Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Pagi harinya, suasana di meja makan Mansion Lopez terasa seperti medan perang yang dilapisi sutra. Logan duduk dengan tegak, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung, sementara matanya yang tajam tidak lepas dari sosok Issaura yang sedang membantu Bi Sumi menata piring buah.
Issaura sengaja tidak memakai kacamata besarnya lagi. Ia tampil dengan wajah bersih, rambut dikuncir kuda yang sempurna, dan sikap yang sangat acuh tak acuh terhadap keberadaan Logan. Ia hanya tersenyum manis saat menyapa Cassie.
"Selamat pagi, Tante Cassie. Ini jus seledri dan lemon kesukaan Tante," ucap Issaura dengan nada lembut yang sangat kontras dengan nada ketusnya pada Logan semalam.
"Terima kasih, Sayang. Kau memang paling tahu cara membuat pagi Tante jadi segar," jawab Cassie sambil mengelus lengan Issaura sekilas.
Zion, yang duduk di kepala meja, melirik putranya yang sejak tadi hanya memutar-mutar garpu tanpa menyentuh makanan. "Logan, kau tidak makan? Katanya kau lapar karena semalam begadang mengerjakan revisi skripsi?"
Logan mendengus, matanya beralih ke arah Issaura yang sedang berdiri di dekat bufet. "Tiba-tiba aku kehilangan selera makan, Dad. Aroma di ruangan ini terasa... terlalu penuh dengan kepura-puraan."
Issaura yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang mengejek. Ia menoleh ke arah Logan dengan tatapan meremehkan. "Mungkin itu hanya aroma dari ego Tuan Muda yang terlalu tinggi sehingga menutupi aroma masakan Bi Sumi yang lezat."
"Kau—" Logan nyaris berdiri, namun deheman keras dari Zion membuatnya kembali duduk.
Setelah sarapan, Logan berniat mengambil buku referensinya yang tertinggal di perpustakaan lantai bawah. Saat melewati lorong dekat taman dalam, langkahnya terhenti. Ia mendengar suara isakan tertahan dari balik pilar besar.
Itu Issaura. Gadis itu sedang memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Logan, alih-alih merasa iba, justru menyandarkan punggungnya di tembok, melipat tangan di dada dengan seringai sinis. Ia ingin tahu sandiwara apa lagi yang dimainkan gadis lurus ini.
"Tolong, Ayah... jangan paksa aku," suara Issaura terdengar parau. "Aku tidak mau menikah dengan Tuan Bramantyo. Dia lebih tua dari Ayah! Dan jalangmu... dia hanya menginginkan saham perusahaan tekstil itu, kan? Aku bukan barang dagangan!"
Suara di seberang telepon tampaknya membentak, karena Issaura menjauhkan ponselnya sejenak dengan wajah pucat.
"Aku punya harga diri! Aku lebih baik menjadi pelayan di sini seumur hidup daripada menjadi pemuas nafsu rekan bisnis Ayah!" Issaura akhirnya mematikan telepon dengan kasar dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat.
Logan melangkah keluar dari bayang-bayang. Bukannya memberikan sapu tangan atau kata-kata penenang, ia justru bertepuk tangan pelan.
Prok. Prok. Prok.
Issaura tersentak, segera menghapus air matanya dan berbalik. Ia mendapati Logan sedang menatapnya dengan tatapan paling menghina yang pernah ia lihat.
"Luar biasa. Sungguh penampilan yang memukau, Issa," ejek Logan. Ia berjalan mendekat, mengikis jarak hingga Issaura bisa mencium aroma parfum mahal pria itu yang kini terasa menyesakkan.
"Kau mendengar ku? Dasar tidak sopan!" bentak Issaura.
"Sulit untuk tidak mendengar drama murahan di rumahku sendiri," balas Logan ketus. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap mata Issaura yang masih basah dengan tatapan dingin tanpa simpati sedikit pun. "Jadi, itu naskah barumu? Melarikan diri dari pria tua? Menjadi pahlawan wanita yang mempertahankan harga diri?"
Logan tertawa sinis, tawa yang menusuk jantung Issaura. "Jujur saja, aku tidak percaya sepatah kata pun. Kau pasti sengaja mengeraskan suaramu agar aku atau Daddy-ku lewat dan merasa kasihan padamu, bukan? Kau ingin kami menganggap mu sebagai putri yang tertukar agar statusmu naik dari pelayan menjadi bagian dari keluarga ini?"
Issaura terbelalak. "Kau... kau benar-benar iblis, Logan! Kau pikir semua orang di dunia ini sepertimu? Manipulatif dan gila hormat?"
