Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: LORONG RAHASIA
Malam berikutnya, bulan bersinar terang di atas Akademi Pedang Iblis Langit.
Yun-seo terbaring di ranjang asramanya, mata terbuka lebar. Di sampingnya, Cheol-soo mendengkur keras. Kim Jung-soo tidur dengan kacamata masih menempel. Park Mu-jin seperti batu besar tidak bergerak.
Jam di dinding menunjukkan pukul 11:45 malam.
Lima belas menit lagi.
Yun-seo menunggu dengan sabar. Pikirannya berkecamuk antara gugup dan bersemangat. Ini pertama kalinya mereka akan menyusup ke area terlarang. Kalau ketahuan, bisa-bisa dikeluarkan dari akademi—atau lebih parah, dipenjara.
Tapi tidak ada pilihan. Pedang Naga Iblis adalah kunci untuk memulihkan kekuatan Yehwa. Dan Yehwa adalah kunci untuk mengalahkan Lilian dan Penguasa Kegelapan.
Pukul 11:55.
Yun-seo bangkit perlahan, bergerak seperti kucing. Ia sudah memakai pakaian hitam—hasil curian dari jemuran tetangga di Lorong Kegelapan. Sepatu kain agar tidak berisik.
Ia melongok ke jendela. Yehwa sudah menunggu di bawah pohon dekat perpustakaan, juga berpakaian hitam. Gerakannya cepat, menyelinap dari bayangan ke bayangan.
Yun-seo membuka jendela pelan-pelan, melompat turun. Pendaratannya tidak terlalu mulus—ia terguling, tapi untung tidak bersuara. Cheol-soo mendengkur makin keras. Tidak terbangun.
Ia berlari kecil ke arah Yehwa, bergabung di balik semak.
"Tepat waktu," bisik Yehwa.
"Janji kan." Yun-seo mengatur napas. "Siap?"
Yehwa mengangguk. Mereka bergerak ke belakang perpustakaan, tempat yang ditunjukkan peta kuno.
Di sana, di balik tumpukan kayu bakar, ada dinding batu yang tampak biasa. Tapi menurut peta, di sinilah pintu rahasia berada.
Yehwa meraba-raba dinding itu. Tangannya mencari celah, tonjolan, sesuatu yang tidak biasa.
"Aku tidak menemukan apa-apa," gumamnya frustasi.
Yun-seo ikut meraba. Lalu cincinnya bersinar—hanya redup, tapi cukup untuk menerangi sedikit area.
Di sana, di ketinggian dada, ada ukiran kecil berbentuk naga. Yun-seo menekannya.
Klik.
Dinding itu bergeser, membuka lorong gelap di belakangnya.
"Berhasil," bisik Yun-seo lega.
Mereka masuk, dan dinding kembali menutup di belakang mereka.
---
Lorong itu gelap, lembab, dan berbau tanah.
Yun-seo mengaktifkan cincinnya—cahaya merah tipis menerangi jalan setapak. Yehwa di belakangnya, tangan di belati, waspada terhadap segala kemungkinan.
Lorong ini panjang, berkelok-kelok ke bawah. Dindingnya dari batu kuno, diukir dengan relief pertempuran antara manusia dan iblis. Yehwa mengamatinya dengan tatapan rumit.
"Ini sejarah yang ditulis manusia," gumamnya. "Iblis digambarkan sebagai monster kejam."
"Kau tidak seperti itu," kata Yun-seo.
Yehwa tersenyum tipis. "Kau belum lihat aku dulu."
Mereka terus berjalan. Setelah sekitar sepuluh menit, lorong mulai melebar. Di depan, cahaya samar terlihat—api unggun?
Mendekat, mereka melihat ruangan besar. Di tengahnya, altar batu dengan pedang tertancap—Pedang Naga Iblis. Bilahnya hitam pekat, dengan ukiran naga merah membelit gagang. Di sekeliling altar, formasi lingkaran bersinar redup—pasti jebakan.
Tapi yang membuat mereka berhenti adalah dua penjaga yang duduk di samping altar.
Dua pria dengan jubah hitam, duduk bersila, mata tertutup. Meditasi. Tapi posisi mereka strategis—di kiri kanan pintu masuk, menghadap ke arah berbeda. Tidak mungkin masuk tanpa diketahui.
Yun-seo dan Yehwa bersembunyi di balik pilar, mengamati.
"Itu guru," bisik Yehwa. "Level master. Kita tidak bisa lawan mereka."
"Apa rencananya?"
Yehwa diam, berpikir. Lalu matanya beralih ke langit-langit ruangan. Di atas altar, ada lubang ventilasi—mungkin saluran udara.
"Kita harus lewat atas."
Yun-seo mendongak. Gelap. Tapi mungkin bisa.
Mereka mundur pelan, mencari jalan lain. Di sisi lorong, mereka menemukan tangga batu sempit menanjak. Yehwa memberi isyarat, dan mereka naik.
Tangga itu membawa mereka ke ruang sempit di atas langit-langit. Dari celah-celah batu, mereka bisa melihat ruangan altar di bawah. Penjaga masih duduk, tidak curiga.
"Rencananya: aku turun, ambil pedang, naik lagi. Kau di sini, siap tarik aku kalau ada masalah."
Yun-seo menggeleng. "Terlalu berisiko. Kalau ketahuan, kau sendiri di bawah."
"Aku lebih cepat tanpa kau."
"Tapi—"
"Percaya padaku." Yehwa menatapnya tegas. "Aku ratu iblis. Meski hanya 5% kekuatan, aku masih lebih kuat dari manusia mana pun."
