NovelToon NovelToon
DARAH ASTRA

DARAH ASTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:472
Nilai: 5
Nama Author: DragonLucifer

Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 – Helios Guard

Angin malam berhembus pelan di atas gedung tertinggi Astra City. Lampu-lampu kota berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi. Di kejauhan, menara hitam Helios berdiri menjulang, simbol kekuasaan dan pengawasan.

Raka berdiri di tepi atap, menatap ke arah menara itu dengan rahang mengeras.

“Aku tidak suka cara mereka mengawasiku,” gumamnya.

Kayla menyilangkan tangan. “Itu bukan mengawasi. Itu mengincar.”

Adrian bersandar pada dinding beton, bayangannya menyatu dengan gelap malam. “Helios Guard tidak pernah datang tanpa tujuan.”

Belum sempat Raka menjawab, suara deru mesin berat memecah udara. Dari langit, tiga kendaraan hitam berlogo matahari emas turun perlahan, melayang dengan teknologi anti-gravitasi.

Kayla mendesis pelan. “Dan sepertinya tujuan itu sudah sampai.”

Pintu kendaraan terbuka. Sekelompok prajurit berseragam hitam-emas melangkah turun dengan gerakan terlatih. Helm mereka berkilau, dan di dada mereka terpampang lambang matahari menyala.

Pemimpinnya maju satu langkah. Helmnya terbuka, memperlihatkan wajah pria berusia sekitar tiga puluhan, tegas dan dingin.

“Aku Komandan Arsen dari Helios Guard,” ucapnya datar. “Raka Mahendra, kau diminta datang bersama kami.”

Raka tersenyum miring. “Diminta? Atau dipaksa?”

Arsen tak berekspresi. “Kami lebih suka kata ‘diamankan’.”

Kayla maju setengah langkah. “Dia bukan kriminal.”

“Belum,” jawab Arsen tenang. “Tapi energi kosmik dalam tubuhnya tidak stabil. Itu ancaman tingkat merah.”

Raka mengepalkan tangan. Cahaya biru samar mulai berdenyut di kulitnya. “Aku bisa mengendalikannya.”

Adrian tertawa kecil. “Kalau benar begitu, kota tidak akan hancur setengah blok tiga hari lalu.”

Raka melirik tajam. “Kau di pihak siapa?”

“Aku di pihak keseimbangan,” jawab Adrian ringan.

Arsen mengangkat tangan memberi isyarat. Prajurit Helios langsung mengarahkan senjata energi mereka.

“Kami tidak ingin kekerasan,” kata Arsen. “Tapi kami siap.”

Kayla menatap Raka. “Kalau kita kabur sekarang, kita akan jadi buronan resmi.”

“Dan kalau aku ikut?” tanya Raka.

“Kau masuk kandang singa.”

Sunyi sejenak.

Lampu kota di bawah mereka berkedip. Helios Guard menunggu tanpa bergerak.

Raka menarik napas panjang. “Apa yang kalian inginkan dariku?”

Arsen menjawab tanpa ragu. “Kami ingin memastikan kau tidak menjadi bencana berikutnya.”

“Dan kalau aku menolak?”

Arsen mengangkat alis tipis. “Kami akan menunjukkan kenapa Helios Guard dibentuk.”

Salah satu prajurit melangkah maju. “Komandan, tingkat energi target meningkat.”

Cahaya biru di tubuh Raka semakin terang. Angin berputar di sekelilingnya.

Kayla berbisik cepat, “Raka, jangan terpancing.”

“Aku tidak suka diancam,” Raka membalas pelan.

Arsen menatap lurus. “Kami tidak mengancam. Kami mencegah tragedi.”

Tiba-tiba alarm kota meraung keras. Sirine panjang menggema dari berbagai arah.

Seorang prajurit menoleh ke perangkat di pergelangan tangannya. “Komandan! Deteksi lonjakan Astra liar di distrik timur!”

Arsen mengerutkan kening. “Level?”

“Level Omega.”

Wajah semua orang menegang.

Kayla berbisik, “Omega? Itu tidak mungkin…”

Raka menatap Arsen. “Masih mau mengamankanku?”

Arsen terdiam sesaat, lalu memberi perintah cepat. “Tim Alpha ikut aku. Sisanya tetap awasi target.”

Raka tersenyum tipis. “Kalian butuh bantuanku.”

