satu dari lima pendekar bayaran itu yang konon menjadi penguasa di sana."
Perjalanan Liang Shan kini menjadi lebih luas. Mereka melewati kota-kota besar, namun di setiap sudut, mata-mata selalu mengawasi.
Berbagai jebakan mulai berdatangan, dari racun yang ditaruh di makanan hingga serangan mendadak di tengah malam oleh kelompok pembunuh bayaran yang ingin kaya mendadak.
Namun, Liang Shan yang sekarang bukanlah Liang Shan yang dulu. Dengan teknik Metamorfosis Racun Langit, setiap serangan lawan justru menjadi asupan energi baginya.
Suatu hari, di sebuah perempatan jalan menuju wilayah Barat, mereka dihadang oleh sekelompok pendekar dari Sekte Pedang Suci yang mengaku ingin menegakkan keadilan dengan membunuh "pembawa sial" seperti Liang Shan.
"Liang Shan! Kau telah menyebabkan kekacauan di Ibukota! Demi kedamaian dunia persilatan, kau harus mati!" seru pemimpin mereka, seorang pemuda sombong dengan pedang perak.
Liang Shan bahkan tidak menghunus goloknya. Ia hanya mengibaskan lengan bajunya. Sebuah gelombang hawa dingin yang pekat melesat, membekukan pedang-pedang mereka dalam sekejap.
"Kedamaian yang kalian bicarakan adalah kedamaian yang dibangun di atas kebohongan," kata Liang Shan sambil terus berjalan.
"Pergilah, sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran."
Para pendekar itu gemetar ketakutan. Mereka melihat aura naga hitam yang melingkari tubuh Liang Shan, sebuah tanda bahwa kekuatan pemuda ini sudah melampaui batas manusia biasa.
Sambil melangkah menembus kabut, Liang Shan terus memikirkan proyeksi "Tiga Bayangan Tak Terlihat". Ia tahu bahwa membunuh Menteri Wei hanyalah awal.
Musuh sebenarnya adalah sistem yang membiarkan pengkhianatan itu terjadi.
Terlebih lagi, identitas "Dewa Tanpa Nama" masih menjadi misteri terbesar. Mengapa seorang tokoh dunia persilatan tingkat tinggi mau bekerja sama?
"Pasti ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar takhta," gumam Liang Shan.
Yue Niang memetik senar kecapinya sekali, seolah setuju. Han Xiang memegang lengan Liang Shan, memberikan kehangatan di tengah hawa dingin yang menyelimuti pemuda itu.
"Liang Shan, apakah kau masih merasa sakit?" tanya Han Xiang.
Liang Shan menatap tangannya. Warna birunya tidak hilang, namun kini urat-uratnya bercahaya kehitaman saat mengerahkan tenaga.
"Sakit ini adalah pengingat, Xiang-er. Bahwa selama aku masih bernapas, dendam ini belum selesai. Dan selama aku masih memiliki kalian, aku tidak akan membiarkan diriku benar-benar menjadi iblis."
Di ufuk barat, matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan warna merah darah. Pengembaraan besar telah dimulai.
Seorang pendekar dengan lima permata di tangan, racun di tubuh, dan dua wanita setia di sampingnya, kini melangkah menuju jantung kegelapan dunia persilatan.
Dunia akan segera tahu, bahwa naga yang terluka telah bangun, dan ia tidak akan berhenti sampai seluruh dunia mendengar raungannya.
Matahari baru saja tergelincir di balik cakrawala saat Liang Shan, Han Xiang, dan Yue Niang tiba di sebuah kota perbatasan yang gersang bernama Kota Debu Kuning.
Ini adalah gerbang masuk menuju wilayah Barat Daya, tempat hukum kekaisaran hanya berlaku di atas kertas, sementara di lapangan, kekuatan baja dan ketajaman pedang adalah satu-satunya hukum yang diakui.
Liang Shan menarik capingnya lebih rendah. Jubah hitamnya yang baru, yang terbuat dari sutra anti-senjata pemberian Lauw Bun, berkibar pelan.
Sejak menguasai Metamorfosis Racun Langit, langkah kaki Liang Shan tidak lagi meninggalkan suara.
Dia berjalan seperti hantu yang melayang di atas tanah, sebuah fenomena yang hanya bisa dicapai oleh pendekar tingkat tinggi.
Mereka memasuki sebuah kedai tua bernama Kedai Serigala Haus. Suasana di dalam mendadak hening saat pintu terbuka. Bau arak murah, keringat, dan karat senjata memenuhi udara.
"Tiga mangkuk mi dan satu poci teh hijau," ucap Liang Shan pelan namun suaranya terdengar jelas hingga ke sudut ruangan yang paling bising.
Di pojok ruangan, sekelompok pria dengan tato kalajengking di lengan mereka saling bertukar pandang.
Salah satu dari mereka, seorang raksasa berkulit legam dengan kapak besar bersandar di mejanya, berdiri.
"Bukankah kau pemuda yang kepalanya dihargai sepuluh ribu keping emas?" tanya si raksasa, suaranya seperti geraman binatang buas.
"Liang Shan, putra pengkhianat Liang Qi?"
Han Xiang menegang, tangannya diam-diam menyentuh kantong jarum peraknya. Namun, Liang Shan hanya diam dan menyesap tehnya yang baru saja disajikan.
"Liang Qi bukanlah pengkhianat," sahut Liang Shan tanpa menoleh. "Dan bagi mereka yang ingin menukar kepalaku dengan emas, pastikan kalian sudah memesan peti mati sebelum matahari terbit."
Si raksasa tertawa terbahak-bahak, lalu dengan gerakan kilat, ia menghantamkan kapaknya ke meja Liang Shan.
BRAKK!!!