Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Udara Di Atas Langit Jakarta
Hana Anindita terbangun tepat saat cahaya matahari pertama menyentuh ujung kakinya. Selama lima tahun terakhir, alarm alaminya bukanlah cahaya matahari, melainkan bunyi kasar pintu lemari yang dibanting Aris atau gumaman mertuanya yang menanyakan letak kunci gudang. Namun pagi ini, di kamar tamu apartemen Adrian yang berada di lantai tiga puluh, satu-satunya yang menyapa Hana adalah keheningan yang mahal.
Hana duduk di tepi ranjang king-size yang terasa terlalu empuk bagi punggungnya yang terbiasa tegang. Dia menatap sekeliling. Interior kamar ini sangat minimalis—perpaduan warna abu-abu gelap, kayu ek, dan marmer. Tidak ada foto keluarga yang dipaksakan, tidak ada tumpukan baju kotor Aris di sudut kursi, dan tidak ada aroma minyak kayu putih yang selalu identik dengan kamar ibunya Aris.
Dia berjalan menuju jendela setinggi langit-langit. Di bawah sana, Jakarta mulai menggeliat. Mobil-mobil tampak seperti semut, bergerak merayap di atas aspal yang masih basah sisa hujan semalam. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Hana merasa berada di luar jangkauan siapa pun. Dia merasa aman, bukan karena ada penjaga, tapi karena dia akhirnya memiliki jarak.
"Selesai," bisiknya pelan. Bibirnya terasa kaku mengucapkan kata itu. "Selesai menjadi sabar."
Kata 'sabar' selama ini adalah penjara bagi Hana. Sabar saat Aris pulang larut tanpa kabar. Sabar saat uang belanja dipangkas demi hobi otomotif suaminya. Sabar saat dipojokkan karena belum juga memberikan cucu. Pagi ini, sabar itu telah habis, menguap bersama kabut Jakarta.
Hana mandi dengan perlahan. Dia menikmati air hangat yang membasuh bahunya, membayangkan air itu juga meluruhkan rasa rendah diri yang selama ini melekat. Dia mengenakan pakaian cadangan yang sempat dia bawa di tas kecilnya semalam—sebuah blus simpel berwarna putih dan celana bahan berwarna hitam. Tidak mewah, tapi bersih dan rapi.
Saat dia melangkah keluar kamar menuju ruang tengah, aroma kopi segar dan roti panggang memenuhi udara. Adrian sudah di sana. Pria itu tidak mengenakan jas lengkap seperti biasanya. Dia hanya memakai kaos polo hitam dan celana kain santai, sedang menyesap kopi sambil membaca sesuatu di tabletnya.
"Kamu sudah bangun," ujar Adrian tanpa nada mendesak. Dia berdiri dan berjalan menuju meja dapur. "Ada kopi, sereal, dan roti. Maaf, saya tidak tahu apa seleramu saat sarapan."
"Ini sudah lebih dari cukup, Pak Adrian. Terima kasih banyak," jawab Hana formal.
Adrian meletakkan cangkir kopinya. "Hana, di luar jam kantor dan di dalam rumah saya, panggil saja Adrian. Kamu bukan asisten saya di sini, kamu adalah tamu—atau jika kamu lebih suka, kamu adalah rekan yang sedang mencari tempat perlindungan."
Hana duduk di kursi bar tinggi di meja dapur. "Saya tetap merasa tidak enak. Seharusnya saya ke hotel saja semalam."
"Hotel punya catatan tamu, Hana. Aris punya banyak koneksi di kalangan manajer operasional perhotelan menengah. Kamu butuh tempat yang tidak ada dalam daftar pencariannya," kata Adrian tenang, seolah membicarakan strategi bisnis biasa. "Makanlah. Kamu butuh energi untuk menghadapi apa yang akan datang hari ini."
Baru saja Hana menyuap potongan roti pertamanya, ponselnya yang tergeletak di atas marmer bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Aris' diikuti dengan dua puluh lima panggilan tak terjawab sejak subuh tadi.
