NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kriminal
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2 - Antono Wijaya

* 3 Jam sebelumnya....

Tiga jam sebelum sirene memecah pagi, rumah itu telah sepenuhnya terlelap.

Lampu ruang tamu menyala redup. Televisi masih hidup, menampilkan gambar bergerak tanpa suara yang benar-benar diperhatikan. Dua anak tertidur di atas karpet, tepat di depan layar. Selimut tipis menutupi sebagian tubuh mereka, bantal sofa dipindahkan seadanya untuk menyangga kepala kecil yang telah kehilangan kesadaran sejak lama. Napas mereka teratur, pelan, nyaris tenggelam oleh dengung televisi.

Di kamar belakang, sang ayah dan ibu tertidur lelap. Pintu kamar tidak tertutup rapat—hanya menyisakan celah sempit, kebiasaan lama yang tidak pernah dianggap berbahaya.

Jam dinding berdetak.

Tidak ada firasat.

Tidak ada suara aneh.

Pintu depan bergerak tanpa bunyi keras. Engselnya bergeser perlahan, cukup untuk membuka celah tanpa mengusik malam. Tidak ada alarm. Tidak ada langkah yang tergesa. Rumah itu menerima kehadiran asing tanpa sadar bahwa segalanya akan berhenti di sana.

Langkah kaki menyentuh lantai ruang tamu.

Cahaya televisi memantulkan bayangan yang bergerak pelan di dinding. Anak-anak tetap tertidur. Tidak ada yang terbangun. Tidak ada yang bergeser karena takut.

Ketika tubuh-tubuh kecil itu tak lagi bernapas, perubahan kecil terjadi—bukan jeritan, bukan perlawanan, melainkan gerakan tak sadar. Selimut terseret sedikit. Bantal jatuh dari sofa. Salah satu kursi kecil yang sebelumnya berada dekat dinding terdorong beberapa senti saat keseimbangan tubuh berubah.

Televisi tetap menyala.

Jam berdetak satu kali.

Langkah itu berlanjut ke kamar belakang.

Pintu didorong perlahan. Tempat tidur tidak berderit. Sang ayah dan ibu tetap terlelap hingga kesadaran mereka tidak pernah sempat kembali. Tidak ada suara yang cukup keras untuk merambat keluar kamar. Namun ketika tubuh dewasa kehilangan daya topangnya, kasur bergeser sedikit dari posisi semula. Meja kecil di samping tempat tidur tergeser, membuat sebuah bingkai foto jatuh miring—tidak pecah, hanya berubah posisi.

Pintu kamar ditutup kembali seperti sebelumnya.

Langkah itu kembali ke ruang tamu.

Bukan untuk mencari sesuatu, bukan untuk meninggalkan apa pun, melainkan untuk memastikan tidak ada yang tersisa dalam keadaan hidup. Dalam pergerakan terakhir itu, sofa terdorong sedikit ke depan. Karpet berlipat di satu sisi. Kursi yang sebelumnya tegak kini miring, seolah seseorang sempat duduk lalu berdiri kembali—padahal tidak pernah ada yang duduk.

Semua perubahan itu tidak disengaja.

Tidak direncanakan.

Tidak diperhitungkan sebagai pesan.

Hanya konsekuensi dari tubuh-tubuh yang berhenti berfungsi.

Pintu depan tertutup kembali.

Bunyi yang sama pelannya seperti saat dibuka.

Malam terus berjalan.

Televisi di ruang tamu menyala hingga acara berganti. Cahaya birunya menyorot perabotan yang kini tidak lagi berada di posisi semula—cukup berantakan untuk terlihat janggal, tetapi tidak cukup kacau untuk disebut perlawanan.

...****************...

"Kasus ini hampir membuatku pecah kepala!" ucap seorang pria muda yang nampaknya sudah frustasi dengan kasus ini, "Kasus pertama saja belum selesai sudah ada kasus baru, tanpa bukti, tanpa jejak, tanpa apapun itu... Pelaku ini sangat pintar!"

"Walaupun sepintar apapun dia, pasti akan meninggalkan sesuatu, kita perlu menyelidiki lebih dalam lagi." Balas Karina, "Dia pikir bisa bebas selamanya?"

Setelah menelusuri Rumah korban, mereka pun kembali ke kantor polisi. Siangnya, mereka masih sibuk menginvestigasi kasus pertama dan... Kasus terbaru, pembunuhan sekeluarga.

