NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. LDR?

...SELAMAT MEMBACA!...

...Enjoy guyss...

Di sebuah ruangan dengan satu kipas di dinding. Dara datang menghampiri Dino yang duduk di kasur. Lalu, gadis itu duduk di samping sang suami dan membuka kotak di tangannya.

"Apa yang terjadi sama orang itu, No?" tanya Dara.

Dino mengulas senyum tipis, sambil menatap tajam ke arah istrinya.

Di bawah teriknya sinar matahari. Tamu tak diundang itu datang membawa anggota inti dan 30 anggota lainnya. Ambo tersenyum puas ketika ketua dari Ultimate Phoenix tersebut keluar dari sangkar.

Dino berjalan mendekati pria itu sambil menatap tajam. "Lo udah buat istri gue takut!" ujar Dino.

Ambo tersenyum puas. "Oh, ada istri lo?"

Dino membuang wajah. "Ada perlu apa?"

Ambo menyodorkan kotak kepada Dino. Tanpa berlama-lama, Dino membukanya.

Sebuah kotak yang sama seperti kala itu. Berisi dua ekor tikus mati dan bercak darah di sekitarnya. Dino membuang benda itu dari tangannya.

"Kami ada keperluan sama kalian," ucap Ambo. "Gue boleh ketemu sama istri lo, gak?"

Rahang Dino mengeras, tangannya mengepal kuat. "Jangan pernah libatin istri gue!" kata Dino, penuh penekanan.

Pria dewasa dengan umur di atas Dino itu menarik sudut bibirnya, kemudian melipat kedua tangan di depan dada. "Gue juga pernah jatuh cinta. Dan, gua gak ngebiarin orang lain ngambil dia," ucap Ambo. "Gue bunuh orang itu dan gue bisa hidup bareng sama pilihan gue, tanpa kehadiran orang ketiga."

"Gue kenal sama istri lo itu. Abangnya meninggal sekitar dua tahun lalu, kan?"

Dino melayangkan pukulan membuat Ambo jatuh ke tanah. Beberapa anggota Wind Blaze melangkah maju ketika sang ketua tersungkur, tetapi Ambo menghentikan dengan mengangkat tangannya.

Kesabaran Dino telah gugur. Dia mengepalkan kedua tangannya hingga menonjolkan ototnya. Pundak lelaki itu naik turun karena emosi.

Ambo bangkit, berdiri tegak sambil mengusap luka pukulan dari Dino, yang terdapat di sudut matanya. Dia mengangkat kepalanya, menatap tajam Dino, kemudian melayangkan tinjuan pada Dino.

Dino tidak sempat menghindar karena fokusnya hancur. Pukulan kuat yang mendarat di sudut bibirnya, mengeluarkan darah kental.

Ambo puas dengan hasil pukulannya karena berhasil membuat Dino mendesis. "Masalah kita selesai. Tapi, lo harus kenalin istri lo ke gue!" seloroh Ambo. "Atau, masalah ini tetep lanjut dan gue tarik istri lo ke masalah ini juga."

"Gue bilang, jangan usik istri gue!" Tatapan tajam yang menghunus oleh seorang Dino, membuat Ambo sedikit terkejut. "Sedikit aja ada luka, gak akan gue ampuni lo. Tapi, gue gak akan pernah biarin Dara luka," katanya.

"Kalau lo gak mau dia luka, kasih dia buat gue! Biar gue anterin dia ke tempat Abangnya!" Ambo tersungkur untuk yang kedua kalinya. Pukulan keras Dino kali ini tidak berhenti, dia berdiri di atas pria itu dan memegang kerah bajunya. "Lepasin gue, Brengsek!"

Cengkraman Dino lebih kuat membuat Ambo sulit bernapas. "Pergi dari sini sendiri, atau gue anterin pake keranda?" Dino tersenyum miring.

Dino tak terkalahkan. Dia tidak bisa dikalahkan saat ini. Percaya atau tidak, ketua Wind Blaze itu memohon maaf dan memberi perintah kepada para anggotanya untuk pergi dari daerah Ultimate Phoenix.