Tak lama, sebuah pesan masuk. Hana tidak bisa menahan diri untuk tidak membacanya.
“Hana! Kamu di mana?! Jangan kekanak-kanakan. Ibu jatuh sakit tadi pagi, tensinya naik karena memikirkan kamu yang pergi tidak jelas. Pulang sekarang juga! Jangan buat aku malu di depan tetangga karena istriku kabur seperti perempuan tidak benar. Aku tunggu sampai jam 10, atau aku jemput ke kantormu!”
Hana meletakkan kembali rotinya. Selera makannya hilang seketika. Manipulasi yang sama. Senjata yang sama. Ibunya yang sakit selalu menjadi kartu as Aris untuk membuat Hana bertekuk lutut. Dulu, Hana akan langsung menangis, memesan taksi online, dan pulang dengan rasa bersalah yang menghimpit dada.
Namun sekarang, dia menatap pesan itu dengan mata yang kering. Dingin.
"Dia menggunakan kartu 'Ibu sakit' lagi?" tanya Adrian pelan, seolah bisa membaca pikiran Hana.
Hana mendongak, sedikit terkejut. "Bagaimana Anda tahu?"
"Pola pria seperti dia sangat mudah ditebak, Hana. Mereka tidak punya argumen logis untuk mempertahankanmu, jadi mereka menyerang nuranimu. Mereka ingin kamu merasa menjadi orang jahat agar mereka tetap bisa merasa menjadi korban," jelas Adrian. Dia menggeser sebuah gelas berisi jus jeruk ke arah Hana. "Pertanyaannya, apakah kamu masih orang yang sama dengan Hana yang kemarin?"
Hana terdiam cukup lama. Dia memandangi pesan Aris sekali lagi. Jarinya bergerak di atas layar, tapi bukan untuk membalas. Dia menekan tombol 'Blokir'. Lalu dia menghapus percakapan itu.
"Tidak," jawab Hana tegas. "Hana yang kemarin sudah mati di teras rumah itu semalam."
Hana menghabiskan sarapannya dengan diam yang produktif. Di kepalanya, dia mulai menyusun rencana. Dia tidak bisa terus bersembunyi. Dia harus bekerja. Dia harus mandiri secara finansial karena dia tahu Aris pasti akan memutus akses ke rekening bersama mereka dalam waktu singkat—jika pria itu belum melakukannya.
"Saya akan ke kantor hari ini," ujar Hana tiba-tiba.
Adrian mengangkat alis. "Kamu yakin? Dia bilang akan menjemputmu di sana."
"Biarkan saja dia datang," sahut Hana dengan nada yang belum pernah dia gunakan sebelumnya. Nada yang berwibawa. "Selama ini saya menutupi kelakuannya di depan rekan kerja karena saya ingin menjaga martabatnya sebagai suami. Tapi karena dia sudah tidak menghargai martabat saya sebagai manusia, saya tidak punya alasan lagi untuk melindunginya."
Adrian tersenyum tipis. Bukan senyum meremehkan, tapi senyum kemenangan. "Itu semangat yang saya tunggu. Saya akan meminta bagian keamanan gedung untuk tidak membiarkannya naik ke lantai divisi kita jika dia membuat keributan. Tapi jika kamu ingin menghadapinya di lobi, itu keputusanmu."
"Saya akan menghadapinya di tempat yang saya pilih, dengan cara saya sendiri," balas Hana.
Pukul 08.30 pagi, Hana melangkah keluar dari lift di lantai kantornya. Suasananya seperti biasa; bunyi telepon yang berdering, suara langkah kaki yang terburu-buru, dan aroma pembersih lantai yang tajam. Beberapa rekan kerjanya menyapa, dan Hana membalas dengan senyum sopan yang terkendali.
