Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ORANG ASING DI PINGGIR DESA
Rasa sakit itu datang seperti ombak.
Bukan sakit fisik — itu sudah hilang. Tapi sakit yang aneh. Seperti diremas, ditarik, lalu dilepaskan di tempat yang sama sekali tidak dikenal.
Wei Chen membuka mata.
Langit.
Tapi bukan langit yang dia kenal.
Di Jakarta, langit selalu kelabu. Polusi. Gedung-gedung tinggi menjulang seperti monster beton. Tapi ini... biru. Bersih. Dengan awan tipis seperti kapas yang melayang malas.
Di mana aku?
Dia mencoba menggerakkan tangan. Bisa. Tubuhnya terasa ringan — terlalu ringan. Dia menunduk.
Bukan tubuhnya.
Tangan ini lebih muda. Lebih kekar. Ada kapalan di beberapa tempat — kapalan yang bukan karena memegang pulpen atau mengetik laptop. Kapalan orang yang biasa bekerja fisik.
Wei Chen duduk perlahan. Kepalanya berputar sejenak. Di sekelilingnya, sawah terhampar hijau. Jauh di kejauhan, atap-atap genteng tradisional berjejer. Suara ayam berkokok. Bau jerami dan tanah basah.
Ini... desa?
Ingatan terakhirnya melintas lambat, seperti film yang diputar dalam gerak lambat.
Rapat dewan direksi. Hartono Lim, partner bisnisnya selama lima belas tahun, menuangkan teh dengan senyum ramah. "Untuk kesuksesan kita, Chen."
Rasa pusing. Gelap. Dan suara Hartono yang terakhir: "Maaf, Chen. Perusahaan ini terlalu besar untuk satu orang. Aku akan menjaganya."
Wei Chen mengepalkan tangan. Tangannya — tangan muda ini — bergetar.
Marah? Tentu.
Tapi marah tidak akan mengembalikan hidupnya.
Dia sudah 40 tahun hidup dengan satu prinsip: panik adalah musuh terbesar. Tenang. Analisis. Baru bertindak.
Dia berdiri, merapikan jubah katun kasar warna biru pudar yang dikenakannya. Model pakaian yang hanya dia lihat di film-film kolosal Tiongkok. Lalu dia berjalan menuju desa.
Desa itu kecil.
Mungkin lima puluh rumah. Mungkin enam puluh. Jalan tanah dengan bekas roda gerobak. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki. Orang dewasa memandangnya dengan rasa ingin tahu, tapi tidak bermusuhan.
Wei Chen berjalan melewati mereka. Mendengar bisik-bisik: "Orang baru?" "Dari mana?" * "Lihat bajunya..."*
Dia tidak peduli.
Di ujung desa, dia berhenti.
Sebuah rumah sederhana dengan pohon besar di halaman — pohon beringin dengan akar gantung menjuntai seperti jaring-jaring raksasa. Di bawah pohon itu, seorang gadis sedang menumbuk padi di lesung batu.
Thok. Thok. Thok.
Suara alu menghantam lesung. Irama yang teratur, seperti detak jantung.
Gadis itu — mungkin 20 tahun, rambut hitam diikat sederhana, kebaya hijau pudar — tidak menoleh. Tangannya terus bekerja. Tapi Wei Chen tahu dia sadar akan kehadirannya.
Dia berdiri di batas halaman, menunggu.
Dua menit. Lima menit.
Gadis itu akhirnya berhenti. Menyeka keringat di dahi. Lalu menoleh.
Matanya cokelat hangat. Lembut, tapi ada kewaspadaan di sana — seperti rincing yang selalu siap lari.
"Kau sudah sadar," katanya. Suaranya pelan, seperti suara sungai kecil. "Aku kira kau akan tidur tiga hari lagi."
Wei Chen mengerutkan kening. "Kau yang menemukanku?"
"Aku." Dia meletakkan alu, berjalan mendekat. Tapi menjaga jarak aman. "Dua hari lalu. Kau tergeletak di pinggir desa. Hampir dimakan serigala."
Serigala.
Wei Chen mengamati desa ini lagi. Di kejauhan, bukit-bukit hijau. Hutan di belakangnya. Mungkin benar ada serigala.
"Terima kasih," katanya.
Gadis itu mengangguk. "Aku Mei Ling."
"Wei Chen."
Mei Ling menunggu. Seperti mengharapkan penjelasan. Tapi Wei Chen tidak memberi apa-apa.
Akhirnya, dia menghela napas. "Kau bisa tinggal di gubuk belakang. Tapi harus bantu kerja. Di sini, semua orang kerja."
Wei Chen hampir tersenyum.
Di perusahaannya, dia mempekerjakan 5.000 orang. Sekarang dia ditawari gubuk belakang dengan syarat membantu kerja.
"Baik," katanya. "Aku bisa kerja."
Mei Ling menatapnya ragu. Tapi tidak bertanya lebih lanjut.