"Mau makan siang, Kar? Kita bisa makan soto sebelah," Tanya Arga yang mengajak Karina makan siang.

"Eh boleh nih, kebetulan aku belum sarapan tadi." Jawab Karina mengiyakan ajakan Arga.

Arga Suseno, Seorang polisi muda yang kebetulan menangani kasus yang sama seperti Karina. Arga bisa dikatakan satu tingkat lebih muda dari Karina selama di akademi. Karir yang dimiliki Arga bisa dikatakan bagus karena intelektualitas yang dimilikinya sangat tinggi.

Akhirnya mereka berdua pun makan siang.

"Aku bingung deh, kok ada ya pelaku melakukan kejahatan tapi tidak meninggalkan jejak apapun, ya setidaknya ada bukti walaupun ga langsung." Ucap Arga sambil mengunyah makanan.

"Berarti pelakunya pintar, mungkin dia tahu pola kita dalam menyelidiki itu bagaimana, tapi balik lagi setiap tindakan yang dia lakukan pasti ada aja satu hal yang bisa membantu kita dalam penyelidikan ini," jawab Karina sambil sesekali melihat handphone-nya, "Tapi aku tahu siapa yang bisa membantu kita dalam penyelidikan ini."

"Siapa?"

...****************...

Suara langkah kaki itu terdengar jelas di koridor Kantor Polisi.

Tek... Tek... Tek...

Bunyi sepatu menyentuh lantai terdengar ritmis, stabil, dan—entah mengapa—membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat. Beberapa anggota polisi yang sedang berjalan di koridor refleks menepi, sebagian menoleh sekilas lalu berpura-pura sibuk dengan berkas di tangan mereka. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang bertanya.

Langkah itu tidak tergesa. Tidak pula ragu.

Seorang pria berbadan tegap berjalan lurus ke arah ruang rapat utama—ruangan yang sejak pagi tadi dipenuhi ketegangan dan kebuntuan. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Namun tatapannya tajam, fokus, seolah setiap detail di sekelilingnya telah tercatat bahkan sebelum ia benar-benar memperhatikannya.

Pria itu berhenti tepat di depan pintu.

Tanpa mengetuk.

Tanpa basa-basi.

Tangannya mendorong pintu dengan tegas.

*Kre**k*...

Suara pintu terbuka membuat seisi ruangan spontan menoleh. Beberapa perwira yang sedang berdiskusi terdiam di tengah kalimat. Udara seolah membeku sesaat.

Pria itu melangkah masuk.

Ia tidak memperkenalkan diri. Tidak menyapa siapa pun. Ia hanya menarik satu kursi kosong di sisi meja dan duduk dengan tenang, kedua tangannya bertumpu di atas meja, punggung tegak, pandangan lurus ke depan.

Keheningan menggantung.

Beberapa orang saling pandang, jelas kebingungan. Tidak ada satu pun yang berani menegur atau mempertanyakan kehadirannya. Seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa pria ini tidak datang untuk ditanya.

Namun Karina berbeda.

Sejak pintu terbuka, sorot matanya berubah.

Ia mengenali langkah itu.

Ia mengenali postur itu.

Ia mengenali aura yang memenuhi ruangan tanpa perlu suara.

Antono Wijaya.

Nama itu tidak perlu diucapkan untuk memiliki bobot. Di internal kepolisian, Antono dikenal sebagai detektif yang jarang muncul, tetapi selalu datang ketika kasus berada di titik paling buntu. Ia bukan tipe yang sering tampil di media. Tidak mencari pengakuan. Namun catatan kasus yang berhasil ia selesaikan membuat namanya beredar dari mulut ke mulut, dengan nada setengah kagum, setengah waspada.

Antono Wijaya—detektif yang dikenal bisa menyelesaikan kasus dalam waktu singkat, bukan karena keberuntungan, melainkan karena cara berpikirnya yang tidak lazim.

Karina berdiri.

“Selamat pagi, Pak Antono,” ucapnya pelan namun jelas.

Antono mengalihkan pandangannya ke arah Karina. Tatapannya tajam, namun tidak dingin. Ia mengangguk satu kali.

“Pagi,” jawabnya singkat.

Hanya itu.