"Aku hanya realistis, Gadis Lurus," Logan menarik satu helai rambut Issaura yang terlepas dan memainkannya dengan kasar. "Dengar ya, bahkan jika ceritamu itu benar, itu tetap tidak mengubah fakta bahwa kau adalah sampah di keluargamu sendiri sehingga kau dibuang dan dijual. Dan kau pikir aku akan bersimpati pada barang rongsokan yang bahkan ayahnya sendiri tidak menginginkannya?"
Issaura merasa napasnya tercekat. Kata-kata Logan jauh lebih menyakitkan daripada ancaman ayahnya di telepon tadi. "Kau... kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku."
"Aku tahu satu hal," potong Logan dengan suara yang merendah, sangat vulgar dan tajam. "Kau berada di sini karena kau butuh perlindungan kami. Jadi, berhentilah bertingkah seolah kau punya harga diri yang tinggi di depanku. Pinggangmu yang tidak bervolume itu saja sudah cukup menjelaskan betapa tidak berharganya kau sebagai wanita, apalagi sejarah hidupmu yang menyedihkan itu."
Logan melepaskan helai rambut Issaura dengan sentakan jijik. "Jangan pernah menangis di depanku lagi. Itu menjijikkan. Simpan air mata buayamu itu untuk merayu Mommy Cassie, karena aku... aku tidak akan pernah bisa kau bodohi."
Logan berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Issaura yang terpaku di taman. Kakinya terasa lemas. Ia merosot jatuh ke lantai marmer yang dingin, memeluk lututnya sendiri.
Di dalam kamarnya, Logan membanting pintu dengan keras. Ia berjalan mondar-mandir seperti singa yang terperangkap dalam kandang. Dadanya terasa sesak. Ia membenci kenyataan bahwa ia mendengar tangisan Issaura. Ia membenci kenyataan bahwa ia tahu gadis itu dalam bahaya.
"Dia berbohong. Dia pasti berbohong," gumam Logan pada dirinya sendiri. Ia mencoba meyakinkan logikanya bahwa Issaura hanyalah seorang aktris hebat.
Namun, bayangan wajah pucat Issaura dan suaranya yang memohon pada ayahnya tadi terus terngiang di telinganya. Logan merasa muak pada dirinya sendiri karena ia merasa... terganggu. Bukannya senang melihat musuhnya menderita, ia justru merasa ingin menghancurkan siapa pun pria bernama Bramantyo itu hanya karena berani menginginkan sesuatu yang berada di bawah atap rumahnya.
"Aku tidak bersimpati padanya," tegas Logan pada pantulannya di cermin. "Aku hanya tidak suka ada orang luar yang mencoba mengambil barang yang ada di mansion ini tanpa izinku. Ya, itu alasannya."
Logan tidak sadar, bahwa kebencian dan ejekannya adalah topeng dari sebuah obsesi gelap yang mulai tumbuh. Ia tidak ingin menyelamatkan Issaura karena cinta, setidaknya belum. Ia ingin menjaga Issaura karena ia ingin menjadi satu-satunya orang yang berhak menghina dan mengendalikan gadis itu.
Sementara itu, di lantai bawah, Zion berdiri di balik tirai perpustakaan. Ia telah menyaksikan seluruh interaksi itu. Zion menghela napas panjang dan menoleh pada Cassie yang berdiri di sampingnya.
"Putramu benar-benar kejam, Cass. Dia persis sepertiku saat aku sedang sangat ketakutan akan perasaanku sendiri," ucap Zion.
Cassie menatap taman dengan tatapan sedih. "Dia akan menghancurkan gadis itu jika dia tidak segera sadar, Zion. Logan tidak mengejek karena dia benci, dia mengejek karena dia mulai merasa kalah."
"Biarkan saja," jawab Zion dingin, namun ada kilat rencana di matanya. "Terkadang, seorang pembalap harus menabrak tembok dulu sebelum dia tahu bagaimana cara mengerem. Dan Logan... dia sedang melaju dengan kecepatan penuh menuju tembok bernama Issaura."
Malam itu, Mansion Lopez diselimuti ketegangan yang lebih pekat dari biasanya. Logan terus mengejek Issaura setiap kali mereka berpapasan, menyebutnya Pelayan Terbuang, sementara Issaura hanya bisa menelan kepahitannya, menyadari bahwa di rumah mewah ini, pelindung terbesarnya adalah wanita yang ia panggil Tante, dan musuh terbesarnya adalah pria yang setiap malam muncul dalam mimpi buruknya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.