Arsen menatapnya, menilai.

“Aku tidak akan kabur,” lanjut Raka. “Tapi aku tidak ikut sebagai tahanan. Aku ikut sebagai pejuang.”

Kayla menambahkan, “Dan kami tidak akan tunduk pada perintah buta.”

Adrian melangkah maju dari bayangan. “Aku ikut. Kalian tidak ingin menghadapi Omega tanpa seseorang yang bisa melihat kegelapan di baliknya.”

Arsen menimbang situasi hanya beberapa detik. Lalu ia mengangguk.

“Baik. Untuk malam ini, kita satu tim. Tapi jangan salah paham—setelah ini selesai, kita kembali ke urusan awal.”

Raka menyeringai. “Deal.”

Kendaraan Helios kembali terangkat. Raka, Kayla, dan Adrian naik ke salah satunya.

Di dalam kabin, lampu merah berkedip. Hologram kota muncul di tengah ruangan, menyorot distrik timur yang berpendar ungu gelap.

“Itu pusat ledakan energi,” jelas Arsen. “Sesuatu sedang lahir.”

“Bukan lahir,” gumam Adrian pelan. “Dibangunkan.”

Raka menatapnya. “Kau tahu sesuatu?”

Adrian tak langsung menjawab. “Energi seperti ini… bukan sekadar Astra liar. Ini terasa seperti panggilan.”

“Panggilan untuk siapa?” tanya Kayla.

Adrian menatap Raka. “Untukmu.”

Kendaraan mendarat keras di tengah jalan yang sudah retak dan terbakar. Bangunan-bangunan di sekitar mereka hancur. Di pusat kawah, sosok raksasa berdiri, tubuhnya tersusun dari batu dan energi hitam-ungu.

Makhluk itu meraung, suara yang membuat kaca-kaca gedung pecah.

“Konfirmasi,” kata Arsen tegang. “Target Omega visual.”

Prajurit Helios menyebar, membentuk formasi lingkaran.

Raka melangkah maju. Energi biru kembali menyala di tubuhnya.

Kayla meraih lengannya. “Hati-hati.”

Raka tersenyum kecil. “Selalu.”

Makhluk itu menoleh. Mata ungunya menyala saat menatap langsung ke arah Raka.

Lalu, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Makhluk itu berbicara.

“PEWARIS… AKHIRNYA.”

Semua terdiam.

Raka menegang. “Apa maksudnya itu?”

Adrian berbisik, “Seperti yang kuduga…”

Arsen memerintahkan, “Tembak!”

Sinar energi kuning ditembakkan serempak. Ledakan mengguncang area, asap membumbung tinggi.

Namun ketika asap menghilang, makhluk itu tetap berdiri, nyaris tanpa luka.

Ia mengangkat tangan raksasanya, dan gelombang energi ungu menyapu ke segala arah.

Prajurit Helios terlempar. Kendaraan hancur.

Raka berdiri menghadang, mengangkat kedua tangannya. Perisai biru terbentuk, menahan gelombang itu tepat sebelum menghantam Kayla.

Napasnya berat.

“Aku capek jadi sasaran,” gumamnya.

Makhluk itu kembali bersuara. “DARAH ASTRA MENGALIR DALAM DIRIMU. BANGKIT… ATAU BINASA.”

Cahaya biru Raka berubah lebih terang dari sebelumnya. Tanah di bawah kakinya retak.

Arsen, yang berdiri dengan susah payah, menatap Raka dengan campuran kagum dan takut.

“Jadi ini… alasan sebenarnya,” katanya lirih.

Kayla berteriak, “Raka! Fokus!”

Raka menatap makhluk itu, lalu mengepalkan tangan.

“Kalau kau pikir aku akan jadi alat kehancuranmu… kau salah besar!”

Ia melesat maju seperti meteor biru, menghantam dada makhluk itu dengan ledakan cahaya yang menerangi seluruh distrik.

Langit merah Astra City bergetar.

Dan untuk pertama kalinya, Helios Guard menyaksikan sendiri kekuatan sejati yang mereka takuti… sekaligus harapkan.

Bab ini belum berakhir—karena malam itu, batas antara musuh dan sekutu mulai kabur, dan nama Helios Guard tak lagi sekadar simbol kekuasaan… tapi awal dari perang yang jauh lebih besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!