Inspektur yang memimpin rapat berdeham kecil, mencoba mengembalikan kendali ruangan. “Pak Antono… kami tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya.”

Antono menoleh perlahan. “Kalau diberitahu, berarti kasusnya belum mendesak.”

Kalimat itu membuat beberapa orang terdiam. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada kesan menantang. Namun kata-katanya jatuh dengan presisi yang sulit dibantah.

Ia menatap layar proyektor yang masih menampilkan foto-foto lokasi kejadian.

“Mulai dari awal,” katanya. “Singkat.”

Inspektur melirik Karina sejenak, lalu mengangguk. Ia mulai menjelaskan kembali kronologi: korban pertama dua hari lalu, minim bukti, tanpa saksi, tanpa rekaman yang berguna. Lalu eskalasi dini hari tadi—satu keluarga ditemukan tewas di rumah mereka.

Antono tidak menyela.

Ia mendengarkan sambil memperhatikan layar. Matanya bergerak perlahan dari satu foto ke foto lain. Tidak ada perubahan ekspresi. Namun Karina yang duduk tak jauh darinya tahu—Antono sedang bekerja.

“Tidak ada barang hilang?” tanya Antono akhirnya.

“Tidak ada,” jawab petugas forensik.

“Tidak ada tanda pesan, simbol, atau benda asing?” lanjutnya.

“Tidak ada sama sekali.”

Antono mengangguk pelan.

“Perabotan ruang tamu berantakan,” tambah inspektur. “Sofa bergeser, kursi miring, karpet terlipat.”

“Berantakan seperti perlawanan?” tanya Antono.

“Tidak persis,” jawab Karina sebelum yang lain sempat bicara. “Lebih seperti… perubahan posisi. Tidak ada kerusakan signifikan.”

Antono menoleh ke arahnya.

“Konsekuensi,” gumamnya pelan. “Bukan aksi.”

Beberapa orang mengernyit, mencoba memahami maksudnya.

Antono berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekat ke layar, menunjuk foto ruang tamu keluarga tersebut.

“Kalau ini perlawanan,” katanya, “akan ada pola panik. Benda terbalik acak. Bekas gesekan tak beraturan. Tapi ini—” jarinya menunjuk sofa yang bergeser sedikit, “—ini rapi dalam ketidakteraturannya.”

Ruangan kembali sunyi.

“Pelaku tidak menciptakan kekacauan,” lanjut Antono. “Kekacauan terjadi karena tubuh kehilangan fungsi.”

Karina mengangguk pelan. Analisis itu selaras dengan kesimpulannya sejak awal, namun mendengarnya dari Antono memberi bobot yang berbeda.

“Tidak ada saksi,” lanjut inspektur. “Tetangga tidak mendengar apa pun.”

Antono tersenyum tipis—senyum yang tidak mengandung humor. “Karena memang tidak ada yang perlu didengar.”

Ia kembali duduk.

“Pelaku seperti ini bekerja dalam senyap. Bukan karena ingin terlihat hebat, tapi karena kebisingan adalah risiko.”

“Apakah kita bisa memastikan ini pelaku yang sama?” tanya seorang perwira.

Antono tidak langsung menjawab. Ia menatap meja, seolah menyusun potongan yang belum terlihat utuh.

“Kasus pertama satu korban,” katanya akhirnya. “Kasus kedua satu keluarga. Eskalasi kuantitas, bukan metode.”

Ia menatap Karina. “Metodenya konsisten.”

Karina menjawab dengan nada tenang, “Ketiadaan.”

“Ya,” kata Antono. “Tidak ada jejak adalah ciri, bukan kekurangan.”

Kalimat itu membuat beberapa orang merasa tidak nyaman. Bagi polisi, ketiadaan bukti adalah mimpi buruk. Namun bagi Antono, itu justru petunjuk.

“Pelaku ini tidak ingin dilihat,” lanjutnya. “Dan sejauh ini, dia berhasil.”

“Lalu apa langkah kita?” tanya inspektur.

Antono menyandarkan punggung ke kursi. “Berhenti mencari apa yang ditinggalkan.”

Semua mata tertuju padanya.

“Karena tidak ada,” lanjutnya. “Cari apa yang tidak berubah.”

Karina menyipitkan mata. “Maksud Anda?”

“Lokasi,” jawab Antono. “Lingkungan. Jam. Rutinitas.”