Kemenangan saat ini untuk Ultimate Phoenix. Juga kemenangan selanjutnya, akan tetap menjadi milik mereka.

Dara mengerutkan kening mendengarkan cerita dari sang suami. Bagaimana Dino itu diciptakan? Lelaki ini sungguh tidak punya rasa takut. Bahkan, Dara sudah bergetar hanya kerena melihatnya.

Luka mengerikan di sudut bibir Dino, membuat Dara merinding. Namun, Dino sepertinya sama sekali tidak merasakan sakit ketika ia membersihkan darah yang menetes, dari luka Dino.

Pergelangan tangan Dara dicekal oleh Dino, membuat gadis itu menatapnya lekat. "Jangan dipaksain! Gue bisa sendiri," ujar Dino. "Lo takut sama darah, Ra. Gue tahu." Lalu, Dino mengambil kapas lembut tersebut dari tangan Dara.

Dara bergeming, kemudian ia mengambil obat merah di kotak dan menyodorkannya kepada Dino. Lelaki itu mengambilnya sambil tersenyum tipis melihat wajah sang istri.

Dara sangat takut, bahkan kepalanya akan sangat pusing ketika melihat cairan berwarna merah itu, apalagi yang keluar dari sumbernya. Sungguh, pengelihatannya mulai kunang-kunang.

Sejak tadi, Dara menahannya. Namun, tangannya bergetar memegangi kepalanya yang pusing. Ingatan kejadian kelam di masa lalu, lagi-lagi terputar. Dara kacau sekarang.

Dino menyadari, dia segera menyimpan benda-benda itu. Lalu, dia menepuk pundak Dara. "Ra?" panggil Dino, dengan lembut.

Belum sempat menjawab pertanyaan Dino, gadis tersebut menutup matanya dan pingsan di pelukan suaminya. Dino langsung panik kala itu. "Ra! Bangun, Ra!" Namun, Dara tetap diam.

.....

Pagi yang cerah, secerah senyuman kala bahagia. Orang-orang beraktivitas. Kendaraan berlalu lalang di atas jalanan aspal. Kota metropolitan itu selalu saja padat.

Dara pergi bekerja, tentu saja diantar sang suami. Padahal, Dino sudah meminta agar Dara tidak usah bekerja. Namun, penolakan keras selalu Dino dapatkan.

Untuk mengawali pekerjaannya di pagi ini. Atasan memerintahkan Dara untuk memeriksa barang di samping gedung, apakah sudah diangkut semua.

Perintah telah dilaksanakan. Tidak ada satu kardus pun di samping bangunan tinggi tersebut. Dara akan menjaga kasir hari ini. Dara melangkah masuk ke supermarket. Namun, seseorang menabrak lengannya.

Dara berbalik, orang itu pun berbalik. Pria berkacamata dan berpakaian setelan hitam. "Hai," ujar pria tersebut, sambil melepaskan kacamata hitamnya.

Dara terkejut setengah mati. Itu adalah orang yang menghajar kakaknya. Dara mematung, tubuhnya bergetar hebat.

"Kita belum kenalan, ya?" tanya pria itu. "Nama saya Ambo." Dia mengulurkan tangan sambil tersenyum miring.

Dara menggelengkan kepala. "Maaf," ujar Dara, kemudian melenggang pergi dengan ketakutan.

Ambo tersenyum miring melihat gadis itu pergi meninggalkannya. "Menarik," katanya.

Gadis itu gemetaran, dia memutuskan pergi ke ruang pegawai untuk menenangkan diri. Dara mengambil tas di loker miliknya untuk mengambil minumannya. Namun, sapu tangan yang selalu ada di tasnya, Dara terkejut melihatnya.

Sapu tangan penuh darah. Dara melemparkan tasnya hingga membuat teman yang baru masuk ke ruangan itu, terkejut. "Ra, lo kenapa?"

Dara gemetaran, air matanya meluruh begitu deras. Napasnya memburu. Dia sangat ketakutan.