Yun-seo ingin membantah, tapi tahu itu benar. Ia mengangguk berat.
"Hati-hati."
Yehwa tersenyum, lalu melompat turun. Tubuhnya melayang pelan berkat api hitam kecil di kakinya—mengurangi suara jatuh.
Ia mendarat di belakang altar, di luar pandangan penjaga. Gerakannya cepat, sunyi, seperti bayangan. Ia meraih gagang Pedang Naga Iblis.
Tapi saat tangannya menyentuh, pedang itu bersinar terang—merah menyala—dan formasi di lantai ikut menyala.
BERBUNYI!
Penjaga terbangun. "Penyusup!"
Yehwa menarik pedang itu—berhasil tercabut—tapi sekarang kedua penjaga sudah berdiri, siap menyerang.
"Aku pegang mereka, kau ambil Yehwa!" teriak Yun-seo dari atas.
Ia melompat turun tanpa pikir panjang. Cincinnya bersinar terang, membentuk perisai. Ia mendarat di depan Yehwa, melindunginya.
"Dasar bodoh!" desis Yehwa.
"Bareng-bareng, kan?"
Salah satu penjaga menyerang. Telapak tangannya berisi ki mematikan. Yun-seo mengangkat perisai—BRAK!—perisai itu bertahan, tapi retak. Satu serangan lagi pasti pecah.
Penjaga kedua mengepung dari samping. Yehwa mengangkat pedang yang baru diraihnya—meski belum bisa digunakan maksimal, bilahnya sendiri sudah cukup kuat. Ia menangkis serangan, tapi terpental mundur.
Mereka terjepit.
Tiba-tiba, suara dari pintu masuk.
"BERHENTI!"
Semua menoleh. Seo Jung-won berdiri di ambang pintu, pedang terhunus. Matanya dingin menatap para penjaga.
"Mereka bersamaku. Ada perintah khusus dari Kepala Sekolah."
Penjaga mengernyit. "Perintah khusus? Kami tidak tahu—"
"Aku asisten guru. Kau meragukan wewenangku?"
Penjaga itu ragu. Tapi Seo Jung-won adalah murid terkuat, juga putra salah satu tetua Aliansi. Wewenangnya besar.
"Mereka kuambil. Masalah ini akan kujelaskan sendiri pada Kepala Sekolah."
Penjaga saling pandang, lalu mengangguk. "Baik, Tuan Jung-won."
Seo Jung-won melangkah maju, meraih lengan Yun-seo dan Yehwa, menarik mereka keluar.
---
Di lorong, setelah agak jauh, Seo Jung-won berhenti.
Ia menatap mereka bergantian dengan tatapan tajam.
"Kalian tahu apa yang baru kalian lakukan? Menyusup ke ruang terlarang, mencuri pusaka akademi—itu hukuman mati!"
Yun-seo menunduk. Yehwa tetap tegak, meski dalam hati panik.
"Kami—" Yun-seo mencoba bicara.
"Diam." Seo Jung-won memotong. "Aku tidak mau tahu alasan kalian. Tapi..." Ia menghela napas. "Aku lihat sesuatu di matamu, Kang Yun-seo. Saat pertarungan di tes kemarin, kau bilang ada yang menunggumu. Wanita ini?"
Yun-seo mengangguk.
Seo Jung-won menatap Yehwa lama. Lalu matanya melebar sedikit—mungkin melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
"Kau... bukan manusia biasa," bisiknya.
Yehwa membeku. Tapi Seo Jung-won tidak menyerang. Ia malah mundur selangkah.
"Aku tidak tahu apa kau, dan tidak mau tahu. Tapi hutangku pada suamimu sudah lunas." Ia menatap Pedang Naga Iblis di tangan Yehwa. "Bawa pedang itu. Pergi. Jangan kembali ke sini."
Yun-seo terkejut. "Kau... membiarkan kami pergi?"
"Kau pikir aku mau terlibat lebih jauh? Aku sudah cukup gila dengan menyelamatkan kalian." Seo Jung-won berbalik. "Tapi ingat: lain kali kita bertemu, aku tidak akan mengenal kalian."
Ia pergi, meninggalkan mereka di lorong gelap.
Yun-seo dan Yehwa bertukar pandang, tidak percaya.
"Kita... selamat?" gumam Yun-seo.
Yehwa mengangguk, masih terkejut. "Sepertinya begitu."
Mereka cepat keluar dari lorong, kembali ke permukaan. Malam masih gelap, akademi sunyi. Mereka menyelinap kembali ke asrama masing-masing.
Di kamar, Yun-seo terbaring di ranjang, jantung masih berdebar kencang. Cheol-soo masih mendengkur. Tidak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi.
Ia meraih cincinnya, berbisik, "Terima kasih."
---
Keesokan harinya, latihan berjalan seperti biasa.
Tidak ada yang menyebut tentang penyusupan malam itu. Para guru tidak berkomentar. Seo Jung-won pura-pura tidak kenal.
Tapi saat makan siang, Yehwa mendekati Yun-seo di kantin. Di tangannya, terselip catatan kecil.
"Pedang ini memberiku 15% kekuatan. Tapi lebih penting—aku tahu siapa Seo Jung-won sebenarnya."
Yun-seo membaca, mengernyit. Yehwa menulis lagi:
"Dia bukan manusia murni. Ada darah iblis dalam dirinya. Aku bisa merasakannya."
Yun-seo terkejut. Seo Jung-won, murid terkuat akademi, pewaris Aliansi Murim—berdarah iblis?
Ia menatap Yehwa. Ratu iblis itu mengangguk serius.
Misteri baru terbuka.
---