Ia berdiri kembali. “Korban pertama di lorong penghubung. Korban kedua di rumah. Dua tempat berbeda, tapi sama-sama berada di area yang secara sosial dianggap aman.”

“Artinya?” tanya seseorang.

“Artinya pelaku tidak membutuhkan lokasi khusus,” jawab Antono. “Dia hanya membutuhkan ketenangan.”

Ruangan terasa semakin berat.

“Dan kota ini,” lanjutnya, “memberinya itu.”

Karina menatap layar, lalu kembali ke Antono. “Jadi kita tidak mengejar pelaku.”

Antono menoleh, menatapnya langsung. “Bukan sekarang.”

“Lalu apa?”

“Kita mempelajari kota,” jawabnya. “Dan menunggu satu kesalahan kecil—bukan dari pelaku, tapi dari lingkungan.”

Inspektur menghela napas pelan. “Itu bisa memakan waktu.”

Antono mengangguk. “Ya.”

Ia meraih map di meja. “Dan selama itu, kita harus menerima satu hal.”

“Apa?” tanya Karina.

Antono menatap seisi ruangan, lalu berkata dengan suara datar namun tegas, “Kita tidak sedang memimpin permainan.”

Tidak ada yang membantah.

Beberapa detik berlalu sebelum Antono melangkah menuju pintu.

“Rapat selesai,” katanya singkat. “Saya ingin semua laporan mentah. Tanpa interpretasi.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Dan jangan menambahkan asumsi. Asumsi adalah cara tercepat untuk salah.”

Pintu tertutup di belakangnya.

Krek....

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Karina tetap duduk, menatap pintu yang baru saja tertutup. Ia tahu, sejak Antono Wijaya masuk ke ruangan itu, dinamika kasus ini telah berubah.

Bukan menjadi lebih mudah.

Melainkan menjadi jauh lebih serius.

Di luar, matahari sudah berada cukup tinggi, cahayanya menembus sela gedung-gedung kota yang sejak tadi sibuk oleh aktivitas siang hari. Panas mulai terasa menempel di aspal, suara kendaraan bersahutan tanpa henti, dan ritme kota berjalan cepat—seolah tak peduli pada tragedi yang masih menggantung tanpa jawaban.

Dan untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai, Karina merasakan bukan hanya tantangan—melainkan peringatan.

Bahwa mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak ingin dikenali.

Dan mungkin, tidak ingin berhenti.

1
Amelia
Bab ini sangat menegangkan 😢
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y
Amelia
😱😱😱😱😱
Amelia
😱😱😱
Amelia
Udah terjawab. Jangan tamat dl dong
Amelia
Dari awal emang udah curiga sama orang ini. Semangat thor
Amelia
Antono😱
Amelia
Semangat ya author 👍
Amelia
Semangat up thor👍
Emily
Alur ceritanya seru. Penulisan juga udah rapi, kata2nya hampir nggak ada yg typo. Semangat ya
Delyana.P
Terjawab sudah. ternyata tebakan ku benar siapa yg jahat thor 😂 Karina ibumu dalam bahaya, buruan selamatkan 🤔
Dinda Wei
Next
Dinda Wei
Aduhh masih juga mikir Agra pelakunya. keburu kamu yang di gorok Antono 😂 aku ngarah ya sipelaku ya Antono 🤔
Dinda Wei
Polisinya persis di Konoha, mudah terkecoh wkwk
Dinda Wei
Kayaknya sengaja bikin agra di tahan trus pelaku bebas ngancem karin. artinya yg di buru pelaku itu ya karin, korban2 itu hanya pengalihan
Amiera Syaqilla
semangat author
Amelia
Agra harus bebas, takut banget Karina di habisin psikopat gila
Dinda Wei: yup 👍
total 1 replies
Amelia
Agra harus di lepas. Bisa jd skenario pelaku buat ngabisin karina. Jd nggak ada yg bantu karin. Waspada lah karinaa
Amelia
Kok aku curiga sama atasan karina ya. Mencurigakan 🤔
Dinda Wei: sepemikiran. Antono mencurigakan
total 1 replies
Amelia
Hati2 Karina, pembunuh sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Kamu pasti masuk targetnya juga
Dinda Wei: iya takut banget, pelakunya nyasar ke kariin😡
total 1 replies
Amelia
Next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!