Pada akhirnya, hari ini Dara harus absen karena kondisinya yang kacau. Setelah dia menelpon suaminya, Dino datang untuk menjemput.

Tidak ada pilihan lain, Dara bercerita tentang apa yang terjadi padanya. Dino sangat kaget mendengarnya sambil menahan emosi.

"Ra, kayaknya lo jangan kerja dulu," ujar Dino. "Dan, lo harus tinggal di rumah keluarga lo dulu."

Dara terkejut mendengar pernyataan suaminya. "No?"

"Ini bahaya, Ra." Dia beranjak dari kasur, kemudian mengambil ponsel yang berada di sofa sudut ruangan. "Biar gue yang jelasin ke mereka," ucapnya.

"Ja--jangan, No!" peringat Dara. "Lebih baik nggak usah kasih tahu alasannya."

"Aku takut Bunda khawatir." Dara menunduk dalam.

Dino mengembuskan napas panjang. Dia duduk di samping Dara. Lalu, lelaki itu menggenggam tangan Dara. "Maaf, Ra. Karena gue, lo jadi dalam bahaya," kata Dino. "Harusnya, lo gak ada dalam keadaan kayak gini."

Pagi itu sungguh menghangatkan. Dino menarik istrinya ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan erat. "Gue janji, gue akan jagain lo, Ra," kata Dino, sambil membelai lembut rambut Dara.

"No, aku kayaknya udah suka sama kamu," ungkap gadis itu, di dalam dekapan Dino hingga membuat pelukan itu menjadi lebih erat.

Sungguh, detak jantung Dino berdebar. Seperti ada sebuah pelangi yang datang, bunga-bunga bermekaran, langit cerah hingga membuat senyuman lebar terukir di wajah lelaki itu. Senyum langkah seorang Dino, memperlihatkan barisan giginya.

Tidak mau membuat sang istri berada dalam bahaya lebih lama. Dino ingin segera menyelesaikannya. Untuk itu, Dino mengamankan Dara di rumah mertuanya. Berada di rumah sendiri, akan membuat gadis tersebut lebih terancam. Setidaknya, ada yang menemani Dara.

"Kalian gak ada masalah, kan?" tanya Bila dengan khawatir. Sebab, sang putri bersama suaminya datang tanpa memberi kabar.

"Dino mau ke luar kota, makanya aku nginap," ucap Dara.

"Iya, Bun. Kasian kalau Dara sendirian di rumah," sahut Dino.

Suara tawa Tino membuat semua tatapan mata tertuju padanya. "LDR, dong," celetuknya. "Kasian, LDR!" Dia mengolok-olok kakak perempuannya itu.

Dara dan Dino saling menatap. Hati Dino tersayat ketika melihat tatapan sendu Dara. Ia tahu, gadisnya itu sebenarnya tidak mau berbohong.

Malam yang menyedihkan. Ia memisahkan sepasang insan yang kini telah menjadi lengket. Rasanya sangat sedih, entah mengapa Dara ingin menghentikan suaminya itu pergi. "No," panggil Dara. Namun, dia tidak mengatakan apapun.

Teras rumah itu, lantainya dipijak oleh dua pasang kaki insan yang kini saling mencintai. Keduanya dilema, tidak ikhlas untuk menjadi pasangan dengan hubungan jarak jauh.

"Gue akan selalu hubungin lo, Ra," ujar Dino. "Gue pasti kembali buat lo."

Dara mengangguk pelan. "Aku percaya, kamu pasti kembali." Walau sebenarnya, dia tidak ikhlas.

"Gue selesain ini secepatnya," kata Dino, terdengar penuh keyakinan.

Oh, ayolah, kalian masih akan berada di kota yang sama. Dara, suaminya itu hanya ingin menyelesaikan masalahnya dengan Wind Blaze secara jangan di malam esok.

Sudah menjadi kebiasaan. Apabila ada pihak yang tak mau diajak untuk berdamai, Ultimate Phoenix tidak akan segan mengibarkan bendera peperangan.

🐰

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!