"Besok pagi. Aku tunggu."
Dia kembali ke lesungnya. Thok. Thok. Thok.
Wei Chen berjalan ke belakang rumah. Menemukan gubuk kecil dari bambu, atap ilalang. Di dalam, hanya ada tikar usang dan bantal kapuk.
Dia duduk di ambang pintu, menatap langit yang mulai jingga.
Hartono.
Nama itu terukir di kepalanya.
Di mana pun kau berada, apa pun dunia ini — suatu hari, aku akan cari kau.
Tapi untuk sekarang... dia perlu bertahan hidup.
Malam pertama di Desa Qinghe.
Wei Chen tidak bisa tidur.
Bukan karena gubuknya tidak nyaman — dia sudah tidur di tempat lebih buruk saat ekspedisi bisnis di daerah terpencil. Tapi karena pikirannya tidak mau berhenti.
Dia keluar. Duduk di bawah pohon beringin.
Bulan hampir purnama. Cahayanya perak, menyinari halaman. Suara jangkrik di mana-mana.
"Tidak bisa tidur?"
Wei Chen menoleh. Mei Ling duduk di ambang pintu rumah, membungkus tubuh dengan selimut tipis.
"Kau juga?"
Dia berdiri, berjalan mendekat. Tapi masih menjaga jarak — duduk di akar pohon yang berbeda.
"Aku selalu sulit tidur kalau bulan purnama," katanya. "Ibu bilang aku kebanyakan mimpi."
"Mimpi apa?"
Mei Ling diam. Lalu, "Mimpi aneh. Mimpi tentang... hal-hal yang tidak bisa kujelaskan."
Wei Chen mengamatinya. Di bawah cahaya bulan, wajahnya terlihat lebih muda. Lebih rapuh.
"Kau sendiri?" tanyanya. "Keluargamu?"
"Ayah-ibu sudah mati. Wabah tiga tahun lalu." Suaranya datar, tapi ada getaran di sana. "Sekarang aku sendiri."
"Maaf."
"Bukan salahmu." Dia menatapnya. "Kau sendiri? Keluargamu?"
Wei Chen diam. Keluarga? Di bumi, dia punya orang tua yang sudah tiada. Tidak ada saudara. Tidak ada istri. Tidak ada anak.
"Aku sendiri," jawabnya akhirnya.
Mei Ling mengangguk. Seperti mengerti.
Mereka diam. Suara jangkrik mengisi keheningan.
"Aneh," kata Mei Ling tiba-tiba.
"Apa?"
"Biasanya orang asing datang ke desa, mereka banyak bertanya. Mau ini, mau itu." Dia menatap Wei Chen. "Tapi kau... kau diam saja."
Wei Chen tidak menjawab.
"Kau takut?" tanya Mei Ling.
"Takut apa?"
"Takut ditolak? Diusir?" Dia tersenyum kecil. "Di sini, orang asing kadang diusir kalau mencurigakan."
"Kau akan usir aku?"
Mei Ling berpikir. Lalu, "Tidak. Belum."
Wei Chen hampir tersenyum lagi. "Kenapa?"
"Karena matamu." Jawabannya sederhana. "Mata orang jahat beda. Matamu... sedih. Tapi tidak jahat."
Wei Chen terkejut. Selama 40 tahun, tidak ada yang pernah bilang begitu.
"Kau bisa baca mata?"
"Bisa." Mei Ling tersenyum. "Ibu mengajariku. Katanya, mata itu jendela hati."
Wei Chen diam. Lalu, untuk pertama kalinya, dia bertanya tentang orang lain.
"Kau mau apa, Mei Ling?"
Dia mengerutkan kening. "Mau?"
"Dari hidup. Dari dunia ini."
Mei Ling menatap langit. Berpikir lama.
"Aku... hanya mau hidup tenang. Panen cukup. Tidak kelaparan. Tidak sakit." Dia tertawa kecil. "Klise, ya?"
"Tidak." Wei Chen menggeleng. "Itu... sederhana. Tapi mungkin itu yang paling penting."
Mei Ling menatapnya. "Kau?"
Wei Chen diam. Apa yang dia mau? Di bumi, dia mau sukses. Mau perusahaan terbesar. Mau kekuasaan.
Tapi di sini... di desa kecil ini... dia tidak tahu.
"Belum tahu," jawabnya jujur.
Mei Ling tersenyum — senyum yang hangat, seperti matahari pagi.
"Kalau belum tahu, berarti kau masih bisa cari."
Dia berdiri, merapikan selimutnya.
"Selamat malam, Wei Chen."
"Selamat malam, Mei Ling."
Dia pergi, meninggalkan Wei Chen sendiri di bawah pohon beringin.
Bulan masih bersinar. Jangkrik masih berbunyi.
Tapi untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, Wei Chen merasa... tidak sendiri.
Chapter 1 END.