Dia duduk di meja kerjanya, menyalakan komputer, dan mulai memeriksa laporan keuangan proyek yang tertunda. Fokusnya tajam. Pekerjaan selalu menjadi pelariannya, dan kini, pekerjaan akan menjadi senjatanya untuk berdiri tegak.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan satu jam.
Sekitar pukul 09.45, suara gaduh terdengar dari arah meja resepsionis di lobi luar. Suara yang sangat familiar di telinga Hana. Suara Aris yang sedang membentak, menggunakan nada tinggi yang biasa dia gunakan untuk mengintimidasi Hana di rumah.
"Saya suaminya! Kalian tidak punya hak melarang saya masuk! Hana! Keluar kamu!"
Beberapa rekan kerja Hana mulai berbisik-bisik, melirik ke arah meja Hana dengan tatapan penasaran sekaligus kasihan. Hana bisa merasakan suhu tubuhnya naik, detak jantungnya berpacu cepat. Rasa malu itu sempat menyerang—rasa malu karena urusan domestiknya menjadi tontonan publik.
Tapi kemudian dia teringat pada jendela apartemen Adrian pagi tadi. Dia teringat pada janji "Selesai Menjadi Sabar".
Hana berdiri. Dia merapikan blusnya, menarik napas dalam, dan berjalan menuju lobi dengan langkah yang tenang dan pasti. Dia tidak berlari, dia tidak menunduk.
Di lobi, Aris tampak berantakan. Kemejanya kusut, rambutnya tidak disisir rapi, dan wajahnya merah padam. Dua petugas keamanan sedang berusaha menghalanginya masuk ke area kerja. Saat melihat Hana, Aris langsung menunjuk dengan kasar.
"Nah, ini dia! Hana, ikut aku pulang sekarang! Kamu sudah keterlaluan. Ibu pingsan gara-gara kamu! Apa kamu mau jadi pembunuh mertuamu sendiri?!" teriak Aris tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang menonton.
Hana berhenti tepat dua meter di depan Aris. Dia tidak tampak gentar sedikit pun.
"Mas Aris," suara Hana terdengar jernih dan stabil, bergema di lobi yang mendadak sunyi. "Ibu sakit adalah urusan medis. Jika beliau sakit, bawa ke dokter, bukan menjadikannya alasan untuk mengancam saya."
Aris tertegun. Dia mengharapkan Hana yang menangis dan memohon maaf. Dia tidak siap dengan Hana yang berbicara seolah sedang melakukan presentasi bisnis.
"Kamu... kamu bicara apa? Dasar istri tidak tahu diuntung! Kamu kabur ke mana semalam? Sama siapa? Kamu selingkuh, ya?!" Aris mencoba menyerang dengan tuduhan rendahan.
Hana tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat dingin. "Aku tidak kabur, Aris. Aku pergi. Ada perbedaan besar di antara keduanya. Dan mulai hari ini, jangan pernah datang ke kantorku lagi. Surat cerai akan dikirimkan oleh pengacaraku minggu depan."
Lobi itu seakan kehilangan tekanan udara. Semua orang menahan napas. Aris membeku, mulutnya terbuka namun tidak ada kata-kata yang keluar. Dia terbiasa menang dalam perdebatan dengan Hana karena Hana selalu mengalah. Kini, saat Hana berhenti mengalah, Aris kehilangan kekuatannya.
Hana berbalik tanpa menunggu jawaban Aris. Dia berjalan kembali ke meja kerjanya dengan punggung yang tegak. Dia tahu perjuangannya baru dimulai, dan Aris pasti akan melakukan segala cara untuk menjatuhkannya lagi. Tapi satu hal yang pasti: pagi ini, di bawah lampu neon kantor yang terang, Hana telah memenangkan dirinya kembali.
Dia duduk di kursinya, memasang headset, dan kembali mengetik. Dunianya tidak hancur. Justru, dunia yang selama ini menyesakkan itu baru saja runtuh, menyisakan ruang luas bagi Hana untuk membangun dunianya yang baru.